NovelToon NovelToon
Nightshade

Nightshade

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Komedi
Popularitas:490
Nilai: 5
Nama Author: Bisquit D Kairifz

Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.

Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”

Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.


PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemenangan?

CHAPTER 19

Tetap di malam yang sama.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Shun. Pikiran bahwa dirinya telah menjadi pembunuh manusia menusuk lebih dalam dari semua pisau yang pernah ia pegang—tangannya gemetar hebat, setiap urat di lengannya berdenyut kasar. Kakinya tak lagi bisa menopang berat tubuhnya, seperti direndam dalam lumpur yang dalam. Riot dan kawan-kawan hanya bisa menatapnya dengan diam, sementara Hige mengeluarkan tawa pelit yang menusuk telinga.

Ingin sekali ia meneriakkan seluruh beban di dadanya, tapi untuk apa? Apa teriakan bisa menghapus fakta bahwa tangannya telah merenggut nyawa seorang manusia? Setelah bertemu Nightshade, ia kira telah menemukan jalan kembali ke cahaya. Namun kini, bayangan kegelapan tampaknya siap menariknya kembali ke dalam jurang.

"A-aku..." Suaranya pecah dan gemetar. "Telah membunuh manusia." Ia mengangkat belati yang tergeletak di sisi tanah, logamnya berkilau dingin di bawah sinar bulan.

Titik tajam belati diarahkan tepat ke dadanya. "Benar juga... hukuman mati ku belum selesai saat itu."

Malam ini, Shun yakin bunuh diri adalah satu-satunya cara untuk menebus dosa. Pikirannya kacau balau, hanya penuh dengan penyesalan yang menusuk hati. Saat ia mulai menarik belati ke arah dada, tangan kuat tiba-tiba menahannya—Riot dengan tenang menggenggam bilah tajam itu, darah segera menusuk dari celah jari-jari nya.

"Tenangkan pikiran mu," katanya dengan nada yang tenang namun tegas. "Kau belum saatnya untuk mati."

Shun melepaskan belatinya dan menoleh, matanya penuh dengan kebingungan.

"Apa kau kira, monster yang dulunya manusia pernah inginkan untuk berubah jadi seperti itu?" Riot menatap langsung ke dalam mata Shun. "Tentu saja tidak. Mereka dipaksa—dipaksa masuk ke dalam tubuh yang tidak mereka inginkan, hanya menunggu saat akhirnya bisa lepas. Monster yang kita bunuh itu merasakan lega; dia bisa kembali ke yang dia cintai setelah lepas dari penjara tubuh itu."

Kata-kata itu perlahan meresap, membuat getaran di tubuh Shun mulai mereda.

"Sejak awal, dia hanya ingin mati," lanjut Riot dengan tatapan dalam. "Ingin terlepas dari bentuk aneh itu dan bertemu lagi dengan keluarganya."

Akhirnya, ketenangan kembali menghampiri Shun. Tubuhnya tidak lagi gemetar. Ia mengambil kedua belatinya dan berdiri tegak, punggungnya lurus seperti tombak.

"Maaf, Master." Ia menunduk rendah.

"Aku hanya ingin mengatakan ini—jika kau ingin terus belajar di bawah ku, ingat baik-baik." Riot erat menggenggam Kama senjatanya, logamnya mengeluarkan suara gesekan yang menegangkan. "Bunuh hanya jika orang itu pantas untuk kau bunuh."

"Master...." Shun mengencangkan genggaman pada belatinya, nadanya kini lebih tenang. "Apa benar, Justice yang membuat monster dari manusia?"

"Ya." Jawaban Riot singkat namun menusuk.

Sebelum kata-kata itu benar-benar terdengar, semua orang di sana merasakan tekanan energi Ten yang luar biasa kuat—hasil dari amarah Shun yang meledak tak terkendali. Ia seperti gelas kaca yang dipaksa menampung lahar panas; energi Ten-nya mulai bergetar tidak stabil. Tak butuh waktu lama, Riot dengan cepat menampar pipinya—tamparan yang cukup keras untuk membuat Shun sadar akan kondisi dirinya.

Shun, Riot, Yuzuriha, dan Juichi segera bersiap menghadapi 25 anggota Justice beserta Hige. Juichi mengambil senjata api dari dalam mobilnya, suara klik pelatuk yang jelas terdengar. Sementara itu, Yuzuriha mengaktifkan Ten-nya—energi merah menyala membungkus tubuh dan jarum yang ia pegang, membuatnya membesar dan memanjang.

Shun perlahan menstabilkan Ten-nya. Riot meliriknya sebentar, seolah bertanya apa yang terjadi dalam benaknya, namun segera mengalihkan perhatiannya. Mereka sudah siap berperang—namun ketika melihat ke depan, tak seorang pun anggota Justice yang terlihat, hanya Hige yang berdiri dengan senyum songong di bibirnya.

"Oi!, pria laser! Kemana perginya rekan-rekan mu?" tanya Riot dengan nada menantang.

Hige tersenyum lebar, bibirnya melengkung menyebalkan. "Entah lah."

Tiba-tiba, suara tembakan meledak dari segala arah—tapi Shun dan kawan-kawan sudah mengantisipasinya. Peluru datang dari anggota Justice yang bersembunyi di balik rerumputan dan bangunan. Tak lama kemudian, 15 orang lagi muncul dari belakang, membawa senjata tajam biasa dan menyerbu tanpa tampak ada strategi.

"Shun, Yuzuriha, Juichi—habisi mereka semua!" perintah Riot. Sementara itu, ia berniat langsung menghadapi Hige. Namun sebelum melangkah, suara Shun terdengar dengan tegas: "Mereka semua pantas untuk dibunuh."

Riot mendengarnya dan tersenyum lebar—seolah melihat seorang pengecut telah tumbuh menjadi pemberani yang layak. Ia berlari cepat menuju Hige, dan ketika Shun menoleh ke belakang, pertempuran sudah pecah dengan hebat.

Juichi menembak dengan pistolnya, setiap tembakan tepat sasaran. Yuzuriha bergerak lincah dengan dua jarum besarnya, menghindari serangan dan menyerang balik dengan cepat. Shun maju tanpa ragu—satu orang menyerangnya dari depan, ia dengan gesit menghindar ke samping dan menyodorkan kaki, membuat musuhnya tersungkur di tanah.

Saat hendak menebasnya, sedikit keraguan muncul di benaknya. Tapi kali ini, ia tidak membiarkannya menghalangi langkahnya—belatinya melesat cepat, dan darah menyembur hingga menetes di wajahnya. Yuzuriha dan Juichi sedikit terkejut melihatnya; Shun telah mampu mengalahkan keraguan dalam sekejap mata.

Pertempuran terasa jauh lebih mudah dari yang diperkirakan—anggota Justice hanya membawa senjata biasa, sementara mereka tiga menggunakan kekuatan Ten yang jauh lebih kuat. Penembak tersembunyi satu per satu jatuh oleh tembakan Juichi, sedangkan yang menyerang langsung dibantai oleh Shun dan Yuzuriha. Tak lama kemudian, semua anggota Justice terbaring tak bernyawa di tanah.

Namun ketika mereka mulai merasa lega, Yuzuriha tiba-tiba terjatuh. Wajahnya memerah karena rasa sakit—beberapa tulang rusuknya patah akibat serangan yang luput dari perhatiannya.

"Yuzu! Kau baik-baik saja?" Shun berlari cepat mendekatinya, wajahnya penuh kekhawatiran. "Dari mana serangan itu datang?"

Yuzuriha mengerutkan dahi namun tetap tersenyum. "Aku tidak apa-apa, bodoh."

Shun menoleh ke arah Riot untuk melihat perkembangan pertarungan melawan Hige. Di sana, Hige terus menerus menyerang dengan laser yang dibuat panjang seperti pedang—menyerang ke arah tubuh, kaki, bahkan kepala. Tapi semua itu percuma; Riot dengan mudah menghindari dan menangkisnya, wajahnya bahkan menyala dengan senyum seperti yang dulu ditunjukkan Hige saat memprovokasi Shun.

"Ayolah, dong! Tunjukkan semangat mu sedikit!" Riot melesat cepat ke samping Hige dan dengan kuat menendang pinggangnya. Hige terpental jauh dan tergeletak di tanah. Saat ia ingin bangkit, Riot sudah berdiri tepat di depannya—mata Hige mulai gemetar ketakutan melihat kekuatan Riot yang jauh melampauinya.

Riot tersenyum lebar, menginjak tubuh Hige dengan kaki kirinya. "Aku akan menuruti kata-kata mu saat kau dekat dengan monster itu. Jadi manusia saja sudah lemah, apalagi kalau jadi monster? Mungkin kau akan jadi monster terlemah sepanjang sejarah!" Ia tertawa lepas, suaranya bergema di malam udara.

Di benak Hige, muncul bayangan anggota Nightshade yang sering membunuh anggota Justice sambil tertawa—julukan Grim Reaper terlintas jelas di pikirannya. Tak butuh waktu lama lagi, serangan terakhir Riot melintas tepat di leher Hige. Kemenangan seharusnya sudah diraih oleh Nightshade—setidaknya itulah yang terlintas di benak Shun.

Namun ketika mereka siap pergi dari Entertainia, sekelompok warga datang dengan tergesa-gesa. Mereka melihat Hige dan 25 anggota Justice terbaring tak bernyawa, wajahnya penuh ketakutan dan kemarahan.

"K-kalian pasti Nightshade!" teriak salah seorang warga.

Kemudian, kerumunan menjadi ricuh. Batu-batu mulai dilemparkan ke arah Shun dan kawan-kawan. Satu batu mengenai tubuh Riot, dan yang lain mengenai kepala Yuzuriha yang sedang bersandar di mobil.

Marahnya Shun langsung meledak dan ia ingin membalasnya, tapi Yuzuriha segera menahannya. "Kita yang salah, Shun," katanya dengan senyum lemas namun tegas.

"Dasar Nightshade biadab! Ternyata benar kalian yang melepaskan monster dan menghancurkan kota!" teriak warga lain.

"Kalian juga membunuh Justice yang berusaha melindungi kita!" sambung yang lain.

Di mata Nightshade, mereka adalah pemenangnya. Tapi di mata warga, yang dianggap sebagai pahlawan adalah Justice.

Riot tertawa perlahan, kemudian mengangkat suaranya dengan keras. "Ya! Kami yang membunuh mereka! Mau apa lagi?!" Ia berjalan mendekati Shun, mata tajam menatap kerumunan warga. "Kalian juga ingin dibunuh kah?!"

Warga-warga langsung mundur ketakutan. Tanpa berlama-lama, Shun, Yuzuriha, dan Riot masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Juichi, siap kembali ke kediaman Nightshade.

Mereka kembali dengan tenang—atau setidaknya mencoba tampak begitu. Dalam mobil, tidak ada seorang pun yang berbicara. Hanya terdengar suara mesin mobil yang melaju kencang di jalanan malam.

Shun duduk di kursi belakang bersama Yuzuriha yang sudah tertidur lelap karena kelelahan. Riot duduk di depan, pandangannya terpaku keluar dari kaca mobil. Juichi juga hanya terdiam, jarinya sesekali mengetuk setir mobil dengan irama yang teratur.

Akhirnya, Shun membuka mulutnya dengan suara yang pelan:

"Master.... Kenapa kau tahu bahwa monster itu dulunya manusia?"

1
Panda
kak itu ngasih tag komedi bikin sendiri?
Bisquit Kairifz: ada kok dibagian bawah klo ga salah
total 1 replies
boyy
semngatt thorr,gw lagi nabung crta lu,poko ny ku lnjutt truss smpe nanti crta lu rmee,jngn ptah smngattt torr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!