Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Dan Harus Bersabar
Kedua tangan Rio berada di kedua bahu Aruna. Mereka berdiri cukup dekat. Rio menatap Aruna dengan senyum menawan dalam siraman lampu jalanan.
Aduh Rio rasanya ditatap begini dan kamu dekat sampai-sampai aku ingin napasmu menyapu wajahku. Getar hati Aruna yang sudah tak menentu perasaannya berada.di samping Rio, begitu dekat dengan lelaki itu membuatnya penuh khayal.
"Terima kasih ya, Runa kamu sudah mengajakku keliling di Sapporo, indahnya patung es dan bias lampu serta udara sejuk membuat pikiranku fresh ..." tersenyum Rio sambil menarik tangan Aruna, "Yuk balik ke hotel supaya besok jangan terlalu lelah.
"Paling tidak ada waktu senggang yang kita isi untuk bersantai ..." ujar Aruna.
Mereka berjalan bersisian dalam udara dingin malam di Sapporo.
Aruna tersenyum walau ada kecewa karena tadi sudah berharap dan berkhayal Rio akan meraihnya ke pelukannya, atau gimana gitu. Tapi dia gadis yang cukup sadar diri walau ngebet sama Rio, tapi harus dijalaninya dengan kesabaran. Apalagi hampir empat tahun tak bertemu, dan begitu ketemu bisa.berduaan apa itu bukan hadiah untuk dirinya.
Tapi sayangnya Aruna hanya menikmati genggaman tangan Rio hanya beberapa detik saja. Karena saat ini Rio sudah melepaskan tangan genggaman tangan mereka.
Tapi tak apa paling enggak bisa merasakan genggaman tangan lelaki terkasih itu.
"Sabar Aruna ... Kalian sudah mulai dekat dan masih banyak waktu di Jakarta nanti untuk bertemu ..." ada suara yang menghibur hatinya.
Seperti yang telah disepakati Rio dan Aruna meninggalkan Sapporo terbang kembali ke Tokyo untuk menjalani rutinitas masing-masing.
Jika Rio merasa pertemuannya dengan Aruna adalah semacam pertemuan reuni dengan teman lama, yang tentu saja menimbulkan rasa nostalgia, walau saat bersekolah bersama dengan gadis itu hanya sebatas sesama teman. Sungguh Rio yang hanya fokus sekolah serta belajar dan membiasakan mempelajari menejemen perusahaan milik kakeknya itu, tak tahu dan tak menyadari jika Aruna memiliki perasaan pada dirinya.
Namun bagi Aruna kebersamaannya yang memakan waktu cukup lama dengan Rio setelah hatinya kecewa karena tak direspon saat di sekolah dulu, tentu saja menjadikannya sebuah vitamin penyemangat pikiran dan membuat perasaannya begitu diayun keindahan. Walau dia sadar belum tahu pasti apakah Rio memperhitungkan waktu yang mereka lalui bersama.
Ah itu nanti belakangan. Yang Penting Rio tak punya pacar dan aku juga jomblo walau pernah berpacaran. Kesananya kita tak tahu, dan tentunya harus ada usaha untuk lebih maju dari hubungan yang telah dimulai dengan tamasya indah ini.
Jika Rio masih tetap di tempat, terpaksa aku yang maju, begitu niat Aruna. Yang penting tidak terang-terangan menawari diri. Aku hanya ingin melanjutkan yang telah dimulai.
Apa salahnya?
Aruna yang sedang kasmaran pada lelaki pertamanya itu membela diri, bahwa sah saja jika nanti dirinya yang memberi sinyal pada Rio. Yang penting tak langsung to the point melamar lelaki itu lebih dulu.
"Rio terima kasih bajunya, ya ..." tatap Aruna penuh senyum bahagia saat mereka berpisah di luar bandara karena akan pulang ke kediaman masing-masing.
"Aku terima kasih sangat kamu teman lama yang kutemukan kembali. Rasanya kayak spesial " ujar Rio menyalami Aruna.
Aruna sangat nyaman mendengar kata spesial yang diucapkan Rio dengan bola mata berbinar.
Rio kembali ke hotel untuk mempersiapkan diri dengan tugasnya mengadakan riset dan lobby ke perusahaan calon kerja damanya. Sedangkan Aruna akan kembali ke rumahnya dan juga meneruskan urusan pemindahan saham atau penjualan saham peninggalan kakek dan mamanya, untuk bekal usaha di Jakarta.
Karena setelah di Jakarta dia tak berminat untuk berkumpul dengan papa dan ibu sambung yang dulu selingkuhan papanya. Dengan tabungan yang jumlahnya untuk seorang gadis cukup banyak karena mencapai ratusan miliyar tentu saja Aruna bisa memiliki tempat tinggal yang nyaman serta memiliki mobil sesuai impiannya. Dan menjalankan usaha butik bajunya sambil melanjutkan kuliah untuk mewujudkan memiliki usaha desain interior sendiri disamping memiliki butik.
