Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 : Kembali ke Regina
Serah kembali ke ruangan kamarnya berserta Cristine. Para gadis yang sedang berada di dalam ruangan tersebut segera membungkuk memberi hormat secara serentak.
"Selamat pagi, Yang mulia Serah."
Serah berjalan dengan elegan sambil mengabsen tiap gadis yang ada di dalam ruangan sampai dia menyadari, Helena tak berada di sana.
Ia berhenti dan menghela napasnya sesaat, lalu bertanya, "sepertinya Helena tidak kembali hadir?" Tatapannya mengedar, lalu ia menoleh ke samping, ke arah Cristine.
"Yang mulia, maaf, Helena memang sudah bilang akan terlambat sebentar, tapi saya tidak tau kalau ternyata ia belum datang," jawabnya dengan perasaan tak enak. Ia merasa seperti dibodohi oleh gadis muda itu.
"Yang mulia." Beatrice tiba-tiba bersuara. "Helena memang sempat datang saat sedang mempersiapkan sarapan tapi setelah itu dia pergi lagi," ucapnya membantu menjelaskan.
Serah terdiam dan kemungkinan ia tahu kemana perginya gadis muda itu. Ia pun tersenyum kecil lalu berkata, "yah sudahlah, kalian tidak perlu tegang. Kita semua tahu Helena seperti apa." Nada bicaranya santai dan tampak tidak terganggu hanya karena seorang Helena yang selalu mencari ulah.
"Kami sudah menyiapkan sarapan untuk anda, silahkan Yang mulia," ujar Cristine sambil mengantar Serah ke arah meja makan yang sudah tertata oleh makanan yang sebelumnya telah diminta Cristine kepada juru masak kerajaan.
Serah mendekati meja tersebut dan melihatnya dengan tatapan puas. Senyumannya pun mengembang sambil berkata, "kelihatannya aku bisa mempercayai mu, Lady Cristine."
"Terimakasih, Yang mulia," balas Cristine dengan perasaan lega. Setidaknya sarapan yang sudah disiapkannya tidak menambah hancurnya suasana.
"Sekarang kalian boleh tinggalkan aku sendiri," ujarnya kepada Cristine dan gadis-gadis lain.
Mereka serempak membungkuk dan undur diri dengan teratur keluar dari ruangan kamar sang putri.
.
.
Gadis-gadis itu berjalan meninggalkan lorong kamar sang Putri yang memang sengaja di tempatkan terpisah oleh Louis untuk menjaga privasi Serah.
Di jalan mereka bertemu dengan Helena yang berjalan pelan. Pandangannya sedikit tertunduk dan matanya tampak kosong.
"Helena, ternyata kau kembali?" Anastasia kali ini dengan nada ketus menyindir gadis muda itu.
"Hah, kalian mau kemana?" Tanya gadis itu kebingungan melihat mereka semua malah berjalan meninggalkan area kamar sang Putri.
"Putri Serah sedang tak ingin diganggu, jadi kau tidak perlu ke sana," ucap Cristine menegaskan.
"Itu bukan urusanku! Aku diperintahkan Raja Louis untuk selalu menemaninya, jadi kalau kalian mau pergi, silahkan. Tapi aku akan tetap menjalankan apa yang diperintahkan Raja kepadaku," balas Helena dengan gaya angkuh. Lagi-lagi ia membawa nama Louis untuk membungkam gadis-gadis lain. Namun, kali ini Cristine tidak akan diam saja setelah dibuat kehilangan muka tadi.
"Lady Helena apa kau tidak mendengar, kalau Yang mulia Serah tidak ingin diganggu." Wanita itu akhirnya bersikap tegas. Ia menaikkan volume suaranya dan membuat Helena yang baru maju beberapa langkah berhenti.
"Kau berani menentang perintah Raja?" Balas Helena tak mau kalah. Ia langsung menatap Cristine dengan sengit.
"Raja Louis memang punya kekuasaan dan perintah, tapi...." Cristine melangkah sedikit demi sedikit ke arah Helena, "wilayah ini adalah milik Putri Serah dan siapapun harus mengikuti aturannya, bahkan Raja sekalipun," sambungnya dan berhenti tepat di hadapan Helena yang hanya berjarak kurang dari satu meter.
Helena tiba-tiba merasa gugup dan tanpa sadar ia terpojok ke tembok.
"Sekarang kalau kau tak keberatan, mari ikut aku bersama yang lain?" Cristine menatap tajam Helena.
"A-aku mengerti...," balas Helena tanpa sadar mengangguk dan mengikuti ucapan Cristine.
Gadis itu menyeret langkahnya dengan berat di belakang. Ia tak mengira Cristine berani mengancamnya sekarang. Tapi kali ini ia tak bisa bertindak sembarangan karena Louis baru saja marah kepadanya. Sebisa mungkin untuk saat ini, ia harus meminimalisir kesalahan.
.
.
Waktu berlalu, dan matahari semakin tinggi. Serah bersama dengan para gadis terlihat sedang merapikan semua pakaian juga beberapa barang yang akan dibawanya ke Regina.
"Apa anda akan membawa kami semua, Yang mulia?" Tanya Patricia antusias.
"Aku tidak bisa membawa kalian semua ke sana, beberapa harus ada yang berjaga 'kan," ucap Serah yang merasa senang dengan antusias para gadis mengenai kerjaan kecilnya.
Mata mereka semua berbinar saat mengetahui Serah akan melakukan perjalanan. Berharap kalau mereka bisa ikut bersamanya. Ia merasa tersanjung.
"Siapa yang akan anda bawa serta?" Tanya Rose. Ia mendekat, berdiri di sisi Serah yang sedang duduk di atas ranjangnya, memasukkan beberapa barang ke dalam sebuah peti kayu.
"Aku pasti akan membawa Cristine," ucapnya langsung membuat Cristine yang sedang membuka lemari sang Ratu berbalik dan segera membungkuk sebagai rasa terimakasihnya
"Lalu, siapa lagi selain Lady Cristine?" Semua gadis lain kini mengelilinginya dengan rasa penasaran.
"Eh? Yang mulia pasti akan membawa ku 'kan." Sambar Helena yang ikut bergabung mendekati Serah.
Seketika suasana berubah. Gadis-gadis itu menatap dengan perasaan tak nyaman.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Helena membalas tatapan itu dengan geram dan sedikit bersuara keras.
"Nona-nona, tolong jangan bertengkar di sini." Cristine dengan cepat memperingati.
Wanita itu berjalan dengan elegan ke arah gadis-gadis itu dan menatap mereka satu-persatu.
"Maafkan kami, Lady Cristine," ucap mereka semua sambil menjauhkan diri dari Serah.
"Lady Helena, tolong sekali lagi, jaga sikap. Jangan bersuara keras di depan Putri Serah," ujarnya sambil menghela napas.
"Mereka yang memancingku duluan," jawab Helena yang tidak bisa menerima diperlakukan seperti ini.
Cristine melirik ke arah lima gadis lainnya yang terdiam dan menunduk.
"Ladies...?" Ia menegur kelimanya.
"Kami minta maaf, Lady Helena," ucap Anastasia sebagai perwakilan mereka berlima.
"Hmph, itu lebih baik!" Helena mendongak angkuh.
Gadis itu kemudian fokus kembali kepada Serah. Seperti biasa, ia belum merasa puas kalau belum mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Lalu, anda akan membawa ku 'kan?" Tanyanya lagi dengan percaya diri. Ia tersenyum di depan Serah, mencoba untuk bersikap manis.
Serah terdiam sambil memperhatikan gerak-geriknya yang jelas terlihat dibuat-buat.
"Ada baiknya aku membiarkan dia ikut jadi aku bisa tetap mengawasinya," pikir Serah dalam hati.
"Tentu, Lady Helena, aku akan mengajakmu ikut serta," jawabnya kemudian sambil tersenyum tenang.
"Ahahaha, aku senang sekali!" Helena melonjak setelah mendengar jawaban Serah. "Terimakasih, Yang mulia!" Ucapnya dan langsung lupa akan sopan-santun. "Aku akan langsung berkemas!"
Setelah mengatakan itu, Helena langsung berlari begitu saja keluar dari ruangan.
Gadis-gadis lain terlihat tak setuju tapi tak bisa menggugat keputusan Serah. Mereka hanya memasang wajah kesal.
"Lalu sisanya, Rose, Mary, aku juga akan membawa kalian," sambung Serah.
Kedua gadis itu langsung saling berpandangan dengan wajah gembira.
"Segera siapkan barang-barang kalian, karena kita akan berangkat sebelum matahari terbenam," ucapnya mempersilahkan keduanya untuk pergi.
"Baik, Yang mulia!" Rose dan Mary langsung membungkuk hormat lalu berjalan keluar sambil bergandengan tangan.
Sisanya Patricia, Anastasia dan Brigatte hanya bisa berwajah murung. Serah dapat menangkap kekecewaan itu. Ia menarik napasnya dulu pelan-pelan.
"Kalian bertiga akan bertanggung-jawab menjaga tempat ini selama aku pergi, jadi aku percayakan pada kalian," pungkasnya dengan tegas dan seketika menghilangkan rasa kecewa dari ketiga gadis itu.
"Anda bisa mempercayakannya kepada kami," ucap Brigatte dengan mantap.
"Baiklah, kalian bertiga bisa lanjut membantu persiapan Putri Serah," sambung Cristine sambil menepuk tangannya sebagai dukungan untuk mereka bertiga yang akan memegang tanggung-jawab sementara saat Serah tak ada di tempat.
Apakah perjalanan mereka akan lancar nanti?
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib