Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Hibernasi Sang Naga
Setelah ledakan amarah yang membelah samudera, kestabilan dimensi Tian Shan mulai retak.
Luka batin yang baru saja terbuka—kenyataan bahwa ia adalah "anak gelap" yang dibuang demi reputasi—bertabrakan dengan sisa-sisa energi naga 10.000 tahun yang belum sepenuhnya ia jinakkan.
Di tengah pelariannya menuju Negara Matahari Terbit, ia terpaksa melakukan teleportasi darurat yang mendaratkannya jauh di dalam Hutan Larangan Utara, sebuah tempat di mana hukum ruang dan waktu melintir tak beraturan.
Begitu kakinya menyentuh tanah yang tertutup lumut beracun, tubuh Tian Shan ambruk.
Ia merasakan jiwanya terbelah; sisi dingin yang selama ini ia bangun hancur oleh api amarah yang meluap-luap.
Tian Shan menyeret tubuhnya ke sebuah akar pohon purba yang menyerupai takhta alami.
Di sana, ia duduk bersila, memegang Lentera Pencari Asal di pangkuannya.
Cahaya biru dari lentera itu kini merambat naik, menyelimuti tubuhnya hingga membentuk sebuah kepompong kristal yang tak tertembus.
"Aku harus menjernihkan kekosongan ini." bisiknya sebelum kelopak matanya tertutup sepenuhnya.
Kesadaran Tian Shan perlahan tenggelam ke dalam samudera batin yang gelap gulita.
Di sana, ia memasuki fase hibernasi jiwa yang sangat dalam.
Di alam bawah sadar itu, ia mulai menghadapi ujian-ujian yang tak terlihat oleh mata manusia—bentrokan antara kebenciannya pada orang tua biologisnya dan kasih sayang yang ia terima dari Guru Xinjiang.
Namun, apa yang terjadi di dalam batinnya tetap menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik dinding kristal biru tersebut.
Sementara raga Tian Shan tertidur di Hutan Larangan, dunia luar telah berubah sepenuhnya.
Ia tidak lagi dianggap hanya sebagai pendekar kuat; ia telah diangkat menjadi Legenda Sepanjang Masa.
Yang unik dari rumor yang berkembang adalah sebuah pemahaman baru yang mengguncang tatanan dunia persilatan: Tian Shan dianggap sebagai sosok yang mencapai puncak segalanya tanpa mengambil jalur kultivasi konvensional.
Para pendekar di seluruh benua mulai membicarakan bagaimana ia tidak pernah terlihat bermeditasi untuk meningkatkan ranah, tidak pernah masuk sekte, dan tidak pernah terikat pada aturan Qi yang kaku. Bagi mereka, Tian Shan adalah manifestasi dari "Manusia yang Menjadi Alam Itu Sendiri."
Di Kedai-Kedai Arak: Para pengelana bercerita dengan penuh kekaguman bagaimana Tian Shan mampu membelah gunung hanya dengan jentikan jari tanpa perlu merapal mantra.
Di Kuil-Kuil Kuno: Para rahib mulai menggambar sosok pria bercaping sebagai simbol keseimbangan antara kehampaan dan kekuatan.
Di Alun-Alun Kota: Pemuda-pemuda yang dulu terobsesi pada pangkat kultivasi mulai membuang buku-buku manual mereka, terinspirasi oleh cara Tian Shan yang bermain catur dengan santai namun mampu menggetarkan jiwa sang Grandmaster.
Dunia mulai menyebut jalurnya sebagai "Jalur Kebebasan Mutlak." Mereka tidak tahu bahwa "kebebasan" itu dibayar dengan luka yang sangat dalam dan pengasingan yang menyakitkan.
Hutan Larangan yang biasanya dipenuhi monster kini menjadi sangat sunyi.
Kehadiran raga Tian Shan yang sedang bermeditasi menciptakan zona tekanan yang begitu agung hingga makhluk buas mana pun tidak berani mendekat dalam radius sepuluh mil.
Burung-burung berhenti berkicau, dan pepohonan seolah-olah merunduk ke arah gubuk energi tempat Tian Shan berbaring.
Alam semesta sedang menjaga "anak gelap" yang dibuang ini, memberikan waktu bagi sang legenda untuk bertarung dengan hantu-hantu masa lalunya di dalam mimpi yang sangat panjang.
Dunia terus bergerak, kekaisaran-kekaisaran mulai gemetar menanti kemunculannya kembali, sementara sang naga yang terluka sedang tertidur, bersiap untuk bangun bukan sebagai manusia, bukan sebagai dewa, melainkan sebagai hukum pembalasan yang mutlak.