Renjana menikah bukan karena jatuh cinta, melainkan karena percaya bahwa bakti dan komitmen cukup untuk membangun rumah tangga.
Favian adalah lelaki yang tenang, penuh perhatian, dan nyaris tanpa cela. Ia memperlakukan Renjana dengan baik—terlalu baik untuk sebuah pernikahan yang lahir tanpa cinta.
Namun perlahan, Renjana menyadari satu hal yang mengusik: ada ruang dalam hidup suaminya yang tak pernah bisa ia masuki. Sebuah sunyi yang selalu ia bagi dengan kenangan.
Di antara peran sebagai istri dan harapan akan dicintai apa adanya, Renjana dihadapkan pada kenyataan paling pahit dalam pernikahan—bahwa dicintai dengan syarat lebih menyakitkan daripada tidak dicintai sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flowyynn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Rumah
“Saya pulang.”
Suara berat yang sarat lelah itu menggema lirih. Langkah kakinya terdengar ritmis, beradu dingin di lantai apartemen itu tatkala memasuki ruang tamu, seolah ia sudah tahu—di sana ada satu perempuan yang menunggu kepulangannya dengan harapan yang membumbung penuh.
Kunci mobil ia letakkan sembarangan di atas meja. Kemeja denimnya digulung hingga siku, sementara rambutnya ia sibak ke belakang dengan gerakan santai yang nyaris spontan. Begitu sosok yang ia cari tertangkap netra, senyum tipis merekah di wajah tampannya.
Favian refleks berjongkok ketika melihat Renjana terlelap di sofa ruang tamu—meringkuk, dengan ponsel yang masih tergenggam erat di tangannya.
Tangan besarnya terulur, menyisir rambut perempuan itu penuh hati-hati sebelum turun membelai lembut pipi mulus yang tampak letih. Bibirnya lalu membubuhkan kecupan lama di pelipis Renjana, terlalu lama, seolah ia menikmati kehangatan yang akhirnya tersalurkan di antara mereka.
Favian merendahkan suara, berbisik lembut, “Jana, saya pulang. Maaf sudah membuatmu menunggu lama.”
Ibu jarinya mengusap pelan kelopak mata sang istri yang terkatup rapat. Ada sembap yang diam-diam tumbuh di sana. Favian menebak—Renjana habis menangis, hingga kelelahan akhirnya menyeretnya dalam tidur tanpa sadar.
“Apa kamu menangis karena saya, Jana?” lirihnya. Suaranya terdengar jauh berbeda dari Favian yang biasa Renjana pandang penuh teka-teki. “Apa karena barang-barang itu? Atau pesanmu yang tidak sempat saya perhatikan, hm?”
Ia terdiam sejenak.
“Kenapa kamu harus lahir dengan segala luka itu, Jana?” gumamnya sendu. “Dan kenapa kamu harus dipertemukan dengan saya?”
Favian akhirnya terduduk di lantai, menatap demikian intens rupa istrinya yang terlalu larut dalam tidur. Jemarinya bertaut di jemari Renjana, mengguratkan pola-pola kecil yang menenangkan di punggung tangan si perempuan. Lembut. Sarat kasih. Bahkan mengejutkan bagi Favian sendiri—apakah ini cinta atau justru sesuatu yang lain?
“Damai sekali tidurmu, Sayang.”
Panggilan itu lolos begitu saja. Sadar. Tanpa ragu. Seolah-olah perempuan di hadapannya adalah sosok yang sejak lama ia simpan, ia jaga, dan hidup di setiap tarikan napasnya.
Bibirnya melabuhkan kecupan hangat di punggung tangan sang istri—kecupan yang nyaris penuh hormat.
“Kamu tahu?” tuturnya perlahan. “Saya benar-benar merindukanmu. Dan sekarang kamu kembali datang ke dalam hidup saya. Menjadi istri saya. Menjadi milik saya sepenuhnya.”
Si pria mengulas senyum tulus—terlalu manis untuk wajah yang dikenal betul jarang memperlihatkan emosi. Adapun perasaan nostalgia dan rindu berkelindan, mengingatkannya pada seseorang yang telah lama tak dapat ia dekap.
“Kamu kembali dalam pelukan saya.”
Genggamannya menguat, namun tak benar-benar ada niat menyakiti. Di matanya, Renjana adalah boneka porselen yang rapuh—sepantasnya dirawat dengan hati-hati hingga bisa kembali cantik dan demikian bernilai.
Teramat lama ia menaruh perhatian penuh pada Renjana, seolah perempuan itu satu-satunya yang kini menjadi pusat dunianya.
Tak lama, kelopak mata Renjana berkedut. Senyum Favian pudar seketika, tak ingin tertangkap basah. Ia buru-buru beringsut ke sisi kiri—menjaga jarak, meski genggaman tangannya tak sepenuhnya terlepas.
Mata Renjana terbuka perlahan. Sosok yang menyambut penglihatannya adalah Favian—duduk di bawa sofa, dengan tatapan teduh yang sulit dibaca.
