Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. Adikku memang jahat tapi ia tidak pantas diperlakukan seburuk itu
"Tuan Lucas, maaf! Luka di tangan Nona Ervana murni karena kecelakaan. Kami tidak mungkin berani menyakiti keturunan Moses". Ema menunduk dalam-dalam. Debaran di jantungnya semakin kencang, seirama dengan amarah Lucas. Tangan Ema mencengkeram erat pinggiran seragamnya perawatnya yang terlihat sedikit lusuh. Wanita licik itu sedikit tidak menyangka jika Lucas Moses akan semarah ini.
"Kecelakaan? Kau yakin? Aku bahkan tidak percaya jika rumah sakit jiwa terbaik di kota Zera mempekerjakan karyawan sebodoh dirimu. Jika sampai kau terbukti bersalah, aku akan menarik semua investasiku di rumah sakit dan dan kau-". Telunjuk kanan Lucas terulur sempurna tepat di hadapan kening Ema yang masih menunduk takut." Kupastikan kau akan berkali-kali lebih menderita dari adikku". Lucas berteriak marah. Tembok-tembok rumah sakit memantulkan suara nyaring pria itu, membuat ruangan tak kedap suara itu sedikit bergema. Ema merasakan kakinya seperti susah digerakkan. Lantai putih rumah sakit itu seperti menjerat dirinya dengan sengaja. Di hadapan Lucas, ia tak lebih dari wanita bodoh yang tidak tau caranya membela diri.
"Tuan Lucas, aku tidak mungkin berani menyakiti adikmu".
"Biar kukatakan padamu, adikku memang jahat tapi ia tak pantas diperlakukan seperti ini. Siapapun tidak punya hak untuk menyakiti adikku".
"Tuan, kami-"...
"Aku ingin mendapatkan laporan tertulis tentang kondisi adikku". Ucap pria itu dengan santai walaupun amarahnya telah menguasainya.
"Prosesnya tidak mungkin secepat itu, Tuan". Ema menjawab dengan suara bergetar. Wanita itu susah payah menyembunyikan segala rasa takutnya. Dalam hatinya, ia mengeluarkan sumpah serapah untuk Renita.
Gadis bodoh itu tidak pernah bilang jika Tuan Lucas sekejam ini.
"Berapa lama?"
"Tiga minggu, Tuan". Ema menjawab asal. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah mencari alasan yang paling masuk akal agar pria itu mengizinkannya untuk pergi.
"Baiklah, tapi-".. Lucas menarik napasnya dengan kasar, seperti sengaja menggantungkan ucapannya di hadapan Ema yang sibuk merapalkan segala macam doa.
"Ada apa, Tuan Lucas?"
"Bisakah aku tau alasannya kenapa kau memberi adikku kamar bernomor 14? Kau tau tanggal lahir adikku? Aku bahkan belum memberi sedikitpun data tentang Ervana".
"I-itu karena Nona Ervana sendiri yang memberitahuku".
"PEMBOHONG". Medengar teriakan nyaring itu, Ema nyaris gila karena rasa takutnya. Yang berdiri dengan sorot mata tajam di depannya adalah pria berkuasa yang sepertinya sangat mampu untuk menghancurkan hidupnya.
"Tu-tuan". Lucas mendekat lalu mencengkeram kasar dagu wanita di depannya itu. Rasa kagum Ema akan pria itu lenyap entah ke mana, yang timbul di hatinya sekarang adalah perasaan benci dan takut yang datang bersamaan. Ini menyebalkan! Ema yang biasanya memegang kendali atas Ervana sekarang tak lebih dari domba hilang di hadapan Lucas Moses.
"Aku akan membunuhmu jika kau bertindak bodoh sekali lagi".
"Aku tidak pernah berbohong, Tuan. Nona Ervana sendiri yang memberitahuku tanggal lahirnya". Lucas menutup matanya rapat-rapat lalu menghembuskan napasnya perlahan. Amarah menguasainya dan ia takut sekali wanita bodoh di hadapannya ini menjadi korban kemarahannya.
"Antar aku ke kamar Ervana".
"Tuan tapi-"..
"Sepertinya kau tidak paham bahasa manusia". Kulit tubuh Ema meremang ketika mendengar suara berat itu. Ternyata rumornya benar, pria ini tak lebih dari iblis, batin wanita itu dengan penuh rasa takut.
