Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Kanara (1)
Zoya melangkah masuk ke ruang tamu dengan mata yang luar menyisir ruang tamu. Begitu melihat Nura keluar dari dapur, ia langsung menghambur tanpa ba-bi-bu
“Nura! kamu masih hidup!” seru Zoya heboh. Ia sempat mengerem suaranya di detik terakhir, menyadari keberadaan Kanara yang mungkin ada di lantai atas. “Aku chat gak dibalas, telepon gak diangkat. Aku pikir kamu sudah diculik duda keren itu buat dijadiin tawanan.”
Nura meringis, buru-buru menarik lengan Zoya untuk duduk di sofa. “Zoy, kecilin dikit suara kamu. Di sini lagi sensitif banget suasananya. Kantor Pak Elang lagi kena masalah.”
Zoya mencondongkan tubuhnya ke depan, mode gosipnya aktif seketika. “Aku tahu! Beritanya masuk ke portal berita nasional, kan? Gila ya, penggelapan dana Segede itu. Tapi, Ra. Yang mau aku tahu bukan tentang perusahaannya. Tapi… pria itu. Gimana keadaannya? Terus yang paling penting, gimana kabar hati kamu?”
Nura menghela napas panjang, menuangkan teh untuk Zoya dengan tangan yang sedikit hancur. “Dia… hancur, Zoy. Beberapa malam lalu, dia pulang dengan keadaan yang benar-benar kacau. Aku belum pernah lihat seseorang seputus ada itu.”
“Terus? Terus? Kamu ngapain? Ada adegan peluk-pelukan nggak?” cecar Zoya tidak sabar.
Nura terdiam sejenak. Bayangan saat Elang menyandarkan kening di bahunya kembali terputar otomatis di kepalanya. “Aku cuma nemenin. Hmmm… dia sempat sentuh… pipiku. Tatapannya… beda banget dari biasanya.”
Zoya hampir saja melompat dari sofa kalau saja Nura tidak menahan lengannya. “Tuh, kan! Apa aku bilang! Kalau ibarat di tengah badai, kamu tuh pelabuhannya, Nura! Tapi jujur ya, Ra… kamu tuh kelihatan capek hari ini, tapi mata kamu… entah ya kelihatan lebih ‘hidup’.”
Nura menunduk, mengaduk tehnya yang sebenarnya tidak perlu diaduk lagi. “Aku takut, Zoy. Batasan profesional yang aku bangun susah payah itu, gampang banget luntur.”
Zoya terdiam sejenak, suaranya melunak, kali ini terdengar lebih serius. “Ya wajar, Ra. Kamu manusia, bukan robot terapi. Tapi kamu harus ingat satu hal. Pak Elang itu pria yang sedang ada di titik terendah. Dia butuh pegangan, dan kebetulan kamu lagi ada di sana. Kamu harus bisa bedain, mana yang beneran ‘cinta’, dan mana yang cuma rasa ‘butuh’ karena dia lagi ‘rapuh’.”
Belum sempat Nura membalas, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga. Elang turun dengan dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Wajahnya tampak lelah dengan lingkaran hitam di matanya, namun aura karismatiknya tidak berkurang sedikit pun.
Zoya seketika membeku. Ia langsung duduk tegak, merapikan rambutnya dengan kecepatan kilat.
“Oh, ada tamu?” tanya Elang. Suaranya datar namun terdengar ramah.
“I-iya, Pak Elang. Ini Zoya, teman saya… tempo hari,” jawab Nura gugup, teringat saat Elang menangkap basah mereka yang sedang membicarakan dirinya.
Zoya langsung memasang senyum yang paling manis, senyum andalannya yang sudah sangat Nura hafal. “Halo, Pak Elang. Maaf ya kalau saya ganggu. Cuma mampir sebentar mau kasih dukungan buat Nura… Eh, buat keluarga Bapak juga tentunya.”
Elang mengangguk sopan. “Terima kasih, Zoya. Nura memang banyak membantu kami akhir-akhir ini. Saya tidak tahu apa jadinya rumah ini tanpa dia.”
Elang menatap Nura untuk beberapa detik, sebuah tatapan yang terasa ‘lama’ dan penuh makna sebelum ia beralih ke dapur.
Begitu Elang menghilang di balik pintu dapur, Zoya langsung menepuk paha Nura.
“Ra! Gila! Kamu lihat nggak tadi?” bisiknya histeris. “Dia natap kamu kayak kamu itu oksigen terakhir di bumi. Itu bukan tatapan buat terapis, Nura. Itu tatapan buat wanita.”
Nura menggeleng keras, menafikan jantungnya yang kembali berulah. “Zoy, mending kamu pulang sekarang. Dari pada tambah gila.”
“Oke, aku pulang. Tapi, ingat pesanku,” Zoya berdiri, bersiap pamit. “Nikmati aja, tapi jangan lupa pakai parasut. Takutnya jatuh hatinya terlalu tinggi.”
Lama setelah Zoya pulang, ucapannya masih tertinggal di kepala Nura. Ia terus merenungkan perbedaan antara cinta dan rapuh.
***********
Sore harinya, Nura mendengar suara gaduh dari gerbang depan. Ia sedang membantu Kanara merapikan mainan di ruang tengah.
