Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Semburat jingga fajar baru saja menyentuh cakrawala Jakarta ketika Hana sudah berdiri di dapur kecil apartemennya. Suasana pagi ini sungguh berbeda.
Tidak ada teriakan Ibu Mira yang menuntut kopi pahit, tidak ada Maura yang mengeluh mual hanya untuk menarik perhatian Arlan. Hanya ada suara desis mentega di atas wajan dan aroma roti panggang yang menenangkan.
Kebiasaan lima tahun sebagai istri yang berbakti ternyata sulit dikikis dalam semalam. Secara otomatis, Hana menyiapkan porsi sarapan yang cukup lengkap. Omelette sayur, potongan buah segar, dan segelas jus jeruk. Ia bahkan dengan cekatan menata bekal makan siang ke dalam wadah kedap udara.
Baginya, menyiapkan makanan bukan lagi bentuk pengabdian kepada pria yang tak menghargainya, melainkan bentuk kasih sayang kepada dirinya sendiri.
"Kau berhak makan enak, Hana. Kau butuh energi untuk menghadapi dunia," bisiknya menyemangati diri sendiri.
Baru saja ia meletakkan kotak bekalnya di atas meja kecil yang menyatu dengan ruang TV, suara bel pintu yang interaktif memecah kesunyian pagi. Hana melirik jam dinding. Pukul 07.15.
Siapa yang datang sepagi ini? Ia melangkah ke pintu dan melihat layar monitor intercom. Sosok pria jangkung dengan setelan jas abu-abu gelap berdiri di sana. Adrian Gavriel. Hana sedikit terkejut, namun segera membuka kunci pintu.
"Adrian? Kau menjemputku ke sini?" tanya Hana saat pintu terbuka.
Adrian tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan namun terasa hangat. "Aku tahu kau tidak membawa kendaraan kemarin. Dan sebagai Sekretaris Utama, jadwalmu pagi ini sangat padat. Aku tidak ingin kau terlambat karena kesulitan mencari taksi."
Hana terpaku sejenak, lalu memberikan jalan. "Masuklah dulu. Aku sedang menyiapkan kopi. Maaf apartemenku masih sedikit berantakan."
Adrian melangkah masuk dengan langkah mantap. Matanya menyapu ruangan apartemen Hana yang minimalis namun terasa sangat hidup. Jauh berbeda dengan kesan dingin yang ia tangkap di rumah keluarga Mahendra.
"Ini tempat yang jauh lebih cocok untukmu daripada rumah besar itu," komentar Adrian tulus sambil duduk di kursi bar kecil dekat dapur.
Sambil merapikan tas kerjanya, Hana sesekali mengajak Adrian mengobrol tentang agenda rapat direksi nanti. Ada kenyamanan yang aneh saat berbicara dengan Adrian, pria itu mendengarkan setiap kata-katanya dengan penuh perhatian.
Memberikan rasa dihargai yang selama ini Hana rindukan. Setelah semuanya siap, mereka berdua melangkah keluar menuju lobi, di mana mobil sedan mewah Adrian sudah menunggu.
Perjalanan menuju Gavriel Corp memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Namun, suasana tenang di dalam mobil mendadak sirna saat mereka memasuki area drop-off gedung perusahaan.
Jantung Hana berdegup kencang, seolah dipukul oleh palu godam. Di sana, tepat di depan lobi utama, sebuah mobil SUV putih yang sangat ia kenali terparkir sembarangan.
Seorang pria dengan kemeja yang kusut dan wajah penuh amarah sedang berdiri bersandar di pintu mobil sambil terus menatap pintu masuk gedung.
Arlan.
"Dia menemuiku," bisik Hana dengan nada getir.
Adrian melirik ke arah luar, rahangnya mengeras. "Kau ingin aku yang menghadapinya?"
"Tidak," jawab Hana sambil menarik napas panjang. "Dia suamiku... setidaknya untuk saat ini. Aku harus menyelesaikannya sendiri."
Begitu Hana turun dari mobil, Arlan langsung melesat menghampirinya. Matanya merah, jelas menunjukkan bahwa pria itu tidak tidur semalaman.
