Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Jejak Fitnah yang sabar
Langit Kota Sagara pagi itu tampak muram, seolah memahami kegelisahan yang menyelimuti keluarga Wijaya. Awan kelabu menggantung rendah, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Bima berdiri di depan papan tulis kecil di ruang tamu, menatap peta pikiran yang ia buat semalaman.
Benang-benang merah menghubungkan nama, tempat, dan peristiwa. Setiap garis mewakili kemungkinan kebenaran, namun juga membuka ruang kebingungan. Fitnah yang menghancurkan toko mereka tak datang dari satu arah. Ia seperti kabut, menyebar tipis namun mematikan.
“Semua ini terlalu rapi,” gumam Bima.
Nara menyesap kopi, menatap layar laptop. “Berita pertama muncul di portal lokal yang jarang dikenal. Tapi anehnya, dalam waktu satu jam, hampir semua media besar memuat kabar yang sama. Seolah sudah disiapkan.”
Ayah mengangguk pelan. “Tidak mungkin secepat itu kalau bukan direncanakan.”
Mereka mulai menelusuri satu demi satu asal-usul berita. Nara menemukan akun anonim di media sosial yang pertama kali mengunggah tudingan terhadap toko manisan Wijaya. Akun itu baru dibuat tiga hari sebelum berita viral. Tak ada foto profil, tak ada riwayat aktivitas, hanya satu unggahan yang langsung meledak.
Bima mengernyit. “Akun bayangan.”
Ibu, yang sejak tadi diam, membuka map cokelat berisi salinan dokumen dari pemasok. “Aku menemukan ini.” Ia menyerahkan selembar kertas yang menunjukkan perubahan mendadak pada kontrak pengiriman bahan baku, tertanggal dua minggu sebelum fitnah menyebar. “Seseorang mencoba memutus pasokan kita dari dalam.”
Satu demi satu potongan puzzle muncul, namun tak ada satu pun yang benar-benar utuh.
Bima memutuskan menemui seseorang: Pak Surya, mantan jurnalis senior yang kini mengelola kios koran kecil di pinggir pasar. Lelaki itu dikenal jujur dan punya jaringan luas di dunia media.
Kios kecil itu sempit, dindingnya dipenuhi koran lama dan majalah usang. Bau kertas bercampur aroma kopi hitam.
“Ada yang ingin kau tanyakan, Nak?” tanya Pak Surya, menatap Bima di balik kacamata tebalnya.
Bima menjelaskan semuanya. Pak Surya mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali mengangguk.
“Kasus seperti ini tidak pernah sederhana,” katanya akhirnya. “Fitnah besar selalu berakar dari kepentingan besar. Media hanyalah alat.”
“Siapa yang menggerakkannya?” tanya Bima.
Pak Surya menghela napas. “Ada nama yang sering muncul di balik layar. Seorang pengusaha manisan yang dekat dengan tokoh politik. Tapi tak ada bukti hitam di atas putih.”
Bima terdiam. Nama itu sama dengan yang pernah disebut ayahnya.
“Kalau mau mencari jejak, perhatikan aliran uang,” lanjut Pak Surya. “Di sanalah kebohongan sering meninggalkan sidik jari.”
Petunjuk itu membawa mereka pada rangkaian transaksi keuangan yang mencurigakan. Dengan bantuan seorang kenalan lama ayah yang bekerja di koperasi, mereka mendapatkan akses ke laporan transfer antarperusahaan.
Beberapa rekening tampak menyalurkan dana dalam jumlah besar ke akun-akun media kecil, lalu berhenti tepat setelah berita fitnah terbit. Polanya jelas, tapi belum cukup kuat untuk menjadi bukti hukum.
“Ini seperti bayangan,” ujar Nara. “Terlihat, tapi sulit digenggam.”
Sementara itu, tekanan semakin terasa. Telepon tanpa suara masuk hampir setiap malam. Motor asing beberapa kali melintas pelan di depan rumah mereka. Bima merasakan tatapan tak kasatmata mengikuti langkahnya.
Suatu sore, seorang pria tua datang ke rumah mereka. Pakaiannya sederhana, wajahnya cemas. Ia memperkenalkan diri sebagai Rahmat, mantan karyawan di toko saingan.
