NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 BATU YANG BERDENYUT

Fajar menyingsing dengan kabut tipis yang tidak biasa.

Chen Long berdiri di depan jendela, batu giok hitam di tangannya. Sejak tadi malam, batu itu tidak pernah benar-benar dingin. Setiap kali denyut jantungnya memukul, batu itu merespons dengan getaran halus dan seolah mereka berbagi satu ritme.

Yin.

Ia mengerti sekarang mengapa Sunxin mengirimnya.

Bukan sebagai hadiah.

Bukan sebagai pesan rahasia.

Melainkan sebagai… kunci.

Sesuatu yang bisa menstabilkan arus Yang liar di tubuhnya yang selama ini ditekan oleh ibunya.

Chen Long menutup jari di sekeliling batu itu. Di bawah kulitnya, nadi yang retak berdenyut pelan namun bukan sakit, melainkan… haus.

Tubuhnya ingin lebih.

Bukan kekuatan untuk menghancurkan.

Melainkan keseimbangan untuk menahan lebih lama.

Ia mengenakan pakaian latihan sederhana—bukan jubah resmi, bukan zirah perang. Hanya kain hitam longgar yang memungkinkan gerak bebas. Di luar, pengawal kekaisaran masih berjaga, namun jarak mereka berbeda dari kemarin.

Lebih jauh.

Seolah ada perintah tak tertulis untuk memberinya… ruang.

Chen Long tahu ini bukan kebaikan.

Ini pengamatan.

Mereka ingin melihat apa yang akan ia lakukan dengan kekuatan baru yang terbuka semalam.

Ia turun ke halaman belakang penginapan—sebuah ruang kecil berlantai batu, dikelilingi dinding tinggi. Tempat yang biasa digunakan prajurit untuk latihan pagi.

Namun pagi ini, ia sendirian.

Ia meletakkan batu giok di sudut halaman, di tempat yang terkena sinar matahari namun juga teduh bayangan dinding.

Lalu ia berdiri di tengah.

Napas pertama bergerak masuk perlahan, bukan ke paru-paru, melainkan ke… perut.

Seperti yang ayahnya ajarkan tahun lalu.

Namun kali ini, sesuatu berbeda.

Saat napas itu turun, Chen Long merasakan dua arus di tubuhnya bereaksi.

Satu hangat, dari tulang belakang bagian bawah, melonjak naik.

Satu dingin, dari batu giok di sudut, merayap masuk melalui kulitnya.

Bukan bertabrakan.

Melainkan… berputar.

Seperti dua ikan di kolam yang sama, berenang berlawanan arah namun tidak pernah bersentuhan.

Chen Long membuka mata.

Dunia terlihat… lebih jelas.

Bukan visual.

Melainkan… tekstur.

Ia bisa merasakan kepadatan batu di bawah kakinya. Kelembaban udara pagi. Panas sinar matahari yang belum sepenuhnya hangat. Dan di balik dinding, napas para pengawal yang teratur satu dua, satu dua...

Semua terbaca.

Bukan dengan telinga atau mata.

Melainkan dengan… kulit.

Ini bukan teknik.

Ini fondasi.

Chen Long mengangkat satu kaki, menapakkan dengan perlahan.

Bukan langkah biasa.

Ia mencoba meniru gerakan yang ia rasakan semalam yg ketika tubuhnya bergerak dalam "frekuensi" yang berbeda.

Langkah itu terasa… berat dan ringan bersamaan.

Seolah setiap otot menemukan titik keseimbangannya sendiri.

Ia bergerak lagi.

Kali ini lebih cepat.

Bukan berlari melainkan… meluncur di antara bayangan dan cahaya.

Tubuhnya berputar, tangannya mengayun mengikuti arus udara yang tidak terlihat.

Setiap gerakan tidak dipikirkan.

Melainkan… dirasakan.

Seolah ada "jalur" di udara yang hanya bisa dilihat oleh seseorang yang bisa membaca resonansi Yin-Yang.

Satu putaran.

Dua putaran.

Tiga...

Dadanya berdenyut keras.

Bukan lelah.

Melainkan… penuh.

Dua arus di tubuhnya telah berputar cukup lama, dan kini mereka ingin… keluar.

Chen Long berhenti.

Ia menggigit bibir, memaksa napasnya melambat.

Menahan.

Ayahnya mengajarkan hal ini.

Namun kali ini, menahan terasa berbeda.

Bukan menekan kekuatan yang liar.

Melainkan… men guide sungai yang sudah menemukan jalurnya.

Ia berlutut, menekan kedua telapak tangan ke batu dingin.

Tanah di bawahnya bergetar dengan sangat halus, sangat kecil, hanya terasa olehnya sendiri.

Di sudut halaman, batu giok hitam berdenyut sekali.

Seolah mengakui.

Bahwa latihan ini bukan sekadar latihan.

