NovelToon NovelToon
Janda Cantik Kesayangan CEO Tampan

Janda Cantik Kesayangan CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Janda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Di rumah sakit, kini Maya dan Zayn sudah berada di ruangan rawat Nafiza. Udara di dalam ruangan terasa dingin, aroma obat-obatan langsung menyapa indra penciuman mereka, tetapi ada kehangatan yang terpancar dari kehadiran Maya dan Zayn. Kehangatan yang kontras dengan perasaan cemas yang menggantung di udara.

Zayn sangat terkejut saat melihat wanita yang telah mencuri hatinya kini sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya terlihat pucat, nyaris transparan, tetapi masih terpancar kecantikan alami yang membuat jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.

Nafiza kini tak memakai cadar, ia hanya memakai kerudung instan berwarna krem untuk menutupi kepalanya, memperlihatkan wajah cantik alami yang selama ini tersembunyi. Garis wajahnya yang lembut, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang tipis membuatnya terlihat seperti bidadari yang terluka.

Selang infus masih terpasang lengkap di tubuhnya, menghubungkannya dengan mesin-mesin yang berkedip-kedip, menandakan betapa rapuhnya keadaannya. Matanya juga masih terpejam, seolah ia sedang bersembunyi dari dunia luar, mencari kedamaian dalam tidurnya.

Zayn berdiri tak jauh dari ranjang Nafiza, hatinya teriris melihat penderitaan wanita pujaannya. Ia ingin menggenggam tangannya, dan menghapus air matanya, tetapi ia tahu, ia tidak memiliki hak untuk melakukan itu. Ia hanyalah seorang pria asing yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya, dan ia harus menghormati batasan yang ada sebelum halal baginya.

Maya dan Umi Maryam mengobrol dengan tenang di sofa dekat jendela, mengenang masa lalu mereka, dengan mengharu biru. Mereka adalah dua sahabat yang telah melewati banyak hal bersama. Sedangkan Abi Nafiza pagi-pagi sudah pamit pulang ke rumah untuk mengantar Zahra ke sekolah sambil mengambil beberapa barang keperluan Nafiza selama di rumah sakit.

"Zayn, kenalkan ini Uminya Nafiza," ucap Maya lembut, menyadarkan Zayn dari lamunannya.

Zayn tersenyum sopan dan mendekati Umi Maryam. "Salam kenal, Tante. Saya Zayn," ucapnya, menjabat tangan wanita itu dengan hormat.

"Wah, putramu sudah dewasa dan sangat tampan ya, Maya!" puji Umi Maryam, tersenyum lembut ke arah Zayn. Ia merasakan aura positif yang terpancar dari pemuda itu.

"Kamu bisa aja, Mar! Putrimu juga sangat cantik, sampai-sampai Zayn yang dingin tak berkedip," goda Maya, mencolek lengan Zayn dengan kedipan jahil. Ia senang melihat putranya jatuh cinta pada wanita yang baik seperti Nafiza.

Zayn memutar mata malas, pipinya merona merah karena malu. "Apaan sih, Mom!" protes Zayn, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

Maya hanya nyengir tanpa dosa, lalu kembali melanjutkan percakapan dengan Umi Maryam.

Tak lama kemudian, Nafiza mulai terjaga. Ia membuka matanya perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk ke matanya. Ia merasa pusing dan lemas, tetapi ada kehangatan yang memenuhi hatinya saat ia melihat senyum Umi-nya yang teduh.

Kemudian matanya beralih pada sosok di samping sang Umi, matanya sedikit melebar dengan kehadiran Maya di sana.

Matanya kembali menyipit menyadari ada sosok lain di ruangan itu, pria tampan yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Tatapan yang membuatnya merasa aneh dan tidak nyaman.

"Pak Zayn!" gumam Nafiza dalam hati, ia sampai beberapa kali mengerjapkan matanya, sangking tidak percayanya akan penglihatannya. Apa ini mimpi? Kenapa pria itu ada di sini?

Zayn yang melihat reaksi aneh Nafiza, mendekat ke arahnya. Ia menatap mata Nafiza dengan lembut, berusaha tetap tenang meskipun jantungnya berdegup kencang. Ia ingin memastikan bahwa wanita-nya baik-baik saja.

"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanyanya lembut, suaranya bergetar karena gugup. Ia ingin menyentuhnya, tapi ia menahan diri. Ia tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman atau terganggu.

Nafiza menunduk, menghindari tatapan Zayn. Ia merasa malu sekaligus bingung. Kenapa pria itu begitu baik padanya? Apa yang sebenarnya ia inginkan?

"Air," lirih Nafiza pelan, suaranya serak dan lemah. Ia merasa tenggorokannya kering dan sakit, seperti ada pasir yang mengganjal.

Zayn dengan sigap mengambil botol air mineral yang ada di atas nakas dan membukanya. Ia menyodorkan botol itu ke arah Nafiza, tetapi ia tidak berani menyentuhnya. Ia ingin menghormati privasinya.

Nafiza dengan hati-hati berinsut untuk bersandar di kepala ranjang, sambil menahan rasa nyeri di perutnya. Ia merasa setiap gerakannya menyiksa tubuhnya, tapi ia berusaha untuk tidak mengeluh.

Zayn yang hendak membantu, tertahan dengan kode tangan Nafiza. Ia mengerti, wanita itu tidak ingin bersentuhan dengannya. Ia mengurungkan niatnya dengan berat hati. Ia hanya bisa memberikan botol air itu dan membiarkannya minum sendiri.

Umi Maryam dan Maya yang melihat kejadian itu, tersenyum penuh arti. Mereka merasa kagum dengan kesabaran dan perhatian Zayn. Mereka tahu, pria itu memiliki hati yang tulus dan niat yang baik.

Nafiza mengambil botol air itu dan meneguknya dengan perlahan, merasakan kesegaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merasa sedikit lebih baik setelah minum, meskipun rasa sakit di perutnya masih terasa.

Setelah selesai minum, Zayn dengan sigap mengambil kembali botol minum di tangan Nafiza dan meletakkannya kembali ke atas nakas. Ia menatap Nafiza dengan tatapan khawatir.

"Kenapa ... Bapak ada di sini?" tanyanya, dengan suara yang masih lemah. Ia ingin tahu alasan kehadiran pria itu di ruangannya.

Zayn tersenyum canggung, bingung mau jawab apa. Ia tidak ingin mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, tetapi ia juga tidak ingin berbohong.

"Aku nemani Mommy, katanya mau jenguk anak sahabatnya yang sakit!" jujur Zayn akhirnya. Ia berharap Nafiza tidak terlalu memikirkannya.

Nafiza akhirnya mengangguk paham. Ia merasa lega mendengar jawaban Zayn. Ia tidak ingin terlalu berharap lebih pada pria itu.

Kedua kembali terdiam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Suasana di dalam ruangan terasa canggung dan tegang.

Maya yang melihat suasana canggung itu, akhirnya mendekat ke arah ranjang Nafiza. Ia menatap Nafiza dengan lembut dan penuh perhatian.

"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Maya lembut, menyentuh tangan Nafiza dengan lembut.

"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Bu," balas Nafiza lemas, dengan senyum manis yang berusaha ia paksakan.

"Alhamdulillah, tapi jangan panggil Bu, panggil Tante aja ya, biar lebih akrab," koreksi Maya sambil tersenyum.

"Baik, Tante. Terima kasih sudah menyempatkan waktu menjenguk Naf." balas Nafiza tulus. Ia merasa tersentuh dengan kebaikan Maya.

"Nah, gini lebih baik. Tak perlu berterima kasih segala, Tante sama Umi kamu sahabatan tahu! Jadi, santai saja," ucap Maya sambil tertawa kecil, mencairkan suasana yang tegang.

Nafiza melirik Umi-nya yang sedang tersenyum padanya. Ia merasa bersyukur memiliki Umi-nya yang selalu ada untuknya.

"Iya, Naf, Tante Maya ini sahabat Umi dari SMA sampai kuliah, kami selalu bareng, sampai punya pasangan masing-masing. Terakhir bertemu saat Tante Maya melahirkan Zayn. Setelah itu, Umi dan Abi pindah ke Makassar. Dan sekarang baru ketemu lagi," jelas Umi lebih lanjut.

"Oh, pantes Naf gak kenal sama Tante Maya," ujar Nafiza paham, menatap Maya dengan tatapan yang penuh dengan rasa hormat.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka, mengalihkan perhatian semua orang. Sosok yang berdiri di ambang pintu membuat Nafiza dan Umi Maryam membulatkan matanya.

Bersambung ...

1
Dinar Almeera
Kakakkk terimakasih banyak dikasih bonus terus 😍😍😍😍
irma hidayat
lanjut bulan madu zayn nafiza
riniandara
terima kasih supportnya kak. pasti kak/Smile//Kiss/
we
tetap semangat Kakak
azela
cerita yang menyentuh dan menghibur ayo kakak semua mampir di karya ini di jamin gak akan nyesel deh. semangat buat author juga./Heart//Heart//Pooh-pooh/
azela
lanjut kakaku ceritanya makin kesini makin seru /Heart//Heart/
irma hidayat
pasang alarm nafiza
irma hidayat
ternyata baju kurang bahan hadiah momynya ya nafiza
irma hidayat
dasar perempuan dengki riana gada bersyukurnya
ari sachio
semoga mjd pasangan yg samawa d cepet dpt momongn biar mantan gigit jari ampe kukunya habis😁😁😁
irma hidayat
turut bahagia buat nafiza zayn, lanjut upnya thor
riniandara: besok lagi ya kakakku/Kiss/
total 1 replies
irma hidayat
lanjut up nya thor
riniandara: Siap kak/Applaud/
total 1 replies
ari sachio
sami mawon intine bambang.....😅😅😅
irma hidayat
ayo semangat zayn buat sahkan nafiza
irma hidayat
enak ya farahan rasa sakit diselingkuhi tak harus nunggu lama karma ya
irma hidayat
jalang riana suatu saat buah yg kamu tuai akan lebih pahit dari kejahatanmu
ari sachio
inalillahi...ternya kuntilanak kalah serem.....kirain riana mo insaf... g taunya malah makin jadi....ampunnn dahhh wes angel tenan jiannnn......
mami syila
dasar Riana /Panic//Panic//Panic//Panic/
mami syila
janda terhoy ini mah
mami syila
lanjut kak seru abis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!