Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 18.
Lucca merasakan ada sesuatu yang tidak beres, seharian itu Viera tidak membalas pesannya. Tidak ada laporan kontrol kehamilan, dan Viera juga tidak meminta Lucca membawakan vitamin ke apartemen. Tidak ada kalimat singkat yang biasanya Viera kirim sekadar memberi tahu bahwa wanita itu dan janinnya baik-baik saja.
Dan yang paling mengganggu, para pengawal yang biasanya rutin melapor mendadak sunyi.
Lucca berdiri di depan meja kerjanya, jari-jarinya menekan layar ponsel berulang kali.
“Hubungi Viera,” perintahnya pada asistennya.
“Nomornya tidak aktif, Tuan.”
Lucca menutup mata sesaat, ia tahu ini bukan kebetulan. Tak lama, rekaman Cctv di sekitar apartemen Viera sampai di tangannya.
Ia bergegas pulang ke rumah ibunya malam itu tanpa pemberitahuan.
Nyonya Marrie sedang duduk di ruang tamu, membaca, seolah tak ada yang salah di dunia. Tatapannya terangkat perlahan ketika Lucca berdiri di hadapannya, wajahnya gelap, rahangnya mengeras.
“Apa yang Ibu lakukan pada Viera?”
Tidak ada sapaan hangat, tak ada basa-basi.
Ibunya menutup buku dengan tenang. “Aku melindungimu.”
“Dengan cara mengancam perempuan hamil?” suara Lucca rendah, berbahaya.
Nyonya Marrie berdiri. “Aku memberinya pilihan.”
“Ibu memaksanya!”
“Karena dia bagian dari keluarga yang membunuh ayahmu!” bentak ibunya, akhirnya kehilangan ketenangan. “Apa kau pikir aku bisa melupakan itu begitu saja?”
Lucca tertawa pendek, sangat pahit. “Jadi ini masih tetap soal dendam mu, bukan semata-mata ingin melindungiku.”
“Ini soal keadilan!” Elak ibunya.
“Tidak,” Lucca mendekat satu langkah, matanya memerah karena amarah yang tertahan. “Ini soal Ibu yang tidak bisa menerima bahwa aku memilih mencintai kembali Viera... bukan membencinya.”
Ibunya menatapnya dengan mata bergetar. “Ayahmu mati, Lucca! Mati di ruang gawat darurat karena satu panggilan keluarga perempuan itu.”
“Ayah tidak ingin aku hidup dalam dendam,” balas Lucca pelan. “Dan Ibu tahu itu.”
Nyonya Marrie terdiam.
“Ibu menemui Viera tanpa sepengetahuanku,” lanjut Lucca. “Kau menyuruh para pengawalku tutup mulut. Kau membuatnya merasa tidak pantas, kau membuatnya bersalah!”
Ibunya menggertakkan gigi. “Kalau dia benar-benar mencintaimu, dia akan pergi darimu karena dia turut andil dalam kehidupan menderita kita!”
Lucca menutup mata, napasnya berat.
“Selamat, Ibu berhasil. Dia benar-benar pergi dariku,” katanya lirih.
Ibunya membeku. “Apa maksudmu?”
Lucca membuka ponselnya, meletakkannya di atas meja. Sebuah laporan masuk beberapa waktu lalu setelah dia mendapatkan rekaman Cctv, akses apartemen Viera dinonaktifkan. Barang-barang pribadi sudah diambil, tidak ada alamat baru tercatat.
“Dia pergi,” ulang Lucca. “Karena Ibu.”
Keheningan jatuh berat di antara mereka.
“Aku tidak akan memaafkan semua ini,” ucap Lucca akhirnya.
“Lucca—”
“Ayah akan malu melihatmu seperti ini, apalagi Viera sedang mengandung cucumu!” Katanya, lalu Lucca berbalik pergi.
Di tempat lain, Viera duduk di kursi belakang mobil yang melaju keluar kota.
Jendela gelap, hujan tipis turun memburamkan cahaya lampu jalan. Tangannya memeluk perutnya, tubuhnya terasa lelah. Bukan hanya fisik, tapi juga jiwa.