Beberapa mobil terparkir sembarangan di luar pagar. Orang-orang dengan kamera dan ponsel yang menyala mulai berteriak-teriak memanggil nama Elang.
“Ada apa, Bu?” tanya Nura cemas pada Bu Yati. Dia bersama beberapa orang staf terlihat panik mengunci pintu di sekitar rumah.
“Wartawan, Mbak. Sepertinya berita soal pak Elang dan kondisi Non Kanara sudah bocor ke media. Mereka bilang gara-gara itu, perusahaan jadi kena masalah.”
Nura segera merangkul bahu Kanara yang sudah memperlihatkan tanda-tanda gelisah. Tubuhnya mulai menegang.
Di saat yang sama, Elang turun dari lantai dua dengan langkah cepat. Ia sudah mengenakan setelan jas lengkap, wajahnya tampak sangat keras. Ia baru saja selesai menerima telepon yang sepertinya membawa kabar buruk.
“Rian! Pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang masuk melewati gerbang!” perintah Elang tegas melalui ponselnya.
Elang kemudian melihat Nura yang sedang berusaha melindungi Kanara. Ia menghampiri mereka, mencoba menutupi pandangan putrinya dari jendela.
“Nura, bawa Kanara ke kamar!” instruksi Elang rendah tapi penuh penekanan.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Pak?” tanya Nura, suaranya sedikit meninggi karena khawatir.
Elang menatap Nura dalam-dalam. Terlihat amarah sekaligus rasa bersalah di matanya. “Mereka berusaha menggunakan kondisi Kanara untuk menjatuhkan posisi saya di perusahaan. Mereka bilang saya tidak kompeten karena punya anak yang…‘bermasalah’”
Nura tertegun. Ia tidak mengerti bagaimana mereka bisa begitu kejam pada seorang anak.
“Aku titip Kanara,” ujar Elang sebelum berjalan ke arah teras.
Beberapa wartawan berhasil memanjat pagar, meringsek masuk ke halaman. Kilatan lampu flash kamera seolah menembus jendela dan tembok, terlihat seperti petir yang menyambar di sore yang mendung itu. Suara wartawan yang saling bersahutan menuntut klarifikasi membuat atmosfer rumah terasa menyesakkan.
Kanara mulai menutup telinganya rapat-rapat. Tubuh kecilnya gemetar hebat. Bagi anak dengan kondisi seperti Kanara, suara gaduh dan kerumunan asing adalah ancaman besar.
“Kanara, lihat Kak Nura! Kita masuk ke kamar dulu, yuk!” bisik Nura berusaha tenang.
Namun, sebelum Nura sempat menggandengnya, suara gedoran keras di gerbang depan mengejutkan Kanara. Anak itu berteriak histeris, melepaskan pegangan Nura, dan berlari ke arah koridor belakang, menuju sebuah ruangan kecil di sebelah perpustakaan yang biasa ia gunakan untuk bermain petak umpet.
“Kanara! Jangan lari!” seru Nura mengejar di belakangnya.
Kanara menyelinap masuk ke ruangan itu dan membanting pintunya. Sialnya pintu kayu tua itu memiliki sistem pengunci otomatis yang sedikit rusak. Dari luar, Bu Yati menyisir ruangan tanpa sengaja baru memutar kunci cadangan dari deretan pintu di koridor itu, tanpa sadar kalau Kanara baru saja masuk ke salah satunya.
Ceklek
Pintu itu terkunci rapat dari luar.
“Kanara, buka pintunya!” Nura memutar knop pintu dengan panik, namun tidak berhasil.
Di dalam ruangan yang gelap dan sempit itu, Kanara merasa sangat terancam. Suara riuh wartawan di luar sana masih sayup-sayup terdengar, namun kesunyian dalam ruangan itu jauh menakutkan. Ia merasa terperangkap, mencoba memutar knop dari dalam, namun jarinya yang gemetar tidak kuat menarik tuas yang macet.
“Kak Nura… takut…,” suara Kanara parau dari balik pintu.
“Iya, Kanara. Kak Nura di sini! Pakai kunci cadangan, Bu Yati! Mana kuncinya?!” teriak Nura pada Bu Yati yang sedang berlari menghampiri dengan wajah pucat pasi.
“A-aduh Mbak, kuncinya banyak sekali, saya bingung yang mana!” Bu Yati mencoba satu per satu kunci dengan tangan yang bergetar hebat, membuat suara gemerincing logam yang semakin menambah kepanikan Kanara.
Di dalam sana, napas Kanara mulai tersenggal. Ia mulai memukul-mukul pintu kayu itu, bukan untuk membukanya, tapi untuk mencari perlindungan.
Dalam kegelapan dan ketakutan yang memuncak, hanya satu nama yang muncul di benaknya, sosok yang ia tahu bisa menghalau orang jahat.
“Ayah…,” isaknya pulang pecah.
“Ayah! Ayah Elang!” teriaknya dengan sekuat tenaga.
Deg.
Langkah Elang mendadak kaku ketika ia baru akan membuka pintu utama. Dunia Elang seakan berhenti berputar. Suara itu… suara yang memanggil namanya. Suara yang terakhir ia dengar setahun lalu, sekarang menggema di seluruh rumah.
kasian kl tiba2 histeris