NovelToon NovelToon
Doctor Mafia

Doctor Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duniahiburan / Mafia / Dark Romance / Enemy to Lovers / Obsesi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.

Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Pertemuan pertama dengan Killian

El melangkah menuju kamar yang dipinta kakaknya. Enggan menaiki lift, El lebih memilih menaiki tangga darurat. Setidaknya itu tempat tersepi dari hiruk pikuk dan ia hanya butuh menaiki 3 lantai saja.

Elaine : Aku sudah menjalankan misi mu. Bisa kau transfer sekarang.

El mengirimkan pesan singkat untuk Lena.

BIP

Tak lama ia menerima sejumlah uang masuk kedalam rekeningnya. Senilai 1000 dollar. Ia tersenyum puas. Tugas mudah hanya menemani sang kakak kepesta.

“Aaah kau baik sekali kakak ku cantik. Segeralah kembali. Aku merindukanmu.” El mengirimkan sebuah voice note.

Lena saat itu sedang mengikuti kegiatan seminar di luar negeri sebagai tamu pembicara. Ia hanya tersenyum mendengar voice note itu. Ia kembali disibukkan dengan tugasnya sebagai pengajar dan pembicara saat itu.

BIP BIP BIP

“Ya Mi…”

BRUUUKK

PRAAAK

Belum sempat ia meneruskan jawaban panggilan telepon dari Mia, El tak sengaja menabrak sosok pria bertubuh tinggi tegap di hadapannya. Ponselnya jatuh ke bawah.

“Maaf kan aku Tuan.” Ucap El sedikit membungkuk tanpa melihat sosok pria dihadapannya.

Pria itu menundukkan badannya dan meraih ponsel El. Menyerahkan pada wanita itu.

“Maaf aku tidak sengaja.” El merasa bersalah karena terlalu fokus pada ponselnya, “Terimakasih.” Ucapnya lagi dengan mengambil ponsel nya dari tangan pria itu.

“Ternyata itu benar kau.”

El terdiam. Suara yang sangat tidak asing untuknya. Ya, itu adalah Lyxan. Pria itu berdiri di hadapannya.

El masih terpaku. Ada rasa ketakutan dalam dirinya. Namun satu hal yang ia ingat dengan pasti ia berjanji akan melupakan semua yang berhubungan dengan pria itu. Dan dia akan membuktikannya.

El dengan percaya diri kini mengangkat wajahnya. Menatap pria itu, pria tampan yang tidak mengenakan topengnya.

Perlahan tangan Lyxan ingin membuka topeng yang menutup wajah El. Namun jemari El menahannya.

“Sopanlah Tuan.” Ucap El dengan tenang, “Aku rasa kau salah orang.”

Lyxan terperanjat mendengar ucapan Elaine. Tak menyangka wanita itu benar-benar memegang perkataannya. Ia melupakan Lyxan begitu saja.

Pria itu tertawa kecil, “Apa kau yakin. Aku dapat membantumu untuk mengingatnya.” Lyxan semakin mendekati tubuh wanita itu, “Bahkan luka jahit mu masih terasa dikulitku. Apa perlu kutunjukkan.” Bisiknya.

El terdiam menatap tangan pria itu yang perlahan membuka kancing kemejanya, “Apa kau ingin melakukannya disini? Dengan orang asing yang tidak kau kenal?” Ucap Eila datar, “Sayangnya aku bukan wanita murahan tuan atau harga diri mu cukup murah untuk berhubungan dengan sembarang wanita.” Ledek El yang kini mengancingkan kembali kancing kemeja Lyxan.

“Kau sungguh-sungguh…”

KLAAAAKK

Lyxan menghentikan perkataannya disaat pintu tangga darurat di lantai 3 itu terbuka.

Tak ingin membuang kesempatan, El bergegas menghindar dari pria itu. Lyxan tak mengejarnya, tak mungkin saat itu. Karena yang membuka pintu tersebut adalah musuhnya, Killian.

Sorot mata El dan Lian sempat beradu saat mereka saling melewati pintu itu. Pertemuan pertama bagi Eil dan Lian.

El bergegas menuju kamarnya, mengunci rapat pintu itu. Ia menghela nafas panjang. Tak menyangka dirinya cukup berani melawan Lyxander. Sayup-sayup ia dapat mendengar langkah kaki dan suara pintu terbuka diseberangnya. Mungkin saja itu Killian bersama Lyxan. El sungguh tidak peduli. Ia bergegas membuka topengnya dan menenggak air putih. Ia yakin jika Lyxan berada disini, makanya setidaknya anggota mafia bukan hanya dia seorang. Ia berharap kakaknya segera kembali, menjemputnya.

...****************...

Ditempat terpisah Damian sedang memantau segala kegiatan yang sedang berlangsung digedung itu. Pesta itu dihadiri sebagian besar oleh para mafia untuk berinvestasi pada pasar saham. Sisanya mereka adalah para CEO yang memang sudah menjadi pekerjaan hariannya untuk mengikuti lelang pasar saham.

Damian : Tidurlah. Sebentar lagi urusan ku selesai setelah itu kita akan pulang.

Damian mengirimkan pesan singkat itu pada adiknya. Satu pesan singkat itu menghentikan tindakan Elaine yang sedari tadi mengirimkannya pesan singkat dan sticker yang tidak jelas. Adiknya sungguh menganggu dan merepotkannya.

El patuh. Ia tidak lagi mengganggu kakaknya. Beberapa kali ia mendengar suara dentuman dari ruang depan. Ada rasa khawatir namun ia lebih memilih mengabaikannya.

