NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 1: Tabrakan Takdir

Hujan mengguyur Jakarta dengan keras sore itu. Aluna Pradipta mengeratkan genggamannya pada setir mobil tua kesayangannya, Toyota Avanza putih warisan almarhum ayahnya yang sudah berusia hampir sepuluh tahun. Wiper mobil bergerak cepat, berusaha menyapu air hujan yang membasahi kaca depan, tetapi pandangannya tetap kabur.

"Sial," umpatnya pelan sambil mengerutkan kening. Matanya yang cokelat madu menyipit, berusaha fokus pada jalan raya yang mulai macet.

Di sampingnya, tumpukan maket arsitektur hasil kerjanya seharian tergeletak di jok penumpang, terbungkus plastik tebal agar tidak rusak. Maket itu adalah tugas akhir semester yang harus ia kumpulkan besok pagi. Terlambat bukanlah pilihan. IPK-nya yang hampir sempurna tidak boleh ternoda hanya karena keterlambatan pengumpulan tugas.

Aluna melirik jam tangan di pergelangan tangannya pukul 17.45 WIB. Ia masih punya waktu satu jam sebelum toko fotokopi langganannya tutup. Maket itu harus difoto dari berbagai sudut untuk dilampirkan dalam laporan tertulisnya.

Lampu merah di perempatan Sudirman menyala. Aluna menghentikan mobilnya, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan gelisah. Hujan semakin deras. Genangan air mulai terbentuk di beberapa titik jalan.

"Ayo, cepat," gumamnya tidak sabar saat lampu masih saja merah.

Ponselnya berdering. Layar menampilkan nama "Kak Rara" kakak perempuannya satu-satunya. Aluna mengangkatnya dengan speaker.

"Halo, Kak?"

"Luna, kamu di mana? Sudah makan?" Suara Rara terdengar khawatir di seberang sana.

"Masih di jalan, Kak. Mau ke toko fotokopi dulu. Belum sempat makan."

"Hujan deres begini, kamu hati-hati ya. Jangan ngebut. Ingat kata Kakak, keselamatan lebih penting dari nilai."

Aluna tersenyum tipis. Kakaknya selalu seperti ini protektif berlebihan sejak ayah mereka meninggal tiga tahun lalu karena serangan jantung mendadak. Kini hanya berdua mereka, ditambah ibu yang sibuk berjualan kue rumahan untuk membiayai hidup dan kuliah Aluna.

"Iya, Kak. Tenang aja. Aku hati-hati kok."

"Sudah ya, kakak mau lanjut kerja. Jangan lupa makan!"

Sambungan terputus tepat saat lampu berubah hijau. Aluna memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan mulai menjalankan mobilnya perlahan. Jalanan licin, ia harus ekstra hati-hati.

Namun, takdir seolah punya rencana lain.

Saat melewati pertigaan dekat gedung perkantoran mewah, sebuah mobil hitam mengkilap melaju dari arah kanan dengan kecepatan yang tidak wajar untuk kondisi jalan basah. Aluna tidak sempat bereaksi. Mobil itu sebuah Mercedes-Benz S-Class terbaru meluncur dan menabrak bagian depan Avanza-nya dengan benturan keras.

BRAK!

Tubuh Aluna terhentak ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman. Kepalanya sempat membentur setir, membuat penglihatannya berkunang-kunang sesaat. Suara klakson panjang memekakkan telinga. Asap mengepul dari kap mobil yang penyok. Airbag tidak keluar, mobilnya memang terlalu tua untuk punya fitur itu.

"Aduh..." Aluna merintih, tangannya memegang kening yang berdenyut nyeri.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara pintu mobil terbuka. Langkah kaki terdengar mendekat, disusul ketukan kasar di jendela mobilnya.

"Keluar."

Suara bariton itu dingin, tanpa seujung empati pun.

Aluna menoleh. Di balik kaca jendela yang basah, ia melihat sosok pria berjas hitam berdiri dengan ekspresi datar. Wajahnya tampan dengan cara yang menakutkan rahang tegas, hidung mancung, mata kelam yang menatap tajam. Rambutnya yang hitam legam sedikit basah oleh hujan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aluna membuka pintu mobil dan keluar, langsung disambut oleh guyuran hujan yang membasahi tubuhnya. Seragam casual nya kemeja putih dan celana jeans langsung menempel di tubuh.

