Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah di balik tasbih dan suara yang dibungkam
Fajar di Pesantren Al-Fathan biasanya disambut dengan kedamaian yang meluap; suara sapu lidi yang bergesek di halaman, aroma kopi dari kantin santri, dan lantunan asmaul husna yang menenangkan. Namun, pagi itu, hawa dingin yang menusuk tulang terasa berbeda. Ada ketegangan yang merambat di antara pilar-pilar masjid. Bisik-bisik para santri tidak lagi berisi hafalan kitab, melainkan desas-desus yang lebih tajam dari mata pisau.
Sebuah video pendek berdurasi lima belas detik telah menjadi "bom waktu" digital. Video itu buram, diambil dari sudut gelap di balik tumpukan peti gudang. Di sana, Gus Arkanza Farras Zavian terlihat kehilangan kendali. Wajahnya yang biasanya teduh nampak beringas di bawah lampu neon yang berkedip. Ia mencengkeram kerah baju seorang pria hingga kakinya tergantung, disusul suara hantaman kursi kayu yang hancur berkeping-keping. Tanpa peci, dengan kancing baju koko yang terbuka, Arkan terlihat seperti sosok yang sangat asing—seorang predator, bukan seorang pendidik.
Syra Aliyah Farhana baru saja keluar dari asramanya dengan niat tulus ingin mencari sarapan saat ia menyadari dunia di sekitarnya telah berubah. Setiap kali ia melintas, kelompok-kelompok santriwati yang sedang menyapu langsung bungkam. Mereka menatap Syra dengan tatapan ngeri, seolah Syra adalah pembawa wabah yang baru saja menginfeksi matahari mereka.
"Lihat itu... Mbak Syra," bisik seorang santriwati junior dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Benar kata orang-orang, sejak dia datang, Gus Arkan jadi berubah. Ternyata dia bawa pengaruh gelap dari kota. Gus sampai main tangan, kayak preman jalanan."
Syra berhenti melangkah. Jantungnya berdegup kencang karena amarah. Ia mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. "Apa lo lihat-lihat?!" bentak Syra, membuat para santriwati itu lari terbirit-birit.
Namun, amarah Syra mendadak surut dan berganti menjadi kecemasan luar biasa saat ia melihat Omar Rizky Hafiz berlari ke arahnya. Wajah Omar yang biasanya penuh canda kini pucat pasi, kopiahnya miring ke kiri, dan napasnya tersengal seolah ia baru saja dikejar badai.
"Mbak Syra! Gawat! Gus Arkan... beliau dipanggil sidang darurat oleh Dewan Mashayikh!" seru Omar sambil memegangi dadanya. "Dewan Kyai Sepuh sudah berkumpul di ruang utama dhalem. Abi marah besar, Mbak. Video semalam itu... video itu sengaja disebar ke grup ustadz senior dan Kyai-Kyai dari pesantren tetangga. Nama baik Al-Fathan sedang dipertaruhkan!"
Syra merasa bumi yang ia pijak seolah bergoyang. "Ini pasti kerjaan Sabrina! Dia yang ada di sana semalam! Mana cewek uler itu?!"
"Ning Sabrina ada di dalam dhalem, sedang mendampingi Umi yang syok," jawab Omar dengan suara gemetar. "Mbak, yang paling bikin saya sedih... Gus Arkan nggak ngebela diri sama sekali. Beliau cuma diam bersila di depan para Kyai, menunduk, dan menerima semua tuduhan kalau dia punya 'sisi gelap' yang nggak pantas buat pemimpin masa depan. Beliau seolah-olah sengaja pasang badan buat melindungi Mbak Syra dari skandal penculikan itu, tapi taruhannya reputasi beliau sendiri!"
Syra tidak bisa diam saja. Persetujuan wasiat atau bukan, ia tidak akan membiarkan Arkanza hancur sendirian. Ia berlari menuju dhalem, mengabaikan teriakan Omar yang melarangnya masuk.
Di koridor menuju ruang sidang yang tertutup pintu jati rapat, Syra bisa mendengar suara berat Kyai (Ayah Arkan) yang bergetar karena kekecewaan mendalam.
"Arkanza... selama dua puluh delapan tahun Abi mendidikmu untuk menjadi pelindung dengan kelembutan, bukan dengan kepalan tangan. Abi bangga padamu karena kecerdasanmu, tapi pria yang ada di video itu... itu bukan anak Abi. Siapa sebenarnya yang Abi besarkan selama ini? Apa benar kamu masih menyimpan sisi jalanan itu di balik sarungmu?"
Suasana di dalam sana hening. Arkan tidak menjawab satu patah kata pun. Kesunyian itu lebih menyakitkan bagi Syra daripada teriakan marah.
Syra hendak mendobrak pintu itu saat ia melihat Sabrina Dhikra Alya keluar dari arah dapur dhalem. Sabrina tampak sangat tenang, mengenakan mukena putih bersih dengan wajah yang dipasang sedu sedan seolah ia ikut berduka. Di tangannya ada baki berisi teh hangat untuk para Kyai.
"Puas lo sekarang, Ning?" Syra menghadang jalan Sabrina, matanya menyalang penuh dendam. "Lo yang rekam itu, kan? Lo sengaja ambil sudut di mana Fariz nggak kelihatan megang obat bius, biar Arkan kelihatan kayak satu-satunya penjahat di sana!"
Sabrina berhenti, ia meletakkan baki teh itu di atas meja marmer koridor dengan gerakan yang sangat anggun. Ia menatap Syra, tidak ada lagi sorot mata lembut "Ibu Nyai" di sana. Yang ada hanyalah tatapan dingin seorang wanita yang merasa terancam posisinya.
"Saya hanya melakukan apa yang benar untuk menjaga kemurnian pesantren ini, Mbak Syra," ucap Sabrina pelan, suaranya hampir menyerupai desisan. "Pesantren tidak butuh pemimpin yang masih punya jiwa 'Black Hawk' di dalam darahnya. Gus Arkan itu matahari, dan dia tidak boleh kotor. Jika Gus Arkan harus hancur karena Mbak Syra membawa pengaruh buruk, maka Mbak Syralah yang harus disingkirkan. Jika Mbak punya sedikit saja rasa malu, Mbak harusnya pergi sekarang sebelum Gus benar-benar dicopot dari jabatannya."
"Gue nggak akan pergi sebelum gue bersihin nama dia dan ngebongkar siapa lo sebenernya, Sabrina!" desis Syra tepat di depan wajah Sabrina.
Sabrina hanya tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang membuat darah Syra mendidih. "Silakan coba, Mbak. Tapi ingat, di sini kata-kata seorang Ning jauh lebih dipercaya daripada kata-kata seorang gadis barbar yang bahkan belum tahu cara memakai peniti dengan benar."
Sabrina mengangkat bakinya kembali dan masuk ke ruang sidang dengan kepala tegak, meninggalkan Syra yang berdiri di koridor dengan perasaan hancur namun penuh tekad. Syra tahu, ia tidak bisa melawan tradisi dengan otot. Ia harus melawan fitnah ini dengan cara yang selama ini menjadi kekuatannya: kejujuran yang "barbar" dan bukti yang tak terbantahkan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...