Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Gema dari Masa Lalu
Tahun-tahun berlalu, namun bayang-bayang masa lalu memiliki caranya sendiri untuk merayap kembali.
Tian Shan kini hidup dalam pengasingan yang dinamis, berpindah dari satu puncak gunung ke puncak lainnya, menjaga keseimbangan antara kekuatan naga di nadinya dan kedamaian retak yang ia temukan setelah kepergian Lin.
Suatu hari, saat ia sedang bermeditasi di sebuah kedai tua di persimpangan jalan—tempat di mana para pengelana bertukar kabar—sebuah nama memicu getaran di hatinya yang kini tak lagi hampa.
"Kalian dengar? Wilayah Air Tenang dan sekitarnya kini menjadi neraka," bisik seorang pedagang senjata dengan wajah pucat. "Seorang pemuda muncul dengan kekuatan yang mengerikan. Mereka memanggilnya 'Sang Pangeran Pembalas'. Dia membakar desa-desa yang dulu menolak membayar upeti pada mendiang ayahnya."
"Bukan hanya itu," timpal yang lain. "Dia tidak hanya membunuh. Dia menyiksa siapa saja yang menyebut nama 'Legenda Naga' dengan rasa hormat. Dia mencari seseorang, dan setiap nyawa yang ia ambil adalah pesan berdarah untuk orang itu."
Tian Shan perlahan meletakkan cangkir tehnya. Jari-jarinya yang kuat sedikit menegang.
Ia ingat wajah anak kecil itu—wajah yang dulu ternoda oleh darah ayahnya sendiri. Ia ingat tantangan yang ia berikan sepuluh tahun yang lalu: “Jadilah penjahat, agar aku memiliki alasan untuk membunuhmu.”
Ternyata, benih yang ia tanam telah tumbuh menjadi monster yang jauh lebih mengerikan dari ayahnya.
Tanpa sepatah kata pun, Tian Shan bangkit. Ia meninggalkan sekeping keping perak di meja dan melangkah keluar.
Ia tidak lagi terbang dengan kemarahan, melainkan dengan beban tanggung jawab yang berat. Jika dunia kini menderita karena "monster" yang ia ciptakan, maka dialah yang harus mengakhirinya.
Ia melesat menembus awan, menuju arah Kota Air Tenang. Dari ketinggian Pendekar Langit, ia melihat pemandangan yang memilukan.
Desa-desa yang dulu ia bantu bangun dengan sistem pertanian kedelai kini hangus menghitam. Ladang-ladang yang dulu hijau kini dipenuhi dengan tiang-tiang gantungan.
Setiap jengkal tanah yang ia lewati meneriakkan satu nama: Gao Feng. Anak sang gubernur.
Tian Shan mendarat di reruntuhan Lembah Sunyi—desa pertama yang ia selamatkan. Tempat itu kini benar-benar sunyi, namun kali ini adalah sunyi kematian.
Di tengah lapangan desa, ia menemukan sebuah monumen yang terbuat dari kepala-kepala penduduk desa yang ditumpuk secara rapi.
Di puncak tumpukan itu, tertancap sebuah bendera dengan tulisan yang ditulis dengan darah:
"Tuan, kau bilang dunia bekerja dengan kekuatan. Aku telah belajar, dan sekarang aku adalah dunia itu sendiri. Datanglah, atau aku akan menghapus setiap jejak 'kebaikan' yang pernah kau tinggalkan."
Tian Shan berdiri tegak di depan monumen mengerikan itu.
Angin meniup jubah hitamnya, membawa bau amis darah yang tak kunjung hilang.
Ia memejamkan mata, merasakan getaran Qi yang sangat kuat dan penuh kebencian dari arah istana gubernur yang dulu ia hancurkan.
"Kau benar-benar tumbuh besar, Nak," bisik Tian Shan pada angin. "Tapi kau belajar pelajaran yang salah dariku."
Ia menyadari bahwa kehampaan yang dulu ia miliki kini telah berubah menjadi penyesalan yang mendalam.
Ia mengajari Gao Feng tentang kekejaman dunia, namun lupa mengajarinya tentang arti pengampunan yang ia pelajari dari Lin.
Tiba-tiba, langit di atas desa mendadak gelap. Bukan oleh awan, melainkan oleh tekanan Qi yang sangat masif.
Sesosok pemuda dengan jubah emas yang compang-camping melayang turun.
Matanya merah, bukan karena sihir, tapi karena obsesi dendam yang telah membakar kewarasannya.
Di tangannya, ia menggenggam pedang yang memancarkan aura kegelapan yang pekat.
Gao Feng menatap Tian Shan dengan senyum gila. "Sepuluh tahun, Tian Shan. Sepuluh tahun aku memimpikan saat di mana aku bisa menginjak lehermu di depan mayat orang-orang yang kau cintai."
Tian Shan menatapnya datar, namun ada duka di matanya. "Gao Feng, kau menghancurkan ribuan nyawa hanya untuk menarik perhatianku. Kau bukan lagi seorang putra yang mencari keadilan. Kau hanyalah bayangan dari dosa-dosaku."
"Diam!" raung Gao Feng. "Aku adalah apa yang kau ciptakan! Kau adalah guruku dalam hal kebencian, dan hari ini, muridmu akan melampauimu!"
Pertempuran besar yang akan menentukan nasib wilayah itu pun dimulai.
Dua Pendekar Langit berdiri berhadapan, memicu badai energi yang mulai meretakkan tanah di bawah mereka.
Inilah awal dari akhir bagi Sang Legenda Naga dan monster yang ia ciptakan sendiri.