“Aku tahu kalian mencari kebenaran,” katanya dengan suara bergetar. “Aku tak bisa diam lagi.”
Mereka mempersilakannya masuk. Rahmat menceritakan bahwa ia pernah diminta menyebarkan kabar buruk tentang toko Wijaya melalui grup pesan dan media sosial, dengan imbalan uang.
“Siapa yang memerintahkanmu?” tanya Bima.
Rahmat menggeleng. “Perintah datang lewat orang suruhan. Aku tak pernah bertemu langsung dengan pemiliknya. Tapi aku punya rekaman percakapan.”
Ia mengeluarkan ponsel tua, menyerahkan sebuah file audio. Suara di dalamnya samar, terdistorsi, namun jelas memuat instruksi penyebaran fitnah.
“Ini penting,” bisik Nara.
Namun malam itu, saat mereka hendak menyalin data, listrik padam mendadak. Rumah seketika gelap. Di luar, hujan turun deras. Ketegangan membeku di udara.
Ketika listrik menyala kembali, Rahmat telah pergi.
Pintu depan terbuka sedikit. Tak ada tanda kekerasan, tak ada jejak. Hanya kesunyian yang menggantung.
“Dia dibawa,” gumam ayah dengan wajah pucat.
Ketakutan menjalar cepat. Mereka memeriksa file audio itu—syukurlah, masih tersimpan. Namun hilangnya Rahmat menandakan satu hal: mereka semakin dekat pada inti kebenaran.
Jejak fitnah itu semakin jelas, namun juga semakin berbahaya.
Bima berdiri di teras, menatap jalan basah yang kosong. Di kejauhan, sirene samar terdengar. Hatinya berdebar, bukan oleh takut, melainkan oleh keyakinan bahwa mereka tak boleh berhenti.
“Seberapa samar pun jejak itu,” bisiknya pada diri sendiri, “aku akan menemukannya.”
Dan di bawah langit muram Kota Sagara, pencarian mereka memasuki fase baru, fase di mana setiap langkah bisa menentukan hidup dan mati.
Malam itu, rumah keluarga Wijaya tak pernah benar-benar terlelap. Bima duduk di ruang tamu dengan mata terpaku pada layar laptop, memutar ulang rekaman suara Rahmat. Setiap kata, setiap jeda, didengarkan berulang-ulang, mencoba menangkap petunjuk yang tersembunyi di balik suara yang terdistorsi.
Nara menyalin file itu ke beberapa flashdisk dan penyimpanan daring. “Kalau satu hilang, kita masih punya cadangan,” katanya tegas. Ia belajar dari pengalaman pahit—kebenaran harus diamankan sebelum sempat dirampas.
Ayah mondar-mandir gelisah, sesekali menatap pintu seolah takut Rahmat tiba-tiba kembali, atau justru orang lain yang datang membawa ancaman. Ibu duduk diam di sudut, jemarinya meremas tasbih, doa mengalir tanpa suara.
Sekitar pukul dua dini hari, ponsel Bima bergetar. Nomor tak dikenal. Ia ragu sejenak sebelum mengangkat.
“Jangan cari aku,” suara di seberang terdengar parau dan terburu-buru. “Mereka mengawasi.”
“Pak Rahmat?” bisik Bima.
“Simpan rekamannya baik-baik. Itu kunci.” Sambungan terputus.
Bima mematung. Detik berikutnya, dadanya sesak. Rahmat masih hidup, tapi dalam bahaya.
Pagi menjelang dengan langit yang masih kelabu. Kota Sagara seolah ikut menahan napas. Bima dan Nara memutuskan menemui seorang kenalan lama ayah, Pak Damar, mantan penyidik kepolisian yang kini membuka biro konsultan hukum kecil.
Kantor Pak Damar berada di ruko tua yang catnya mulai mengelupas. Pria berambut perak itu menyambut mereka dengan sorot mata tajam.
“Kalian bermain di wilayah berbahaya,” katanya setelah mendengar seluruh cerita. “Tapi kalau kalian siap, aku akan membantu.”