Melainkan… pembukaan.

Pembukaan cara baru untuk menggunakan tubuh yang selama ini ia miliki namun tidak pernah benar-benar kenal.

Siang hari, Chen Long diminta menghadiri "diskusi formasi" di sayap timur istana.

Bukan perintah keras.

Bukan undangan hangat.

Hanya… permintaan yang tidak bisa ditolak tanpa konsekuensi.

Ia mengenakan jubah abu-abu sederhana—bukan warna Utara, bukan warna kekaisaran. Warna netral yang ia pilih sendiri.

Di ruang diskusi, beberapa pemuda bangsawan sudah berkumpul.

Beberapa ia kenal dari latihan bersama.

Beberapa lainnya asing terlihat wajah-wajah yang datang dengan segel wilayah Selatan dan Barat.

Mereka duduk mengelilingi meja rendah dengan peta formasi sederhana.

"Ah, Pangeran Utara," sapa seorang pemuda berjubah hijau tua tanda wakil Selatan. "Kami dengar kau baru saja… menyelesaikan isolasi."

Nada itu sopan.

Namun ada jarak.

Chen Long mengangguk singkat dan duduk di kursi kosong tetapi bukan di tempat yang disediakan untuknya, melainkan di sudut yang ia pilih sendiri.

"Formasi apa yang akan kita bahas?" tanyanya langsung.

Seorang pemuda lain seorang wakil Barat dengan lambang pohon peri di kerahnya—menyebarkan beberapa batu energi di meja.

"Formasi pelindung dasar," jawabnya. "Yang digunakan di perbatasan."

Chen Long menatap batu-batu itu.

Bercahaya lemah.

Stabil.

Namun di matanya yang bisa "membaca" resonansi, batu-batu itu terlihat… kaku.

Seolah energi di dalamnya mengalir satu arah saja.

Tidak berputar.

Tidak beresonansi.

"Ini formasi Yang murni," katanya tanpa berpikir.

Semua mata tertuju padanya.

"Apa maksudmu?" tanya wakil Selatan.

Chen Long menunjuk satu batu.

"Energinya keluar dari pusat, menyebar ke tepi, lalu… hilang."

Ia mengambil batu giok hitam dari sakunya sebuah batu yang Sunxin berikan dan meletakkannya di sisi berlawanan meja.

"Jika ada sesuatu yang menarik kembali energi yang hilang," lanjutnya, "formasi ini akan bertahan dua kali lebih lama."

Wakil Barat mengerutkan kening.

"Itu teori Yin-Yang," katanya. "Tapi tidak praktis. Yin dan Yang tidak bisa disatukan dalam formasi sederhana."

Chen Long tidak membantah.

Ia hanya… merasakan.

Bukan dengan pikiran.

Melainkan dengan tubuhnya yang kini bisa membaca aliran.

"Bukan disatukan," jawabnya akhirnya.

"Dibiarkan berputar."

Ia menggeser dua batu di meja, menempatkan berhadapan namun tidak bersentuhan.

"Yin di sini. Yang di sana. Jarak di antara mereka… adalah formasi itu sendiri."

Keheningan turun.

Bukan karena salah.

Melainkan karena… tidak pernah dipikirkan sebelumnya.

Wakil Selatan tertawa kecil.

"Kau belajar ini di mana?"

Chen Long mengembalikan batu giok ke saku.

"Di tempat yang tidak punya cukup Qi untuk formasi murni," jawabnya.

"Jadi kami belajar menggunakan… apa yang ada."

Diskusi berlanjut.

Namun arahnya berbeda.

Bukan lagi pemuda Utara yang harus membuktikan diri.

Melainkan pemuda lain yang mulai bertanya.

Bukan tentang teori.

Tapi tentang… pengalaman bertahan.

Malam itu, Chen Long kembali ke penginapan dengan tubuh yang terasa… berbeda.

Bukan lebih kuat.

Bukan lebih cepat.

Melainkan lebih… selaras.

Setiap langkahnya tidak lagi sekadar memindahkan berat.

Melainkan… menyeimbangkan dua arus yang terus berputar di dalamnya.

Di kamarnya, batu giok hitam berdenyut pelan di meja.

Chen Long duduk di depannya.

Ia belum membuka nadi secara sempurna.

Namun ia telah menemukan sesuatu yang tidak kalah penting.

Cara menggunakan kekuatan yang ada… tanpa memaksa yang belum waktunya.

Dan di balik dinding, jauh di dalam istana, Yin Sunxin berdiri di balkonnya, batu giok putih di tangannya berdenyut sinkron dengan yang ia kirim.

Seolah mengkonfirmasi.

Bahwa anomali itu… akhirnya mulai mengerti bahasa yang sama.

Bukan dengan kata-kata.

Melainkan dengan resonansi.

Yin dan Yang.

Berputar.

Bersama.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!