Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Marina Bay
Singapura menyambut mereka dengan kelembapan udara yang akrab dan hutan beton yang jauh lebih tertib dibandingkan Jakarta. Namun, bagi Arka dan Alea, kemegahan skyline Marina Bay hanyalah dekorasi dari sebuah labirin spionase yang lebih rumit. Mereka mendarat di terminal jet pribadi Seletar, jauh dari hiruk-pikuk turis, dan langsung dibawa oleh sebuah sedan listrik kedap suara menuju kawasan Clarke Quay.
"Singapura adalah bank bagi rahasia yang terlalu kotor untuk disimpan di Swiss," Arka berbisik sembari merapikan jam tangannya. Ia mengenakan kemeja linen putih santai, sementara Alea memakai sundress biru muda dengan topi lebar—penyamaran sempurna sebagai pasangan jetset yang sedang berlibur.
Alea menatap pantulan dirinya di jendela mobil. "Siapa 'Informan Hantu' ini sebenarnya? Kenapa kita harus terbang jauh-jauh ke sini hanya untuk satu nama?"
"Namanya Elias Vance," jawab Arka, matanya tetap waspada menatap kaca spion. "Dia adalah mantan bankir investasi yang 'mati' sepuluh tahun lalu dalam sebuah kecelakaan helikopter di Laut Cina Selatan. Tapi kenyataannya, dia adalah pria yang mengatur aliran dana gelap untuk operasi-operasi hitam di Asia Tenggara. Dan menurut catatan rahasia Don Malik, Elias adalah orang yang mencuci uang milik pendana rahasia Baron."
"Tapi kenapa dia mau bertemu kita?"
"Karena aku mengirimkan pesan bahwa aku memegang kunci brankas ayahnya yang ada di Bank Swiss Jakarta. Dia tahu, jika data itu terbuka, dia tidak akan bisa bersembunyi di lubang tikus mana pun di dunia ini."
Mereka bertemu di sebuah bar tersembunyi di lantai teratas sebuah gedung perkantoran di distrik finansial. Bar itu tidak memiliki nama, hanya sebuah pintu kayu tanpa pegangan yang hanya terbuka dengan pemindaian retina.
Di dalamnya, suasana sangat sunyi. Cahaya biru neon menyinari deretan botol wiski mahal. Di meja sudut, duduk seorang pria tua dengan rambut perak klimis dan setelan jas yang harganya setara dengan sebuah apartemen. Elias Vance.
Begitu Alea melangkah masuk, Elias menjatuhkan gelas kristalnya ke atas meja. Matanya membelalak, bukan menatap Arka, melainkan menatap Alea dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara ketakutan dan kerinduan.
"Mata itu..." suara Elias bergetar, aksen Inggrisnya yang kental terdengar parau. "Kau adalah putri Hendra Senja."
Alea tertegun. Ia berdiri kaku di depan meja pria itu. "Anda mengenal ayah saya?"
Elias tertawa getir, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Mengenalnya? Hendra adalah satu-satunya alasan aku masih bernapas hari ini. Dia bukan hanya jurnalis, Alea. Dia adalah orang yang menemukan bukti bahwa aku dijebak oleh dewan direksi Malik Group sepuluh tahun lalu.
Dia menyelamatkan nyawaku, namun dia tidak bisa menyelamatkan nyawanya sendiri."
Arka menarik kursi untuk Alea, lalu duduk di hadapan Elias dengan tatapan mengintimidasi. "Cukup dengan nostalgia, Elias. Kita di sini untuk urusan bisnis. Siapa yang mendanai Baron? Siapa yang memberikan akses pada klan Nakamura untuk masuk ke Jakarta?"
Elias menghela napas panjang, ia memberi isyarat pada pelayan untuk membawakan botol baru. "Kalian pikir Baron adalah otak di balik semua ini? Baron hanyalah anjing penjaga yang serakah. Ada entitas yang lebih besar, Arka. Sesuatu yang disebut The Obsidian Circle."
Alea mengerutkan kening. "Lingkaran Obsidian? Terdengar seperti nama sekte kuno."
"Bukan sekte, Nona. Ini adalah konsorsium rahasia yang terdiri dari tujuh orang paling berpengaruh di Asia. Mereka tidak peduli pada politik, mereka hanya peduli pada kontrol pasar. Dan ayahmu, Hendra, hampir membongkar identitas mereka tepat sebelum dia dibungkam."
Elias mengeluarkan sebuah tablet kecil dan menggeser sebuah dokumen digital ke arah Arka. "Pendana Baron adalah salah satu dari mereka. Dia dikenal dengan nama sandi 'The Architect'. Dia adalah orang yang merancang Proyek Omega sebagai eksperimen untuk menguasai jalur logistik regional."