“Mas Favian ….”
“Iya?” Favian menegakkan tubuh sedikit. “Kenapa kamu tidur di sini?”
Renjana mengerjap beberapa kali sebelum bangkit. Ia menyesuaikan pandangan, lalu menggeleng kecil.
“Aku ketiduran habis teleponan sama Ayah,” jelasnya dengan suara sedikit gemetar.
Favian menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, namun tak melontarkan pertanyaan lanjutan tentang apa yang dibicarakan perempuan itu dengan sang ayah mertua.
“Kamu sudah makan malam, Jana?” Pertanyaan lain meluncur dari bibir si pria, sengaja mengubah arah pembicaraan.
“Belum. Aku nungguin kamu pulang.”
Favian tersenyum simpul. Tangannya kemudian terangkat, merapikan beberapa helai rambut yang berantakan di kening sang istri—gerakannya penuh perhatian.
“Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, jadi saya pulang agak terlambat,” ujarnya sebelum berdiri. “Saya minta maaf, ya.”
Ia melangkah setengah jalan sebelum kembali menoleh.
“Kamu mau makan malam apa? Saya akan memasakkannya untukmu.”
Sebelum Favian benar-benar beranjak, Renjana mencekal pergelangan tangannya, membuat langkah pria itu tertahan.
“Aku udah masak makan malam, Mas. Kamu tinggal makan,” katanya sembari menarik napas. “Tapi sebelum itu, aku butuh kejelasan atas pertanyaan yang aku kirimkan ke kontak kamu.”
Manik legam Favian memicing. Raut wajahnya bak tembok tinggi—datar, dingin, nyaris mustahil ditembus.
“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Jana,” paparnya tenang. “Barang-barang itu sengaja saya beli untukmu.”
Alis Renjana bertaut. “Untukku? Semuanya?”
“Benar. Untukmu. Siapa lagi?” Favian menatapnya lurus. “Kamu suka?”
Renjana diam membisu, berusaha mencerna penjelasan itu. Kenapa? Untuk apa Favian membeli begitu banyak barang semata-mata untuknya seorang? Dan majalah itu … Renjana pun tak memahami maksudnya.
Favian menghela napas panjang kala mendapati istrinya terdiam. “Tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Soal gaya berpakaian dan hal-hal lain, memang sengaja saya pilihkan seperti itu.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak suka kamu memakai dress floral. Pakaian itu disukai oleh mantan kekasihmu, bukan? Kamu keberatan jika bersama saya, kamu tidak lagi menjadi sosok yang dulu Raevano sukai?”
Pandangan keduanya saling bertaut cukup lama. Napas Renjana tercekat, matanya tak berkedip. Cemburu kah pria itu? Atau sesuatu yang lain? Lagi-lagi, bukan jawaban yang ia dapat, melainkan pertanyaan baru yang kembali menyesaki kepalanya.
“Tapi saya tidak memaksa, Jana,” sambung pria itu. “Kamu mau memakainya atau tidak, tidak masalah.”
Tubuh Favian condong, aroma kopi pahit dan kayu kering menyentak indra penciuman si yang lebih muda. Ia menarik lembut lengan sang istri untuk berdiri.
“Mari makan. Saya sudah lapar.”
Namun Renjana seolah masih belum puas. “Lalu soal perselingkuhan? Kenapa malam itu kamu tiba-tiba membahas perselingkuhan?”
Favian memiringkan kepalanya, lalu terkekeh kecil. “Ah, itu? Lupakan saja. Itu hanya spekulasi dari Ibu dan Bibi, setelah mereka tidak sengaja melihatmu bertemu Raevano. Saya tahu dari mereka.”
“Saya membeli barang-barang itu bukan karena memiliki perempuan lain. Maaf tidak sempat membalas pesanmu karena saya sangat sibuk di studio foto.”
Favian lalu mengangkat alis tipis. “Sudah? Apa masih pertanyaan lain yang ingin kamu ajukan?”
Renjana menggeleng pelan, meski ada sisa keraguan yang mengendap di benaknya. “Nggak ada. Ayo makan.”
...****************...
Meja makan telah penuh oleh hidangan yang menggugah selera. Mulai dari tumis kangkung, udang saus Padang, hingga beberapa kue sebagai penutup—tersaji rapi bak di restoran mahal.
Netra Favian sempat berbinar saat pertama kali melihatnya, lalu perlahan menyipit, seolah ada sesuatu yang tidak beres. Namun bibirnya tetap terkunci, tak satu pun keluhan keluar.
“Kenapa, Mas?” tanyanya harap-harap cemas. “Apa ada yang salah sama masakan aku? Kelihatan nggak enak, ya?”
Favian menggeleng pelan. Senyum hangat ia hadirkan untuk sang istri—sebuah upaya guna meredam kegelisahan di mata perempuan itu.
“Tidak,” jawabnya akhirnya. “Hanya saja, saya alergi udang. Tapi tidak apa-apa, tetap akan saya makan.”
Ada getar kejut yang membentang di manik bening Renjana. Lantas, ia buru-buru meraih piring berisi udang saus Padang itu.
“Maaf, aku nggak tahu kalau kamu alergi seafood. Harusnya aku cari tahu dulu,” ucapnya tergesa. “Jangan dimakan, ya. Aku masakin menu baru aja.”
Belum sempat Renjana berdiri dari kursinya, Favian sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya.
“Hei, tidak perlu. Lauk ini sudah cukup,” katanya lembut namun tegas.
Renjana menggeleng, suaranya menipis. “Mas, aku nggak mau kamu jatuh sakit karena makan udang. Aku masakin yang lain aja. Makanan kesukaan kamu apa? Biar aku masakin.”
“Saya tidak butuh menu lain, Jana. Ini sudah cukup,” balas Favian keras kepala. “Alergi saya mungkin kambuh sebentar, setelah minum obat saya akan pulih seperti biasa.”
“Lagipula, kamu sudah susah payah memasak. Saya tidak mau menyia-nyiakan itu hanya karena alergi saya.”
“Tapi, Mas—”
Favian menatapnya lebih dalam. Ada binar memelas yang jarang muncul di mata pria yang biasanya seteduh langit selepas hujan itu.
“Saya akan baik-baik saja. Percaya pada saya, oke?”
Pertahanan Renjana seketika runtuh mendengar nada bicara suaminya yang merengek itu. “Mas Favian ….”
“Boleh, ya?” rengek pria itu lagi, nyaris manja. “Saya ingin memakan masakan kamu, Jana.”
“Aku bisa masak yang lain. Yang nggak bikin kamu jatuh sakit.”
“Tapi saya mau makan udang saus Padang itu.”
Renjana seperti terombang-ambing di lautan, bingung harus mengayuh ke mana rasa iba yang kini berubah menjadi gundah gulana.
“Oke,” Akhirnya ia mengalah. “Tapi habis ini langsung minum obat, ya. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
Favian tersenyum sumringah, bak anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah. Kapan lagi melihat sisi Favian yang seperti ini? Dan Renjana berhasil menangkapnya—secercah emosi dari pria setenang lautan itu akhirnya bocor ke permukaan.
Suara piring beradu dengan sendok terdengar pelan saat Favian mulai menyantap makanannya. Ia mengunyah perlahan, benar-benar menikmati rasa manis dan gurih yang meledak menjadi satu di dalam mulutnya.
“Enak!” serunya antusias, tulus—bukan basa-basi belaka. “Ini enak sekali, Jana.”
“Mungkin ini akan menjadi makanan favorit saya.”
Renjana menggeleng tak percaya. “Mana mungkin itu jadi makanan favorit kamu, Mas? Kamu alergi.”
“Selagi kamu yang memasak, tidak ada yang salah,” sahut Favian yakin. “Alergi bisa saya atasi dengan obat, tapi masakanmu itu harus saya cicipi sesering mungkin.”
Si yang lebih tua kembali melahap makanannya, bahkan sampai menambah nasi. Sungguh, pemandangan seperti ini terbilang langka—hanya orang-orang tertentu yang diberi hak khusus oleh Favian untuk masuk di kedalaman emosinya.
Katakanlah Renjana akhirnya beruntung. Ia mendapat sisi lain Favian yang manis, hangat, penuh perhatian, dan manusiawi. Namun tak bisa dimungkiri, tetap ada kilat emosi abu-abu yang belum ia pahami. Favian bisa menjadi apa saja: tenang, tegas, dingin, atau amat lembut, seolah ia dicintai dengan tulus oleh pria itu.
Tanpa sadar, sudut bibir Renjana terangkat membentuk senyum. Tatapannya hanyut dalam hangatnya cara pria itu hadir—yang menghargai, yang terasa seperti rumah ternyaman yang akhirnya ia miliki.
“Kamu ternyata lebih kompleks dari yang aku pikir,” gumam Renjana pada dirinya sendiri—yang sialnya berhasil tertangkap oleh pendengaran Favian.
Pria itu menyuapkan sisa nasi terakhir, lalu meletakkan sendok. Tangannya menopang dagu, sementara seringai kecil menghiasi bibir tipisnya.
“Benarkah?” godanya. “Apa kamu bahagia bisa menikah dengan pria seperti saya, Jana?”
Renjana mengangguk, masih tak sadar. Bibirnya melengkung lebih lebar saat mata mereka saling beradu intens.
“Meskipun belum sepenuhnya,” ujarnya jujur, “tapi aku merasa punya rumah yang mau mengizinkan aku masuk tanpa melihat luka apa aja yang aku bawa. Selain mendiang Ibu, kehadiran kamu diam-diam ngasih harapan baru buat hidup aku.”
“Saya harap, saya bisa menjadi rumah yang kamu sebut itu, Renjana.”