NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Serangan Fajar Aroma Parfum

Kamis pagi.

Biasanya, hari Kamis adalah hari yang tenang bagiku. Jadwal pelajaran tidak terlalu berat, dan euforia awal minggu sudah mereda. Namun, begitu roda sepeda Polygon-ku melewati gerbang sekolah, aku merasakan atmosfer yang aneh.

Sangat aneh.

Tidak ada lagi tatapan meremehkan atau pengabaian total yang biasa kuterima. Sebaliknya, setiap pasang mata yang kulewati seolah menempel padaku. Bisik-bisik terdengar lebih keras dari biasanya. Beberapa siswa laki-laki yang sedang nongkrong di parkiran bahkan mengangguk hormat padaku—sebuah gestur yang membingungkan.

Aku memarkir sepeda dengan perasaan was-was, merapikan sedikit seragamku yang kusut karena angin, lalu berjalan menuju gedung kelas 10.

Baru saja kakiku menapak di koridor utama, sebuah tangan merangkul pundakku dengan akrab.

"Wah, wah, wah... Selebriti baru kita sudah datang ternyata."

Aku menoleh. Rafan menyeringai lebar, wajahnya cerah seolah baru memenangkan lotre. Dia berjalan di sampingku, menyesuaikan langkah.

"Berisik, Raf," gumamku datar. "Jangan mulai."

"Siapa yang mulai? Satu sekolah lagi ngomongin lo, Cal," Rafan tertawa kecil, menepuk bahuku bangga. "Kemarin itu gila banget. Lo tahu nggak? Bukan cuma anak kelas 10 yang nonton. Anak-anak OSIS kelas 11 sama beberapa senior kelas 12 juga nonton dari lantai dua. Mereka semua kaget liat skill basket lo yang nggak ngotak itu."

Aku menghela napas panjang. "Aku cuma main sebentar. Nggak nyangka bakal serame itu."

"Sebentar apanya? Lo ngebantai Kevin 11-4 tanpa keringetan, Bro. Itu pembantaian," koreksi Rafan.

Tiba-tiba Rafan teringat sesuatu. "Oh ya, ngomong-ngomong soal Kevin... hari ini dia nggak masuk."

Alisku terangkat sebelah. "Kenapa? Malu?"

"Sakit," jawab Rafan, menahan tawa. "Katanya demam tinggi sama kram otot parah. Kayaknya dia syok berat, fisiknya nggak kuat diporsir kayak kemarin di bawah matahari jam dua siang."

Aku menggelengkan kepala pelan. "Lemah. Baru lari 30 menit sudah demam. Padahal dia atlet."

"Yaa... standar atlet sekolah sama standar latihan neraka lo kan beda, Cal," bisik Rafan.

Kami terus berjalan menuju kelas X-A. Aku berharap bisa segera duduk di bangku pojokku, memasang earphone, dan tidur sampai guru datang.

Tapi harapan itu musnah begitu kami berbelok di tikungan terakhir menuju pintu kelas.

"Itu dia!" "Eh, beneran itu Callen!" "Kak Callen!"

Aku berhenti mendadak, nyaris menabrak punggung Rafan yang juga berhenti kaget.

Di depan pintu kelas X-A, tidak ada jalan masuk. Pintu itu diblokade oleh kerumunan siswi. Bukan cuma satu atau dua, tapi sekitar dua belas orang! Seragam mereka beragam—ada yang dari kelasku sendiri, tapi sebagian besar wajah asing dari kelas 10-B dan 10-C.

Begitu melihatku, mereka langsung menyerbu seperti semut melihat gula.

Dalam sekejap, aku terkepung. Aroma berbagai macam parfum—mulai dari strawberry, vanilla, sampai bunga melati—bercampur menjadi satu, membuat hidungku yang sensitif sedikit gatal.

"Hai, Callen! Kenalin aku Sasa dari 10-B!" "Callen, kok kamu hebat banget sih kemarin? Kevin aja kalah lho!" "Boleh minta nomor WA-nya nggak? Buat nanya-nanya tugas Geografi... hehe." "Cal, kamu aslinya tinggi ya ternyata. Kenapa suka nunduk sih?"

Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi tanpa jeda. Tangan-tangan lentik terjulur mengajak berkenalan. Aku yang terbiasa menghadapi lawan fisik di dojo, mendadak lumpuh menghadapi serangan sosial seperti ini.

Aku mundur selangkah, punggungku menabrak tembok koridor. Terpojok.

"Ehm... permisi..." ucapku kaku, berusaha tersenyum sopan—yang mungkin terlihat seperti orang sakit gigi.

Rafan, yang awalnya kaget, kini berusaha menjadi pahlawan (meski wajahnya menahan tawa). Dia maju membelah kerumunan.

"Halo, Ladies cantik sekalian," sapa Rafan dengan pesona pangerannya. "Tolong kasih jalan dulu ya, kita mau masuk kelas nih. Nanti dimarahin Pak Guru lho."

Biasanya, pesona Rafan ampuh membubarkan massa. Tapi kali ini? Tidak mempan.

"Ih, Rafan minggir dulu deh. Kita mau ngomong sama Callen!" seru salah satu cewek dari 10-C, mendorong pelan bahu Rafan.

Rafan melongo. Dia menatapku dengan tatapan: 'Gila, gue ditolak demi lo, Cal.'

Aku hanya bisa pasrah. Mau tidak mau, aku harus meladeni mereka. Delapan orang dari mereka benar-benar agresif menyodorkan tangan.

