Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Dunia yang sempit
Dunia yang sempit ini seolah terus mengecil dan menjepitnya hingga ia tidak memiliki ruang lagi untuk sekadar menghirup udara kebebasan. Anindira meringkuk di dalam lubang persembunyiannya sambil menekan telapak tangan ke atas tanah yang lembap demi meredam suara isak tangisnya. Di atas sana, derap sepatu bot para pengejar terdengar menginjak ranting kering dengan irama yang sangat mengancam nyawanya.
Cahaya senter menyambar masuk ke sela-sela dedaunan yang menutupi lubang hingga membuat pupil mata Anindira mengecil secara refleks. Ia menahan napas sampai dadanya terasa panas dan nyeri, berharap tumpukan daun kering itu cukup tebal untuk mengelabui pandangan mereka. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya dan jatuh ke tanah tanpa suara sedikit pun.
"Dia tidak mungkin lari jauh dengan kondisi fisik yang lemah seperti itu," suara seorang pria terdengar sangat dekat di atas kepalanya.
"Mungkin dia bersembunyi di balik semak belukar yang ada di dekat jurang sana," sahut rekannya dengan nada suara yang penuh ketidaksabaran.
Anindira memejamkan mata saat sebilah parang panjang menebas semak yang hanya berjarak beberapa jengkal dari tempatnya meringkuk. Jantungnya berdebar sangat liar hingga ia khawatir para pria itu bisa mendengar denyut nadinya melalui permukaan tanah. Ketakutan yang amat sangat membuatnya merasa dunia ini benar-benar tidak lagi memiliki tempat bagi dirinya.
Keadaan menjadi sunyi selama beberapa menit yang terasa seperti ribuan tahun bagi wanita yang sedang mengandung itu. Setelah merasa suara langkah kaki benar-benar menghilang, Anindira mulai merangkak keluar dengan tubuh yang sangat kaku dan kedinginan. Ia harus segera bergerak menuju arah dermaga nelayan sebelum fajar benar-benar menyingsing dan mengungkap keberadaannya.
"Aku harus bertahan demi masa depan anak ini, meski seluruh dunia memburu kepalaku," bisik Anindira menguatkan tekadnya yang hampir runtuh.
Ia berjalan menyusuri pinggiran hutan yang berbatasan langsung dengan pesisir pantai yang dipenuhi dengan bebatuan karang yang tajam. Angin laut yang membawa aroma garam menyengat hidungnya dan membuat rambutnya yang kusut beterbangan tidak keruan. Kakinya yang penuh luka sayatan terasa sangat perih saat terkena percikan air laut yang asin dan dingin.
Di kejauhan, ia melihat sebuah kapal kayu kecil yang sedang bersiap untuk berangkat melaut mencari ikan di tengah samudra. Anindira mempercepat langkahnya dengan sisa tenaga yang masih tersisa di dalam otot kakinya yang mulai membengkak. Ia melihat seorang nelayan tua sedang merapikan jaring di atas dek kapal yang sudah nampak sangat usang tersebut.
"Tuan, bolehkah saya menumpang kapal ini untuk menyeberang ke pulau seberang malam ini juga?" tanya Anindira dengan suara yang sangat parau dan bergetar.
Nelayan itu menatap Anindira dengan tatapan mata yang sangat tajam seolah sedang menimbang-nimbang kejujuran dari wanita asing tersebut. Ia melihat pakaian Anindira yang kotor dan wajahnya yang penuh dengan sisa-sisa ketakutan yang belum juga hilang. Dengan perlahan, ia meletakkan jaringnya dan mendekati pinggiran dermaga kayu yang sudah mulai lapuk.
"Perjalanan ini sangat berbahaya bagi wanita muda yang sedang sendirian seperti Anda," ujar nelayan itu dengan suara yang berat namun terdengar sangat bijaksana.
"Saya tidak memiliki pilihan lain, saya harus pergi sekarang juga demi keselamatan nyawa saya!" pinta Anindira sambil menunjukkan ikat uang kusam yang ia miliki.
Nelayan itu menghela napas panjang lalu memberikan isyarat agar Anindira segera naik ke atas kapal sebelum ada orang lain yang melihat. Kapal kayu itu mulai bergerak membelah ombak laut yang cukup tenang di bawah naungan cahaya bulan yang mulai meredup. Anindira duduk di sudut kapal sambil menatap daratan yang perlahan-lahan menghilang ditelan oleh kegelapan malam yang sangat pekat.
Tiba-tiba, sebuah kapal patroli keamanan laut muncul dari balik tanjung dengan lampu sorot yang sangat terang menyapu permukaan air. Anindira tersentak dan segera bersembunyi di bawah tumpukan jaring ikan yang berbau amis dan sangat menjijikkan. Ia menyadari bahwa kekuasaan ayahnya ternyata menjangkau hingga ke jalur perairan yang selama ini dianggap sangat aman.
"Berhenti! Kami diperintahkan untuk memeriksa setiap kapal yang melintas di wilayah perairan ini!" teriak petugas melalui pengeras suara yang sangat bising.
Kapal kayu nelayan itu pun berhenti bergoyang saat petugas mulai mendekat untuk melakukan penggeledahan secara menyeluruh. Anindira merapatkan tubuhnya pada tumpukan es batu yang digunakan untuk mengawetkan ikan agar suhu tubuhnya tetap tersembunyi. Rasa dingin yang sangat menyengat mulai menusuk kulitnya hingga ia merasa seluruh tubuhnya akan membeku seketika itu juga.
Petugas itu naik ke atas dek dan mulai menusukkan besi panjang ke dalam tumpukan jaring ikan tempat Anindira berada. Ujung besi itu nyaris mengenai bahu Anindira namun ia tetap diam membatu tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Ia hanya bisa berdoa agar nyawa kecil di dalam perutnya tidak merasakan penderitaan yang sedang ia alami saat ini.
"Tidak ada siapa-siapa di sini, Pak, hanya ada ikan hasil tangkapan tadi sore yang sudah mulai membusuk," bohong sang nelayan dengan sangat tenang.
Petugas itu meludah ke laut lalu kembali ke kapalnya setelah merasa tidak menemukan hal yang mencurigakan di atas kapal usang tersebut. Kapal nelayan kembali melaju dengan kecepatan penuh menuju arah cakrawala yang mulai menunjukkan semburat cahaya pagi yang sangat indah. Anindira keluar dari tumpukan jaring dengan tubuh yang menggigil hebat dan wajah yang sudah sangat pucat pasi.
Ia menatap matahari yang mulai terbit dengan perasaan yang sangat campur aduk antara rasa syukur dan rasa sedih yang mendalam. Langkah pelariannya telah membawanya sejauh ini, namun ia tahu bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Lima tahun kemudian, sosok kecil yang cerdas sedang duduk di tepi pantai sambil menatap hamparan laut luas dengan penuh rasa ingin tahu yang sangat besar.