Hidup Xiao Chen berubah ketika sebuah kejadian misterius membuatnya terlempar ke jaman kerajaan, dengan berbekal sistem beladiri dan rasa ingin tahu ia mulai menjalani kehidupan barunya yang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RubahPerak77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan menuju Ibukota : Bara Api Pertarungan
Ia mengangkat tangannya, dan kegelapan di sekitarnya semakin memadat membentuk pusaran yang mengerikan di atas kepala Xiao Wu.
"Terimalah, Teknik Illusi Neraka milikku...!!!!"
Pusaran hitam itu menderu, menelan seluruh kesadaran Xiao Wu ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar. Di dalam Teknik Ilusi Neraka, Xiao Wu melihat dirinya sendiri membusuk, dikelilingi oleh suara bisikan ribuan arwah yang menuntut nyawanya.
Namun, di saat kritis itu, ia mulai menggigit lidahnya hingga darah segar membasahi rongga mulut. Rasa sakit yang tajam dan amis darah itu memicu sirkulasi energi dalam tubuhnya, memberikan secercah kesadaran di tengah badai ilusi.
"Hanya segini... kemampuan sampah neraka..??" geram Xiao Wu.
Tanpa mempedulikan tekanan dari aura kegelapan yang meremukkan tulang-tulangnya, Xiao Wu membakar seluruh esensi energinya. Ia tahu, jika pertarungan ini berlarut, ia akan mati karena kelelahan mental. Satu-satunya jalan adalah serangan bunuh diri.
Ia membiarkan pertahanannya terbuka lebar. Melihat celah itu, sang Binatang Neraka tertawa mengejek dan melesatkan kedua aritnya.
JLLLEEEEEBBBB...
Satu arit menembus bahu kiri Xiao Wu, sementara yang lainnya merobek pinggangnya.
Namun, senyum di wajah binatang neraka membeku. Xiao Wu tidak mundur, ia justru merangsek maju, membiarkan rantai itu semakin dalam merobek dagingnya agar ia bisa memperpendek jarak.
"Kau... kau gila?!" Teriak binatang neraka yang panik.
"Mungkin saja," Jawab Xiao Wu dingin.
Dengan tangan yang gemetar namun pasti, Xiao Wu mengalirkan seluruh sisa tenaga dalamnya ke ujung pedangnya hingga bilah itu berpendar putih menyilaukan.
"Teknik Pedang Xiao, Kilatan Sabit Membelah Danau..!!!"
Cahaya putih itu meledak. Dalam jarak yang begitu dekat, sang Binatang Neraka tidak memiliki ruang untuk menghindar. Bilah pedang Xiao Wu menebas melewati leher makhluk itu, memisahkan kepala dari tubuhnya dalam satu ayunan yang dipenuhi kemarahan dan rasa sakit yang teramat sangat.
Bersamaan dengan terbunuhnya salah satu dari sepuluh binatang neraka, energi kegelapan yang menyelimuti area tersebut luruh seperti debu. Tubuh besar Binatang Neraka itu tumbang, kemudian berubah menjadi asap hitam yang menguap ke udara.
Xiao Wu jatuh berlutut. Napasnya tersengal, pendek dan berat. Darah mengalir deras dari bahu dan pinggangnya, membasahi tanah tempat ia berpijak. Dunianya berputar, penglihatannya perlahan mengabur menjadi bintik-bintik hitam. Xiao Wu hampir kehilangan nyawa, jika tebasannya meleset satu inci saja tadi, jantungnya lah yang akan tertusuk arit sang binatang neraka.
Di sampingnya, tekanan mental yang mengikat Ming Zhao perlahan sirna seiring tewasnya sang pengguna ilusi. Ming Zhao terbatuk, tersedak oleh udara yang tiba-tiba kembali normal. Ia perlahan bangkit, namun gerakannya kaku seperti boneka kayu.
Matanya yang biasanya tajam kini tampak kosong, terus menatap ke arah tempat di mana ia melihat "kematian" klan-nya tadi.
"Ibu...? Kakak...?" Gumam Ming Zhao lirih. Ia memungut pedangnya yang terjatuh, namun memegangnya dengan posisi yang salah. Ia selamat secara fisik, tetapi jiwanya masih terjebak di ambang batas antara kenyataan dan trauma ilusi yang baru saja dialaminya.
Ming Zhao tampak linglung, seolah-olah sebagian dari dirinya tertinggal di dalam kegelapan neraka tersebut.
Xiao Wu mencoba memanggil nama rekannya, namun hanya darah yang keluar dari mulutnya. Sambil memegangi luka di perutnya, ia hanya bisa bersandar pada pedangnya yang tertancap di tanah, menatap Ming Zhao dengan tatapan prihatin di tengah medan perang yang masih berkecamuk.
Tanpa berpikir panjang, Xiao Wu merogoh sakunya dan mengambil botol pemberian adiknya Xiao Chen, dimana didalamnya masih terdapat beberapa pil penyembuh.
Xiao Wu menelan dua butir pil penyembuh, lali segera mengkonsolidasikan tenaga dalamnya ke pusat luka. Sejujurnya tindakan ini terlalu beresiko, mengingat Xiao Wu masih berada di tengah-tengah pertempuran. Namun jika menunggu lebih lama maka Xiao Wu juga akan mati karena luka yang terbuka lebar dan juga darah yang terus terusan mengalir keluar.
Di sudut lain, tak terlalu jauh dari tempat Xiao Wu memulihkan diri. Xiao Feng terlihat sedang meladeni salah satu binatang neraka lainnya.
Lawan Xiao Feng adalah seorang pendekar yang memiliki tubuh tinggi besar dan juga kekar. Pendekar tersebut bersenjatakan golok. Akan tetapi golok tersebut bukan sekedar golok biasa. Melainkan sebuah golok yang telah di lumuri oleh semacam racun mematikan, yang dikenal Racun pelemah tulang.
Racun pelemah tulang adalah sebuah racun yang mempunyai efek melelehkan daging dan juga tulang, membuatnya busuk dan berbau basi hanya dalam waktu sekejap.
"Kau punya nyali besar untuk menghalangiku, manusia tua," Geram sang Binatang Neraka. Suaranya berat, seperti gesekan batu kali.
Tanpa banyak bicara, Xiao Feng menghentakkan pedangnya ke tanah, menciptakan gelombang kejut yang mengusir kabut di sekitarnya.
"Klan Xiao tidak pernah gentar melawan iblis sepertimu!"
Pertarungan pecah dengan ledakan energi yang dahsyat. Sang binatang neraka mengayunkan golok raksasanya dengan kekuatan yang mampu membelah bukit.
Setiap benturan antara pedang Xiao Feng dan golok beracun itu menciptakan percikan api yang disertai asap hijau beracun.
Xiao Feng bertarung dengan teknik yang sangat presisi. Ia tahu, satu goresan saja berarti akhir dari segalanya. Xiao Feng bergerak seperti bayangan, meliuk di antara tebasan golok yang brutal. Namun, sang Binatang Neraka bukan lawan sembarangan.
Sang binatang neraka sengaja mengincar area-area sempit, memaksa Xiao Feng untuk terus menangkis, yang mana setiap tangkisan itu membuat racun di bilah golok tersebut mulai menguap dan terhirup olehnya sedikit demi sedikit.
"Uhuk.. Uhukk...!!!" Xiao Feng terbatuk batuk, dadanya mulai terasa panas. Ia menyadari penglihatannya mulai sedikit mengabur.
Melihat celah itu, sang binatang neraka menyeringai puas. Ia mulai mendekat dengan cepat dan mulai melancarkan serangan beruntun.
BOOOOMMMMMM..!!!
BOOOOOMMMMMMM...!!!
BBOOOOOMMMMM....!!!!
Golok raksasa itu menghantam tanah berkali-kali, menghancurkan formasi pertahanan Xiao Feng. Dalam satu gerakan tipuan, sang binatang neraka memutar goloknya untuk mengincar leher Xiao Feng.
Xiao Feng masih berhasil menghindarinya, namun ujung golok itu sempat menyerempet lengan kirinya. Hanya sebuah goresan kecil, namun dampaknya mengerikan.
Dalam sekejap, kulit di sekitar luka itu menghitam. Xiao Feng mengerang tertahan saat merasakan tulang lengan kirinya seperti mencair, menjadi lunak dan tak bertenaga.
Bahkan pedang di tangan kanannya hampir saja terlepas karena guncangan rasa sakit yang luar biasa.
"Rasakan itu! Perlahan-lahan, kau akan melihat tubuhmu sendiri ambruk karena tulang-tulangmu berubah menjadi bubur...!!!!" Tawa sang Binatang Neraka menggelegar.
Xiao Feng melihat lengan kirinya yang mulai membusuk dengan cepat. Racun itu merambat naik menuju bahu, mendekati jantungnya.
Xiao Feng sadar bahwa tidak ada obat yang cukup cepat untuk menghentikan racun ini di tengah pertempuran. Mata Xiao Feng berkilat dingin, sebuah keputusan nekat diambilnya demi sebuah kemenangan.
"Jika tangan ini adalah harga yang harus kubayar untuk mengirimmu kembali ke neraka, maka aku rela..!!!"
Alih-alih mundur untuk mengobati lukanya, Xiao Feng justru merangsek maju. Ia membiarkan lengan kirinya yang lunglai dan membusuk itu menjadi umpan.
Sang binatang neraka yang mengira Xiao Feng sudah tamat, mengayunkan goloknya dengan ceroboh untuk memenggal kepala sang pemimpin klan.
JLEEEEEBBBBB...!!!!
Golok raksasa itu tertancap jauh ke dalam bahu kiri Xiao Feng yang sudah mati rasa. Xiao Feng tidak menghindar, ia justru menjepit bilah golok itu dengan sisa daging dan otot di bahu kirinya yang masih bisa ia rasakan. Mengunci senjata musuh agar tidak bisa ditarik kembali.
"Apa?!" sang musuh terbelalak panik. Ia mencoba menarik goloknya, namun Xiao Feng telah mengunci gerakannya.
Dengan satu tangan yang masih memegang pedang dengan erat, Xiao Feng mengalirkan seluruh tenaga dalam yang tersisa ke ujung bilahnya. Cahaya keemasan meledak dari pedang tersebut.