"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dokter Sarah bekerja dengan cekatan, membersihkan sisa darah dan mengganti perban Arkan dengan balutan yang lebih rapi.
Ia melirik Gladis sekilas, mengagumi ketegaran wanita muda itu sebelum akhirnya pamit keluar dan menutup pintu kabin rapat-rapat, memberikan privasi bagi pasangan tersebut.
Keheningan menyelimuti kabin, Arkan bersandar di kepala tempat tidur, sementara Gladis berdiri di sampingnya, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan samudera luas.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita mengenai Angela?" tanya Gladis dengan nada kecewa yang dalam di sana. "
Aku malah tahu dari Vita. Kalau dia wanita yang dijodohkan denganmu, kenapa kamu membiarkanku menjadi istrimu tanpa tahu apa-apa?"
Arkan menghela napas panjang. Ia meraih tangan Gladis, meskipun Gladis sempat ingin menariknya, Arkan menggenggamnya dengan erat.
"Karena bagiku, dia tidak pernah ada, Gladis," jawab Arkan dengan jujur.
"Angela adalah ambisi orang tuaku, bukan pilihanku. Sejak aku pertama kali melihatmu, bahkan saat kamu masih sangat muda, aku sudah memutuskan bahwa nakhoda ini hanya akan berlabuh di satu hati. Yaitu kamu."
Arkan menarik tangan Gladis dan mencium punggung tangannya yang lecet-lecet akibat memanjat pohon kelapa tempo hari.
"Aku tidak bercerita karena aku tidak ingin bayang-bayang masa lalu yang dipaksakan itu merusak kebahagiaan kita. Tapi aku salah, seharusnya jujur padamu agar kamu tidak perlu mendengar dari orang lain."
Gladis menatap mata Arkan, mencari kejujuran di sana.
"Dia memelukmu seolah kamu miliknya, Arkan. Dan orang tuamu mereka sepertinya lebih setuju dia yang ada di sampingmu daripada aku."
"Orang tuaku mungkin punya rencana," Arkan menarik Gladis lembut hingga istrinya itu duduk di tepi tempat tidur.
"Tapi aku adalah Kapten di hidupku sendiri. Tidak ada yang bisa memerintahku, termasuk dalam hal mencintai. Di pulau itu, nyawaku ada di tanganmu, bukan di tangan Angela. Itu sudah membuktikan segalanya."
Arkan mengusap pipi Gladis yang masih sedikit sembap.
"Maafkan aku karena membuatmu merasa rendah diri. Jangan pernah ragukan posisimu, Nyonya Arkan."
Arkan menarik napas lega melihat tawa Gladis kembali menghiasi wajahnya.
Suasana tegang yang tadi menyelimuti kabin seolah menguap begitu saja.
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa istriku yang manja ini tiba-tiba jadi jago memanjat pohon kelapa di pulau itu? Aku hampir tidak percaya saat melihatmu dari bawah."
Gladis tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah dan tulus.
Ia sedikit bangga dengan kemampuan 'survival' yang tidak sengaja ia tunjukkan.
"Ayah saja yang tidak tahu. Dulu saat sekolah, aku ini jago bolos. Aku sering lompat pagar sekolah yang tinggi untuk sekadar beli es krim di luar. Memanjat pohon kelapa itu tidak seberapa dibanding menghindar dari guru piket."
Mendengar pengakuan jujur itu, Arkan melongo sejenak sebelum akhirnya tangan kekarnya bergerak gemas.
Ia menjewer pelan telinga Gladis, membuat istrinya itu sedikit mengaduh sambil tertawa.
"Oh, jadi begitu ya kelakuanmu dulu? Pantas saja nakal," ucap Arkan dengan nada mengancam yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan kasih sayang yang besar.
Arkan kemudian menarik Gladis agar lebih dekat ke arahnya, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Berhenti memanggilku 'Ayah' saat kita sedang berdua seperti ini."
"Kenapa? Bukankah itu panggilan sayangku?" goda Gladis lagi, sengaja ingin melihat reaksi suaminya.
Arkan menggelengkan kepala, lalu berbisik tepat di depan bibir Gladis.
Panggil aku 'suamiku yang tampan'. Karena pria tampan ini baru saja mempertaruhkan nyawanya demi mengejarmu sampai ke kabin dengan kaki yang nyaris putus."
Gladis tersipu malu, wajahnya memerah hingga ke telinga.
Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan, merasa sangat aman.
"Baiklah, suamiku yang tampan. Tapi jangan pernah buat aku cemas lagi."
Disaat sedang menikmati kebahagiaan mereka berdua, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Kapten, ini Gerald. Maaf mengganggu, tapi tim keamanan baru saja menemukan bukti sabotase di ruang mesin, dan kami telah mengamankan pelakunya yang tak lain adalah Alex,"
Mendengar nama itu disebut, suasana hangat di dalam kabin seketika membeku.
Rahang Arkan mengeras, dan tatapan matanya yang tadi lembut berubah menjadi sedingin es kutub.
"Alex?" desis Arkan.
Gladis tersentak saat mendengar perkataan dari Gerald
Ia teringat bagaimana Alex selalu berusaha mendekatinya dengan cara yang tidak sehat, namun ia tak pernah menyangka bahwa pria itu akan bertindak sejauh ini hingga membahayakan nyawa seluruh penumpang kapal.
Gladis menggenggam erat tangan Arkan, jemarinya bergetar karena rasa takut dan tidak percaya.
"Dia hampir membunuh kita semua, Arkan..." bisik Gladis.
Arkan merasakan ketakutan istrinya. Ia membalas genggaman tangan Gladis, menyalurkan kekuatan melalui tautan jemari mereka.
"Tenanglah, Sayang. Dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi."
Arkan menoleh ke arah pintu yang masih tertutup.
"Gerald! Bawa dia ke ruang interogasi di dek bawah. Pastikan dia tidak bisa bergerak sedikit pun. Aku akan turun ke sana sekarang!"
"Tapi Kapten, kaki Anda—" suara Gerald terdengar ragu dari balik pintu.
"Itu perintah, Gerald!" potong Arkan tegas.
Arkan mencoba bangkit dari tempat tidur. Gladis segera membantunya, membiarkan Arkan bertumpu pada bahunya.
Meski kakinya masih terasa sangat nyeri, amarah yang membara di dada Arkan memberinya energi tambahan.
"Aku harus menghadapinya, Gladis. Dia harus membayar setiap tetes darah yang keluar dari tubuhmu dan ketakutan yang kamu rasakan di tengah laut semalam," ucap Arkan sambil menatap mata istrinya.
"Aku ikut denganmu. Aku tidak mau jauh-jauh darimu, terutama sekarang."
Mereka berdua berjalan keluar kabin. Di lorong, mereka berpapasan dengan Angela dan orang tua Arkan yang tampak bingung melihat pergerakan tim keamanan yang sangat ketat.
Arkan tidak mempedulikan mereka sama sekali. Fokusnya hanya satu yaitu menghancurkan orang yang telah berani mengusik ketenangan hidupnya dan keselamatan wanitanya.
Sesampainya di ruang interogasi yang dingin dan lembap di bagian bawah kapal, mereka melihat Alex yang sudah terikat di kursi dengan wajah yang babak belur.
Begitu pintu terbuka, Alex mendongak. Matanya yang merah karena alkohol dan amarah menatap tajam ke arah Arkan dan Gladis.
"Kau beruntung masih hidup, Arkan!" teriak Alex gila.
"Seharusnya samudra itu menelanmu dan jalang kecil itu!"
Arkan mencengkeram kerah baju Alex begitu kuat hingga pria itu sulit bernapas.
Meski kakinya gemetar menahan nyeri, amarah Arkan memberikan kekuatan yang mengerikan.
Tatapan matanya tajam, seolah ingin melubangi kepala pria yang dulu ia anggap sebagai rekan kerjanya itu.
"Aku tidak menyangka kamu sejahat ini, Lex," desis Arkan dengan suara yang sangat rendah namun mengintimidasi.
"Kau ingin aku mati, itu urusanmu. Tapi kamu berani menyentuh seujung rambut istriku dan membahayakan ribuan orang di kapal ini?" Arkan mendekatkan wajahnya, suaranya kini seperti geraman serigala.
Alex meludah ke samping, tawanya terdengar hambar dan gila.
"Dia hanya gadis yatim piatu yang kau pungut, Arkan! Dia tidak pantas mendapatkan kemewahan ini. Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya tidak pernah kau miliki!"
Melihat Alex yang masih terus menghina istrinya, Arkan hendak melayangkan tinjunya. Namun, sebuah tangan kecil yang lembut namun tegas menahan lengan kekar Arkan.
Gladis melangkah maju dan berdiri tepat di depan Alex, menatap pria itu tanpa rasa takut sedikit pun.
Keberanian yang ia dapatkan saat bertahan hidup di tengah laut kini terpancar jelas dari matanya.
"Kau bilang aku jalang?" tanya Gladis.
PLAK!
Satu tamparan keras kembali mendarat di wajah Alex, lebih keras dari tamparan yang diberikan Gladis pada Angela tadi.
"Itu untuk pengkhianatanmu pada suamiku," ucap Gladis dingin.
PLAK!
"Dan itu untuk setiap nyawa yang kau pertaruhkan di kapal ini."
Gladis kemudian mendekat, berbisik tepat di telinga Alex yang mulai gemetar.
"Kau kalah, Alex. Kau ingin melihatku mati di laut, tapi laut justru menjadikanku lebih kuat. Sekarang, kau yang akan membusuk di dalam penjara, sementara aku akan tetap menjadi Nyonya Arkan yang akan menyaksikan kehancuranmu."
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget