Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Ayumi?
Rumah Sakit.
"Zara, kamu kenapa?" tanya Maminya.
Zara yang masih syok dengan kejadian pernikahan sepupunya dan mantan kekasihnya hari ini, belum bisa dia terima begitu saja karena mustahil adanya kebetulan semata. Dengan wajah yang masih pucat, Zara segera berdiri untuk kembali memastikan apakah Sagara yang menikahi sepupunya adalah Sagara yang sama dengan mantan kekasihnya.
"Mam, Mami punya foto pernikahan mereka?"
Mami Jesica dan Om Jordan saling melirik dengan wajah bingung.
Mami Jesica mengangguk pelan. "Ada, memang kenapa?" tanyanya.
"Aku mau lihat Mam!"
"Ya ampun, kamu nggak sabar banget mau lihat pengantin baru itu. Kenapa? Jangan-jangan kamu udah punya rencana mau nikah juga ya?" gurau sang Mami.
Zara berdecak sebal. "Kasih lihat aja foto nya Mam!" sentaknya.
Pak Jordan yang masih terbaring merasa ada yang aneh dengan keponakannya itu. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang akan terjadi kepada keponakan dan anaknya.
"Zara, apa ada sesuatu, Nak?" tanya Om Jordan lirih.
Zara mencoba menenangkan dirinya karena takut sang Om kenapa-kenapa mengingat kondisinya saat ini yang masih lemah.
Zara tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Om, aku cuma penasaran aja sama pasangan Thea," jawab Zara dengan lembut.
Om Jordan tersenyum sambil mengelus pundak Zara dengan lembut.
"Kalau kamu mau ketemu sepupu kamu, samperin dia ke rumah. Di sana kalian bisa ngobrol, lagi pula sudah lama kan Thea dan Zara nggak ketemu."
Mendengar ucapan yang lembut dan tulus dari sang, Om, membuat hati Zara tersentuh. Selama ini Zara sangat menahan diri agar tidak terus berseteru dengan sepupunya itu. Namun, setiap kali mereka bertemu entah mengapa pertemuan itu akan kacau dan berujung pertengkaran antara Thea dan Zara. Walaupun Zara sudah dewasa, namun tetap saja Zara ingin perhatian yang dimiliki Thea juga dimiliki dirinya. Pasalnya semua orang selalu memuji Thea anak yang ceria penuh energik dan terkenal anak yang bebas tanpa kekangan sedangkan Zara, di setiap pertemuannya dengan seluruh kerabat, mereka hanya mempertanyakan pernikahan dan bisnisnya tanpa perhatian tulus.
Zara segera berdiri. "Mam, Om, maaf aku lupa hari ini ada meeting penting. Aku permisi pamit dulu ya, semoga Om cepat membaik," ucap Zara yang kemudian pergi begitu saja.
"Ada apa dengan anak itu?"
......................
"Ngapain Lo masuk ke kamar Gue?"
Sagara menghela nafasnya. "Aku mau mandi, gerah!" jawabnya.
"Di sini?"
Sagara mendekatkan wajahnya ke wajah Thea. "Menurut kamu, aku mandi di kamar Nenek, begitu?"
Thea membulatkan kedua bola matanya sambil menelan liurnya dengan kasar saat embusan nafas Sagara bisa dia rasakan dengan begitu dekat.
"Hmm."
Dari luar terdengar dehaman sang Nenek yang suaranya sengaja di keraskan.
Karena takut dimarahi Nenek Samantha, Thea segera menarik lengan Sagara dengan kasar masuk ke dalam kamarnya dengan terpaksa.
Melihat sikap Thea yang begitu plin-plan dan sedikit kasar, membuat Sagara harus kembali menarik nafasnya dengan kasar. Pernikahan ini sudah terjadi, dan Sagara harus menerima ini semua dengan lapang sambil membentuk karakter Thea perlahan-lahan.
"Lo lupa ya perjanjian kita saat di rumah sakit?" tanya Thea sambil berkacak pinggang.
Sagara menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Perjanjian yang mana?"
Wajah Thea berubah garang namun masih terlihat imut. "Lo nggak usah pura-pura lupa deh! Kita kan udah sepakat untuk nggak tidur di satu kamar yang sama apalagi satu ranjang yang sama sampai sekolah Gue itu selesai! Terus kita berhak melakukan hal apapun yang kita suka tanpa ikut campur satu sama lain! Apa Lo lupa, Gue juga izinin Lo buat pergi sama cewek Lo asalkan Lo nggak ikut campur sama urusan Gue dan cowok Gue nanti!" tegas Thea yang kembali mengingatkan Sagara kembali.
Nanar Sagara berubah menjadi dingin. "Oh yang itu, Aku ingat," sahut Sagara datar.
Thea tidak percaya dengan suami dadakannya ini. Sikapnya misterius, sebentar-sebentar baik, lalu wajah yang lainnya muncul, datar dan dingin.
"Terus kenapa Lo nggak pulang ke rumah Lo sendiri dan malah masuk kesini?" tanya Thea dengan wajah kesal.
Sagara kembali menghela nafasnya. Ternyata memiliki istri yang masih duduk di bangku SMA membuatnya merasa pusing seperti sedang mengasuh adik yang rewel dan menyebalkan.
"Kalo aku pulang sekarang Papa sama Mama akan marah, tadinya aku mau nginep di sini dan pinjam kamar tidur tamu untuk istirahat, nggak di sangka Nenek kamu malah nyuruh aku masuk ke sini! Mungkin, Nenek kamu tahu kalau kita pengantin baru," bisik Sagara ditelinga Thea yang berhasil membuat wajah gadis itu merah merona.
Thea segera mendorong tubuh kekar Sagara agar menjauh dari hadapannya.
"Ish, apa yang Lo bilang, hah? Lo udah gila yah! Dasar cowok mesum! Jauh-jauh deh Lo dari Gue, awas aja ya kalo sampe Lo berani nyentuh Gue, Gue bakalan laporin Lo ke polisi!" ancam Thea sambil menunjuk wajah sagara.
Sagara tersenyum tipis mendengar ucapan Thea. "Silakan aja, memang ada yah polisi yang nangkep suami dari istrinya sendiri?"
Thea membulatkan matanya saat mendengar ocehan tidak jelas dari pria yang dia anggap kolot dihadapannya ini. Untuk menjaga dirinya dari terkaman pria menakutkan ini, Thea segera mundur untuk menjauhi Sagara sembari menyilangkan kedua telapak tangannya di dada sambil bergidik ngeri.
Sagara mengerutkan keningnya. "Kamu kenapa?" tanya Sagara.
"Gue ngeri deket-deket sama cowok mesum kayak Lo!" cetus Thea.
Sagara tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sang istri. Karena merasa gerah, Sagara membuka bajunya sengaja dihadapan Thea untuk kembali menggodanya.
Dan benar saja, Thea langsung panik saat Sagara membuka kancing bajunya satu persatu.
"Ngapain Lo buka baju?"
Sagara tersenyum tipis sambil berjalan ke arah Thea perlahan-lahan.
Thea menutup kedua matanya dengan kedua tangan ke depan untuk menahan langkah Sagara agar tidak mendekat ke arahnya.
"Lo jangan macem-macem ya, Sagara! Ngapain sih Lo malah mendekat!" Thea semakin panik sampai akhirnya tubuh Thea terpojok di sudut dinding dekat handuk yang sudah tergantung rapi.
Kini Thea dan Sagara hanya berjarak beberapa senti saja, dengan posisi Thea terpojok sambil memejamkan mata. Melihat ekspresi lucu dari wajah sang istri, Sagara menyunggingkan seulas senyuman diwajahnya.
Lalu Sagara meraih handuk yang berada tepat di belakang Thea.
"Kamu berharap apa? Jangan-jangan pikiran kamu kotor, ya? Dasar bocah!" goda Sagara sambil menepuk kepala Thea pelan.
Thea segera membuka matanya untuk mematikan pria kolot itu tidak menyentuhnya.
Thea menghela nafas lega saat Sagara kini sudah berada di kamar mandi. "Ah syukurlah Gue nggak di apa-apain sama tuh cowok kolot!" gerutunya sambil mengelus dadanya.
Bip..
Ayumi | ("Apa kamu memilih mundur? Sudah sejauh ini, bukannya Thea, gadis manja itu hanya batu sandaran keluarga kamu saja?")
Thea mengerutkan keningnya.
"Apa yang di maksud cewek yang ngirim pesan ini? Kita nggak saling kenal, tapi dia seolah-olah udah kenal Gue dari lama?"