"Aku Mita," kata seorang cewek berambut panjang. "Aku Yuni," sahut yang lain.

Aku menjabat tangan mereka satu per satu dengan gerakan kaku robotik. "Halo. Callen. Salam kenal."

"Tangannya kokoh banget..." bisik salah satu dari mereka pada temannya, matanya berbinar. "Pantesan Kevin kalah."

Situasi semakin tidak terkendali. Mereka mulai mendekat, mempersempit ruang gerakku. Aku mulai merasa sesak napas. Ini lebih melelahkan daripada lari maraton 10 kilometer.

Tepat saat aku berpikir untuk memanjat tembok demi kabur, sebuah suara lembut namun tegas membelah kerumunan dari arah belakang.

"HEI! HEI! Minggir kalian!"

Kerumunan itu terbelah.

Zea datang.

Dia berjalan dengan langkah lebar dan cepat, wajahnya terlihat kesal. Tas ranselnya masih disandang di satu bahu. Dia langsung menerobos masuk ke tengah lingkaran, berdiri tepat di depanku dan merentangkan kedua tangannya—seolah menjadi tameng hidup.

"Kalian ngapain sih ngerumpun di sini? Ini depan kelas orang tau! Menghalangi jalan!" omel Zea garang. Matanya melotot pada gerombolan cewek-cewek itu. "Callen baru nyampe, belum napas, udah kalian serbu. Bubar, bubar!"

Suasana hening sejenak. Cewek-cewek dari kelas lain itu saling pandang. Mereka tidak takut pada Zea, justru tatapan mereka berubah menjadi... geli?

Salah satu siswi dari 10-B, cewek berkuncir kuda yang terlihat modis, menyeringai jahil.

"Wih... galak banget, Bu Ketua," ledeknya. "Santai dong, Ze. Kita cuma mau kenalan sama Bestie-mu ini."

"Iya nih," timpal temannya dari 10-C sambil senyum-senyum menggoda. "Zea kayaknya nggak suka ya kalau cowoknya diganggu? Posesif banget sih akhir-akhir ini."

Wajah Zea yang tadi garang mendadak memerah. "A-apa?! Siapa yang posesif? Aku cuma... aku cuma ketua kelompoknya! Wajar dong aku belain anggota aku biar bisa masuk kelas!"

"Masaaa?" goda mereka serempak.

"Lagian ya, Ze," cewek modis tadi menatapku dari ujung kaki sampai kepala dengan tatapan menilai. "Kalau diperhatiin teliti, Callen ini emang ganteng lho. Rahangnya tegas, badannya atletis. Cuma ketutup kacamata sama gaya nerd-nya aja."

"Bener banget!" sahut yang lain antusias. "Aku yakin kalau dia didandanin dikit, rambutnya dirapikan, beuh... Kevin lewat! Pantesan aja Zea nempel terus. Zea kan matanya jeli kalau soal barang bagus."

"Dia juga rela berantem sama Kevin demi ngebelain kamu kan kemarin? So sweet banget tau!"

Mendengar analisis tajam para wanita itu, telinga Zea memerah padam seperti kepiting rebus. Dia salah tingkah, matanya bergerak gelisah antara menatapku dan menatap mereka.

"HEI! UDAH DEH!" teriak Zea malu, suaranya melengking. Dia mengibaskan tangannya, mengusir mereka seperti mengusir ayam. "Pergi sana! Bel masuk bentar lagi bunyi! Hus! Hus! Jangan bikin gosip aneh-aneh!"

Cewek-cewek itu tertawa cekikikan melihat reaksi Zea yang salah tingkah.

"Iya, iya, kita pergi. Jangan marah dong, Nyonya Manajer," ledek mereka sambil perlahan mundur dan membubarkan diri kembali ke kelas masing-masing.

"Dah, Callen! Nanti kita ngobrol lagi ya kalau pawangnya udah nggak galak!" seru Mita sambil melambaikan tangan genit sebelum menghilang di tikungan.

Akhirnya, koridor kembali tenang. Hanya tersisa aku, Rafan, dan Zea yang masih berdiri dengan napas memburu dan pipi merah.

Zea berbalik menghadapku. Dia masih cemberut, tapi jelas terlihat malu setengah mati.

"Mereka itu... bener-bener deh! Mulutnya lemes banget!" gerutu Zea, berusaha menutupi kegugupannya. "Maaf ya, Cal. Kamu jadi keganggu pagi-pagi."

Aku menatapnya, lalu menggelengkan kepala pelan.

"Nggak apa-apa. Makasih udah nyelamatin aku," jawabku tulus. "Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah pingsan kehabisan oksigen di sana."

Zea tersenyum kecil, masih malu-malu. "Y-ya... itu kan tugasku. Sebagai... ya, teman sekelas."

Rafan yang sedari tadi menonton drama itu dari pinggir, akhirnya tidak tahan lagi. Dia tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan.

"Aduh, aduh... manis banget sih pagi ini," ledek Rafan. "Kayaknya bener kata mereka, Cal. Pawang lo galak banget."

"Rafan!" bentak Zea, siap melempar sepatunya.

Aku hanya bisa menghela napas panjang, lalu berjalan masuk ke kelas meninggalkan dua orang berisik itu.

Hidup tenangku benar-benar sudah tamat, batinku pasrah. Tapi anehnya, sudut bibirku sedikit terangkat. Setidaknya, keributan ini tidak seburuk yang kubayangkan.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!