Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemewahan Yang Sebenarnya
"Mungkin ini terdengar merepotkan, akhir-akhir ini saya memikirkan Lumi dan juga Lior serta Sophie. Bisakah kita mampir sebentar di desa mereka saat perjalanan nanti?" Tanya Maerin agak ragu.
"Tentu saja, kau pasti ingin berpamitan dengan mereka kan?" Ucap Theo.
"Ya, benar. Lalu suamiku, bagaimana jika kita membiarkan Milo bersama mereka? Lumi dan Lior cukup menyukai Milo kan? Yah secara teknis, kita akan merepotkan orang lain lagi untuk merawat Milo." Ungkap Maerin.
"Mungkin itu bisa kita diskusikan dengan mereka, jika kondisi ternyata kurang memungkinkan. Pilihan terakhir adalah tetap membawa Milo bersama ke istana." Theo memikirkan hal ini dengan seksama.
Terdengar suara gaduh di luar dan Maerin bertanya pada Theo, "Di luar terdengar gaduh, ada apa ya?"
"Oh paling anak-anak desa sedang bermain dengan Milo. Tadi saat aku membersihkan kandang Milo, mereka sedang bermain dengan Milo." Jawab Theo.
"Anak-anak desa ini pasti juga sedih jika Milo pergi." Maerin tiba-tiba merasa sedih.
"Ya, perpisahan memang terasa sesedih ini." Theo menenangkan Maerin dengan menepuk lembut punggungnya.
Tiba-tiba suara semakin gaduh, dan ada suara teriakan. "Paman Theo, bibi Maerin. Cepat keluar..." Seru anak-anak desa dari luar.
"Eh ada apa?" Maerin penasaran.
"Mari kita lihat." Ajak Theo.
Mereka berjalan keluar ke halaman depan, tiba-tiba anak-anak desa dan warga desa memberi kejutan sebagai ucapan perpisahan. Anak-anak desa menghiasi Milo dengan beberapa rangkaian bunga. Warga desa ada yang membawa makanan serta minuman dan beberapa hal lain. Theo dan Maerin hanya terpaku terdiam, Theo menahan air matanya, namun Maerin sudah menangis terharu. Anak-anak menarik tangan Theo dan Maerin ke arah halaman yang terdapat meja dan dipenuhi berbagia makanan yang dibawa oleh warga yang ternyata terbuat dari sayuran-sayuran yang dibagikan oleh Theo dan Maerin kemarin. Meskipun masakan-masakan sederhana namun Theo merasa bahwa ini adalah kemewahan yang sebenarnya. Berkumpul dan menyantap makanan bersama orang-orang yang disayangi.
Dan ada Silas diantara kerumunan warga, anak-anak kecil perempuan mengerumuni Silas dan sepertinya Silas juga telah membaur dengan warga desa. Kepala desa memberi sambutan yang cukup panjang dan semua orang antusias mendengarkannya, sebab sambutannya sangat dalam dan menyentuh yang membuat beberapa orang dewasa baik perempuan atau laki-laki ada yang sampai meneteskan air mata, "Hari yang cerah sangat mendukung rencana dadakan ini. Kemarin sore Theo dan Maerin datang ke rumahku untuk membagikan hasil panen sayurannya yang ada dikebun. Bahkan kalian juga bisa melihat kebun mungilnya di samping rumah ini." Ucap Kepala desa, dan warga pun menoleh ke arah kebun yang disebutkan Kepala desa sambil tertawa ringan.
"Lalu ada kejadian yang sangat mengejutkan tentang pengakuan Theo..." Lanjut Kepala desa.
Theo tiba-tiba terkejut dengan ucapan Kepala desa, dia berpikir apakah Kepala desa hendak mengungkapkan identitas asli Theo, tatapan mata Theo terlihat gelisah, dan tiba-tiba Maerin menggenggam lembut tangan Theo. Theo pun menatap Maerin, Maerin hanya tersenyum dan sedikit menggeleng seolah mengatakan hal yang digelisahkan Theo tak akan terjadi. Theo cukup menarik napas panjang dan menghembuskannya kemudian lanjut memperhatikan Kepala desa.
"...Theo mengaku akan meninggalkan desa ini dan kembali pulang ke kampung halamannya. Hal itu benar-benar membuatku terkejut, seperti tersambar petir di siang bolong. Aku benar-benar tak pernah berpikir bahwa dia dan istrinya akan meninggalkan desa ini...."Kepala desa melanjutkan sambutannya.
Beberapa warga mendengarkan sambi mengangguk pelan karena merasakan hal yang sama.
"...sejujurnya aku ingin menahannya untuk tetap tinggal, namun itu hanyalah tindakan egois orang tua ini. Jadi aku mengurungkan niatku, dan sebaliknya aku mencoba mendukung keputusan apapun yang mereka ambil..." Kepala desa terjeda, ia sedikit mendongak ke atas seolah menyuruh air matanya yang hampir keluar untuk kembali masuk. Semua orang terdiam seolah merasakan hal yang sama. Setelah beberapa saat, kepala desa melanjutkan kembali, "kemanapun kalian pergi, dan kapanpun kalian ingin kembali. Desa ini selalu menerima kalian." Ucap kepala desa sambil melihat ke arah Theo dan Maerin. Theo merapatkan bibirnya untuk tetap menahan diri agar tak menangis, matanya sudah berkaca-kaca penuh air mata. Sementara Maerin hanya bisa memeluk erat lengan kiri Theo, ia membenamkan wajahnya di lengan baju Theo seolah menyembunyikan tangisnya.
"Lalu setelah kalian berpamitan denganku semalam dan pulang, tak lama kemudian beberapa warga desa datang dan menemuiku untuk menceritakan hal yang ternyata hal yang sama seperti yang kurasakan. Setelahnya warga saling bergantian berdatangan hingga membuat rumahku cukup ramai dan penuh. Semua orang mengatakan hal yang sama, lalu kami akhirnya berdiskusi dan hasilnya seperti yang kalian lihat sekarang ini. Semua orang berkumpul di sini. Setidaknya kami ingin membuat kenangan bersama yang bisa kami kenang bersama. Ah sudahlah, orang tua ini tak bisa lagi melanjutkan apa yang ingin dikatakan. Yang jelas kalian adalah bagian dari kami. Jadi mari buat kenangan indah bersama sebelum kalian pergi dari desa ini." Kepala desa mengakhiri sambutannya dengan jarinya menyentuh sudut matanya seolah mengusap air matanya.
Theo berbicara dengan suara yang terdengar menahan tangis, mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada kepala desa dan semua warga desa yang telah menerima dan memperlakukannya dan Maerin dengan sangat baik. Theo tak berhenti mengulang-ulang rasa terima kasihnya itu. Setelahnya kepala desa mengajak untuk mencicipi dan makan-makan bersama.
Silas benar-benar merasa merinding sebab untuk pertama kalinya dia tak bisa berkata-kata dan hanya bisa kagum dan takjub dengan apa yang telah dilihatnya dengan kedua matanya sendiri secara langsung. Dalam hatinya berkata, 'Maafkan saya Pangeran Theo. Karena keegoisan saya yang meminta anda untuk melanjutkan mimpi mendiang Putra Mahkota, membuat anda mengubur sekaligus membuang kebahagiaan yang telah susah payah anda usahakan dan bangun sendiri. Dan untuk mendiang Putra Mahkota, maafkan saya yang menyeret adik tersayang anda kedalam bahaya yang selama ini anda pikul sendirian. Saya berjanji akan mengorbankan nyawa saya yang tak seberapa ini untuk melindungi adik anda. Saya akan menerima semua hukuman dan kebencian anda saat saya telah menyusul anda nanti.' Silas hanya menunduk dan merasa sangat bersalah.
Semua orang cukup terlihat berbahagai walaupun sebenarnya dalam hati, mereka merasa sedih. Mereka merasa bahwa ini adalah perpisahan sekaligus pertemuan terakhir dengan Theo dan Maerin. Hanya anak-anak kecil yang benar-benar merasa riang gembira, sebab mereka belum mengenal dan mengetahui tentang definisi perpisahan. Mereka hanya mengira bahwa ini seperti perayaan atau pesta. Ironisnya mereka jugalah yang paling histeris menangis saat menyaksikan kepergian Theo dan Maerin serta didampingi Silas dari desa ini.
Bersambung...