"Hana! Dari mana saja kau?! Kau pikir kau hebat bisa menghilang tanpa kabar?" Arlan berteriak, tidak peduli pada tatapan para karyawan yang mulai berdatangan.
Hana mencoba bersikap tenang. "Aku butuh waktu untuk berpikir, Mas. Aku di sini untuk bekerja."
"Kerja?! Pulang sekarang!" Tanpa peringatan, Arlan mencengkeram lengan kanan Hana dengan sangat kasar. Kekuatannya membuat Hana meringis kesakitan. "Ibu jatuh sakit karena memikirkanmu yang kabur! Maura terus menangis! Kau benar-benar istri tidak tahu diuntung. Masuk ke mobil!"
Arlan menyeret Hana menuju SUV putihnya. Cengkeramannya begitu kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di kulit Hana yang putih.
"Lepaskan, Mas! Kau menyakitiku!" Hana meronta, namun tenaga Arlan jauh lebih besar.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar nan kokoh mencengkeram pergelangan tangan Arlan yang sedang memegang Hana. Arlan terpaksa berhenti dan berbalik. Ia mendapati Adrian Gavriel berdiri dengan tatapan mata yang seakan bisa menusuk jantung siapapun yang melihatnya.
"Lepaskan dia," ucap Adrian dengan nada rendah namun penuh intimidasi.
Arlan tertawa sinis, meski matanya menyiratkan keterkejutan. "Oh, jadi ini si pahlawan kesiangan itu? Adrian Gavriel. Hebat sekali kau, mencuci otak istri orang dan membawanya kabur."
Arlan bukannya melepaskan, justru semakin mempererat cengkeramannya pada Hana. "Hentikan langkahmu, Gavriel! Jangan berani ikut campur. Ini urusan rumah tangga kami. Dia istriku! Aku punya hak penuh atas dirinya. Kau tidak punya hak membawa istri orang sembarangan seperti ini!"
Hana menatap Arlan dengan rasa tidak percaya. "Hak penuh? Kau bicara seolah aku ini barang milikmu, Mas. Kau yang meninggalkanku di saat aku paling membutuhkanmu, dan sekarang kau bicara soal hak?"
"Diam kau, Hana!" bentak Arlan. Ia menoleh kembali ke Adrian. "Pergi dari sini sebelum aku membuat keributan di depan gedungmu yang megah ini. Aku tidak akan membiarkan pria manapun menyentuh milikku."
Adrian tidak melepaskan cengkeramannya pada tangan Arlan. Ia justru maju satu langkah, membuat Arlan sedikit mundur.
"Istri bukan properti, Tuan Arlan Mahendra," ujar Adrian dingin. "Dan di depan gedungku, tidak ada tempat bagi pria yang menggunakan kekerasan fisik untuk menunjukkan otoritasnya. Lepaskan dia, atau keamanan akan menyeretmu keluar dengan cara yang sangat tidak terhormat."
Situasi semakin memanas. Para penonton di lobi mulai berbisik-bisik. Arlan merasa harga dirinya diinjak-injak di hadapan publik, terutama di depan pria yang jauh lebih sukses darinya.
"Kau menantangku?" Arlan mendesis, urat lehernya menonjol. "Hana, masuk ke mobil sekarang! Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan menceraikanmu detik ini juga!"
Hana terdiam. Kalimat 'cerai' yang dulu sangat ia takuti, kini terdengar seperti musik di telinganya. Ia menatap tangan Arlan yang masih mencengkeramnya, lalu beralih menatap wajah suaminya yang penuh egoisme.
"Kalau begitu, lakukanlah, Mas," jawab Hana dengan suara bergetar namun tegas. "Ceraikan aku. Karena aku pun sudah muak menjadi satu-satunya yang berjuang dalam pernikahan yang kau bagi dengan wanita lain."
Arlan ternganga. Ia tidak menyangka ancaman pamungkasnya justru menjadi bumerang. Di saat itulah, Adrian memberikan sentakan kuat pada tangan Arlan, memaksa pria itu melepaskan Hana. Adrian segera menarik Hana ke belakang punggungnya, melindunginya sepenuhnya dari jangkauan Arlan.
...----------------...
Next Episode....
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.