NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saran Asisten

"Selamat datang kembali, Tuan!" Sabar menyapa bos besarnya yang sudah berbulan-bulan ini absen mengunjungi negara tropis tempatnya tinggal. Lelaki berusia kepala lima itu menunduk sambil membukakan pintu mobil.

Ammar namanya. Lelaki beralis tebal itu hanya berdehem dan memasuki mobil. Begitu duduk, dia mulai fokus melihat tablet yang diberikan Damian, asistennya.

Di luar sana, Hujan masih turun. Walau tak terlalu deras, tapi cukup membuat jalan tol yang mereka lalui tergenang air banjir. Sehingga lalu lintas menjadi tersendat.

Damian memberikan jeda sejenak untuk penjelasannya, lelaki blasteran Amerika itu menerima telepon dari klien penting.

Sedangkan Ammar mengalihkan tatapannya pada deretan mobil di luar sana. Mereka terjebak macet.

Ini sangat berbeda dengan negaranya, yang mana lalu lintas selalu lancar dan tentunya bebas genangan air.

Tapi tenang saja, Ammar tak lagi terkejut dengan suasana di tempatnya berada saat ini.

Sudah belasan tahun dirinya rutin mengunjungi negara yang dijuluki Zamrud khatulistiwa itu. Awalnya hanya mengikuti sahabat karibnya yang memiliki darah Indonesia, tapi lama kelamaan dan kebetulan ada yang menawarkan untuk dirinya berinvestasi. Maka pada akhirnya, dia membangun cabang perusahaan di sini.

Lalu kedatangannya kali ini, bukan hanya sekedar mengurusi bisnisnya. Ammar ingin berlibur agar pikirannya lebih tenang. Setelah beberapa waktu kebelakang, pikirannya kusut dan belum menemukan jalan keluar untuk masalah yang tengah dia hadapi.

Ini bukan soal urusan perusahaan ataupun hartanya benda miliknya. Ini lebih ke urusan pribadinya. Tepatnya rumah tangga yang sudah berjalan selama belasan tahun.

Bukan karena orang ketiga ataupun salah satu dari dia dan istrinya mengidap penyakit. Tapi soal keberadaan buah hati yang hingga detik ini, tak juga hadir menghiasi mahligai rumah tangganya.

Bukan juga karena Ammar atau istrinya mandul. Keduanya sangat sehat, karena sama-sama menerapkan pola hidup sehat dan rajin berolahraga. Bisa dibayangkan bagaimana bentuk fisik dari istrinya yang berprofesi sebagai seorang model catwalk.

Pemeriksaan menyeluruh, mereka lakukan setahun sekali. Dan hasilnya tentu tak ada masalah dari Ammar maupun Leticia. Mereka sama-sama sehat dan memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. Walaupun Leticia sudah berusia di atas tiga puluh lima tahun.

Lima tahun, sepuluh tahun. Tak ada yang menyinggung soal keturunan diantara pasangan suami istri itu. Tapi sebulan lalu sebuah pertanyaan dari paman Ammar, cukup mengusik jiwa lelaki berusia empat puluhan itu.

"Untuk siapa Kerja keras yang selama ini Ammar hasilkan?"

Waktu itu Ammar dengan percaya diri mengatakan, "untuk Leticia. Perempuan yang dicintainya."

Lalu Paman kembali bertanya. "Andai Kamu mati esok, siapa yang akan mengirim doa padamu?"

Ammar kembali menjawab, "Tentu Leticia dan mungkin orang-orang yang pernah aku tolong."

Paman Ammar adalah seorang imam besar di sebuah masjid di negara asalnya. Tentu ilmunya sudah tak perlu diragukan lagi.

"Apa menurutmu mereka tak akan melupakan mu?"

Lagi Ammar menjawab dengan lantang, jika istrinya begitu mencintainya dan tentunya akan selalu mendoakan untuk kebaikannya.

