Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 14
Sidang dengan agenda pembacaan dakwaan akhirnya selesai dilaksanakan. Selama kurang lebih enam puluh menit, Zahra yang duduk sebagai terdakwa, mendengarkan suara Jaksa yang tak henti membacakan pasal demi pasal yang sama sekali tidak dirinya pahami, yang mana semua itu ditujukan kepadanya. Ia lebih banyak diam, hanya sesekali menjawab ketika hakim menanyakan identitas diri serta kondisi kesehatannya.
“Bagaimana kondisinya, Terdakwa?” tanya Hakim Ketua.
“Sehat, Yang Mulia,” jawab Zahra, meski sebenarnya kepalanya terasa berat dan pandangannya sesekali berkunang.
Hari itu ditutup dengan Hakim yang meminta Zahra untuk terus dalam pengawasan dan pendampingan dari petugas PPA dari kepolisian, mengingat trauma yang masih saja dirasakan oleh Zahra.
Hakim mengetuk palunya dan terdengar begitu nyaring di telinga, menandakan berakhirnya sidang pertama hari itu. Ketukan palu itu juga seolah menjadi penanda bahwa langkah hidupnya Zahra kini benar-benar telah memasuki fase yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Begitu keluar dari ruang sidang, Zahra menghela napas panjang. Bahunya terasa pegal, pikirannya penuh, dan tubuhnya terasa lemas. Ia lemaskan otot-otot yang terasa tegang itu dengan melakukan peregangan.
“Hari ini memang segitu dulu,” ujar Zaidan sambil berjalan di sampingnya. “Sidang berikutnya agendanya mendengarkan keterangan saksi.”
Zahra hanya mengangguk pelan. Ia merasa energinya terkuras habis hanya untuk duduk dan mendengarkan, apalagi menahan rasa cemas yang terus menekan dadanya sejak pagi. Kepalanya berdenyut cukup kuat, membuatnya tanpa sadar memijat pelipis.
Pasti karena belum sarapan, batinnya singkat.
Zaidan menangkap gestur kecil itu. Ia melirik Zahra sejenak, namun memilih tidak berkomentar.
“Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi saya ataupun Maya, petugas PPA kemarin. Sudah tugas dia juga buat mendampingi kamu terus,” ujar Zaidan.
Zahra hanya mengangguk pelan.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang kini berada di genggaman tangan kirinya. Masih dengan kepala yang menunduk, Zahra menyerahkan paper bag yang ia bawa sejak pagi tadi ke Zaidan.
"Apa ini?" tanya Zaidan dengan nada heran.
"Jaket Pak Zaidan yang tempo hari dipinjamkan ke saya. Sudah saya cuci bersih kemarin, Pak. Walaupun tidak saya cuci di laundry, tapi ini pasti bersih dan wangi," ungkap Zahra.
Zaidan tidak langsung menerima paper bag itu. Ia diam sejenak seperti tengah memikirkan sesuatu yang entah itu apa. Tak lama akhirnya ia mengambil tas itu dari tangan Zahra.
"Terima kasih ya, Pak," ucap Zahra tulus.
“Hmm. Lalu setelah ini kamu mau ke mana?” tanya Zaidan, memecah keheningan di antara mereka.
Zahra langsung mengangkat kepala, seolah tersadar dari lamunannya.
“Mau langsung ke toko, Pak. Saya masih kerja hari ini,” jawabnya. Ia berhenti melangkah dan menatap Zaidan. “Saya pamit dulu, ya, Pak Zaidan. Terima kasih… sudah mau menemani saya hari ini.”
Ucapan itu diiringi anggukan kecil, tulus dan tanpa dibuat-buat.
Zaidan membalas anggukan itu.
“Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan,” ujarnya singkat.
Mereka pun berpisah di persimpangan lorong. Zahra berjalan menuju arah parkiran motor dengan langkahnya yang pelan namun berusaha tetap tegak. Sesekali ia merapikan tali tasnya, mencoba menenangkan diri sebelum kembali menghadapi rutinitas seolah tak terjadi apa-apa.
Dari kejauhan, Zaidan masih berdiri di tempatnya. Pandangannya mengikuti langkah Zahra hingga gadis itu menghilang di balik pintu keluar gedung.
Ada rasa yang mengganjal di dadanya, sebuah rasa yang sulit ia definisikan. Bukan sekadar empati, bukan pula sekadar tanggung jawab sebagai aparat penegak hukum. Dorongan untuk melindungi gadis itu terasa begitu kuat, bahkan terlalu kuat untuk sekadar disebut kebetulan.
Zaidan menghela napas pelan.
Ia kembali menguatkan dirinya, meyakinkan bahwa semua ini ia lakukan semata karena Zahra mengingatkannya pada ibu dan kakak-kakaknya. Jika salah satu dari mereka berada di posisi yang sama, ia yakin dirinya akan melakukan hal yang sama. Bahkan mungkin lebih dari ini.
