Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 Tuduhan Tak Berdasar
"Dasar pembawa sial!"
Cambuk itu mengenai tubuh Erlang Xuan. Ia berdiri sembari menahan sakit yang tidak dapat bisa lagi ditahan oleh tubuhnya yang masih lemah. Bibirnya menyunggingkan senyum, tatapannya dingin, dan tak ada suara tangisan atau permohonan maaf, seperti sebelum-sebelumnya.
"Sudah puas?" Erlang Xuan berdiri, tangan kanannya menangkap cambuk yang mengarah padanya.
"Oh, jadi, kamu berani melawan sekarang?" tanya Erlang Xiao.
"Kenapa tidak? Lagi pula seorang ayah tidak selalu benar." Erlang Xuan menanggapi.
"Dasar sampah kurang ajar!" Wajah Erlang Xiao memerah.
"Aku punya nama, dan namaku Erlang Xuan!" Karena marah, ia tanpa sengaja mengalirkan petir ke cambuk ayahnya. Gelombang kejut yang diciptakan petir itu membuat Erlang Xiao terkejut dan menjatuhkan cambuknya.
"Apa yang terjadi? Sejak kapan sampah sepertimu punya elemen?"
Pria itu menatap putranya dengan curiga. Di benua giok, mengembalikan dantian yang hancur sangatlah mustahil. Jadi, wajar saja kalau ia curiga. Pasalnya, dirinyalah yang menghancurkan dantian putranya yang sudah cacat.
"Bagaimana mungkin Tuan Erlang mengetahuinya, sedangkan namaku sendiri Anda tidak tahu!" Erlang Xuan tersenyum sinis. Bagi ayahnya, Erlang Han adalah putranya satu-satunya.
"Sampah tidak akan pernah menjadi berlian!" Erlang Xiao menyimpan cambuknya.
"Kalau aku bisa menjadi bintang di langit, kenapa harus menjadi berlian?" balasnya.
"Kamu!" Erlang Xiao kehabisan kata-kata. Ia meninggalkan kediaman Erlang Xuan dengan kesal. Di kepalanya, sudah tercatat sebuah rencana yang ditujukan kepada putranya itu.
"Jangan salahkan aku, salahkan dirimu yang tidak berguna, sampah pembawa sial!" Pria itu tersenyum.
...****************...
"Akhirnya pergi juga!" Erlang Xuan duduk bersila dan memulai kultivasinya. Ia menggunakan teknik kultivasi yang tercatat di pikirannya. Selain teknik kultivasi, beberapa teknik bertarung tiba-tiba saja muncul di dalam kepalanya.
Beberapa jam kemudian ….
Baaammm
Erlang Xuan membuka matanya. Sekarang, kultivasinya sudah menembus ranah perunggu tahap 1. Meski sangat senang, tapi ranah itu sangat rendah jika dibandingkan dengan teman sebayanya.
"Sepertinya aku harus mencari sumber daya!"
Setelah mengganti pakaiannya, ia meninggalkan kediamannya. Berbeda dengan pemuda anak-anak petinggi klan yang lain, kediamannya terletak di pinggiran kota, sementara kediaman klan terletak di pusat kota.
"Andai saja aku bisa tinggal di sana!" Erlang Xuan menatap menara yang ada di pusat kota. Menara itu adalah menara pengumpul energi klan sekaligus menara pengintai.
"Ibu, bagaimana kabarmu?"
Ingin rasanya ia menangis, tapi air matanya sudah kering. Sejak berusia 12 tahun, para petinggi klan, termasuk ayahnya mengusirnya dari kediaman utama. Bukan hanya itu, ibunya tidak diperbolehkan bertemu dengannya. Orang-orang menyebutnya sampah pembawa sial, dan beberapa orang merasa iba.
Erlang Xuan ke paviliun matahari. Meskipun statusnya anak buangan klan Erlang, tapi klan memberinya 3 koin emas dan 100 koin perak setiap bulannya. Koin perak digunakan untuk membeli makanan, sementara koin emas ia simpan.
"Akhirnya koin emas ini berguna!" Erlang Xuan memasuki area paviliun. Meski tahu dia anak buangan, orang-orang paviliun matahari menyambutnya dengan ramah.
"Ada yang bisa kubantu, Tuan Muda?" tanya seorang pelayan dengan ramah.
"Em, aku membutuhkan pil kultivasi."
"Kamu punya beberapa pil kultivasi. Untuk Tuan Muda yang baru memulai kultivasi, saya sarankan untuk membeli pil bintang dan pil matahari. Harganya 10 koin emas!" Pelayan itu menjelaskan.
"Kalau begitu, aku beli 5 pil bintang dan 5 pil matahari!" Erlang Xuan memberikan sekantong koin emas kepada pelayan.
"Koinnya lebih, Tuan!" Pelayan itu mengembalikan koin emas. Koin itu dimasukkan ke dalam kantong kecil berwarna merah.
"Kami juga punya cincin ruang. Harganya 5 koin emas!" lanjut pelayan itu.
"Kebetulan aku membutuhkan cincin ruang!"