"Kamu tidak lihat ada mobil?" tanya pria itu dingin, bahkan tidak bergeming sedikit pun meski hujan membasahi jasnya yang jelas sangat mahal.

Aluna mendongak menatapnya. Pria itu sangat tinggi, mungkin sekitar 185 sentimeter, membuatnya yang hanya 160 sentimeter harus mendongak cukup tinggi. Ada aura mengerikan yang menguar dari pria itu, aura kekuasaan dan bahaya.

"Maaf, tapi... ini Anda yang ngebut di jalan licin!" Aluna mencoba membela diri meski suaranya bergetar. Kepalanya masih berdenyut nyeri, dan kemarahannya mulai terpicu. "Ini Anda yang salah!"

Mata kelam pria itu menyipit, menatap Aluna dengan tatapan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Salah?" ulangnya pelan, terlalu pelan. "Kamu... berani sekali."

Sebelum Aluna bisa menjawab, pria itu berjalan mengelilingi mobil Avanza-nya yang sudah ringsek di bagian depan. Kap mobil penyok parah, lampu depan pecah, bumper lepas. Aluna merasakan dadanya sesak melihat kondisi mobil kesayangan ayahnya itu.

Namun, saat ia melihat kondisi Mercedes pria itu, kemarahannya sedikit surut. Mobil mewah itu juga rusak cukup parah di bagian samping pintu pengemudi penyok, kaca spion pecah, dan goresan panjang di bodi mengkilapnya.

"Lihat apa yang kamu lakukan pada mobilku," ucap pria itu dingin sambil menunjuk Mercedes-nya. "Itu mobil limited edition. Harganya 4,5 miliar rupiah."

Aluna terbelalak. 4,5 miliar? Itu... itu hampir harga sebuah rumah!

"A...Apa?" Aluna tergagap. "Tapi... tapi ini Anda yang--"

"Aku tidak peduli siapa yang salah." Pria itu memotong dengan suara yang membeku. Ia melangkah mendekat, membuat Aluna refleks mundur selangkah. "Yang jelas, kamu harus bertanggung jawab atas kerusakan ini."

"Bertanggung jawab bagaimana? Saya tidak punya uang sebanyak itu!" Aluna hampir berteriak, frustrasi dan ketakutan bercampur jadi satu.

Pria itu diam sejenak, mata kelamnya menelusuri Aluna dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan cara yang membuat Aluna tidak nyaman. Bukan tatapan penuh nafsu, tetapi tatapan menilai seolah Aluna adalah sebuah barang yang sedang ia pertimbangkan untuk dibeli.

"Berapa umurmu?" tanyanya tiba-tiba.

Aluna mengernyit. "Apa hubungannya?"

"Jawab saja."

"Dua puluh dua tahun," jawab Aluna dengan enggan.

Pria itu mengangguk pelan, seolah sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya.

"Kamu kuliah?"

"Ya. Arsitektur. Semester akhir."

"Punya pekerjaan?"

"Belum. Saya masih fokus kuliah." Aluna mulai tidak sabar. "Kenapa Anda tanya-tanya? Lebih baik kita--"

"Aku punya tawaran," potong pria itu. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama, menyodorkannya pada Aluna.

Dengan ragu, Aluna menerima kartu nama itu. Matanya membaca tulisan yang tertera:

ARSEN MAHENDRA

CEO & Founder

MAHENDRA PROPERTY GROUP

mahendraofficial@mpgroup.co.id

+62 811-XXXX-XXXX

Aluna mengangkat wajah, menatap pria itu, Arsen dengan tatapan bingung.

"Mahendra Property Group?" gumamnya pelan. Ia pernah mendengar nama perusahaan itu. Salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia, fokus pada hunian mewah dan gedung perkantoran bertingkat. "Anda... CEO-nya?"

"Bekerja untukku selama enam bulan," ucap Arsen tanpa basa-basi. "Sebagai asisten pribadi. Kompensasinya akan cukup untuk menutupi kerusakan mobilku dan mobilmu. Bahkan mungkin lebih."

Aluna terdiam, mencerna tawaran yang terdengar absurd itu.

"Asisten pribadi?" ulangnya tidak percaya. "Anda bercanda?"