Di Jakarta, tepatnya Rayi dan Airin semakin giat berlatih menunggang kuda dengan beberapa macam rintangan yang telah dipersiapkan pelatih mereka. Tentu saja Didit mendadak jadi pengamat, dan secara tak langsung mewakili dirinya menjadi asisten pelatih yang mengawasi Rayi dan Airin.
Jika Rayi sibuk dengan latihan demi latihan menjelang diselenggarakannya event menunggang kuda se Jabodetabek bersama Airin, si Lala rupanya sudah mendaftar sebagai anggota club Satya baru dan baru saja mendapat kuda sebagai hak milik. Beberapa hari ini dia berlatih dengan menyewa kuda, tapi kebetulan ada anggota yang akan pindah keluar negeri dan kudanya dijual, jadilah kini kuda yang berbulu coklat kemerahan itu menjadi kuda tunggangan Lala.
"Kuda merah ini sudah terbiasa dengan pemilik lama, jadi Anda harus sabar dan jangan memaksa, karena di Merah ini sejak hari ini akan berganti majikan yang juga patner, jadi harus menyelaraskan kekompakan dan kebersamaan yang baru ..." ujar Siswoaji pada Lala.
"Ya Bang ..." Lala mengangguk angguk.
"Belajarlah akrab dengan si merah ini, bisa dengan meniup lubang hidungnya, supaya dia lebih mengenali Andah, karena kuda memiliki kelenjar penciuman yang besar, sehingga dia bisa membedakan bau atau aroma yang selalu bersamanya ..." jelas Siswoaji.
"Baik," wah kuda juga butuh pengenalan diri dan harus akrab dengan bau aroma pemiliknya, batin Lala yang baru mengerti bahwa di dunia perkudaan harus diadakan kekompakan dan pengenalan sampai ke aroma segala.
"Pelan saja dulu dan antara kuda dengan penunggangnya itu harus ada kerjasama. Pahami juga jika Anda memaksa kuda dalam keadaan kuda belum siap, atau kuda kurang nyaman dia bisa marah, dan harus dipahami juga jika tanda-tandanya kuda berontak itu dia dalam posisi lari menunduk, jika demikian tarik tali kekang kuda, usahakan kuda mendongak, kuatkan posisi tumit tekan rendah dan posisi bahu ke belakang untuk menahan tali kekang kuda supaya kepala kuda mendongak, jangan sesekali berusaha menghentikan kuda yang sedang murka ..."
Mulanya belajar berkuda untuk lebih dekat dengan Didit dan juga berniat menjauhkan pemuda mantan kekasih yang diinginkannya lagi itu, dari Rayi yang memang semakin hari semakin dipepet Didit. Namun lama kelamaan setelah seminggu lebih menikmati sensasi berada di atas punggung kuda merasakan kepuasan tersendiri.
Lala ditemani Anik asyik berkeliling di atas punggung kuda mereka bersama penunggang yang lain. Tapi suasana di atas punggung kuda itu tiba-tiba terusik oleh pemandangan dimana Rayi yang baru saja menghentikan latihannya tapi masih tetap duduk di punggung kudanya saat Didit mendekat memberikan sebotol air mineral. Posisi Didit berdiri di samping kuda tunggangan Rayi.
"Makasih ya, Kak Radit ..." ujar Rayi yang merasa tak enak hati juga lama-lama selalu diperhatikan Didit.
"Santai saja, Ray, kita satu tim," ujarnya.
Lala yang bukan hanya sekali dua kali melihat Didit selalu dekat Rayi rupanya tak bisa menahan rasa cemburunya.
"Hayya ...: tanpa sadar dia memerintahkan kuda merahnya berlari dengan suara marah dan menarik kasar tali kekang kuda dengan tangan kirinya dan tangan kanannya yang seharusnya dibuat untuk memegang tali kekang satunya justru dibuat untuk memukul bagian kanan kuda.
Kuda yang terkejut dikasari justru tak mau lari. Lala yang cemburu pada Rayi serta Didit tanpa sadar melampiaskan pada kuda yang yang seharusnya masih membutuhkan tingkat kedekatan serta kebersamaan.
"Hyaaa ...!!!" kedua tangannya malah semakin memukul-mukul kepala kudanya dengan posisi punggung membungkuk.
Dan kuda yang mulanya hanya menggeleng-geleng itu langsung merunduk dan berputar-putar di tempat.
Rayi yang sedang meneguk air dari botol tak menyadari jika kuda milik Lala yang posisinya berada berjarak lima meter di belakangnya merasa terganggu dengan cara Lala yang masih memaksa kudanya berlari dengan emosi.
suka banget alurnya