KRIIIIIINNNGG KRRIIIIING

Seketika suara alarm pemadam kebakaran berbunyi nyaring. Dari celah pintu masuk asap mulai menyembul. El bergegas keluar, tidak banyak orang dilantai 3 tersebut, karena yang bisa mencapai lantai 3 hanya tamu VVIP. Ia berlari menuju tangga darurat, namun hati dan otaknya memintanya untuk berhenti.

El kembali berlari. Ia berhenti didepan pintu kamar. Kamar yang berseberangan dengannya. Sedari tadi ia mendengar suara dentuman. Ia cemas jika terjadi sesuatu didalam. Perlahan El membuka pintu kamar itu, tak jauh ia menangkap sosok pria bersandar pada sofa dengan luka disekujur tubuhnya.

SLAAAASSHH

Fire sprinkle diplafond mulai mengeluarkan air. Suhu lorong kamar itu mulai terasa panas. Api sepertinya sudah menyambar lantai 3.

“Kau baik-baik saja?” Cemas El bergegas mendekati pria itu.

Ya, pria itu adalah Killian. Pria yang ia temui di pintu masuk tangga darurat.

Asap mulai menyeruak masuk. El dan Lian mulai merasa sesak. Dengan sigap El menutup pintu kamar itu dan melepas sarung bantal yang ada untuk dibasahi.

“Kau bisa jalan?” Tanya El kembali mengalungkan sarung bantal itu pada Lian, “Ini akan membantumu tidak menghirup banyak asap.”

“Kita tidak bisa melewati pintu itu.” Tarik Lian saat El hendak membawa pria itu keluar dari kamar.

El tak habis akalnya. Kali ini ia menarik gorden kamar itu dan membasahinya. “Percayalah pada ku. Kau bisa berjalan bukan?!” Ujar El yang kini menutupi tubuh Lian bersamanya dalam satu selimut gorden yang basah itu.

Lian terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Belum pernah ada yang senekat itu untuk menolongnya. Selama ini Lian selalu berjuang seorang diri.

Lian mengikuti kemauan wanita itu. Kini mereka mencoba berlari dari lantai 3 itu. Asap tebal menutupi pemandangan mereka.

BRUUUUGG

Jalan mereka tertutup lemari besar yang telah termakan api. Tak ada jalan lain. Mereka tidak dapat kabur.

“Kau bisa melewati itu. Tubuhmu kecil.” Ucap Lian menunjuk sisi lemari yang belum terbakar.

El tak menjawab. Ia menarik pria itu ke sebuah kamar dan menutup pintunya, “Aku tidak bisa meninggalkan mu.”

BAAAMMM

Suara ledakan mulai terdengar. El kaget dan ketakutan hingga terdorong maju tepat dihadapan pria itu. Lian mendekapnya dengan satu tangan.

“Kau tidak tahu tempat ini seperti apa?” Tanya Lian saat El terlihat ketakutan.

El bingung menatap Lian. Sarang mafia tempat mereka bertransaksi jelas akan terjadi keributan besar jika ada masalah yang tak sesuai.

“Kau kira ini hanya kebakaran biasa?” Lian menatap El yang masih ketakutan dengan wajah bingungnya.

Lian menghela nafas, “Justru sepertinya aku yang harus menolongmu nona.” Senyum Lian.

Pria itu mengumpulkan tenaga untuk berdiri dan melempar sebuah kursi ke arah jendela yang sangat besar.

PRAAAANGG

El terdiam. Pria itu akan melompat. Bahkan mereka berada dilantai tiga.

“Kau akan melompat?” Tanya El tak percaya saat pria itu mengikat gorden yang ia gunakan tadi pada salah satu teralis di jendela.

Lian mengulurkan tangannya pada Elaine. Wanita itu tampak ragu, terlebih di perut pria itu terdapat luka tusuk.

BAAAAAMMM

Kembali ledakan terjadi lagi. Membuat El tersentak. Namun ia semakin terperanjat saat pria itu menarik tubuhnya dan memeluknya erat.

“Siapa namamu?” Tanya Lian saat itu.

“Itu tidak penting saat ini.” Balas El yang terlihat ketakutan.

“Killian.” Jawab Lian seakan El sudah memberitahu namanya.

“Peluk aku dengan erat atau kau akan mati.” Ucap Lian membuyarkan kecemasan El.

Wanita itu mendekap Lian dengan erat. Dengan sigap Lian membawa Elaine melompat dari lantai tiga menggunakan gorden yang menjadi tali bantuan.

SRAAAKK BRUUKK

Lian meringis kesakitan saat luka tusuknya semakin banyak mengeluarkan darah.

“Kau tidak apa Lian?” Cemas El menahan darah yang keluar dengan tangannya.

“Apa aku terlihat baik-baik saja?” Senyum sinis Lian, “Apa yang kau lakukan?” Kaget Lian saat El menyobek gaun roknya.

“Aku akan memanggil bantuan. Tidak lama.” Ucap El melingkarkan tangannya dengan kain yang disobek itu pada perut Lian, “Darahmu harus dihentikan.” Lanjut El saat tangan pria itu mencengkram lengan El yang hendak pergi.

Lian hanya terdiam menatap El yang begitu peduli padanya. Padahal wanita itu bisa segera kabur. Terlebih ia melihat lutut dan pergelangan kaki Elaine yang memar dan terluka.

“Tunggu disini. Aku akan kembali.” Ucap Elaine bergegas berlari mencari bantuan, “Aku janji Lian.” Ucap El melepaskan cengkraman tangan pria itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!