"Aku tidak pernah bercanda."

Tatapan mata kelam itu menatap lurus ke dalam mata Aluna, dan entah kenapa, Aluna tahu bahwa pria ini benar-benar serius.

"Tapi... tapi saya punya kuliah. Tugas akhir. Saya tidak bisa--"

"Atur jadwal mu," potong Arsen dingin. "Atau kamu punya pilihan lain, bayar 4,5 miliar sekarang juga."

Aluna menggigit bibir bawahnya, frustrasi. Ia tidak punya pilihan. Keluarganya tidak mungkin punya uang sebanyak itu. Bahkan untuk makan sehari-hari saja mereka harus berhemat.

Hujan masih turun, membasahi mereka berdua. Namun Arsen sama sekali tidak bergerak, seolah tidak merasakan dinginnya air hujan yang merembes hingga ke tulang. Matanya tidak lepas dari Aluna, menunggu jawaban.

"Enam bulan?" tanya Aluna pelan, suaranya hampir tenggelam dalam suara hujan.

"Enam bulan," tegasnya. "Kamu akan bekerja langsung di bawahku. Mengikuti jadwalku. Melakukan apa yang aku perintahkan."

Ada sesuatu dalam cara pria itu mengucapkan kalimat terakhir yang membuat Aluna merinding, bukan merinding takut, tetapi merinding karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia definisikan.

"Bagaimana? Kamu terima atau tidak?"

Aluna menatap mobil Avanza-nya yang rusak parah. Maket di dalamnya mungkin sudah hancur. Kuliahnya terancam. Keluarganya tidak punya uang. Dan di hadapannya berdiri seorang pria asing yang menawarkan solusi, solusi yang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Tapi apa ia punya pilihan?

Dengan napas panjang, Aluna mengangguk pelan.

"Baik. Saya terima."

Untuk sesaat, sangat singkat, Aluna melihat sesuatu berkilat di mata kelam Arsen sesuatu yang menyerupai kepuasan, atau mungkin... kemenangan.

"Bagus," ucap Arsen. Ia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu. Beberapa detik kemudian, ponsel Aluna bergetar sebuah pesan masuk.

"Itu alamat kantorku. Datang besok pagi, pukul 07.00 WIB. Jangan terlambat. Aku... tidak suka menunggu."

Arsen berbalik, berjalan kembali ke mobilnya yang rusak, dan masuk ke dalamnya tanpa menoleh lagi. Mesin Mercedes menyala, dan meskipun rusak, mobil itu masih bisa berjalan. Perlahan, Arsen melaju meninggalkan Aluna yang berdiri sendirian di tengah hujan, basah kuyup dan bingung.

Aluna menatap kartu nama di tangannya. Jemarinya gemetar, entah karena dingin atau karena sesuatu yang lain.

Tanpa ia sadari, pertemuan singkat di tengah hujan itu adalah awal dari segalanya.

Awal dari obsesi.

Awal dari kepemilikan.

Awal dari cinta yang kelam dan berbahaya.

Aluna Pradipta baru saja mengikat dirinya dengan seorang pria yang akan mengubah hidupnya selamanya dan tidak akan pernah membiarkannya pergi.

Malam itu, Aluna duduk di kamar kecilnya yang berantakan, menatap layar laptop dengan pandangan kosong. Maketnya hancur. Ia harus mengulang dari awal, dan itu artinya begadang semalaman.

Tapi pikirannya tidak bisa fokus.

Bayangan wajah Arsen Mahendra terus muncul di benaknya, mata kelam yang tajam, tatapan dingin yang menusuk, dan suara bariton yang memerintah tanpa ampun.

"Melakukan apa yang aku perintahkan."

Kalimat itu terus terngiang di telinganya.

Aluna menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran itu. Ini hanya pekerjaan. Enam bulan, lalu selesai. Ia akan bertahan, membayar kompensasi, dan melanjutkan hidupnya.

Sesederhana itu.

Atau begitulah yang ia coba yakini.

Tapi jauh di dalam hatinya, sesuatu berbisik bahwa hidup Aluna tidak akan pernah sesederhana itu lagi.

Tidak setelah ia bertemu Arsen Mahendra.

Tidak setelah takdir mempertemukan mereka dalam tabrakan yang fatal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!