Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Tahu apa yang terjadi setelah Dafsa bentak-bentak Arcila di kebun tetangganya? Perempuan itu nggak pernah dateng lagi, nggak pernah kirim Dafsa WhatsApp lagi. Hidup Dafsa jadi kerasa lebih damai, karena inilah yang dia pengen sejak awal.
Akan tetapi, yang namanya rasa bersalah itu selalu muncul tanpa diminta. Dafsa selalu mikir apa kata-katanya sama Arcila keterlaluan? Dia sampe bentak-bentak Arcila, sementara perempuan itu cuma diem. Dafsa nggak tahu apa yang terjadi setelah dia pergi duluan.
"Nggak mungkin dia nangis," gumam Dafsa, yang diperuntukkan supaya rasa bersalahnya beneran ilang.
Perempuan kayak Arcila itu punya mental baja. Buktinya, dia bisa cium sembarang cowok tanpa perasaan. Dafsa geleng-geleng kepala. Gara-gara Arcila, bibirnya udah nggak perjaka lagi.
Iya, Dafsa masih nyari alesan buat dirinya sendiri. Pokoknya, dia nggak nyakitin Arcila. Kalaupun bener Arcila sakit hati, ya itu karena ekspektasinya terlalu tinggi, padahal udah jelas sejak awal Dafsa nggak mau ada hubungan serius di antara mereka. Dafsa lupa bilang sama Arcila kalau perempuan idamannya nggak ada di diri Arcila.
Dafsa suka yang kalem, pemalu, sama nggak gila kayak Arcila. Nantilah bakalan Dafsa bilang lagi, kalau Arcila tiba-tiba muncul bawa ulah yang baru.
"Mas lagi marahan kah sama Mbak Cila?"
Satu pertanyaan yang keluar dari mulut Diva siang itu berhasil bikin fokus Dafsa langsung buyar. Di hari Minggu yang cerah, di mana klien Kios Makcomblang Dafsa lagi membludak, bisa-bisanya Diva nanya kayak gitu. Dafsa jadi agak kesel, tapi dia masih bisa jaga raut mukanya.
"Emangnya ada, yang namanya marahan dalam hubungan bisnis?" Dafsa balik nanya, nggak mau bilang yang sebenarnya. Dia takut semuanya jadi berabe, terus Dafsa balik lagi terjebak sama Arcila. Dafsa nggak boleh lupa kalau selama ini, Diva cenderung ada di pihak Arcila.
Apa jangan-jangan ... Diva sengaja nanya kayak gitu karena disuruh Arcila?
Aduh, jangan sampe! Hal itu nggak boleh terjadi. Udah bagus mereka jaga jarak dan nggak ketemu lagi. Dafsa sih berharap Arcila nyerah dan nyari cowok lain ke depan keluarganya.
Eh, iya. Soal ngomong sama keluarga Astoria, Dafsa belum ngelakuin itu. Dia masih nunggu pergerakan Arcila. Satu hal yang bikin Dafsa kesel sama diri sendiri, karena dia orangnya nggak enakan. Dafsa bingung harus mulai dari mana. Atau lebih tepatnya, dia takut keluarga Astoria sakit hati karena selama ini dibohongin sama Dafsa.
"Harusnya nggak ada sih, Mas," sahut Diva agak lama. Dia baru aja balik ke ruangan Dafsa setelah dua menit nutup rolling door. Mereka harus istirahat buat makan siang sebelum lanjut lagi ke sesi selanjutnya. "Ngeliat Mas yang anteng begini, sekaligus ngeliat Mbak Arcila nggak bahas lagi soal perjodohan sama pernikahan, bikin aku ngerasa agak heran. Kayaknya kalian marahan, akhirnya aku nyimpulin begitu."
Dafsa nggak mau gubris, dia beranjak dari kursinya. Ada niat turun ke pujasera, tapi Diva malah berdiri di depan pintu.
"Kayaknya Mbak Arcila lagi sedih," lanjut Diva pelan. Pertama, dia takut sama reaksi Dafsa. Kedua, sebagai sesama perempuan, dia nggak bisa diem aja. Rasanya kayak ada yang mengganjal tiap Arcila dateng ke rumah tapi nggak bahas soal Dafsa. Satu hal lagi yang aneh, Arcila selalu dateng ke rumah waktu Dafsa nggak ada. Seakan Arcila tahu kapan Dafsa keluar rumah, dan kapan cowok itu balik lagi.
Diva sempet mikir, kalau dia beneran pengen Arcila jadi kakak iparnya.
Bukan karena perempuan itu kaya, alias pewaris tunggal, alias punya segalanya. Tapi karena di mata Diva, Arcila itu perempuan tangguh. Arcila tahu betul caranya mempertahankan apa yang harusnya dia punya. Meski ya ... caranya itu bikin Dafsa pusing tujuh keliling.
"Urusannya sama Mas apa ya, Div?" tanya Dafsa dingin.
"Nggak ada sih, Mas, aku cuma mau ngomong aja." Diva buru-buru jawab, terus dia bilang lagi. "Mbak Arcila ada rencana ngundur pertemuan keluarga, entah sampai kapan. Katanya dia sibuk banget di hotel."
Dafsa cuma natap adiknya sebentar, terus buang napas panjang. Dia nggak ngomong apa-apa lagi. Detik selanjutnya, Dafsa beneran pergi dari kios.
Sementara Diva lesu seketika. Kayaknya nggak ada celah buat ngobrolin Arcila ke Dafsa. Jelas banget kakak semata wayangnya itu kesel sama perempuan gila bernama Arcila Astoria. Diva nanya lagi dalam hati apa penyebabnya. Apa karena perjodohan mereka?
Beneran deh, Diva nggak tahu sama sekali, kalau Dafsa dicium sama Arcila di kebun tetangga mereka.
***
"Mas Biro, tadi ada Mbak Arcila ke sini sama sepupunya," lapor seorang pedagang jus waktu Dafsa baru aja sampe di pujasera.
Kali ini Dafsa natap dengan raut heran. "Oh iya, Bu? Sama perempuan, ya?" tanyanya keinget sama Tania.
Tadinya Dafsa cuma mau basa-basi aja, nggak mau nunjukin kalau hubungannya sama Arcila lagi kacau. Tapi gelengan si penjual jus berhasil bikin Dafsa diem.
"Bukan perempuan, Mas, tapi laki-laki bawa anak lima."
Dafsa bengong. Laki-laki anak lima. Itu ngingetin Dafsa sama seseorang.
Iya, si duda yang awalnya mau dijodohin sama Arcila. Dafsa cuma bisa ber-oh ria, padahal dia bingung harus jawab apa. Sekaligus bingung ngapain Arcila bawa si duda anak lima ke Blok M?
Dafsa nggak mau gubris, toh nggak ada sangkut pautnya sama dia. Ya, selama Arcila nggak berulah, Dafsa nggak bakalan banyak komentar.
Akan tetapi, waktu Dafsa selesai makan siang terus punya niat pulang sebentar ke rumah karena mau ngambil laptop, dia malah ngeliat Arcila lagi duduk-duduk di depan kafe kawasan Blok M. Di depannya ada cowok ganteng, gagah, yang perkiraan umurnya ada di akhir 30-an. Terus di deket mereka ada lima anak yang masih kecil-kecil.
Dafsa natap mereka yang lagi ngobrol. Arcila ketawa waktu si cowok ngomong. Entah ngomong apa, dia nggak bisa denger. Harusnya sih, Dafsa konsisten sama omongannya, yang mana dia nggak boleh mancing pertemuan sama Arcila. Tapi nggak tau kenapa, Dafsa malah turun dari motor terus diem-diem ngamatin mereka dari deket.
"Saya masih bertanya-tanya, kenapa kamu nggak mau dijodohin sama saya, Cila. Apa karena saya punya banyak anak?"
Dafsa bengong. Seluruh tubuhnya kayak dipaku di tempat.
Dijodohin?
"Saya 'kan masih muda, Mas, nggak punya pengalaman ngurus anak. Jadi daripada nanti terjadi apa-apa, lebih baik kita nggak nikah sekalian. Lagipula Mas Andra harus bersyukur kita nggak jadi nikah."
"Oh ... inikah si duda anak lima yang selalu ditolak mentah-mentah sama Arcila? Ternyata dia keren juga, nggak ada kesan tua sama sekali." Dafsa ngomel dalam hati.
Gara-gara Arcila bersikukuh nggak mau dijodohin, terus ngeluh soal si duda anak lima ini, Dafsa jadi mikir kalau cowok itu tua. Bayangannya rusak seketika karena ternyata, duda anak lima itu masih muda. Penampilannya kelihatan keren, mana ototnya juga kelihatan kokoh. Selain itu, namanya juga bagus, Andra. Beneran ngancurin bayangan Dafsa selama ini.
Dafsa mendengus pelan. Entah kenapa dia nggak suka ngeliat Arcila ngobrol akrab sama cowok itu. Apa karena sejak awal, dia tahu Arcila selalu ngeluh tapi bukti nyatanya malah kelihatan akrab? Atau ... dia cuma nggak terima si duda anak lima ini lebih keren dari dia?