NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Gelombang Balik

Gedung terasa berbeda keesokan paginya. Bukan lebih tenang. Justru terlalu terkendali seperti seseorang menahan napas terlalu lama. Aruna melangkah melewati lobi dengan punggung tegak. Tatapan orang-orang mengikuti, tapi tidak ada lagi bisik-bisik terang-terangan. Semua terasa tertahan. Terukur. Semalam mengubah struktur kekuasaan lebih cepat dari yang disadari siapa pun.

Lift terbuka.

Begitu pintu menutup, ponselnya bergetar.

Pesan internal audit:

Media sudah mencium kasusnya. Kita perlu strategi komunikasi.

Aruna menutup layar perlahan. Tentu saja. Skandal sebesar ini tidak mungkin tinggal di dalam gedung.

Dan begitu publik masuk… permainan berubah level.

Saat pintu lift terbuka di lantai direksi, suasana langsung terasa padat. Orang bergerak cepat. Suara rendah. Tatapan tajam.

Ruang direktur sudah penuh ketika Aruna masuk. Calvin berdiri di ujung meja, tangan bertumpu ringan di permukaan kayu. Tatapannya menyapu ruangan.

“Kita tidak bisa menghentikan berita keluar,” katanya tenang. “Jadi kita kendalikan narasinya.”

Salah satu direktur menghela napas. “Publik akan menganggap ini krisis internal.”

“Karena memang itu,” jawab Calvin datar. “Bedanya… kita transparan.”

Beberapa orang terlihat tidak nyaman.

Aruna angkat bicara. “Kalau kita menutupinya, rumor akan lebih liar. Transparansi memberi kita posisi moral.”

Semua mata beralih padanya.

Keheningan jatuh sebentar.

Calvin mengangguk tipis. “Kita rilis pernyataan resmi. Fokus pada integritas proses.”

Keputusan dibuat cepat. Tidak ada perdebatan panjang. Karena semua orang tahu gelombang sudah datang. Dan menolak arus hanya akan menenggelamkan mereka.

Satu jam kemudian, notifikasi berita mulai muncul.

Judul demi judul memotong layar ponsel seperti pisau:

Audit Internal Ungkap Manipulasi Data. Direksi Terseret Investigasi.

Aruna membaca tanpa ekspresi. Tapi jantungnya berdetak lebih cepat. Ini bukan lagi konflik internal.

Ini konsumsi publik.

Pintu ruangannya diketuk cepat.

Raka berdiri di sana. Wajahnya tegang, tapi matanya lebih hidup dari terakhir kali Aruna melihatnya.

“Saya lihat beritanya,” katanya pelan. “Nama saya tidak disebut.”

“Karena bukti sudah mengarah jelas,” jawab Aruna.

Raka mengangguk. Ada kelegaan yang tidak ia sembunyikan. “Terima kasih,” katanya lirih.

Aruna menatapnya sebentar. “Belum selesai.”

Raka tersenyum tipis. “Tapi sekarang… saya bisa bernapas.”

Kalimat itu terasa lebih berat dari ucapan formal apa pun.

Setelah ia pergi, Aruna duduk kembali ia merasakan sesuatu yang mendekati kemenangan kecil. Bukan karena menang. Tapi karena keadilan mulai bergerak.

Menjelang siang, badai berikutnya datang.

Calvin masuk tanpa mengetuk.

“Investor utama minta pertemuan darurat,” katanya singkat.

Aruna menegakkan badan. “Karena berita?”

“Karena ketakutan,” jawab Calvin.

Ruang konferensi terasa lebih dingin dari biasanya.

Investor berbicara tanpa basa-basi.

“Kepercayaan publik turun,” katanya. “Kami perlu jaminan stabilitas.”

Calvin tidak menghindar. “Kami membersihkan sistem,” katanya tenang. “Itu stabilitas jangka panjang.”

“Jangka pendek tetap risiko,” balas investor.

Aruna masuk.

“Risiko terbesar adalah membiarkan manipulasi berjalan,” katanya. “Hari ini kami menunjukkan bahwa sistem kami bekerja.”

Tatapan investor berpindah.

Sunyi.

Lalu napas panjang.

“…Kami akan menunggu perkembangan,” katanya akhirnya.

Bukan kemenangan mutlak. Tapi bukan penolakan.

Saat pintu tertutup, Calvin menatap Aruna. “Kamu tahu cara menekan titik yang tepat.”

Aruna mengangkat bahu kecil. “Karena mereka tidak butuh janji. Mereka butuh kepastian arah.”

Calvin menahan tatapan sedikit lebih lama.

Dan untuk sepersekian detik keheningan di antara mereka terasa pribadi.

Sore datang dengan gelombang lain. Media meminta wawancara. Tim legal kewalahan. Dan di tengah semua itu, satu pesan anonim masuk.

Kamu pikir ini selesai? Ini baru permukaan.

Aruna membaca tanpa berkedip.

Dingin menjalar perlahan. Ia tidak merasa takut.

Ia merasa… tertantang.

Calvin berdiri di belakangnya. “Apa?” tanyanya.

Aruna menunjukkan layar.

Tatapan Calvin mengeras. “Mereka masih di dalam,” katanya pelan.

“Ya,” jawab Aruna. “Dan mereka tidak suka kehilangan kontrol.”

Sunyi.

Lalu keputusan.

“Kita buka audit lanjutan,” kata Calvin.

Aruna mengangguk.

Permainan belum berakhir.

Ini hanya fase berikutnya.

Malam turun lebih lambat dari biasanya.

