Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Luka dan Arsip yang Terkubur
Matahari pagi di daerah Perak tidak pernah benar-benar terasa hangat. Cahayanya yang pucat menembus sela-sela atap gudang yang bocor, menyinari debu-debu yang menari di atas Jurnal Hitam yang masih terbuka di hadapanku. Semalam, aku tidak benar-benar tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat bayangan Ayah sedang menjabat tangan Pak Haryo di sebuah ruangan gelap, menukarkan masa depanku dengan nyawa orang lain dalam sebuah transaksi yang tidak akan pernah bisa di-audit oleh manusia mana pun.
"Dra, ini... teh hangat." suara lembut Vema memecah lamunanku.
Aku mendongak, merasakan uap panas dari gelas plastik yang ia sodorkan menyentuh wajahku. Aku menerima gelas itu, membiarkan jemariku yang dingin merasakan kehangatannya. Aroma teh melati yang khas menguar, memberikan sedikit ketenangan di tengah badai informasi yang menghantam otakku sejak semalam. Teh selalu menjadi caraku untuk berpikir jernih; ia tidak menghentak seperti kopi, tapi meresap perlahan.
"Terima kasih, Vem," jawabku parau. Aku menyesap teh itu perlahan. Rasa manis yang tipis membantu meredakan rasa mual di perutku.
Vema sudah rapi dengan jaket hitamnya. Rambut wolfcut-nya yang pendek terlihat sedikit acak-acakkan setelah pertempuran astral semalam, namun matanya memancarkan kekuatan yang baru. Di pergelangan tangannya, benang merah itu kini tampak bercahaya redup. Bagiku, itu bukan lagi sekadar kutukan; itu adalah bukti bahwa di dunia yang penuh dengan angka palsu ini, hanya Vema yang menjadi aset nyata bagiku.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Vema.
Nadin dan Bagas sudah menunggu di mobil. Nadin sedang sibuk dengan tabletnya, memastikan bahwa jalur yang kami lalui bersih dari pelacakan digital Pak Haryo. Sementara Bagas sedang membantu Ibu Riko minum air—wanita itu masih dalam kondisi katatonik, namun setidaknya ia sudah tidak berteriak lagi.
"Dra, ingat," Nadin menoleh saat aku dan Vema masuk ke mobil. "Ayahmu mungkin satu-satunya kunci untuk menemukan 'Tas Induk' itu sebelum Pak Haryo melancarkan serangan terakhirnya di hari masuk sekolah nanti. Kamu harus kuat menghadapi kenyataan ini."
Aku mengangguk perlahan. Punggungku yang bungkuk terasa semakin berat, seolah-olah aku sedang memikul seluruh beban sejarah keluargaku di sana. "Jalan, Din. Kita pulang ke tempat semua ini dimulai."
Perjalanan menuju rumah terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Setiap sudut jalan Surabaya yang biasanya terasa akrab, kini tampak asing dan mengancam. Begitu mobil berhenti di depan rumah kecil kami, jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit di dada kiri.
"Kalian tunggu di sini," kataku pada teman-temanku. "Vem, kamu ikut aku. Aku butuh kamu sebagai saksi... dan sebagai kekuatanku."
Vema menggenggam tanganku, simpul merah di antara kami berdenyut pelan, memberikan keberanian yang tidak kumiliki. Kami melangkah masuk. Aroma rumah yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan. Di ruang tamu, Ayah sedang duduk di kursi kayu lamanya, menyesap teh dari cangkir porselen favoritnya—pemandangan yang sangat normal, namun kini terlihat seperti topeng yang mengerikan bagiku.
"Sarendra? Kamu baru pulang?" Ayah menurunkan cangkirnya, tersenyum hangat. "Ayah khawatir kamu nggak pulang kemarin. Siapa temanmu ini? Rambutnya unik sekali."
Aku tidak membalas senyumnya. Aku berjalan ke meja ruang tamu dan membanting Jurnal Hitam itu tepat di depan cangkir tehnya.
Brak!
Teh di dalam cangkir itu bergoyang hebat, sebagian tumpah ke meja kayu yang sudah lapuk. Senyum Ayah perlahan memudar saat ia melihat sampul kulit hitam yang hangus itu. Wajahnya yang biasanya teduh mendadak pucat pasi, matanya bergetar hebat di balik kerutan wajahnya yang menua.
"Dari mana kamu dapat ini, Dra?" suaranya berubah, menjadi lebih berat dan penuh ketakutan yang berusaha ia sembunyikan.
