Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Gelombang Balik
Gedung terasa berbeda keesokan paginya. Bukan lebih tenang. Justru terlalu terkendali seperti seseorang menahan napas terlalu lama. Aruna melangkah melewati lobi dengan punggung tegak. Tatapan orang-orang mengikuti, tapi tidak ada lagi bisik-bisik terang-terangan. Semua terasa tertahan. Terukur. Semalam mengubah struktur kekuasaan lebih cepat dari yang disadari siapa pun.
Lift terbuka.
Begitu pintu menutup, ponselnya bergetar.
Pesan internal audit:
Media sudah mencium kasusnya. Kita perlu strategi komunikasi.
Aruna menutup layar perlahan. Tentu saja. Skandal sebesar ini tidak mungkin tinggal di dalam gedung.
Dan begitu publik masuk… permainan berubah level.
Saat pintu lift terbuka di lantai direksi, suasana langsung terasa padat. Orang bergerak cepat. Suara rendah. Tatapan tajam.
Ruang direktur sudah penuh ketika Aruna masuk. Calvin berdiri di ujung meja, tangan bertumpu ringan di permukaan kayu. Tatapannya menyapu ruangan.
“Kita tidak bisa menghentikan berita keluar,” katanya tenang. “Jadi kita kendalikan narasinya.”
Salah satu direktur menghela napas. “Publik akan menganggap ini krisis internal.”
“Karena memang itu,” jawab Calvin datar. “Bedanya… kita transparan.”
Beberapa orang terlihat tidak nyaman.
Aruna angkat bicara. “Kalau kita menutupinya, rumor akan lebih liar. Transparansi memberi kita posisi moral.”
Semua mata beralih padanya.
Keheningan jatuh sebentar.
Calvin mengangguk tipis. “Kita rilis pernyataan resmi. Fokus pada integritas proses.”
Keputusan dibuat cepat. Tidak ada perdebatan panjang. Karena semua orang tahu gelombang sudah datang. Dan menolak arus hanya akan menenggelamkan mereka.
Satu jam kemudian, notifikasi berita mulai muncul.
Judul demi judul memotong layar ponsel seperti pisau:
Audit Internal Ungkap Manipulasi Data. Direksi Terseret Investigasi.
Aruna membaca tanpa ekspresi. Tapi jantungnya berdetak lebih cepat. Ini bukan lagi konflik internal.
Ini konsumsi publik.
Pintu ruangannya diketuk cepat.
Raka berdiri di sana. Wajahnya tegang, tapi matanya lebih hidup dari terakhir kali Aruna melihatnya.
“Saya lihat beritanya,” katanya pelan. “Nama saya tidak disebut.”
“Karena bukti sudah mengarah jelas,” jawab Aruna.
Raka mengangguk. Ada kelegaan yang tidak ia sembunyikan. “Terima kasih,” katanya lirih.
Aruna menatapnya sebentar. “Belum selesai.”
Raka tersenyum tipis. “Tapi sekarang… saya bisa bernapas.”
Kalimat itu terasa lebih berat dari ucapan formal apa pun.
Setelah ia pergi, Aruna duduk kembali ia merasakan sesuatu yang mendekati kemenangan kecil. Bukan karena menang. Tapi karena keadilan mulai bergerak.
Menjelang siang, badai berikutnya datang.
Calvin masuk tanpa mengetuk.
“Investor utama minta pertemuan darurat,” katanya singkat.
Aruna menegakkan badan. “Karena berita?”
“Karena ketakutan,” jawab Calvin.
Ruang konferensi terasa lebih dingin dari biasanya.
Investor berbicara tanpa basa-basi.
“Kepercayaan publik turun,” katanya. “Kami perlu jaminan stabilitas.”
Calvin tidak menghindar. “Kami membersihkan sistem,” katanya tenang. “Itu stabilitas jangka panjang.”
“Jangka pendek tetap risiko,” balas investor.
Aruna masuk.
“Risiko terbesar adalah membiarkan manipulasi berjalan,” katanya. “Hari ini kami menunjukkan bahwa sistem kami bekerja.”
Tatapan investor berpindah.
Sunyi.
Lalu napas panjang.
“…Kami akan menunggu perkembangan,” katanya akhirnya.
Bukan kemenangan mutlak. Tapi bukan penolakan.
Saat pintu tertutup, Calvin menatap Aruna. “Kamu tahu cara menekan titik yang tepat.”
Aruna mengangkat bahu kecil. “Karena mereka tidak butuh janji. Mereka butuh kepastian arah.”
Calvin menahan tatapan sedikit lebih lama.
Dan untuk sepersekian detik keheningan di antara mereka terasa pribadi.
Sore datang dengan gelombang lain. Media meminta wawancara. Tim legal kewalahan. Dan di tengah semua itu, satu pesan anonim masuk.
Kamu pikir ini selesai? Ini baru permukaan.
Aruna membaca tanpa berkedip.
Dingin menjalar perlahan. Ia tidak merasa takut.
Ia merasa… tertantang.
Calvin berdiri di belakangnya. “Apa?” tanyanya.
Aruna menunjukkan layar.
Tatapan Calvin mengeras. “Mereka masih di dalam,” katanya pelan.
“Ya,” jawab Aruna. “Dan mereka tidak suka kehilangan kontrol.”
Sunyi.
Lalu keputusan.
“Kita buka audit lanjutan,” kata Calvin.
Aruna mengangguk.
Permainan belum berakhir.
Ini hanya fase berikutnya.
Malam turun lebih lambat dari biasanya.