Namun entah mengapa, nama Zahra terus berputar di kepalanya, menolak pergi.
Zaidan menggeleng cepat. “Sadar woy, Zaidan. Ini hanya rasa iba.”
*
*
*
Zahra tiba di toko retail tempatnya bekerja lebih awal dari jadwal masuk. Waktu luang itu ia manfaatkan dengan duduk di tangga kecil dekat pintu belakang, membuka kotak bekal yang sejak pagi ia bawa.
Perlahan, ia menyuapkan nasi dengan lauk ikan goreng dan telur dadar ke mulutnya. Ia mengunyah pelan, nyaris tanpa selera. Rasanya hambar. Bukan karena masakannya kurang bumbu melainkan karena pikirannya terlalu penuh hingga lidahnya tak lagi mampu membedakan rasa.
Pahitnya hidup, itu yang sedang ia telan.
Zahra menunduk, menatap isi kotak bekalnya tanpa minat. Tidak ada teman untuk berbagi cerita, untuk sekadar mengeluh, juga menjadi salah satu penyebab dadanya terasa sesak.
Sejak sekolah, Zahra memang bukan tipe yang mudah bergaul. Ia pendiam, tertutup, dan canggung untuk memulai percakapan. Ditambah lagi rasa rendah diri akibat kemiskinan yang membesarkannya, membuat Zahra terbiasa berdiri di pinggir, bukan di tengah keramaian.
Saat mulai bekerja di toko ini, ia sebenarnya memiliki rekan-rekan yang baik. Mereka ramah, suka membantu, dan tidak pernah bersikap buruk padanya. Namun tetap saja, Zahra tak pernah benar-benar membuka diri.
Ia malu.
Malu jika mereka tahu bahwa dirinya tak lagi ‘utuh’ di mata banyak orang. Malu karena meski ia adalah korban, dunia sering kali justru menyalahkan korban. Pikiran itu terus menghantuinya, membuat Zahra memilih menutup rapat kisah kelam itu, menyimpannya sendirian hingga terasa semakin berat.
Zahra yang tengah tenggelam dalam pikirannya tersentak ketika pintu penghubung ke area belakang tiba-tiba terbuka.
“Ra?”
Rere—rekan kerjanya yang juga masuk shift siang dengannya—berdiri di sana. Matanya langsung tertuju pada Zahra yang duduk di tangga dengan kotak bekal terbuka di pangkuannya.
Zahra terlihat sedikit gelagapan. Ia buru-buru menutup bekalnya.
“Eh… Re. Kamu udah datang?”
Rere mendekat beberapa langkah, lalu ikut duduk di anak tangga yang lebih tinggi. Ia menatap Zahra lekat-lekat, alisnya sedikit berkerut.
“Kamu kenapa, sih?” tanya Rere pelan, nadanya penuh kehati-hatian. “Beberapa hari ini kamu kelihatan beda. Pucat, sering bengong, terus kayak capek banget.”
Zahra menggeleng cepat.
“Nggak apa-apa kok. Cuma kurang tidur aja.”
Rere tidak langsung percaya. Ia menyandarkan punggung ke dinding, lalu menoleh ke arah Zahra lagi.
“Ra, aku temen kamu, ya. Kalau kamu ada masalah, nggak harus cerita detail juga nggak apa-apa. Tapi… aku bisa dengerin.”
Zahra terdiam. Jarinya mencengkeram ujung kotak bekal dengan erat. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, namun tertahan oleh rasa takut.
Rere melanjutkan dengan suara lebih lembut.
“Aku cuma khawatir. Kamu itu kelihatan kayak bawa beban berat sendirian.”
Beberapa detik berlalu. Zahra menunduk, dan matanya memandangi lantai.
“Makasih, Re,” ucapnya lirih. “Aku… belum bisa cerita sekarang.”
Rere mengangguk, tidak memaksa.
“Nggak apa-apa. Kalau suatu hari kamu siap, aku ada. Beneran.”
Zahra mengangkat wajahnya, menatap Rere. Ada rasa hangat yang perlahan merayap di dadanya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum kecil yang mungkin nyaris tak terlihat, namun cukup berarti.
“Iya,” jawabnya pelan. “Makasih.”
Rere bangkit berdiri.
“Ayo, lanjut makan. Nanti keburu masuk jam kerja.”
Zahra mengangguk. Saat Rere berjalan pergi, Zahra kembali membuka kotak bekalnya. Kali ini, meski rasanya masih hambar, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Setidaknya hari ini… ada seseorang yang dengan tulus menanyakan kabar, dan siap untuk mendengarkan ceritanya. Namun tetap saja, Zahra belum siap untuk bercerita, untuk saat ini.
****************
Maaf baru bisa updet ya best. Lagi banyak kerjaan 🤭🤭
Btw jangan lupa vote ya, udah hari senin ini 😄 Like, komen, dan bunga kopi juga jangan lupa ya. Terima kasih 🥰🥰🥰