Percakapan menegangkan itu membuat Ema membawa Lucas Moses ke depan pintu kamar bernomor 14 yang menjadi satu-satunya tempat berlindung Ervana sekarang.
"Tinggalkan aku". Ema melangkahkan kakinya dengan gerakan cepat. Hanya dirinya yang tau selega apa perasaannya sekarang.
"Renita sialan! Gadis bodoh itu benar- benar membohongiku". Ucap Ema penuh kemarahan. Sementara itu, Lucas berdiri mematung di depan pintu kamar adiknya. Hatinya bergolak hebat, sedikit tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Vana". Tubuh Lucas menegang melihat pemandangan di depan sana. Tubuh kurus Ervana terbaring lemah di kasur lusuh kamar itu. Bibirnya penuh dengan busa putih berbau busuk. Jantung Lucas seperti diremas kencang. Pria itu bahkan hampir lupa caranya bernapas.
"Hei, apa yang kau lakukan? Jangan membuatku takut". Lucas menepuk pelan pipi adiknya. Rasa panik menguasainya dalam sekejap, membuat pria itu susah payah berpikir jernih. Mata Ervana tertutup rapat, namun bibirnya terbuka sempurna. Busa putih itu bahkan menetes sampai ke kasur lusuh, membasahi sebagian wajah dan rambut kusutnya.
"Vana, bangunlah! Kau ingin mencari perhatianku atau bagaimana, hah?" Lucas berteriak frustrasi. Ia memang membenci adiknya, namun bila melihat Ervana dalam kondisi selemah ini tentu saja ia tidak tega.
"Ada apa, Tuan?" Ema mendekat dengan wajah panik. Teriakan nyaring Lucas Moses membuat separuh kewarasannya nyaris hilang. Batinnya menerka-nerka hal buruk apa yang terjadi di dalam kamar bernomor 14 itu.
"TOLONG LAKUKAN SESUATU". Lucas berteriak bak orang kesetanan. Ema terkesiap sebelum memanggil Mona dan kawan-kawannya yang lain.
"Renita, kau benar- benar menggali kuburanmu sendiri! Kau berbohong, mengatakan bahwa Tuan Lucas membenci adiknya dan tidak peduli dengan kondisi gadis itu. Dasar ceroboh dan bodoh, sikap percaya dirimu itu membuatku harus menanggung akibatnya juga". Ema menggigit ujung jarinya dengan frustrasi. Rasa takut menjalarinya dalam sekejap. Ini menakutkan! Bagaimana jika Lucas mengetahui semua perbuatannya selama ini?
"Ema, ada apa? Kenapa Tuan Lucas berteriak?" Mona datang dengan tergopoh-gopoh. Teriakan Lucas seperti sebuah kekuatan baru yang menggerakkan semua perawat di rumah sakit itu.
"Nona Ervana tidak sadarkan diri. Bibirnya berbusa, aku belum tau apa penyebabnya". Ema menjawab dengan suara bergetar. Ujung matanya terlihat basah karena air mata ketakutannya. Kedua orang itu lalu kembali menjumpai Lucas Moses yang masih menunjukkan kepanikannya.
"Tuan Lucas, sebaiknya kita membawa Nona Ervana ke rumah sakit umum. Aku akan menghubungi ambulans". Ema berucap panik. Rumah sakit ini memang rumah sakit jiwa terbaik di kota ini, namun sejak kebakaran yang terjadi beberapa minggu lalu, beberapa fasilitas rusak dan sedang dalam perbaikan. Ema takut jika keterbatasan itu membuat Lucas semakin marah dan kecewa.
"Dengar baik-baik! Aku akan membunuh siapapun yang terbukti menyakiti adikku". Dengan tangan bergetar, pria itu menggendong tubuh lemah adiknya lalu berjalan terburu-buru ke arah luar rumah sakit, menuju mobilnya yang terpakir asal di halaman rumah sakit itu. Rumah sakit seburuk ini dikatakan rumah sakit terbaik? Sepertinya ada yang salah dengan tempat ini.
"Vana, bertahanlah". Pria itu membaringkan tubuh adiknya ke kursi belakang sebelum ia buru-buru masuk dan duduk di balik kemudi.
Tatapan tajamnya bersirobok dengan mata Ema yang berdiri mematung di samping mobilnya.
"Tuan, apakah aku harus ikut?"
"Ikutlah! Banyak hal yang harus kau pertanggungjawabkan". Detik itu juga, Ema menyesal telah salah bertanya.