Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMU ADALAH DUNIANYA SEKARANG..
Lampu indikator operasi masih membayang di mata Harvey saat ia membanting pintu ruang kerjanya. Rahangnya mengeras. Ia segera menyambar interkom di mejanya dengan gerakan kasar.
"Bayu! Masuk sekarang!"
Tak sampai satu menit, Bayu masuk dengan wajah tegang. Ia sudah mengenal Harvey cukup lama untuk tahu bahwa nada suara itu berarti badai besar sedang melanda.
"Jelaskan padaku," Harvey memulai, suaranya rendah namun bergetar karena amarah yang ditahan. Ia melempar sebuah bolpoin perak ke meja hingga dentingnya menggema. "Bagaimana bisa Melisa melihat map pribadi itu di ruang administrasi? Siapa yang meninggalkan dokumen rahasia itu di sana?"
Bayu tertunduk, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Maaf, Pak. Sepertinya perawat administrasi salah mengambil tumpukan berkas saat hendak meminta tanda tangan tambahan. Mereka tidak tahu bahwa map itu berisi catatan keuangan pribadi Anda."
"Bodoh!" bentak Harvey. Ia berbalik, menatap keluar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. "Aku sudah membayar mahal untuk menjaga kerahasiaan ini. Aku tidak ingin dia tahu!"
Bayu memberanikan diri mendongak. "Bukankah lebih baik jika Ibu Melisa tahu? Dengan begitu, dia akan merasa lebih berhutang budi pada Anda, Pak."
Harvey berbalik cepat, matanya menyala. "Kau tidak mengerti, Bayu. Aku tidak butuh rasa hutang budi yang seperti itu. Aku ingin dia di sini karena dia tidak punya pilihan lain, bukan karena dia merasa kasihan atau terbebani oleh fakta bahwa aku membayar setiap sen untuk suaminya."
Harvey menghela napas panjang, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran. Amarahnya perlahan surut, berganti dengan gurat kelelahan yang nyata. Di balik topeng kedinginan yang ia pakai di depan Melisa, ada kenyataan yang jauh lebih rumit.
"Aku tulus ingin Narendra sembuh," gumam Harvey, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Hanya dia yang bisa menjaga Melisa setelah ini. Hanya dia yang bisa memberikan kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa kuberikan."
Bayu tertegun. "Tapi Pak, Anda meminta dia membayar dengan... harga yang sangat mahal. Anda memaksanya tinggal bersama Anda."
Harvey tertawa getir, sebuah tawa yang kering tanpa rasa humor. "Obsesi, Bayu. Itu penyakitku. Aku hanya ingin memilikinya kembali, meski hanya untuk sekejap. Tiga puluh hari. Hanya itu yang kuminta. Tiga puluh hari untuk menghapus dahaga rindu yang menyiksaku selama bertahun-tahun."
Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang baru saja menyelamatkan nyawa pria yang paling ia benci sekaligus ia syukuri keberadaannya.
"Setelah tiga puluh hari ini berakhir, aku akan melepaskannya. Aku akan mengembalikannya pada Narendra dalam keadaan utuh. Suaminya akan sehat, hidup mereka akan terjamin, dan aku... aku akan menghilang dari hidupnya seolah aku tidak pernah ada. Ini bukan tentang menghancurkannya, Bayu. Ini tentang aku yang mencoba bertahan hidup dari kenangan tentangnya."
Harvey mengambil sebatang rokok, namun tidak menyalakannya. Ia hanya memutar-mutarnya di jemari.
"Aku melakukan semua kekejaman ini agar dia membenciku. Karena jika dia membenciku, akan lebih mudah baginya untuk pergi saat tiga puluh hari itu selesai. Bayangkan jika dia tahu aku menyelamatkan suaminya karena cinta? Dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri."
Bayu terdiam, menyadari betapa tragisnya rencana yang disusun atasannya. "Lalu bagaimana jika Ibu Melisa bertanya lagi soal biaya itu, Pak?"
Harvey memejamkan mata. Bayangan wajah Melisa yang ketakutan sekaligus menatapnya penuh benci terlintas. "Biarkan dia percaya pada narasiku yang kejam. Biarkan dia menganggapku iblis yang membeli nyawa suaminya untuk kepuasan pribadi. Itu jauh lebih aman bagi jiwanya."
Ia kemudian menatap asistennya dengan tajam. "Sekarang pergi. Pastikan Narendra mendapatkan perawatan pasca-operasi terbaik. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun. Nyawa pria itu adalah satu-satunya alasan Melisa masih bertahan di dunia ini."
Setelah Bayu keluar, Harvey menyandarkan kepalanya. Di meja kerjanya, terselip sebuah foto lama yang sudah agak kusam di dalam laci tersembunyi. Foto Melisa yang sedang tertawa, bertahun-tahun yang lalu sebelum takdir memisahkan mereka.
"Hanya tiga puluh hari, Melisa," bisiknya pada keheningan ruangan. "Setelah itu, aku akan membiarkanmu pulang pada kebahagiaanmu. Meski itu artinya aku harus hancur selamanya."
**
Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman saat Melisa duduk bersimpuh di samping brankar Narendra. Di ruang pemulihan yang tenang itu, hanya terdengar deru halus mesin ventilator. Bu Rini duduk di seberangnya, terus-menerus mengusap punggung tangan menantunya yang masih terlelap pasca-operasi besar tadi.
Keheningan itu terasa berat. Melisa bisa merasakan tatapan ibunya yang sejak tadi tidak lepas darinya. Tatapan yang penuh selidik, seolah sedang membaca setiap inci kebohongan yang coba Melisa sembunyikan di balik wajah lelahnya.
"Melisa," suara Bu Rini memecah kesunyian, pelan namun tegas.
Melisa mendongak, berusaha menyunggingkan senyum tipis. "Iya, Bu?"
"Katakan jujur pada Ibu, apa dia mengancammu? Apa Harvey bertindak buruk padamu atau pada suamimu?"
"Ibu bicara apa?" Melisa tertawa hambar, mencoba terdengar senormal mungkin. "Harvey memang masa lalu, tapi dia sekarang adalah dokter profesional. Dia membantu karena... karena ini bagian dari program yayasan rumah sakit untuk kasus-kasus langka. Dia tidak mengancam siapa pun, Bu."
"Benarkah? Ibu melihat cara dia menatapmu di koridor tadi. Itu bukan tatapan seorang dokter kepada keluarga pasien," desak Bu Rini lagi.
Melisa menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa energinya untuk meyakinkan wanita yang telah melahirkannya itu. Ia menggenggam tangan ibunya dengan lembut.
"Ibu tenang saja. Harvey memang punya kepribadian yang kaku dan dingin, itu sebabnya dia terlihat mengintimidasi. Tapi tujuannya murni untuk kesembuhan Mas Rendra. Dia ingin membuktikan kemampuannya sebagai ahli bedah saraf terbaik. Tidak ada rahasia, tidak ada ancaman. Aku bekerja sebagai pengasuh di rumah koleganya hanya untuk menambah biaya obat tambahan. Itu saja."
Bu Rini menatap Melisa cukup lama, mencari keraguan di mata putrinya. Namun Melisa sudah terlatih menyembunyikan luka. Akhirnya, bahu Bu Rini merosot, tampak sedikit lega.
"Syukurlah kalau begitu. Ibu hanya takut jika kehadiran Harvey akan merusak kebahagiaan kalian. Ibu tahu betapa obsesifnya pria itu dulu padamu. Tapi melihat Rendra selamat dari operasi tadi... Ibu rasa Harvey memang sudah banyak berubah menjadi orang yang lebih baik. Dia tulus membantu."
"Iya, Bu. Dia sudah berubah," bohong Melisa, merasakan setiap kata itu seperti racun di lidahnya.
Setelah pertanyaan tentang Harvey mereda, sorot mata Bu Rini beralih pada wajah pucat menantunya.
"Melisa," panggil Bu Rini lembut, "apa kamu sudah memberi kabar ke keluarga Narendra di Jawa Tengah? Bagaimanapun, ini operasi besar."
Melisa terdiam sejenak, menatap kosong ke arah selang oksigen. "Belum, Bu. Aku belum menghubungi siapa pun di sana."
"Kenapa? Bukankah mereka paman dan bibinya? Satu-satunya keluarga yang dia punya setelah orang tuanya meninggal?"
Melisa menghela napas panjang. Ia teringat betapa kerasnya perjuangan Narendra saat pertama kali mereka memutuskan untuk menetap di Jakarta. "Mas Rendra tidak punya siapa-siapa lagi di sana yang benar-benar dekat, Bu. Itu sebabnya dia begitu mantap tinggal di sini. Baginya, Jakarta adalah awal baru karena di Jawa Tengah hanya ada kenangan pahit tentang kehilangan orang tuanya."
Bu Rini mengangguk pelan, memahami kepedihan menantunya. "Tapi mereka tetap sedarah, Mel. Apa mereka tidak perlu tahu?"
"Paman dan bibinya sudah tua, Bu," jawab Melisa lirih. "Aku takut kabar ini malah membuat mereka jatuh sakit atau cemas berlebihan. Lagi pula, Mas Rendra pernah bilang kalau dia tidak mau merepotkan keluarga di kampung jika ada apa-apa. Dia ingin dikenal sebagai pria yang sukses dan tangguh di kota."
Melisa mengusap wajahnya yang lelah. "Mungkin lebih baik kita tunggu Mas Rendra siuman sepenuhnya. Biar dia sendiri yang memutuskan apakah ingin memberi tahu mereka atau tidak. Aku tidak ingin melangkahi keputusannya."
"Iya, kamu benar," gumam Bu Rini. "Kasihan suamimu. Dia yatim piatu, hanya memilikimu. Itu sebabnya Ibu sangat khawatir jika ada hal yang mengganggu pernikahan kalian. Kamu adalah dunianya sekarang."
Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat hati Melisa. Hanya memilikiku, batinnya mirip jeritan. Jika Narendra tahu bahwa dunia yang ia agungkan sedang "disewa" oleh pria lain selama tiga puluh hari ke depan, apakah Narendra masih ingin bangun dari tidurnya?
***
Bersambung...