Gedung mulai kosong, tapi lampu lantai direksi tetap menyala. Aruna berdiri di dekat jendela, memandangi kota. Lampu-lampu kecil berkedip seperti denyut nadi raksasa.
Calvin berdiri di sampingnya.
Tidak bicara.
Tidak perlu.
“Besok lebih berat,” katanya akhirnya.
“Ya,” jawab Aruna.
Sunyi lagi.
Lalu Calvin berkata pelan, “Kamu bisa mundur kapan saja.”
Aruna menoleh. Tatapannya tenang.
“Aku tidak berdiri sejauh ini untuk berhenti,” katanya.
Calvin menahan napas kecil. Seperti menerima jawaban yang sudah ia tahu. Di bawah sana, kota tetap bergerak. Di atas sini perang strategi baru saja naik level.
Dan Aruna menyadari sesuatu dengan sangat jelas.
Gelombang balik tidak datang untuk menghancurkan. Ia datang untuk menguji siapa yang cukup kuat berdiri.
Dan kali ini…
Ia berdiri tanpa ragu. Karena arah sudah jelas.
Dan siapa pun yang mencoba mengendalikan permainan dari bayangan akan segera dipaksa keluar ke cahaya. Namun malam belum benar-benar memberi mereka jeda.
Saat Aruna kembali ke mejanya untuk merapikan dokumen sebelum pulang, layar sistem audit menyala otomatis. Bukan alarm merah lebih seperti notifikasi diam yang sengaja tidak menarik perhatian. Tapi justru itu yang membuatnya waspada.
Ia mendekat.
Log akses internal bergerak pelan.
Terlalu pelan.
Seolah seseorang sedang menguji batas, bukan menerobos.
Aruna memperbesar tampilan. Polanya tidak agresif justru sangat hati-hati. Satu akses kecil. Diam. Lalu akses lain dari jalur berbeda. Tidak cukup besar untuk dianggap pelanggaran tapi cukup jelas untuk menunjukkan niat.
“Mereka mengetes respons,” gumamnya.
Calvin menoleh dari pintu. “Apa?”
“Seseorang masuk dan keluar tanpa meninggalkan jejak besar. Mereka mau tahu seberapa cepat sistem bereaksi.”
Tatapan Calvin mengeras. “Berarti mereka masih punya titik akses.”
Aruna mengangguk pelan. “Dan mereka belum siap menyerang. Mereka mengukur kita.”
Ia mematikan layar sebentar, lalu menyalakannya kembali. Sistem kembali stabil. Terlalu stabil.
Sunyi jatuh.
“Ini bukan sabotase impulsif,” katanya pelan. “Ini orang yang sabar.”
“Orang sabar biasanya percaya diri,” jawab Calvin.
Dan kepercayaan diri seperti itu… hanya datang dari seseorang yang merasa masih punya kartu tersembunyi.
Aruna menyandarkan tangan di meja. Otaknya bekerja cepat, menyusun kemungkinan. Jalur akses lama? Backup server? Kredensial yang belum dicabut? Tidak ada yang masuk akal. Kecuali satu hal.
“Mereka tidak menyerang sistem,” katanya perlahan.
Calvin menatapnya.
“Mereka menyerang persepsi keamanan kita.”
Kalimat itu menggantung berat.
Karena benar. Begitu tim merasa sistem aman, kewaspadaan turun. Dan di situlah celah terbuka.
Calvin menarik napas panjang. “Kita jangan beri mereka momen itu.”
Aruna mengangguk. Tangannya kembali bergerak di keyboard, mengaktifkan lapisan pemantauan tambahan bukan untuk memblokir, tapi untuk membiarkan akses itu berjalan sambil mencatat setiap gerakan kecilnya.
“Kalau mereka mau mengukur,” katanya dingin, “kita biarkan mereka merasa berhasil.”
Tatapan Calvin tajam. “Dan saat mereka masuk lebih dalam…”
“Kita tutup pintunya.”
Sunyi kembali memenuhi ruangan, tapi kali ini berbeda. Ada ketegangan yang hidup seperti sebelum badai.
Beberapa menit berlalu.
Ping.
Akses kecil muncul lagi.
Aruna tidak bergerak. Hanya matanya yang mengikuti setiap perubahan angka. Sistem mencatat lokasi internal yang samar jalur lama yang seharusnya sudah tidak aktif.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Mereka pakai jalur arsip lama,” katanya.
Calvin mengangguk pelan. “Berarti orang dalam.”
Bukan dugaan lagi.
Fakta.
Aruna membiarkan akses itu berjalan beberapa detik lebih lama. Cukup untuk menangkap tanda tangan digitalnya. Pola unik yang tidak bisa disamarkan sepenuhnya.
Lalu
Klik.
Ia menutup jalurnya.
Layar kembali sunyi.
Aruna menghembuskan napas perlahan. “Kita punya jejak.”
Calvin menatapnya lama. “Nama?”
“Belum,” jawab Aruna. “Tapi cukup untuk menarik benangnya.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ada rasa puas yang dingin bukan kemenangan, tapi kepastian bahwa permainan bayangan mulai kehilangan tempat bersembunyi.
Aruna menutup laptopnya pelan. “Mereka pikir kita hanya bereaksi,” katanya.
Tatapan Calvin tajam. “Sekarang giliran kita bergerak duluan.”
Di luar, kota tetap bersinar seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi di lantai atas gedung itu perburuan baru saja dimulai.
Dan kali ini, mereka tidak menunggu serangan berikutnya.
Mereka menciptakan medan tempurnya.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/