NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Doa Yang Menunggu Kabar

Langkah ibu terasa lebih berat saat meninggalkan terminal. Keramaian masih sama, suara mesin bus masih bersahutan, tapi dunia ibu seakan mengecil dan menjauh. Tak ada lagi tangan yang digenggam, tak ada suara anak-anak yang memanggilnya dari belakang.

Hanya sisa lambaian yang terus terulang di kepalanya.

Di perjalanan pulang, ibu lebih banyak diam. Matanya menatap keluar jendela angkutan umum, mengikuti jalanan yang perlahan bergerak mundur. Sesekali ia menghela napas panjang, lalu menegakkan punggungnya, seolah menolak untuk larut terlalu dalam pada perasaan sendiri.

Rumah menyambutnya dengan kesunyian. Pintu berderit pelan saat dibuka. Ruang tengah yang tadi pagi ramai kini terasa lapang dan dingin. Ibu meletakkan tasnya, lalu duduk di tempat yang sama saat ia menyiapkan keberangkatan anak-anaknya. Pandangannya jatuh pada sudut ruangan—tempat tas Kak Rini dan Kak Pipi tadi diletakkan.

Ibu terdiam cukup lama.

Tangannya meraih dompet kain yang masih tersimpan di tas. Ia membukanya perlahan, menghitung sisa uang yang ada, lalu melipatnya kembali dengan rapi. Tak ada penyesalan di wajahnya, hanya kelelahan yang dipeluk dengan pasrah.

“Yang penting mereka sampai,” gumamnya lirih, entah pada siapa.

Menjelang siang, ibu bangkit. Ia menyapu lantai, menata kembali barang-barang, melakukan hal-hal kecil yang biasanya mampu menenangkan hatinya. Namun setiap sudut rumah seakan menyimpan jejak—suara tawa, langkah tergesa, dan percakapan yang kini hanya tinggal ingatan.

Saat azan zuhur terdengar, ibu mengambil wudu. Di atas sajadah, ia menundukkan kepala lebih lama dari biasanya. Doanya mengalir pelan, penuh harap dan ketakutan yang tak sempat terucap.

“Ya Allah, jaga anak-anakku di perjalanan. Lapangkan rezeki mereka, kuatkan langkah ayahnya, dan beri kami kesabaran menunggu,” bisiknya.

Di luar, hari terus berjalan seperti biasa. Namun bagi ibu, sejak bus itu pergi, waktu seakan melambat—menunggu kabar, menunggu suara, menunggu kepulangan yang entah kapan akan tiba.

Malam turun perlahan, tanpa permisi. Lampu di ruang tengah menyala redup, memantulkan bayangan ibu yang duduk sendiri di sudut ruangan. Jam dinding berdetak pelan, suaranya terdengar lebih keras dari biasanya, seolah ikut menghitung jarak yang kini memisahkan.

Ibu melipat sajadah yang masih hangat, lalu menyimpannya dengan rapi. Doa-doa tadi belum sepenuhnya pergi dari dadanya. Ia duduk sejenak, menatap layar ponsel yang sejak sore tak juga berbunyi. Tak ada pesan, tak ada panggilan. Hanya layar gelap yang memantulkan wajahnya sendiri.

Sesekali ibu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan hatinya.

“Pasti masih di jalan,” gumamnya, lebih sebagai penguat untuk dirinya sendiri.

Ia bangkit menuju dapur. Memasak sedikit nasi dan menghangatkan lauk seadanya. Biasanya suara langkah dan obrolan ringan menemani makan malam. Kini, piring di meja hanya satu. Ibu makan pelan, hampir tanpa rasa, seolah kewajibannya hanyalah memastikan tubuhnya tetap kuat untuk esok hari.

sekarang hanya tinggal bg ari, bg al bg randi dan kk rita juga aku dan alfa adik bungsuku.

Usai makan, ibu merapikan dapur, lalu kembali ke ruang tengah. Pandangannya tertuju pada foto keluarga yang tergantung di dinding—foto lama, ketika semuanya masih sering berkumpul. Jarinya menyentuh bingkai foto itu perlahan.

“Kalian harus kuat,” bisiknya lirih.

Malam semakin sunyi. Ibu berbaring, memandangi langit-langit kamar. Jauh di dalam dadanya, ada rindu yang belum menemukan bentuk, dan harapan yang terus dijaga agar tetap menyala.

Di balik gelap malam, ibu tahu satu hal pasti: meski jarak memisahkan, doa tak pernah benar-benar pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!