Ia tidak berpamitan pada Lucca, bukan karena benci. Melainkan karena ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa mencintai Lucca kini terasa seperti mengkhianati kematian seseorang.
Ia teringat tatapan Nyonya Marrie, bukan sekadar ancaman tapi luka yang belum pernah sembuh.
Ayah David mati karena keluargaku.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Dan tiba-tiba, semua kebahagiaan yang sempat tumbuh terasa seperti sesuatu yang tidak pantas ia miliki.
“Aku tidak ingin anakku tumbuh di antara dendam,” bisiknya pelan.
Ia menutup mata. “Aku juga tidak ingin David harus memilih antara ibunya… dan aku.”
Sementara itu, Lucca jungkir balik mencari keberadaan Viera. Ia mendatangi rumah sakit, berharap menemukan jejak pemeriksaan lanjutan kehamilan—namun tak ada satu pun catatan atas nama Viera. Tak berhenti di sana, Lucca bahkan mendatangi keluarga Viera. Pertemuan itu justru berakhir ricuh, berubah menjadi perdebatan sengit antara dirinya dan kedua orang tua Viera.
Hari keempat, Lucca akhirnya menemukan sesuatu.
Sebuah surat.
Ditinggalkan rapi di apartemen lama Viera, di laci meja yang dulu sering ia buka untuk mengambil vitamin. Tangannya bergetar saat membuka amplop itu.
Teruntuk David.
Jika kau membaca ini, berarti aku sudah cukup jauh untuk tidak kembali.
Aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu, justru karena itu alasannya.
Aku baru tahu seluruh kebenaran, tentang ayahmu. Tentang keputusan yang dibuat keluargaku tanpa sepengetahuanku, tanpa persetujuanku. Tapi tetap saja… dalam tubuhku mengalir darah orang-orang yang menyakitimu dan ibumu.
Aku tidak tahu bagaimana caranya mencintaimu, tanpa membawa luka itu di antara kita.
Aku juga tidak tahu bagaimana membesarkan anak kita, tanpa suatu hari ia bertanya mengapa neneknya membenci ibunya.
Aku lelah hidup dalam permainan orang dewasa yang kejam.
Aku hanya ingin melindungi anakku. Dan mungkin… juga dirimu.
Jangan mencariku.
Jika suatu hari aku kembali, itu harus karena dunia kita sudah cukup sunyi dari dendam.
—Viera.
Lucca menjatuhkan diri ke kursi, dadanya terasa kosong. Ia membaca surat itu berulang kali, seolah berharap ada kalimat tersembunyi yang mengatakan aku akan kembali.
Tapi... tidak ada.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti kabut. Lucca tetap bekerja, tetap menghadiri rapat dan tetap menjalankan hidupnya. Tapi ada bagian dari dirinya yang tertinggal bersama Viera, dan anak yang bahkan belum sempat ia panggil dengan suara lantang.
Ia juga berhenti menghubungi ibunya.
Sementara Nyonya Marrie duduk sendirian di rumah besarnya, menatap foto lama suaminya.
“Apa aku salah? Aku hanya tak bisa melepaskan rasa sakit ku...” bisiknya pada foto itu.
Namun untuk pertama kalinya, tidak ada kepastian dalam suaranya.
Di kota kecil lain, jauh dari hiruk-pikuk, Viera menjalani hari-harinya dengan tenang. Ia menyewa rumah sederhana, dekat klinik kecil. Tidak ada pengawal, tidak ada kemewahan. Hanya rutinitas sederhana. Kontrol kandungan, makan teratur, tidur yang cukup.
Dan setiap malam, ia berbicara pada perutnya. “Ayahmu orang baik, Nak. Dan suatu hari… jika waktunya sudah tepat, kau akan tahu itu.”
Ia tidak tahu berapa lama ia akan pergi. Namun satu hal ia yakini, kepergiannya bukan pelarian. Itu adalah pilihan paling dewasa yang bisa ia ambil.
Karena terkadang, mencintai seseorang… berarti berani menjauh, demi melindungi semua yang tersisa.