Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Pilihan Ogi
"Kenapa kau menyalahkanku? Mungkin karena belum rezekimu dapat pelanggan sekarang," kata Ogi.
“Jadi naon pilihan anjeun? Rék ngajauhan atawa ngudag cintana? (Jadi apa pilihanmu? Mau menjauh atau mengejar cintanya?)" tukas Dadang sembari kembali duduk. Dia sudah menghabiskan rokoknya dan segera membuangnya dalam keadaan mati.
Ogi mendengus kasar. “Sigana ngajauhan leuwih hadé. Abdi teu hayang ieu rarasaan jadi teuing jero. Abdi kapok geus kungsi patah haté, (Kayaknya menjauh lebih baik. Aku nggak mau perasaan ini terlalu dalam. Kapok aku sudah patah hati,)" ungkapnya seraya memegangi dada.
"Kalau begitu, bersikaplah cuek dan dingin padanya sekarang. Oh iya! Dan paling utama jangan terlihat tampan!" cetus Dadang bersemangat.
"Nggak terlihat tampan? Bagaimana? Wajah ini susah loh dibuat jelek," kata Ogi.
"Cih! Ngaku-ngakunya!" tanggap Dadang sinis. "Tapi ini saranku ya. Tumbuhkan kumis dan janggut," lanjutnya.
"Kumis? Aku udah punya kok, meski agak tipis," sahut Ogi.
"Itu kumis tipis bikin kau terlalu ganteng. Buat kumisnya tebal biar kayak bapak-bapak!" saran Dadang.
"Malas ah, Dang! Nanti susah makan lagi. Makanannya pada nyangkut di bulu."
"Terus kau mau punya cara apa lagi buat bikin dia nggak tertarik hah?"
Ogi terdiam sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Dia lalu berucap, "Nanti aku pikirkan deh. Aku sebaiknya pulang dulu. Udah siang banget."
...***...
Ogi baru kembali pulang. Dia memasukkan sepeda ontelnya ke dalam gudang samping rumah terlebih dahulu.
Waktu sudah menunjukkan jam dua belas siang lewat dua puluh menit. Sudah waktunya makan siang. Ogi bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan. Tapi dia melihat di sana sudah ada Arisa yang makan bersama Asih dan Abdi.
"Kalian sudah makan siang atuh?" tanya Ogi.
"Sudah, Gi. Baru aja selesai. Ini Neng Arisa katanya pertama kali makan ikan asin dan dia suka banget," ungkap Asih.
Arisa hanya tersenyum singkat sambil mengangguk malas. Dia masih tampak kesal pada Ogi.
"Gi, Teteh habis ini pulang ya. Kebetulan ada pengajian jam dua ini," imbuh Asih.
"Iya, Teh..."
"Aku juga akan pulang setelah ini, Gi. Ada kerjaan dari Haji Halim. Mau panen tomat katanya," ucap Abdi.
"Iya, Kang..."
"Kok kalian pada pergi sih? Sepi dong rumah ini," keluh Arisa. Sebenarnya dia lebih malas berduaan dengan Ogi.
"Nanti kami besok ke sini lagi atuh, Neng..." tanggap Asih.
"Lagian kan masih ada Ogi bersamamu. Dia nggak akan bikin rumah ini sepi." Abdi diam-diam mengerlingkan mata pada Ogi. Seolah memberi isyarat pada Ogi.
Ogi hanya tersenyum. Dia tentu mengerti maksud Abdi. Apalagi kalau bukan hal yang mengarah pada mesra-mesraan. Namun lelaki itu tentu tak tahu kalau pernikahan Ogi dan Arisa hanyalah kontrak.
Usai makan, Asih dan Abdi pergi meninggalkan meja makan. Hal serupa juga dilakukan Arisa. Gadis itu tampak masuk ke kamar.
Dahi Arisa berkerut dalam. Saat sudah masuk ke kamar, dia mengintip Ogi dari balik pintu.
"Kenapa dia diam aja tadi? Nggak ada sedikit pun ngajak aku bicara," gumam Arisa heran. Namun dia langsung membuang rasa herannya itu dan memilih tak mau berlarut-larut memikirkannya.
Sementara itu, Ogi sibuk menikmati makan siang. Dia juga melepas kepulangan Asih dan Abdi. Kini hanya tinggal dirinya dan Arisa berduaan di rumah.
"Rasanya aneh. Kok aku panas dingin ya," gumam Ogi. Dia terus berusaha membuang pikiran kotornya yang kadang bermunculan.
"Kang! Kang Ogi! Aaaa!" Arisa tiba-tiba berteriak dari dalam kamar.
Sontak Ogi bergegas ke kamar untuk memeriksanya.