NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insiden Teh Panas

Ketegangan di udara bisa diiris dengan pisau. Teman-teman Isabella saling melirik dengan canggung, tidak menyangka aku akan menggigit balik.

"Tehnya habis," kata Isabella tiba-tiba, suaranya tegang namun berusaha terdengar riang. Dia mengangkat teko porselen bermotif bunga yang berat itu. "Siapa yang mau tambah?"

Tidak ada yang menjawab. Semua masih memproses hinaan haluskan tadi.

"Sini, biar aku saja," kata Isabella, berdiri dari kursinya.

Dia berjalan memutari meja, menuangkan teh ke cangkir si gadis berambut merah, lalu gadis berkacamata. Dia bergerak menuju arahku.

Aku duduk diam, mengawasi setiap gerakannya. Instingku memperingatkan bahaya.

Isabella berhenti tepat di sampingku. Dia mengangkat teko itu tinggi-tinggi, moncongnya mengarah ke cangkir kosongku. Uap panas mengepul dari sana.

"Kau mau lagi, Elara?" tanyanya manis.

"Tidak, terima kas—"

Saat itulah kejadiannya.

Gerakannya begitu cepat dan halus, tapi aku melihatnya. Siku Isabella menyentak ke luar, 'tidak sengaja' menabrak lenganku yang sedang bertumpu di meja.

"Ups!" seru Isabella.

Guncangan itu membuat teko di tangannya miring drastis. Aliran teh panas berwarna cokelat tua itu tidak jatuh ke cangkirku.

Teh itu menyiram gaun putih sutra yang dikenakan Isabella sendiri.

"AAAAKH!"

Isabella menjerit histeris. Dia melompat mundur, teko itu jatuh dari tangannya dan pecah berkeping-keping di lantai gazebo.

Cairan panas itu membasahi bagian depan gaun putihnya, meninggalkan noda cokelat besar yang jelek dan melepuhkan kulit di baliknya.

"Panas! Panas!" teriaknya sambil mengibas-ngibaskan roknya.

Teman-temannya langsung berdiri panik. "Bella! Kau baik-baik saja?!"

Aku juga berdiri, terkejut. "Isabella—"

"KAU!" Isabella menunjuk wajahku dengan jari telunjuk yang gemetar. Wajahnya merah padam, air mata buaya sudah mengalir di pipinya. "KAU SENGAJA MELAKUKANNYA!"

"Apa?" Aku ternganga. "Kau yang menabrakku!"

"BOHONG!" jerit Isabella, suaranya melengking memecah ketenangan sore. "Semua orang lihat! Kau menyenggol tanganku saat aku menuang teh! Kau iri dengan gaunku, kan? Kau iri karena kau cuma punya barang rongsokan!"

Dia memutarbalikkan fakta dengan begitu lancar hingga aku hampir kagum.

"Ya Tuhan, Elara," sambar si gadis berambut merah, langsung membela ratu lebahnya. "Itu kejam sekali! Padahal Isabella sudah berbaik hati mengundangmu!"

"Benar-benar barbar," tambah si gadis pirang. "Dia melukaimu, Bella! Lihat kulitmu merah!"

"Bukan aku," kataku tegas, menatap mereka satu per satu. "Dia yang menjatuhkannya sendiri."

"Diam kau!" bentak Isabella. "Minta maaf! Sekarang!"

Keributan itu memancing perhatian. Dari pintu teras, Eleanor berlari keluar, diikuti oleh beberapa pelayan.

"Apa yang terjadi?!" seru Eleanor panik melihat pecahan porselen dan gaun putrinya yang rusak.

"Ibu!" Isabella berlari memeluk ibunya, menangis tersedu-sedu. "Elara menyiramku dengan teh panas! Dia bilang gaunku jelek dan dia ingin merusaknya!"

Eleanor menatapku. Tatapannya bukan lagi hangat seperti tadi pagi. Tatapannya kecewa. Lelah. "Elara... benarkah itu?"

"Tidak," jawabku.

"Jangan berbohong!" potong Chloe. "Kami semua melihatnya, Tante Eleanor. Elara menyenggol tangan Bella dengan kasar."

Empat lawan satu. Aku tidak punya saksi. Bahkan Lily hanya diam membeku di kursinya, terlalu takut untuk bicara.

Aku melihat seringai tipis di balik bahu Eleanor saat Isabella memeluk ibunya. Dia menang. Ini bukan tentang siapa yang benar. Ini tentang siapa yang berkuasa. Dan di taman ini, akulah penyusupnya.

Eleanor menghela napas panjang. "Elara, minta maaf pada sepupumu. Sekarang."

"Tapi aku tidak salah," kataku, rahangku mengeras.

"Minta maaf," tekan Eleanor, suaranya tidak menerima bantahan. "Atau aku tidak bisa menjamin tempatmu di meja makan malam ini."

Ancaman itu jelas. Tunduk, atau kelaparan.

Aku menatap Eleanor. Lalu aku menatap teman-teman Isabella yang memandangku dengan jijik. Terakhir, aku menatap Isabella yang sedang mengintip dari pelukan ibunya, menunggu kemenangannya.

Dia ingin aku hancur. Dia ingin aku menangis dan memohon.

Baiklah.

Aku menegakkan punggungku. Wajahku berubah datar, topeng dingin yang kupelajari dari Ciarán.

"Maafkan aku, Isabella," kataku. Suaraku tenang, tanpa nada penyesalan sedikit pun. Datar seperti permukaan danau beku. "Maafkan kecerobohanku yang membuat gaun putihmu ternoda warna aslimu."

Isabella mengerutkan kening, bingung dengan kalimat terakhirku. Eleanor hanya mendengar kata 'maaf' dan mengangguk puas.

"Bagus," kata Eleanor. "Sekarang, Bella, ayo ganti baju dan obati lukamu. Elara, bersihkan kekacauan ini."

Mereka pergi, meninggalkanku sendiri dengan pecahan porselen di lantai.

Aku berjongkok, memungut pecahan teko itu. Ujungnya yang tajam menggores jariku hingga berdarah sedikit, tapi aku tidak peduli.

Aku menatap darah merah yang keluar dari jariku.

Isabella menang hari ini. Tapi dia baru saja membuat kesalahan besar. Dia pikir aku akan lari menangis. Dia tidak tahu bahwa setiap rasa sakit yang dia berikan hanya akan kucatat dalam buku hutangku.

Dan suatu hari nanti, aku akan menagihnya. Dengan bunga.

***

Air dingin mengalir deras dari keran wastafel, berputar-putar di lubang pembuangan sebelum menghilang ke dalam kegelapan pipa.

Aku berdiri di kamar mandi, menatap noda teh cokelat tua yang mengotori lengan gaun navy-ku. Noda itu samar karena warna kain yang gelap, tapi aku tahu noda itu ada di sana. Baunya manis dan lengket, seperti kepalsuan Isabella.

Aku menggosok noda itu dengan sabun batangan. Keras. Kasar.

Jari-jariku yang tadi tergores pecahan porselen berdenyut perih terkena sabun, tapi aku tidak berhenti. Rasa sakit itu justru membantuku fokus. Rasa sakit itu membuat kepalaku jernih.

Di cermin di depanku, aku melihat pantulan seorang gadis yang baru saja dipermalukan di depan umum. Seorang gadis yang dituduh melukai sepupunya sendiri karena iri hati. Seorang gadis yang dipaksa meminta maaf atas kejahatan yang tidak dilakukannya.

Tapi anehnya, tidak ada air mata di mata gadis itu.

Matanya kering. Matanya dingin.

"Menangis itu membuang-buang garam," bisikku pada cermin. Itu kata-kata Ayah dulu saat aku menangis karena lututku berdarah. Dan hari ini, kata-kata itu terasa sangat relevan.

Isabella Vane.

Gadis manja itu berpikir dia menang hari ini. Dia berpikir dengan menjerit, menangis palsu, dan memainkan peran korban, dia bisa menyingkirkanku.

Dia salah.

Dia menang karena dia berisik. Dia menang karena dia membuat semua orang melihatnya. Dia menang karena dia bermain di panggung yang terang benderang.

Tapi aku... aku tidak punya kemewahan untuk menjadi berisik. Jika aku berteriak, aku akan diusir. Jika aku melawan secara terbuka, aku akan kalah jumlah.

Jadi, aku harus menjadi sebaliknya.

Aku harus menjadi sunyi. Aku harus menjadi bayangan. Aku harus menjadi sesuatu yang tidak terlihat sampai semuanya terlambat.

Aku membilas sabun dari lengan bajuku. Noda itu memudar, tapi tidak hilang sepenuhnya. Tidak apa-apa. Noda ini akan menjadi pengingat.

Aku mematikan keran. Keheningan kembali mengisi kamar mandi marmer yang dingin ini.

"Kau pikir kau ratu di sini, Isabella?" gumamku, menyeka tangan basahku dengan handuk tebal yang lembut. "Kau pikir kau bisa menginjakku dan aku akan diam saja?"

Aku menatap bayanganku lagi. Sudut bibirku terangkat sedikit, membentuk senyum yang tidak menyentuh mata.

"Kau lupa satu hal, sepupu sayang. Aku besar di jalanan. Dan di jalanan, kami tidak bertarung dengan aturan bangsawan. Kami bertarung kotor."

Malam ini.

Aku tidak akan menunggu besok. Aku tidak akan menunggu minggu depan.

Malam ini, saat seisi rumah tertidur, saat topeng-topeng sosial dilepaskan dan semua orang menjadi rentan di balik selimut mereka... aku akan bergerak.

Isabella ingin perang? Aku akan memberinya perang. Tapi perangku tidak akan memiliki ledakan meriam atau teriakan jenderal. Perangku akan sunyi seperti racun yang menetes pelan ke dalam gelas anggur.

Dan saat dia sadar dia kalah, dia bahkan tidak akan tahu siapa yang menyerangnya.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!