💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 — AFTERMATH
Gema kalimat itu belum juga surut meski lampu gala telah padam.
“She’s not temporary.”
Arsenio mengucapkannya tanpa ragu. Tanpa senyum. Tanpa sedikit pun dramatisasi. Persis seperti ia membacakan laporan keuangan kuartal ketiga. Dan justru karena itu, dampaknya terasa jauh lebih mengguncang.
Fajar menyambut dengan lonjakan saham Volt-Tech sebesar 3,8%.
Atmosfer di ruang rapat direksi berputar seratus delapan puluh derajat. Kecemasan yang semula menyesakkan kini lebur dalam euforia, tepat saat grafik hijau itu terus merangkak naik.
“Sentimen publik positif,” ujar CFO.
“Image humanis CEO meningkatkan kepercayaan investor.”
“Tagar #RobotInLove trending sejak subuh,” tambah tim PR.
Anggukan Arsenio begitu datar. Efek yang sudah terprediksi. Dunia butuh pemimpin yang stabil, dan semalam ia baru saja menjual narasi itu.
Ia mengetuk layar tablet, mengamati grafik hijau yang terus mendaki. Secara bisnis, langkah semalam adalah eksekusi yang sempurna. Namun secara pribadi? Sistemnya masih memproses data, mencari jawaban yang belum juga terbaca.
Sementara itu, Alinea menghadapi dunia dari balik bantal di kamar kosnya. Mata sembabnya menatap kosong pada ponsel yang terus bergetar sejak fajar.
Mention. DM. Komentar. Arus informasi itu tak terbendung.
Ada yang memujanya, ada yang menghujatnya. Di mata publik, ia kini bukan lagi Alinea—ia hanyalah sebuah variabel yang memicu pro dan kontra.
“Cinderella kantor.”
“Naik kasta instan.”
“Kontrak berujung nikah?”
“Atau cuma settingan saham?”
Lama Alinea terpaku pada layar yang tak henti berpendar. Ingatannya kembali pada genggaman Arsenio di depan wartawan—sebuah klaim yang membuatnya lupa cara bernapas.
Saat itu, semuanya terasa hangat. Begitu nyata. Sekaligus berbahaya.
Tapi pagi ini, pesona itu luruh. Kehangatan semalam kini terasa seperti umpan, dan Alinea sadar ia sedang berada di tengah jebakan besar yang pelan-pelan mengunci ruang geraknya.
“Aku ini apa sih?” gumamnya lirih pada dinding kamar yang bisu. “Alat branding?”
Alinea melempar ponselnya ke kasur seolah benda itu baru saja membakar tangannya. Air matanya luruh, bukan karena caci maki netizen yang memenuhi layar, melainkan karena sebuah kesadaran yang lebih pahit.
Alinea kehilangan kompas. Di titik ini, ia tak lagi mampu membedakan mana yang bagian dari kontrak, dan mana yang benar-benar nyata.
Di kantor, atmosfernya mendadak asing. Tatapan orang-orang berubah drastis—lebih tajam, lebih menyelidik. Bisikan-bisikan di udara mendadak senyap, hanya menyisakan dengung yang menyesakkan.
Alinea menarik napas panjang. Melewati lobby pagi ini terasa seperti berjalan di tengah arena gladiator. Tanpa senjata, dan tanpa pelindung.
“Dia datang.”
“Yang diklaim CEO.”
“Gila sih.”
Alinea menegakkan bahu, melangkah lurus menembus bisikan. Namun di dalam, detak jantungnya adalah sebuah pemberontakan.
Pintu lift terbuka. Arsenio berdiri di tengah, sendirian. Seperti biasa Arsenio formal dan tak terjangkau.
Pria itu menoleh. Mata mereka bertemu, namun tak ada kelembutan yang tersisa dari genggaman semalam. Tanpa senyum, tanpa sapaan manis. Hanya keheningan yang berat, menekan mereka dari segala sisi.
“Pagi,” kata Alinea lebih dulu.
“Pagi,” jawab Arsenio.
Hening lagi.
Ruang logam itu mendadak menyempit, seolah dindingnya bergerak maju menghimpit mereka. Di sana, Alinea tak bisa menghindar dari aroma cologne Arsenio—tajam, dingin, dan sangat akrab.
Sementara itu, Arsenio tetap berdiri mematung. Namun di tengah keheningan, ia bisa menangkap frekuensi napas Alinea yang memburu, sedikit lebih cepat dari ritme normalnya.
“Reaksi publik sesuai proyeksi,” kata Arsenio akhirnya.
Itulah kesalahannya. Arsenio terlalu percaya pada proyeksinya sendiri. Ia merasa menang karena semuanya berjalan sesuai rencana.
Alinea menoleh pelan. Tatapannya kini bukan lagi tentang rasa takut, melainkan tentang kekecewaan yang mendalam karena telah dijadikan bagian dari sebuah simulasi bisnis.
“Jadi semalam itu bagian dari proyeksi?”
Nada suara Alinea tenang.
Tapi dingin.
Arsenio mengerjap pelan. Di balik tatapan tajamnya, sistem di kepalanya sedang bekerja cepat, menimbang ribuan kemungkinan.
Jawaban jujur atau jawaban emosional?
Ia tahu, kejujuran akan memvalidasi bahwa Alinea hanyalah sebuah angka. Namun, emosi? Itu adalah variabel yang tak pernah bisa ia kontrol sepenuhnya.
“Saya mempertimbangkan dampak jangka panjang perusahaan.”
“Aku bagian dari strategi ya.”
Pintu terbuka otomatis, namun keduanya tetap mematung seolah sedang berada di tepi jurang. Tak ada yang keluar. Tak ada yang bicara. Hanya ada sisa aroma cologne dan deru napas yang kini terasa seperti beban. Udara semakin tipis, dan di dalam kotak logam itu, waktu seolah berhenti berputar.
“Saya tidak menyebut Anda strategi,” ujar Arsenio.
“Tapi kamu bertindak seperti itu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Arsenio kehilangan navigasi. Tidak ada grafik, tidak ada statistik, bahkan tidak ada satu bit data pun yang tersedia di kepalanya untuk menjawab dengan cepat. Keheningan itu menjadi bukti bahwa kali ini, logika bisnisnya telah menemui jalan buntu.
Siang itu, ruang makan rumah utama berubah menjadi ruang sidang yang jauh lebih brutal dari perkiraan Arsenio. Ibunya duduk di ujung meja—singgasana yang tak terlihat. Ia tampak begitu elegan, begitu tenang, namun setiap embusan napasnya terasa tajam, sanggup mengiris kepercayaan diri siapa pun yang duduk di hadapannya.
“Penampilanmu di gala viral,” katanya tanpa basa-basi.
“Ya.”
“Keputusan impulsif?”
“Terukur.”
Ibunya tersenyum tipis.
“Perempuan itu tidak punya latar belakang yang sepadan.”
Arsenio diam.
“Ini bukan soal cinta,” lanjutnya. “Ini soal reputasi keluarga.”
Arsenio mengangkat kepala.
“Reputasi tidak ditentukan kelas sosial.”
Ibunya menatapnya lama.
“Sejak kapan kamu peduli opini publik soal cinta?”
Pertanyaan itu menghunjam tepat di titik butanya, memicu sesuatu yang asing bergerak di balik dadanya. Sejak kapan? Arsenio kehilangan jejak datanya. Ia hanya ingat satu sensasi yang sangat jelas.
Semalam, saat wartawan menyerbu dengan pertanyaan dan Nadia berdiri di sampingnya dengan senyum yang begitu sempurna—begitu terkalibrasi—seluruh sistem dalam dirinya berontak. Ada penolakan instinktif yang tak bisa ia jelaskan dengan logika bisnis mana pun.
Di kepala Arsenio, narasi itu runtuh. Ia menolak menjadikan Alinea objek sementara. Ia menolak memperlakukannya sebagai alat stabilitas saham.
“Keputusan saya final,” katanya, menantang otoritas yang selama ini ia patuhi.
Ibunya berdiri, kehadirannya memenuhi ruangan. “Bersiaplah, Arsenio. Ini bukan lagi drama kantor yang bisa kau atur grafiknya. Ini perang sosial. Dan kau tahu persis siapa yang akan hancur pertama kali.”
Sore itu, Nadia melangkah masuk ke kantor dengan gaun formal yang jatuh sempurna di tubuhnya. Ia datang membawa senyum tipis yang tak sampai ke mata. Tidak ada jejak kemarahan di sana, tidak ada drama. Ia datang bukan sebagai wanita yang dikhianati, melainkan sebagai seorang strategis yang sedang meninjau ulang rencana yang gagal.
“Aku salut,” katanya saat berpapasan dengan Alinea di pantry.
Alinea tersenyum kaku.
“Untuk apa?”
“Dari staf biasa jadi headline.”
Nada Nadia lembut.
Tapi menusuk.
“Kamu hebat. Tapi hati-hati. Dunia atas tidak ramah.”
Alinea menatapnya.
“Aku tidak pernah berniat masuk dunia atas.”
Nadia tersenyum lebih lebar.
“Tapi kamu sudah masuk.”
Dan kalimat itu terus menempel di kepala Alinea, seperti noda yang menolak luruh. Sepanjang hari, di tengah riuh rendah suara kantor dan bunyi mesin fotokopi, kata-kata itu terus berulang—memaksanya mempertanyakan setiap inci realita yang ia jalani.
Malam jatuh, dan kantor sudah nyaris kosong saat Arsenio meminta Alinea masuk ke ruangannya. Begitu Alinea melangkah masuk, pintu tertutup dengan bunyi klik yang final. Di ruangan luas yang hanya diterangi lampu meja itu, ketegangan dari lift pagi tadi kembali datang—kali ini jauh lebih menyesakkan.
Hening.
“Kita perlu menyamakan persepsi,” ujar Arsenio.
Alinea tertawa kecil.
“Persepsi apa? Kalau aku bukan sementara?”
Arsenio berdiri, menyilangkan tangan.
“Kamu sadar kan hidupku berubah total hari ini?”
“Saya sadar.”
“Dan kamu baik-baik saja?”
“Saya mengantisipasi resiko.”
“AKU bukan resiko bisnis, Arsenio!”
Suara Alinea pecah.
Dan di sana, di tengah keheningan yang menyesakkan, Alinea melakukannya. Ia menyebut nama pria itu—tanpa embel-embel, tanpa gelar, tanpa jarak. Hanya namanya. Seketika, wibawa ruangan itu runtuh. Ruangan luas yang melambangkan kekuasaan Arsenio mendadak menyusut, memerangkap mereka dalam keintiman yang berbahaya.
Arsenio berdiri.
Mendekat satu langkah.
“Saya tidak menganggap Anda resiko.”
“Lalu apa?”
Arsenio terdiam.
Sederhana bagi Alinea, namun kompleks bagi Arsenio. Pria itu terpaku menatap wajah di depannya. Marah. Terluka. Takut. Emosi-emosi itu saling bertabrakan, menciptakan kekacauan yang tak pernah ia pelajari di sekolah bisnis mana pun.
Di detik itu, kemampuannya untuk mengonversi perasaan menjadi angka-angka dingin mendadak lumpuh. Alinea bukan lagi sebuah "proyeksi". Ia adalah realita yang
“Anda… penting.”
Hening.
Alinea menatapnya tepat di manik mata, mencari sisa-sisa pria dingin yang selama ini ia kenal. Namun, ia tidak menemukan apa pun kecuali pantulan dirinya sendiri yang rapuh. Di balik dadanya, jantungnya bergetar hebat—sebuah tabuhan genderang yang seolah bisa terdengar memenuhi seluruh sudut ruangan yang sunyi itu.
“Itu bukan jawaban.”
Arsenio menghela napas pelan.
“Saya tidak ingin Anda diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa dibuang.”
Kalimat itu lepas begitu saja. Tanpa data, tanpa rencana. Jauh lebih jujur dari yang sanggup ia tanggung.
Alinea memalingkan wajah.
“Dengan mengklaimku di depan publik, kamu malah membuatku tidak bisa pergi.”
Sunyi.
Arsenio bungkam. Mengakui bahwa ia ingin dia tetap di sini adalah kesalahan fatal—sebuah error yang mulai meruntuhkan pertahanannya.