Gedung mulai kosong, tapi lampu lantai direksi tetap menyala. Aruna berdiri di dekat jendela, memandangi kota. Lampu-lampu kecil berkedip seperti denyut nadi raksasa.

Calvin berdiri di sampingnya.

Tidak bicara.

Tidak perlu.

“Besok lebih berat,” katanya akhirnya.

“Ya,” jawab Aruna.

Sunyi lagi.

Lalu Calvin berkata pelan, “Kamu bisa mundur kapan saja.”

Aruna menoleh. Tatapannya tenang.

“Aku tidak berdiri sejauh ini untuk berhenti,” katanya.

Calvin menahan napas kecil. Seperti menerima jawaban yang sudah ia tahu. Di bawah sana, kota tetap bergerak. Di atas sini perang strategi baru saja naik level.

Dan Aruna menyadari sesuatu dengan sangat jelas.

Gelombang balik tidak datang untuk menghancurkan. Ia datang untuk menguji siapa yang cukup kuat berdiri.

Dan kali ini…

Ia berdiri tanpa ragu. Karena arah sudah jelas.

Dan siapa pun yang mencoba mengendalikan permainan dari bayangan akan segera dipaksa keluar ke cahaya. Namun malam belum benar-benar memberi mereka jeda.

Saat Aruna kembali ke mejanya untuk merapikan dokumen sebelum pulang, layar sistem audit menyala otomatis. Bukan alarm merah lebih seperti notifikasi diam yang sengaja tidak menarik perhatian. Tapi justru itu yang membuatnya waspada.

Ia mendekat.

Log akses internal bergerak pelan.

Terlalu pelan.

Seolah seseorang sedang menguji batas, bukan menerobos.

Aruna memperbesar tampilan. Polanya tidak agresif justru sangat hati-hati. Satu akses kecil. Diam. Lalu akses lain dari jalur berbeda. Tidak cukup besar untuk dianggap pelanggaran tapi cukup jelas untuk menunjukkan niat.

“Mereka mengetes respons,” gumamnya.

Calvin menoleh dari pintu. “Apa?”

“Seseorang masuk dan keluar tanpa meninggalkan jejak besar. Mereka mau tahu seberapa cepat sistem bereaksi.”

Tatapan Calvin mengeras. “Berarti mereka masih punya titik akses.”

Aruna mengangguk pelan. “Dan mereka belum siap menyerang. Mereka mengukur kita.”

Ia mematikan layar sebentar, lalu menyalakannya kembali. Sistem kembali stabil. Terlalu stabil.

Sunyi jatuh.

“Ini bukan sabotase impulsif,” katanya pelan. “Ini orang yang sabar.”

“Orang sabar biasanya percaya diri,” jawab Calvin.

Dan kepercayaan diri seperti itu… hanya datang dari seseorang yang merasa masih punya kartu tersembunyi.

Aruna menyandarkan tangan di meja. Otaknya bekerja cepat, menyusun kemungkinan. Jalur akses lama? Backup server? Kredensial yang belum dicabut? Tidak ada yang masuk akal. Kecuali satu hal.

“Mereka tidak menyerang sistem,” katanya perlahan.

Calvin menatapnya.

“Mereka menyerang persepsi keamanan kita.”

Kalimat itu menggantung berat.

Karena benar. Begitu tim merasa sistem aman, kewaspadaan turun. Dan di situlah celah terbuka.

Calvin menarik napas panjang. “Kita jangan beri mereka momen itu.”

Aruna mengangguk. Tangannya kembali bergerak di keyboard, mengaktifkan lapisan pemantauan tambahan bukan untuk memblokir, tapi untuk membiarkan akses itu berjalan sambil mencatat setiap gerakan kecilnya.

“Kalau mereka mau mengukur,” katanya dingin, “kita biarkan mereka merasa berhasil.”

Tatapan Calvin tajam. “Dan saat mereka masuk lebih dalam…”

“Kita tutup pintunya.”

Sunyi kembali memenuhi ruangan, tapi kali ini berbeda. Ada ketegangan yang hidup seperti sebelum badai.

Beberapa menit berlalu.

Ping.

Akses kecil muncul lagi.

Aruna tidak bergerak. Hanya matanya yang mengikuti setiap perubahan angka. Sistem mencatat lokasi internal yang samar jalur lama yang seharusnya sudah tidak aktif.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Mereka pakai jalur arsip lama,” katanya.

Calvin mengangguk pelan. “Berarti orang dalam.”

Bukan dugaan lagi.

Fakta.

Aruna membiarkan akses itu berjalan beberapa detik lebih lama. Cukup untuk menangkap tanda tangan digitalnya. Pola unik yang tidak bisa disamarkan sepenuhnya.

Lalu

Klik.

Ia menutup jalurnya.

Layar kembali sunyi.

Aruna menghembuskan napas perlahan. “Kita punya jejak.”

Calvin menatapnya lama. “Nama?”

“Belum,” jawab Aruna. “Tapi cukup untuk menarik benangnya.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ada rasa puas yang dingin bukan kemenangan, tapi kepastian bahwa permainan bayangan mulai kehilangan tempat bersembunyi.

Aruna menutup laptopnya pelan. “Mereka pikir kita hanya bereaksi,” katanya.

Tatapan Calvin tajam. “Sekarang giliran kita bergerak duluan.”

Di luar, kota tetap bersinar seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi di lantai atas gedung itu perburuan baru saja dimulai.

Dan kali ini, mereka tidak menunggu serangan berikutnya.

Mereka menciptakan medan tempurnya.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!