Arka menatap data itu, rahangnya mengeras. "Data ini tidak lengkap. Siapa identitas aslinya?"
"Itulah masalahnya," Elias condong ke depan, suaranya kini nyaris berbisik. "The Architect adalah orang yang sangat dekat dengan keluargamu, Arka. Dia adalah seseorang yang berada di lingkaran dalam Don Malik. Bahkan mungkin, seseorang yang selama ini kau anggap sebagai sekutu."
Jantung Alea berdegup kencang. Ia melirik Arka, melihat keraguan yang jarang muncul di mata pria itu. "Maksud Anda... ada pengkhianat di dalam Malik Group yang bahkan Arka tidak tahu?"
"Bukan di perusahaan, tapi di kehidupan pribadi," Elias menatap Alea dengan tatapan iba. "Dan untukmu, Alea... ayahmu meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar kunci brankas. Dia meninggalkan sebuah kode enkripsi yang tertanam dalam kenangan masa kecilmu. Sebuah lokasi yang hanya kau yang tahu."
"Lokasi apa?" tanya Alea bingung.
"Tempat di mana dia menyembunyikan 'Buku Hitam' miliknya. Buku yang berisi daftar tujuh anggota Obsidian Circle. Jika kau menemukan buku itu, kau memegang kendali atas nasib Asia."
Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar dari arah pintu masuk. Dua orang pria dengan setelan taktis hitam menyerbu masuk dengan senjata berperedam.
"Tiarap!" teriak Arka.
Arka bereaksi secepat kilat, ia menjatuhkan meja marmer untuk dijadikan barikade. Baku tembak pecah di ruangan sempit itu. Elias mencoba merangkak pergi, namun sebuah peluru mengenai bahunya.
"Alea! Lari ke arah dapur!" Arka melepaskan tembakan balasan, mengenai salah satu penyerang tepat di dada.
Alea tidak lari. Ia melihat Elias yang merintih kesakitan. Ia merangkak mendekati pria tua itu, mencoba menekan lukanya dengan sapu tangan. "Katakan pada saya! Di mana lokasi itu?!"
Elias menatap Alea, napasnya tersengal. "Burung... burung kertas... di pohon tua..."
Sebelum Elias bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah ledakan kecil menghancurkan dinding bar tersebut. Asap tebal memenuhi ruangan. Arka menyambar Alea, melindunginya dengan tubuhnya saat reruntuhan mulai jatuh.
"Kita harus pergi! Sekarang!" Arka menarik Alea menuju lift darurat di belakang bar.
Mereka berhasil keluar dari gedung dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di lantai bawah. Arka mengemudi dengan liar, meliuk-liuk di antara lalu lintas Singapura yang mulai padat.
"Arka, Elias... dia tertembak! Kita harus kembali!" Alea menangis, tangannya berlumuran darah Elias.
"Dia sudah mati, Alea. Tim pembersih itu tidak akan membiarkannya hidup," suara Arka terdengar dingin namun ada nada duka di sana. "Mereka tahu kita bertemu dengannya. Obsidian Circle sudah mulai bergerak."
Alea bersandar di jok mobil, mencoba mencerna kata-kata terakhir Elias. Burung kertas di pohon tua. "Arka," panggil Alea lirih.
"Ya?"
"Aku tahu di mana buku itu berada. Itu bukan lokasi fisik yang rumit. Itu adalah rumah musim panas kakekku di perbatasan Jawa Barat. Ayah dulu sering melipat origami burung kertas dan menyembunyikannya di lubang pohon beringin besar di sana saat kami bermain petak umpet."
Arka menoleh sesaat, matanya berkilat. "Kalau begitu kita tidak punya waktu lagi. Jika mereka tahu tentang Elias, mereka pasti sedang menuju ke sana sekarang."
Alea memandang ke luar jendela, ke arah lampu-lampu Singapura yang mulai menjauh. Ia menyadari bahwa pertempuran ini bukan lagi soal membalas dendam pada Baron atau klan Nakamura. Ini adalah perang melawan bayangan yang telah mengatur hidupnya selama puluhan tahun.
"Kita pulang, Arka," ucap Alea dengan nada yang tak terbantahkan. "Kita akan ambil buku itu, dan kita akan membakar seluruh lingkaran itu sampai menjadi abu."
Arka menggenggam tangan Alea, memberikan kekuatan yang ia butuhkan. "Bersiaplah, Alea. Karena setelah kita menemukan buku itu, tidak akan ada jalan kembali. Kita akan menjadi target nomor satu di seluruh benua."
Mobil itu melesat menuju bandara, membawa mereka kembali ke tanah air untuk menghadapi rahasia terakhir yang tersisa di bawah akar pohon tua masa kecil Alea.