Paman tak menyangkal ucapannya kali ini, tapi lelaki yang sudah memiliki banyak uban itu menambahkan. Jika doa anak Soleh/Soleha lebih sering disebutkan sebagai amalan yang tak terputus untuk mendiang orang tuanya.

Ucapan pamannya sontak membuat Ammar kepikiran. Seminggu lamanya setelah mereka bertemu, dia banyak merenung di sela jadwal kerjanya yang padat.

Tak bisa lagi membendung berisiknya isi kepalanya, pada akhirnya Ammar mengajak Leticia berdiskusi guna membahas ucapan pamannya.

Apa yang Ammar dapat?

Penolakan. Leticia menolak mentah-mentah permintaanya untuk memiliki seorang anak. Perempuan berambut Brunette itu, untuk pertama kalinya sampai meninggikan suara di depannya.

Leticia beralasan tidak ingin membuat tubuhnya rusak karena mengandung seorang bayi. Apalagi dia mengaku sudah menandatangani kontrak eksklusif untuk sebuah brand pakaian dalam.

Bayangan Tubuh melar dan Stretch Mark menjadi momok menakutkan bagi Leticia yang berprofesi sebagai model.

Ammar sempat membujuk, akan mengganti biaya pembatalan kontrak dan menambah lima kali lipat uang nafkah untuk istrinya. Ammar juga menambahkan akan mengalihkan semua aset miliknya atas nama Leticia, asal istrinya mau mengandung seorang anak.

Bukannya disambut dengan suka cita. Leticia bahkan mengancam akan menggugat cerai, jika Ammar memaksanya untuk hamil.

Leticia sempat mengingatkan tentang perjanjian mereka sebelum menikah dulu. Bahwa Ammar tak akan menuntutnya untuk memiliki anak.

Bahkan selama ini, setiap mereka berhubungan suami istri. Ammar selalu memakai pengaman dan Leticia mengkonsumsi obat kontrasepsi. Pengamanan berlapis itulah yang meminimalisir keberadaan bayi diantara keduanya.

Puncaknya tiga hari lalu. Leticia meminta pengacara untuk datang ke rumah dan membacakan kembali perjanjian pra nikah. Serta apa saja ancaman yang harus Ammar terima jika melanggar isi perjanjian tersebut.

Dari pada pusing tak menemukan jalan keluar. Ammar memilih mengunjungi Indonesia, untuk urusan pekerjaan sekaligus berlibur. Dia berharap akan menemukan solusi untuk masalah rumah tangganya.

Suara Damian membuat lamunan Ammar seketika buyar. Dia menoleh mendapati asistennya itu, menatap dengan tatapan bertanya.

Ammar ingat asistennya itu belum lama memiliki momongan. "Bagaimana kabar istri dan anakmu?" Tanyanya, tentu dengan bahasa lokal. Belasan tahun memiliki sahabat orang keturunan Indonesia, Ammar kini fasih dengan bahasanya.

"Untuk apa anda menanyakan Sania dan Putri kami?" Damian menaikan sebelah alisnya. Dia merasa aneh dengan pertanyaan dari bos-nya. Mungkin ini kali pertama, Damian mendapatkan pertanyaan pribadi. Menurutnya cukup aneh dengan karakter Ammar yang cenderung dingin dan irit bicara.

"Aku hanya bertanya. Apa tidak boleh?" Ammar melirik sinis lelaki blasteran itu.

"Apa anda Demam, Tuan Ammar?" Tatapannya menyelidik. Damian benar-benar merasa aneh. "Apa perlu saya minta pak Sabar untuk membawa anda ke rumah sakit?"

"Dami ..." Ammar meninggikan suaranya. "Aku hanya bertanya dan kamu cukup jawab, baik atau tidak. Jadi tidak usah diperpanjang."

"Sania dan putri kamu baik. Bahkan Paris sudah bisa memanggilku ayah." Seketika air muka Damian berubah membayangkan betapa menggemaskan putri semata wayangnya.

Ammar sedikit terkejut dengan perubahan pada asistennya. Ini mungkin pertama kalinya, dia melihat Damian memiliki wajah berseri-seri. Apa mungkin ini efek karena menjadi seorang ayah?

Setelahnya, Damian mulai menceritakan tentang putri kecilnya. Dia juga menunjukkan video aktivitas yang dilakukan oleh Paris, putrinya yang baru berusia satu tahun.

Mobil masih terjebak di jalan tol. Roda-roda nya bergerak perlahan. Entah sampai kapan mereka berada di sana.

"Apa anda sudah berpikir untuk memiliki keturunan, Tuan?" Akhirnya Damian bertanya, setelah sebelumnya bercerita panjang lebar soal putri kecilnya.

Ammar dengan cepat menggeleng panik, dia juga mengalihkan tatapnya kembali keluar mobil. Kenapa asistennya peka sekali?

"Apa Nyonya Leti, menolaknya?"

Terkadang kepekaan dari Damian membuat Ammar merasa kesal. Sialan!!

Apa sebaiknya Ammar menceritakan pada asistennya, tentang masalahnya?

Tapi dia sedikit ragu, apalagi mengingat bagaimana masa muda lelaki yang lebih tua satu tahun darinya itu.

Ammar memberikan tatapan menyelidik, dia mencari kesungguhan dari Damian. Terkadang asistennya ini, bisa memberikan saran terbaik. Walau terkadang justru menyesatkannya. Dalam arti mempengaruhinya untuk tidak setia pada Leticia.

Damian tau, kisah cintanya dengan Leticia dari awal hingga saat ini. Yah ... Lelaki Blasteran Amerika-Indonesia itu adalah kakak tingkatnya semasa kuliah dulu.

"Apa setelah mendengar cerita tentang putriku, Anda tertarik untuk memiliki momongan?"

Astaga, Apa Damian ini cenayang?

Ingin rasanya Ammar memaki asistennya yang kelewat peka itu. Sepertinya keputusannya untuk mengunjungi negara ini, salah. Bukannya pikiran kusutnya terurai, malah Ammar merasa akan segera dikuliti habis-habisan.

Dan benar apa yang ada dipikirannya. Kini Damian mengkritisi tentang rumah tangga Ammar, juga tentang perjalanan kisah cintanya.

Andai tak ingat bagaimana hubungan persahabatan mereka yang sudah lebih dari dua dekade dan betapa kompetennya Damian. Mungkin sudah dari lama Ammar memecat asistennya yang bermulut tajam.

Intinya ocehan Damian kali ini adalah menyarankannya untuk berpisah saja dari Leticia. Mana bisa begitu, Ammar sudah terlanjur berjanji tak akan meninggalkan istrinya. Tidak semudah itu.

"Kalau Nyonya Leti tidak mau hamil karena takut tubuh indahnya rusak. Bagaimana jika anda poligami saja? Toh kepercayaan yang anda anut, memperbolehkannya."

Ucapan Damian membuat Ammar mendelik dan menatap marah pada asistennya itu.

"Kenapa tuan? Apa ucapan saya membuat anda tersinggung?"

Lihat lah bagaimana menyebalkannya asistennya itu. Seolah tidak takut akan dipecat olehnya.

"Apa mau saya Carikan istri kedua? Yang setidaknya bisa mengandung putra anda?"

"Diam lah, Dami ..." Ammar menghardik asistennya. "Kamu tau, aku tak mungkin menduakan Leti."

"Tapi sampai kapan, anda seperti ini?"

Atasan dan asistennya itu duduk bersebelahan di kursi belakang. Ammar kembali menatap jalanan yang mereka lalui. Mungkin sedikit lagi, mereka akan lewat pintu keluar jalan bebas hambatan itu.

Apa yang harus Ammar lakukan? Sungguh ini membuatnya pusing tujuh keliling.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!