Ia memeriksa rekaman itu dengan saksama. “Suaranya dimodifikasi, tapi pola bicaranya khas. Kita bisa melacaknya dengan analisis forensik suara.”
“Berapa lama?” tanya Bima.
“Tidak cepat. Dan selama itu, kalian harus ekstra hati-hati.”
Hari-hari berikutnya diisi ketegangan yang kian menebal. Bima merasa setiap langkahnya diawasi. Di pasar, di halte, bahkan di depan sekolah, selalu ada wajah asing yang tampak terlalu sering muncul.
Suatu sore, saat Bima pulang dari menemui seorang pemasok lama, ia sadar seseorang mengikutinya. Motor hitam tanpa plat depan membuntuti dari kejauhan. Bima mempercepat langkah, berbelok ke gang sempit, lalu masuk ke warung kecil.
Motor itu berhenti tak jauh, pengendaranya berpura-pura menelpon. Keringat dingin mengalir di pelipis Bima.
Ia menunggu hampir setengah jam sebelum kembali melangkah, memutar rute lebih jauh untuk memastikan tak diikuti.
Ketegangan itu perlahan menggerogoti fisik dan mental mereka. Ayah kembali sering batuk, ibu semakin pucat, Nara jarang tidur. Namun tak satu pun mengeluh.
Di tengah kelelahan, secercah harapan muncul.
Pak Damar menghubungi mereka dengan suara tertahan antusias. “Aku menemukan kecocokan suara di sebuah arsip lama. Seorang staf khusus di kantor wakil walikota.”
Nama itu seperti petir menyambar. Potongan puzzle yang selama ini berserakan mulai menyatu.
“Ini belum bukti langsung,” kata Pak Damar. “Tapi cukup untuk membuka pintu penyelidikan resmi.”
Mereka tahu, melangkah ke jalur hukum berarti memancing badai lebih besar.
Malam itu, sebelum tidur, Bima berdiri di depan cermin, menatap wajahnya yang tampak lebih dewasa dari usianya. Matanya menyimpan kelelahan, tapi juga nyala tekad.
“Aku tidak akan mundur,” bisiknya.
Keesokan harinya, ancaman datang lebih nyata.
Sebuah batu dilempar ke jendela rumah mereka, disertai secarik kertas bertuliskan: Ini peringatan terakhir.
Ibu menangis tertahan. Ayah memeluknya erat. Nara mengepalkan tangan, sementara Bima memungut batu itu, menimbang beratnya di telapak tangan.
“Mereka takut,” katanya pelan. “Itu berarti kita dekat.”
Namun di balik keberanian itu, rasa takut tetap mengendap. Setiap suara langkah di malam hari membuat jantung berdegup lebih kencang.
Beberapa hari kemudian, Rahmat kembali menghubungi. Ia memberikan lokasi pertemuan, sebuah gudang tua di pinggiran kota.
“Datang sendiri,” pesannya singkat.
Pertemuan itu bisa menjadi jawaban atau jebakan.
Setelah berdiskusi panjang, Bima memutuskan pergi ditemani Pak Damar dan seorang polisi yang bisa dipercaya.
Gudang itu sunyi, hanya diterangi lampu temaram. Bau lembap dan karat memenuhi udara.
Rahmat muncul dari balik tumpukan peti. Wajahnya lebih kurus, matanya cekung.
“Aku tidak punya banyak waktu,” katanya cepat. “Aku melihat sendiri pertemuan antara bosku dan pejabat itu. Mereka membicarakan rencana menjatuhkan toko kalian.”
Ia menyerahkan sebuah buku catatan kecil, berisi tanggal, tempat, dan nama-nama yang terlibat.
Namun sebelum mereka sempat berkata apa pun, suara langkah bergema di luar. Pintu gudang digedor keras.
“Lari!” teriak Rahmat.
Kekacauan pecah. Mereka berhamburan keluar lewat pintu belakang, berlari di antara gelap dan hujan yang turun mendadak.
Di balik napas terengah dan jantung yang nyaris pecah, Bima menggenggam buku catatan itu erat-erat.
Ia tahu, sejak malam itu, hidup mereka tak akan pernah sama.
Dan jejak fitnah yang selama ini samar, akhirnya mulai menampakkan wajah aslinya.