Malam kian larut, menyisakan kantor yang hampir mati. Di antara deretan meja kosong, Alinea masih bergeming. Dari balik jendela, lampu-lampu kota berpendar jauh, sementara ia memeluk dirinya sendiri—mencari kehangatan yang tak ada.
Ia bisa saja melangkah pergi. Menyudahi kontrak, mengajukan resign, dan selesai. Namun, jika ia menyerah sekarang, apa arti semua lelah ini?
Di balik kaca ruangannya, Arsenio hanya terpaku menatap siluet itu. Biasanya, ia adalah pria dengan keputusan secepat kilat. Baginya, segala hal punya solusi logis. Tapi kini ia sadar,Ini bukan proyek. Bukan juga soal strategi.
Ini manusia—dan manusia adalah satu-satunya variabel yang tak bisa diprediksi oleh algoritma apa pun.
Arsenio akhirnya bergerak. Ia melangkah keluar, mendekat dalam sunyi.
“Alinea.”
Alinea menoleh.
Mata mereka bertemu di tengah kesunyian.
Di sini, tak ada kilatan lampu kamera. Tak ada catatan wartawan. Tak ada lagi topeng profesional yang perlu mereka jaga.
Hanya ada dua orang yang kini sama-sama tersesat—terjepit di antara lembaran kontrak yang kaku dan sesuatu yang jauh lebih besar, yang tak lagi sanggup mereka sangkal.
“Kalau ini terlalu berat,” kata Arsenio pelan, “kita bisa mengatur ulang narasi.”
Alinea menatapnya.
“Dan kamu?”
“Saya bisa menghadapi konsekuensinya.”
Hening.
Alinea berdiri.
“Masalahnya bukan narasi, Arsenio.”
“Lalu?”
“Masalahnya aku mulai nggak tahu lagi ini cuma kontrak… atau bukan.”
Kalimat itu memicu sesuatu yang tak seharusnya ada.
Glitch.
Detak jantungnya melompat, memacu denyut yang tak beraturan.
Overclock.
Untuk pertama kalinya, Arsenio menyadari sebuah fakta yang berbahaya yaitu Ia tak mengklaim Alinea demi mengamankan saham. Ia melakukannya karena ia tak sanggup melihat perempuan itu berdiri sendirian menghadapi dunia.
Itu bukan keputusan rasional. Bukan strategi yang matang.
Itu adalah impuls. Itu adalah perasaan.
Dan bagi pria yang hidup dalam kendali penuh seperti dirinya, hal itu sangat menakutkan.
“Alinea,” suaranya lebih rendah sekarang, “saya tidak pernah menganggap Anda sementara.”
Air mata tipis menggenang di mata Alinea.
“Tapi aku masih merasa terjebak.”
Alinea mundur selangkah.
“Dan aku takut suatu hari kamu sadar ini cuma glitch.”
Kalimat itu menggantung hampa di udara.
Arsenio tidak mengejarnya. Tidak juga menyentuhnya.
Arsenio hanya berdiri diam di sana. Menyadari untuk pertama kalinya sebuah kebenaran pahit bahwa mengendalikan seluruh perusahaan jauh lebih mudah daripada memahami satu perempuan di hadapannya.
Alinea mengambil tasnya.
“Aku butuh waktu.”
Alinea berjalan menuju lift.
Alinea melangkah menuju lift. Arsenio tidak menghentikannya.
Sebab untuk pertama kalinya, ia tak tahu langkah mana yang paling efisien.
Pintu lift tertutup. Arsenio berdiri mematung di lorong yang sunyi. Di layar monitor dunia, segalanya sempurna dan sekarang saham meroket, investor puas, reputasi stabil. Namun, sistem internalnya hancur. Glitch itu tak bisa di-reset.
Sang CEO Volt-Tech akhirnya menyadari satu hal yaitu cinta bukan sebuah proyek. Dan ia sudah jatuh terlalu dalam sebelum sempat memasang pengaman.
Di luar gedung, Alinea berjalan pelan menyusuri trotoar malam. Hatinya sesak oleh rasa takut, namun anehnya... terasa hangat.
Aftermath baru saja dimulai. Perang yang sesungguhnya bukan lagi soal publik, keluarga, atau lembaran saham. Ini adalah perang antara dua orang yang sama-sama menyangkal, namun perlahan kehilangan kendali.
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