"Kalau begitu tunggu sebentar, Tuan Muda!" Pelayan itu masuk ke ruangan yang tertutup rapat. Sesaat kemudian, ia kembali dan memberikan sebuah cincin ruang kepada Erlang Xuan.
"Terima kasih!" Erlang Xuan meninggalkan paviliun matahari. Ia kembali ke kediamannya dengan tergesa-gesa.
"Ibu, tunggu aku! Sebentar lagi kita akan berkumpul lagi!"
Setelah memastikan bahwa tidak ada orang, ia mengeluarkan pil bintang dan memulai kultivasinya. Lima butir pil bintang meningkatkan kultivasinya sebanyak 8 tahapan, sementara pil matahari hanya 5 tahap. Dengan kata lain, saat ini kultivasinya sudah menembus tahap 4 ranah perak.
"Jenius teratas klan Erlang sudah menerobos ranah suci, sementara Erlang Han sudah menerobos ranah langit. Kultivasiku benar-benar tertinggal jauh," gumamnya.
"Sampah pembawa sial, keluar kamu!" Di luar, seseorang berteriak. Dari suaranya, Erlang Xuan menebak siapa yang mengunjunginya.
"Keluar atau gubuk ini kuhancurkan!" ancamnya.
"Cari masalah!" Orang itu menghancurkan gubuk Erlang Xuan. Meskipun orang yang dicarinya berdiri di depannya, ia pura-pura tidak lihat.
"Sampah sepertimu sebaiknya menjadi pengemis saja!" katanya.
"Hei, anak buangan!" Orang itu menarik bagian depan baju Erlang Xuan. "Hari ini, para Tetua memanggilmu ke aula! Kamu tahu kenapa? Karena hari ini, kamu akan dihukum!" orang itu tertawa.
"Tetua sepakat untuk mengalihkan hukuman Tuan Muda Erlang Zhen kepadamu!" lanjutnya.
"Jangan coba-coba melarikan diri! Karena jika kamu melakukannya, hukuman itu akan dialihkan ke ibumu!"
Mau tidak mau, Erlang Xuan harus menerimanya. Ia tidak ingin ibunya menanggung kesalahan orang lain. Apa lagi, hukuman itu adalah hukuman mati.
"Ibu!" gumamnya.
...****************...
Erlang Xuan di lempar ke aula. Di salah satu kursi, duduk seorang wanita setengah baya. Wanita itu adalah Li Yanran ibunya.
"Ibu!" panggilnya dengan suara pelan. Ia tersenyum saat melihat ibunya tertawa, tapi di sisi lain, hatinya seperti diiris-iris.
"Ibu, lihat aku!" katanya dalam hati.
Lama menunggu, tapi wanita itu tak juga menatapnya. Dengan hati hancur, ia melangkah ke tengah altar. Meski begitu, pandangannya selalu tertuju pada ibunya yang sedang bermain dengan adiknya.
"Sepertinya ibu sudah melupakanku!" Erlang Xuan berbalik.
"Li Yanran, apakah kamu bersedia menghukum mati anakmu?" tanya Patriark Erlang Xiao.
"Tentu saja!"
Jawaban ibunya membuatnya kecewa. Tangannya mengepal, dan matanya memancarkan kilatan amarah. Ia mendongak dan melihat ibunya berdiri di depannya.
"Apakah ibu menyayangiku?" tanyanya.
Wanita itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum sinis lalu menghantamkan cambuk petir ke tubuh anaknya sendiri. Tatapannya tajam, dan tak ada belas kasihan di matanya walau hanya setitik.
"Cambukan itu kuanggap jawaban!" Erlang Xuan yang tadinya berlutut berdiri dan menatap tajam ibunya.
"Aku ke sini untuk bertemu denganmu. Kupikir ibuku masih menyayangiku, tapi ternyata aku salah!" Erlang Xuan menyeka air matanya.
"Ternyata, ibu tidak ada bedanya dengan ayah!" ucapnya.
Ctasssss
Cambuk petir menghantam punggungnya berkali-kali. Meski begitu, Li Yanran tidak merasa iba atau kasihan. Sebaliknya, wanita itu justru menatap dingin anak yang dilahirkannya 17 tahun yang lalu.
"Jangan panggil aku Ibu! Aku tidak punya anak sepertimu!"
"Ibuku sudah mati 5 tahun lalu! Jadi, aku ini yatim piatu, Nyonya Li!" ucap Erlang Xuan tanpa beban dan penyesalan.
"Jangan sebut namaku jika anakmu yang lain tidak merasakan apa yang kurasakan!"
Li Yanran mengepalkan tangannya. Ia mengeluarkan racun dari cincin ruangnya dan memaksa putranya meminum racun itu. Anehnya, racun itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa, seolah racun tersebut hanya minuman biasa.
"Lakukan apa yang kamu mau, Nyonya Li!" Erlang Xuan berlutut di depan ibunya. Ia menerima cambukan tanpa protes atau melawan. Setelah ratusan cambukan, wanita itu berhenti sejenak.