Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FRUSTASI
Aroma sabun mawar masih tertinggal di kulitnya yang lembap, namun uap hangat dari kamar mandi tak cukup untuk meluruhkan beban di kepalanya. Begitu telah mengenakan pakaiannya, Salma berdiri mematung di depan cermin, ia masih membiarkan tetesan air dari ujung rambutnya jatuh membasahi lantai, seolah guyuran dingin tadi sama sekali gagal memadamkan api yang berkecamuk di dalam benaknya.
Pikirannya masih tertambat kuat pada mimpi semalam—sebuah ingatan semu tentang Putra yang terasa begitu nyata hingga ia bisa merasakan sisa hangatnya di permukaan kulit.
Bayangan itu datang lagi tanpa permisi, tentang bagaimana Putra melangkah mendekat, merengkuh pinggangnya dengan posesif, dan mulai membiarkan jemarinya menelusuri setiap lekuk tubuhnya yang berisi. Sungguh, sentuhan itu terasa mendebarkan saat jemari Putra seolah mengabsen setiap inci lekuk tubuh bulatnya dengan penuh pemujaan.
Setiap kali kilasan itu melintas, ada sensasi aneh yang menggelitik di ulu hatinya—sebuah perasaan melayang, seolah ribuan kupu-kupu tiba-tiba terbang di dalam perutnya, meninggalkan rasa desis yang membuatnya sedikit sesak sekaligus candu. Salma memejamkan mata erat, namun yang ia temukan justru wajah Putra yang semakin jelas, seakan anak itu benar-benar ada di sana.
"Haish...." Dengus Salma mengacak-acak rambutnya. "Tapi Putra itu..."
Salma menatap dirinya lagi di cermin. "Enggak, Salma. Ayo sadarlah! Aku cuma kesepian karena Mas Erwin gak pernah ada saat aku dibutuhkan. Lupakaan....!" Gumamnya pada diri sendiri.
Langkahnya bergerak menuju ranjang. Ia mulai menyibukkan diri membereskan seprai yang kusut, merapikan bantal dan selimut, seolah keteraturan sederhana itu mungkin bisa menenangkan pikirannya yang berisik.
Tak berhenti di situ. Setelah merapikan ranjang tidurnya hingga kembali tertata rapi, Salma meraih buku kenangan itu. Dengan langkah mantap, ia menuju lemari kaca dan menyelipkannya kembali ke tempat semula, di antara benda-benda lama yang lain.
Namun saat buku itu hendak ia taruh kembali, geraknya mendadak terhenti. Matanya terpaku pada sesuatu yang terselip di sela halaman, seolah sengaja disembunyikan namun juga ingin ditemukan.
Salma meraih lembar foto itu perlahan. Matanya membulat saat mendapati ternyata itu adalah foto Erwin bersama Manda—tersenyum berdampingan, tampak romantis dan membuat dadanya mengeras tanpa ia sadari. Kenangan yang bukan miliknya, yang dalam sekejap berhasil menghancurkan ingatannya tentang mimpinya bersama Putra.
Ia menghela napas pendek. Ya, Salma mengenal Manda. Gadis itu adalah adik kelasnya dulu semasa SMA—dan ternyata, mantan kekasih Erwin. Fakta yang tak pernah benar-benar ia terima sepenuhnya, meski waktu sudah berjalan sejauh ini. Foto itu seakan menegaskan satu hal yang selalu ia rasakan, masa lalu Erwin ternyata tak pernah benar-benar pergi.
Salma mendesis kecil. “Dia masih menyimpan foto ini rupanya,” Gumamnya lirih, nada kesal bercampur getir. “Padahal aku sudah menyuruhnya berkali-kali untuk membuangnya saja.”
Salma menatap foto itu lebih lama, jemarinya menjepit sudut kertas yang mulai menguning. Ada rasa perih yang muncul pelan, bukan karena cemburu semata, melainkan karena kesadaran bahwa ada bagian dari hidup Erwin yang tak pernah benar-benar ia masuki. Ia adalah istri, namun masa lalu itu tetap hidup—diam, tersimpan rapi, seolah masih layak dipertahankan.
Ia menutup mata sejenak, menarik napas dalam-dalam. Dengan gerakan pelan namun tegas, Salma menyelipkan kembali foto itu ke dalam buku kenangan, lalu menutupnya rapat. Buku itu kembali ia letakkan di lemari kaca, di posisi paling belakang. Seolah dengan begitu, ia berharap kenangan itu ikut terkunci, tak lagi mengusik pagi yang seharusnya tenang.
****
"PUTRAAA... BANGUN!"
Teriakan itu mendadak membuat Putra terperanjat sambil menutup kepalanya dengan bantal tidur. Dengan cepat, sang Ibu merebut bantal bermotif kubisme itu darinya.
"Aduh, Ma.... Ngapain si bangunin Putra di hari libur?!" Protes Putra mendengus kesal, ia hendak merebut bantalnya, namun wanita itu segera menjauhkannya.
"Apa kata kamu? Libur?!" Decak Ratih sambil melipatkan kedua lengannya di bawah dada. "Gak ada libur buat kamu! Gak ada tanggal merah, gak ada! Kamu temani Mama jualan di pasar sekarang!"
“APAAA?!” Seru Putra spontan, matanya membulat, tubuhnya sedikit mundur. Ia menatap ibunya dengan wajah tak percaya, antara mengantuk, heran, dan sepertinya sulit untuk bisa di tawar. "Ma, yang bener aja!"
Ratih mengangguk mantap. "Ada yang salah emang?! Salah kalau anak bantu Ibunya jualan?!"
“Aku, Ma…?!” Kata Putra sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri, memastikan. Ekspresinya campur aduk antara kaget dan tak percaya. "Teriak-teriak panggil pelanggan, gitu?! Cabe, kangkung, wortel, sayur dan sebagainya?" Tambahnya. Alisnya terangkat, mulutnya sedikit terbuka, seolah berharap ia salah dengar, meski dari tatapan Ratih, ia tahu jawabannya sudah mutlak.
"Iyaaaa!" Pekik Ratih. "Cepat mandi sana!"
"Tapi, Ma. Ak—"
"KAMU MAU NURUT ATAU GAK ADA UANG JAJAN SATU MINGGU?!"
Putra menghela napasnya keras, rasa frustrasi jelas terpancar di wajahnya. Tanpa menjawab, ia mendengus kesal dan berlalu cepat meninggalkan kamar. Langkahnya lebar dan tergesa menuju kamar mandi.
Hingga, beberapa puluh menit kemudian, Putra keluar kembali. Rambutnya masih basah, wajahnya lebih segar namun sorot matanya tetap menyimpan kekesalan yang belum sepenuhnya reda.
Celana jeans telah membalut tubuhnya dengan pas, dipadukan kaus polos yang tertutup rapi, sementara kemeja bermotif sederhana sengaja ia kenakan terbuka sebagai luaran. Penampilannya tampak santai, namun tetap rapi—cerminan keseharian Putra yang tak pernah benar-benar ribet soal gaya.
Ia kemudian berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya perlahan hingga jatuh rapi ke tempatnya. Tatapannya sekilas menilai pantulan diri sendiri, memastikan tak ada yang terlewat. Meski wajahnya terlihat tenang, gurat kesal tadi masih samar tertinggal di matanya sebelum akhirnya ia meraih tas dan bersiap menghadapi hari.
"Semua dagangan sudah Mama simpan di motor kamu." Ungkap Ratih.
Putra membelalakan bola matanya. "Mo-motor aku?!" Ulangnya, sementara langkahnya gegas keluar dari rumah.
Di pekarangan rumahnya yang tak begitu luas, motor itu terparkir rapi namun terasa janggal dipandang. Jok belakang—yang istimewa baginya—kini terhimpit dua kantung besar berisi sayuran segar. Sementara di bagian depan, sebuah dus berukuran sedang terikat kuat, membuat motornya lebih mirip kendaraan pengangkut dagangan daripada tunggangan favoritnya.
"MAAA....!" Pekik Putra mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Udah gak usah protes!" Kata Ratih sambil mengunci rumahnya.
"Mama tahu gak... motor aku ini motor istimewa, Ma! Jok belakang apalagi!"
"Maksud kamu... jok belakang yang selalu di duduki bokong para gadis lebih istimewa ketimbang bokong Ibu kandungmu sendiri, begitu?!" Tandas Ratih menoyor kepala Putra. "Cepat nyalakan motornya sekarang juga! Kita bisa terlambat!"
Lagi dan lagi, Putra hanya mendengus tanpa Bisa membantah.
Begitu Putra belah berada di motor lebih dulu, bahunya terangkat sebentar, lalu ia meraih setang motor dengan gerakan pasrah, menerima nasibnya pagi itu sambil menyiapkan diri menghadapi hari yang jelas tak akan berjalan sesuai rencananya.
Kemudian, Ratih tanpa memedulikan perasaan anaknya, mulai menaiki motor itu dari belakang. Ia menata duduknya di antara kantung-kantung sayuran, memastikan semua bawaan aman.
“Jok istimewa yang kali pertama Bu Salma duduki…” Gumam Putra lirIh, matanya menatap jok belakang yang kini terhimpit barang dagangan.
“Apa kamu bilang?!” Tanya Ratih spontan, menoleh dengan alis terangkat, curiga. "MAU JADI ANAK DURHAKA, KAMU?!"
Putra tersentak. Ia segera menggeleng cepat sambil menegakkan tubuhnya.
“Gak, Ma. Gak bilang apa-apa,” Jawabnya singkat, lalu memutar kunci motor, menyembunyikan gumamnya bersama deru mesin yang mulai menyala, membawa mereka pergi.
****