"Dari tumpukan dosa yang Ayah simpan selama sepuluh tahun di bawah karpet rumah ini," jawabku dengan nada dingin. "Aku baru saja mengaudit masa lalu Ayah. Dan tahu nggak apa yang kutemukan? Ayah adalah 'investor' pertama di bank darah milik Pak Haryo. Ayah yang memberikan modal awal bagi semua penderitaan ini."
Ayah terdiam. Tangannya yang memegang cangkir gemetar hebat hingga terdengar bunyi denting porselen yang beradu dengan meja. "Dra, Ayah bisa jelaskan... ini semua demi kamu..."
"Demi aku? Jelaskan bagaimana aku masuk SMK Pamasta karena Ayah menyerahkan keberuntungan saingan bisnis Ayah sebagai 'biaya administrasi' gaib?" aku berteriak, air mata mulai mengalir di balik kacamataku. "Selama ini Ayah bilang kejujuran adalah aset paling berharga. Ternyata hidupku sendiri adalah hasil dari korupsi moral terburuk yang pernah ada! Aku adalah piutang yang Ayah bayar dengan nyawa orang lain!"
Vema melangkah maju, ia melepaskan manset hitam di tangannya, memperlihatkan bekas luka jahitan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Pak Darmawan... gara-gara pesanan Bapak sepuluh tahun lalu, ibu saya berubah menjadi monster penjahit. Gara-gara Bapak, masa kecil saya hilang di balik mesin jahit yang berdarah. Lihat tangan saya ini, Pak! Ini hasil tanda tangan Bapak sepuluh tahun lalu!"
Ayah menatap Vema dengan rasa bersalah yang begitu dalam hingga ia jatuh tersungkur dari kursinya. Ia bersimpuh di lantai, menutupi wajahnya dengan tangan yang kasar. Tangisnya pecah, suara yang belum pernah kudengar seumur hidupku.
"Maafkan aku... maafkan aku..." Ayah terisak di antara sujudnya. "Waktu itu kita bangkrut, Dra. Ibu kalian baru saja meninggal, dan kita hampir kehilangan rumah ini. Ayah kalap. Pak Haryo datang menawarkan jalan pintas... dia bilang cuma perlu 'menghapus' sedikit keberuntungan orang lain agar kita bisa bangkit. Ayah nggak tahu kalau bunganya akan semahal ini. Ayah nggak tahu kalau ini akan menjadi kutukan turun-temurun."
"Bunganya bukan cuma uang, Yah! Bunganya adalah nyawa Riko! Bunganya adalah masa depan Vema!" aku ikut berlutut di depan Ayah, mencengkeram bahunya yang ringkih. "Sekarang, berikan aku satu-satunya hal yang bisa menyeimbangkan neraca ini. Di mana Pak Haryo menyimpan 'Tas Induk' itu? Tas yang menyimpan semua memori yang dia curi?"
Ayah mendongak, matanya merah dan basah. "Tas Induk... Pak Haryo menyimpannya di tempat yang paling dia percayai. Dia menyimpannya di dalam Brankas Statis di bawah Laboratorium Akuntansi sekolah. Di bawah meja instruktur yang terbuat dari jati tua. Tempat di mana semua data keuangan sekolah—dan rahasia gelapnya—disatukan."
Aku tersentak. Laboratorium Akuntansi. Tempat di mana aku menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menghitung angka-angka semu. Ternyata selama ini aku duduk di atas sumber segala kutukan itu.
"Tapi Dra," Ayah memegang tanganku dengan kencang, jarinya menggali kulitku. "Jangan ke sana. Tas itu dijaga oleh 'Penyusut Ingatan'. Begitu kamu menyentuhnya, semua memori tentang Vema, tentang persahabatan kalian, akan ditarik paksa masuk ke dalam tas itu. Kamu akan melupakan segalanya, Dra. Kamu akan kembali jadi anak akuntansi yang sendirian."
"Aku punya cara untuk melawannya, Yah," kataku sambil menatap Vema. "Audit investigasi ini harus mencapai laporan akhir. Dan laporannya adalah kehancuran total Pak Haryo."
Tiba-tiba, kaca jendela ruang tamu pecah berantakan dengan suara yang memekakkan telinga. Ribuan helai benang hitam masuk seperti anak panah, melilit kaki Ayah dan menariknya dengan paksa ke arah pintu depan yang terbuka lebar.
"DRA! LARI! JANGAN PEDULIKAN AYAH!" teriak Ayah saat tubuhnya terseret di lantai.
Pak Haryo berdiri di halaman rumah dengan wajah yang kini sudah tidak lagi menyerupai manusia. Kulitnya tampak kencang seperti kain yang dipaksakan, dan di sekelilingnya, beberapa siswa sekolah yang hilang—termasuk sosok Riko dalam wujud boneka tanpa jiwa—berdiri menjaganya seperti prajurit bayangan.
"Darmawan... piutangmu sudah terlalu lama menunggak," desis Pak Haryo, suaranya seperti gesekan amplas pada kayu.
"Pak Haryo! Berhenti!" aku berlari keluar, namun langkahku tertahan oleh jaring benang yang mendadak muncul di ambang pintu.
Pak Haryo menggerakkan jarinya seperti dirigen orkestra maut, dan benang-benang itu mulai melilit leher Ayah. "Sarendra, lihat baik-baik. Inilah yang terjadi pada aset yang sudah mengalami penyusutan nilai secara total. Dia sudah tidak berguna lagi bagiku."
Vema tidak tinggal diam. Dengan rambut wolfcut-nya yang pendek berkibar ditiup angin kencang yang tiba-tiba muncul, ia berlari keluar dan menggunakan gunting jahit kecil milik ibunya untuk memotong benang-benang hitam itu. Namun, setiap satu benang terputus, sepuluh benang baru muncul kembali.
"Nadin! Bagas! Sekarang!" teriakku lewat earpiece.
Bagas keluar dari mobil dan mencoba menerjang Pak Haryo, namun ia dihempaskan oleh kekuatan tak kasat mata. Nadin segera menyalakan perangkat frekuensi tinggi dari dalam mobil. Suara melengking memecah udara, membuat benang-benang hitam itu sedikit melemas dan kehilangan kekuatannya sesaat.
"Kalian pikir teknologi kecil bisa melawan tradisi berdarah sepuluh tahun?" Pak Haryo tertawa sinis. Ia mengangkat tangannya, dan tiba-tiba, sosok boneka Riko menerjang ke arahku dengan gerakan yang patah-patah.
Melihat musuhku sendiri waktu dilomba basket kemarin menyerangku dengan mata yang hanya berupa jahitan silang hitam, hatiku hancur berkeping-keping. "Riko! Ini aku, Sarendra! Ingat kekalahanmu waktu lomba basket kemarin!"
Boneka Riko tidak mendengar. Ia mencengkeram leherku, mengangkat tubuhku yang bungkuk dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Saat pandanganku mulai mengabur, Vema berteriak dan melompat ke arah Riko. Ia memeluk boneka itu dengan erat dari belakang.
"Riko! Inget aku! Aku Vema! Anak dari tukang penjahit yang selalu kamu pesan!" Vema menangis, air matanya jatuh ke bahu boneka Riko yang terbuat dari kain kasar
Sesuatu yang ajaib terjadi. Benang merah di tangan Vema merambat ke seluruh tubuh Riko, memancarkan cahaya merah hangat yang menetralisir kegelapan benang hitam. Boneka Riko mendadak diam. Untuk sesaat, jahitan di matanya terlepas, memperlihatkan mata asli Riko yang penuh air mata.
"Lari... Dra... Lab... Brankas Statis... hancurkan tasnya..." bisik Riko dengan suara yang sangat tipis sebelum ia ambruk menjadi tumpukan kain tak bernyawa di pelukan Vema.
"RIKOOO!" teriak Bagas yang kembali bangkit.
Pak Haryo tampak geram. Ia menyadari kekuatannya mulai goyah oleh kekuatan emosional kami. "CUKUP! Aku akan menyelesaikan ini di tempat yang seharusnya. Besok pagi, saat bel masuk sekolah berbunyi, aku akan memastikan seluruh SMK Pamasta menjadi saksi penghapusan kalian secara permanen!"
Pak Haryo menghilang dalam pusaran benang hitam yang pekat, membawa serta sisa-sisa bayangan di sekitarnya. Ayah tergeletak lemas di halaman, napasnya tersengal-sengal namun ia masih hidup.
Aku menghampiri Ayah, membantunya duduk bersandar pada pilar teras. "Ayah... maafkan aku. Tapi aku harus pergi ke sekolah malam ini juga. Kami harus menghancurkan Tas Induk itu sebelum matahari terbit."
Ayah menatapku dengan tatapan yang sangat kompleks—ada kebanggaan, kesedihan, dan penyesalan di sana. Ia merogoh saku bajunya yang robek dan mengeluarkan sebuah kunci emas kecil yang tampak sangat kuno namun berkilau.
"Ini kunci akses darurat ke Brankas Statis yang asli. Dulu Pak Haryo memberikannya padaku sebagai jaminan kepercayaan saat bisnis kita jaya. Pakailah, Dra. Jadilah auditor yang jujur... sesuatu yang Ayah gagal lakukan sepanjang hidup Ayah."
Aku menerima kunci itu. Logamnya terasa dingin namun memberikan beban tanggung jawab yang nyata di telapak tanganku.
"Vem, Bagas, