NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 9

📍 Pulau Pribadi Raven – Pagi Hari

Langit cerah, laut berkilau biru keperakan.

Sebuah mansion megah berdiri di tengah hamparan taman dan dermaga pribadi pohon palm melambai, dan helipad di sisi barat udah siap nerima tamu keluarga sultan versi polisi & dokter.

Di ruang tamu utama, chandelier kristal ngegantung, sementara foto-foto keluarga Raven berjajar: barisan orang dengan seragam berbeda tapi aura yang sama-sama berbahaya kalau lagi serius.

---

“LYRAAAA! PAULLL! CEPETAN BERANGKAT!!”

Suara Ratchet (atau lebih tepatnya, Dr. Raven) menggema dari lantai bawah rumah.

Lyra yang baru aja beresin rambut putihnya, masih dengan kaus oversized dan rok pendek, ngelirik ke arah tangga.

“Papa, tenang dikit kek! Aku lagi pilih sepatu!”

“SEPATU TIDAK MENYELAMATKANMU DARI TEGURAN PAMAN TAUFIK!”

Paul yang lagi ngancingin kemeja malah ngakak. “Dia bukan nyelamatin diri, Pa. Dia mau tampil aesthetic biar kalo papasan sama Magnus”

“PAULL!” Lyra langsung ngelempar bantal.

Ratchet dari bawah: “Magnus?!”

Paul langsung pura-pura batuk. “Ah, debu, Pa, debu.”

---

🛥️ Beberapa jam kemudian

Mobil hitam meluncur ke pelabuhan. Dari sana, mereka naik kapal cepat menuju pulau Raven.

Pulau itu sangat eksklusif, hanya keluarga Raven dan beberapa orang kepercayaan yang boleh masuk.

Begitu kapal bersandar, dua penjaga berseragam hitam langsung menyambut.

“Selamat datang, Dr. Raven, Tn. Paul, Nona Lyra,” kata salah satu sambil menunduk hormat.

“Kayak nyambut presiden aja,” bisik Lyra ke Paul.

Paul senyum sinis. “Nih keluarga emang presidennya hukum dan medis, Ly. Jangan kaget.”

---

Begitu sampai di halaman mansion, Lyra langsung bengong.

Bangunannya gede banget. Dua lantai, dengan dinding marmer putih, taman di kiri-kanan, dan air mancur di tengah.

Bendera kecil lambang keluarga Raven berkibar di atas menara tengah.

Di depan pintu besar, sosok berpostur gagah menunggu:

Taufik Raven, sang pemimpin polisi pusat satu pulau. Tegas, tinggi, dan senyumnya jarang banget nongol kecuali ke keluarga.

Di sampingnya, Elita Raven, istrinya anggun tapi matanya punya aura “aku bisa mukul orang sambil tetap elegan.”

“Ratchet,” sapa Taufik, menyalami adiknya dengan genggaman kuat.

“Taufik,” balas Ratchet datar tapi hangat.

“Dan ini... Lyra?”

Lyra senyum canggung. “Halo, Om Taufik!”

Elita langsung nyamperin dan nyubit pipinya pelan. ada sedetik hening, tapi Elita langsung ubah suasana, “Masuk, masuk! Semua udah nunggu di ruang makan!”

---

🕯️ Ruang makan keluarga Raven

Satu meja panjang diisi tokoh-tokoh yang… kalau mereka bikin aliansi, dunia bisa gemetar:

Hide Raven, kepala polisi sektor barat, suaranya keras tapi hatinya lembut.

Cromia, istri Hide, yang bisa menatap tajam sampai orang ngaku dosa.

Saide Raven, anak Hide, sekaligus wakilnya senyum manis, tapi semua tahu dia bisa gebuk tersangka sekuat bapaknya.

Jack Raven, dosen teknik yang doyan eksperimen aneh.

Rodi Raven, sepupu Lyra yang kerja di startup bidang teknologi taktis.

Alaric Jazz Raven, sepupu Lyra yang jadi polisi dan gitaris malam minggu.

Abi Rayyan Raven, si bungsu, masih muda tapi calon penerus besar.

Dan begitu Lyra duduk, Jazz langsung nyengir dari ujung meja.

“Eh, Nona Putih akhirnya datang juga.”

Lyra ngelirik. “Ngatain rambutku lagi, Ric?”

“Enggak, aku cuma pengen tau… rambutmu tuh warnanya dari lahir atau efek stres kuliah?”

“Efek liat kamu tiap reuni.”

Semua ketawa. Termasuk Taufik, yang cuma geleng kepala sambil minum kopi.

“Tiap tahun pasti dua orang ini ribut.”

---

Pas makan, pembahasan mulai masuk ke dunia kerja.

Taufik ngomong serius, “Sektor barat sudah mulai tenang. Tapi aku dengar ada isu ledakan kecil di rumah sakit delfi?”

Ratchet berhenti ngunyah sebentar. “Rumor saja, belum dikonfirmasi.”

Lyra yang gak ngerti konteks cuma melongo. “Ledakan? Di rumah sakit tempat Pharma kerja?”

Paul ngelirik adiknya cepet banget, “Shh, makan aja dulu, Ly.”

Taufik menatap Ratchet lekat. “Kalau sampai rumor itu benar, kita akan bantu penyelidikan. Jangan biarkan ada tangan kotor nyentuh dunia medis.”

Ratchet mengangguk, tapi matanya gelap.

Di bawah meja, Lyra ngerasa suasana berubah agak dingin.

---

Selesai makan, anak-anak muda Raven kumpul di taman belakang lebih santai, dengan angin laut dan gelas jus jeruk di tangan.

Jazz bawa gitar, Rodi sibuk debat sama Paul soal mobil, sementara Lyra duduk di bawah pohon kelapa, ngelihat laut.

“Dunia Raven tuh rumit, ya,” gumamnya.

Jazz nengok, senyum miring. “Rumit, tapi kamu bagian paling mencoloknya.”

Lyra ngelirik balik, “Apa itu pujian?”

“Kalau kamu mau, iya.”

Paul langsung nyeletuk dari jauh, “Ric! Jaga lidah lo, itu adik gue!”

“Bro, gue cuma ngobrol santai”

“Ngobrol santai lo bisa bikin kasus pelanggaran etika keluarga.”

Dan sekali lagi, reuni keluarga Raven sukses bikin suasana antara hangat, berisik, dan berbahaya.

Sementara Ratchet di balkon atas, memperhatikan semua dari jauh dan dalam kepalanya, ada sesuatu yang belum diceritakan ke siapapun tentang rumor di rumah sakit delfi.

---

📍 Pulau Pribadi Raven – Sore Hari

Langit mulai berubah jingga, warna keemasan memantul di permukaan laut. Burung-burung laut melintas rendah, dan suara ombak jadi musik latar yang damai.

Lyra lagi duduk di dermaga, rambut putihnya ditiup angin pelan, jemarinya mainin gelang kecil yang dikasih ibunya dulu satu-satunya hal yang ia punya dari masa lalu itu.

Dari belakang, langkah sepatu terdengar ringan.

“Jadi kamu kabur dari acara kumpul?”

Lyra nengok. Jazz berdiri di sana, dengan kemeja santai, tangan masuk saku, senyum miring khasnya nongol.

“Aku gak kabur,” jawab Lyra, “Aku cuma… butuh udara.”

“Dan udara di sini kebetulan tampan banget ya,” Jazz menepuk dadanya sendiri.

Lyra nyengir tipis, “Percaya diri tingkat dewa.”

“Warisan keluarga Raven,” sahut Jazz santai sambil duduk di sebelahnya.

---

Ombak kecil nyentuh kayu dermaga.

Mereka berdua diam sebentar, cuma dengerin suara laut.

“Kamu tau gak, Ly,” kata Jazz tiba-tiba, “dulu waktu kamu kecil, kamu sering banget main ke dermaga ini. Suka lempar batu, trus nangis gara-gara batunya balik kena kaki sendiri.”

Lyra ngakak pelan, “Kamu inget aja hal memalukan gitu.”

“Gimana bisa lupa? Itu pertama kali aku liat kamu marah. Kamu nendang aku sambil bilang ‘ini salah kamu!’ padahal aku bahkan gak megang batunya.”

“Karena kamu ketawa duluan!”

“Dan sampe sekarang kamu masih nyalahin orang lain buat kesalahan kecilmu.”

Lyra ngelirik, tapi matanya lembut, “Aku cuma belajar dari kamu, Ric.”

---

Hening sebentar.

Angin laut makin kencang, rambut Lyra berantakan dikit. Jazz dengan refleks nyenggol pundaknya, “Sini, nanti masuk angin.”

Ia buka jaketnya, disampirin ke bahu Lyra tanpa nanya.

Lyra mau nolak, tapi suaranya serak, “Aku gak dingin, kok.”

Jazz nyengir, “Kamu bilang gitu juga waktu kecil, trus lima menit kemudian pilek tiga hari.”

Mereka ketawa bareng. Tapi di antara tawa itu, ada sesuatu yang gak diucapin.

Sesuatu kayak... rindu yang nyelip di sela nostalgia.

---

“Jadi,” Jazz bersandar di tiang kayu, “apa kamu bahagia di kehidupanmu sekarang?”

Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba.

Lyra terdiam. Pandangannya jatuh ke laut yang mulai memantulkan bintang.

“Bahagia itu aneh,” katanya akhirnya, pelan. “Kadang aku ngerasa punya segalanya. Papa, Paul, rumah besar, karier. Tapi… entah kenapa, rasanya kayak aku cuma numpang hidup di memori orang lain.”

Jazz noleh, serius. “Kamu gak numpang, Ly. Kamu bagian dari semua ini.”

“Tapi aku masih nyari arti kenapa aku di sini.”

Jazz nyengir, tapi matanya lembut banget. “Kalau kamu tersesat, aku gak keberatan jadi GPS-mu. Tapi, ya… aku gak jamin arahku benar.”

Lyra ketawa, tapi suaranya parau, “Dasar, Ric.”

---

Matahari udah nyaris tenggelam waktu Jazz berdiri.

“Ayo balik sebelum Paul nyangka aku nyulik kamu.”

“Kayaknya dia bakal percaya deh,” jawab Lyra.

Jazz ngulurin tangan, “Kalau gitu aku sekalian nyulik beneran.”

Lyra mau nolak, tapi akhirnya nyengir dan nempelin telapak tangannya ke tangan Jazz.

Dingin. Tapi stabil.

Dan di detik itu, entah kenapa, Lyra ngerasa seperti hidupnya yang penuh misteri dan mimpi aneh itu… mulai bergerak lagi.

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!