Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Hujan Badai Dan Tidur Bersama
"Apa Mas menyesal?" tanya Jennie memecah keheningan saat mobil memasuki area parkir gedung apartemen.
"Menyesal tentang apa?" Johan balik bertanya tanpa menoleh.
"Menyetujui aku ikut ke kantor dan merusak dokumen bernilai triliunan," balas Jennie dengan perasaan bersalah yang mengganjal hatinya.
Meskipun bisa dibilang bukan kesalahannya langsung, tapi tetap saja dia tak enak hati.
Johan memutar kemudi dengan satu tangan, memarkir mobilnya dengan presisi sempurna. Dia mematikan mesin lalu menoleh ke arah Jennie dengan sudut bibir terangkat tipis.
"Jika aku mengijinkanmu artinya aku sudah siap menanggung segala konsekuensi yang akan terjadi. Lagipula dokumen itu masih bisa di cetak ulang dan kesepakatan masih berlanjut," jawab Johan.
"Tapi melihat wajah Clarissa merah padam karena seorang penulis sepertimu adalah hal yang sangat menghibur," lanjutnya.
Jennie tersenyum lega, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya.
Mereka turun dari dalam mobil dan berpisah di depan pintu unit masing-masing. Jennie masuk dan membersihkan diri, tulisan hari ini sudah cukup dan akan dia edit besok pagi karena sekarang dia sudah lelah.
Selesai mandi Jennie mengenakan piyama katun tipis dan bersiap untuk tidur, tapi baru saja hendak merebahkan diri di atas kasur suara gemuruh terdenger.
Blarrrr!
Suara itu datang tiba-tiba, diikuti oleh kilatan cahaya yang membelah kegelapan kamarnya. Jennie tersentak dan terduduk tegak di atas kasur, detik berikutnya hujan tumpah seolah tanggul langit baru saja jebol.
Angin kencang mulai melolong, menghantam jendela kaca apartemennya hingga bergetar. Baginya suara guntur bukan hanya alarm dari alam, tapi pemicu dari trauma masa kecilnya yang membuatnya merasa dunianya akan runtuh.
Dia mencoba menutup telinganya dengan bantal, namun kilatan petir berikutnya terasa begitu dekat, seolah-olah listrik di udara baru saja menyambar balkon kamarnya.
DUARRR!
Lampu di apartemennya berkedip-kedip sebelum akhirnya padam sepenuhnya, Jennie memekik pelan dan tubuhnya juga bergetar hebat. Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang muncul di benaknya untuk menjadi tempat perlindungan sementara.
Dengan bantuan cahaya dari ponselnya, Jennie berlari keluar dan menggedor pintu unit 502 dengan panik. "Mas! Buka, Mas! Mas Johan, tolong!"
Pintu akhirnya terbuka dan keluarlah Johan hanya mengenakan celana tidur panjangnya tanpa atasan. Sebelum pria itu sempat bertanya, Jennie sudah lebih dulu menghambur ke pelukannya, menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya.
"Sstt....tidak apa-apa. Kau aman di sini," bisik Johan, dia bisa merasakan detak jantung Jennie yang berpacu dengan kencang dan tubuhnya yang dingin karena ketakutan, dia membimbing Jennie masuk dan menutup pintu apartemennya.
"Aku benci petir, Mas. Suaranya....." ucap Jennie dengan isakan yang tertahan di pundak Johan.
Johan menghela napas lembut, dia menuntun Jennie menuju sofa namun mendapatkan gelengan keras dari wanita itu saat petir kembali menggelegar.
"Ayo masuk ke kamarku," ucap Johan. "Kamarku kedap suara dan ada tirai tinggi yang menutup seluruh jendela balkon.
Jennie mengangguk, dia sudah pernah masuk kamar ini sekali, tapi hanya sebentar saat dia melakukan tugas pertamanya sebagai tunangan pura-pura Johan.
"Tidurlah di sini, aku akan mengambil selimut tambahan dan tidur di sofa depan," kata Johan saat hendak berbalik.
Tapi baru satu langkah lengannya ditahan oleh Jennie, wanita itu menatapnya dengan tatapan memohon. "Jangan pergi, tolong tetap di sini sampai hujannya reda."
Johan terdiam, dia melihat sorot takut di kedua bola mata Jennie. Akhirnya dengan desahan menyerah, pria itu ikut naik ke atas kasur dan bersandar pada headboard dan memberi ruang bagi Jennie di sampingnya.
Jennie sendiri segera merangkak naik dan meringkuk di bawah selimut tebal dengan posisi yang sangat dekat dengan Johan.
Hening menyelimuti kamar, hanya suara rintik hujan yang menghantam kaca dari kejauhan. Rasa canggung mulai merayap naik, menggantikan rasa takut dalam diri Jennie.
"Mas," panggilnya memecah keheningan. "Kenapa kau mau membantuku sejauh ini, padahal aku sering mengganggumu."
Johan menatap langit-langit kamar, dan tangannya berada di belakang kepala. "Mungkin karena aku bosan dengan hidupku yang terlalu teratur. Dan dengan tingkah laku konyolmu aku bisa menggunakaanmu untuk mengusir wanita-wanita seperti Ajeng dan Clarissa, impas kan?"
Jennie membalikkan tubuhnya dan menatap Johan yang kini berbaring menatapnya. "Masa depan itu menakutkan, kan?" gumam Johan tepat di depan wajah Jennie.
"Aku bisa merancang dan membangun gedung-gedung tinggi, tapi aku sendiri juga gagal membangun hubungan yang kokoh."
"Karena takut akan runtuh lagi?" tanya Jennie pelan.
Johan mengangguk kecil, "Tapi saat melihatmu ketakutan karena petir malam ini, aku baru sadar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, sekuat apapun kita membangun benteng."
Pria itu mengulurkan tangannya dan mengusap sisa air mata di pipi Jennie dengan jempolnya. "Kau tidak sedang melakukan riset untuk novelmu, kan?" tanyanya.
"Tidak," jawab Jennie dengan suara yang hampir menghilang.
Mendengar itu Johan tidak bisa menahan diri lagi, dia menarik Jennie lebih dekat ke dalam dekapannya. Jennie membenamkan wajahnya diceruk leher Johan, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi favoritnya.
Bersambung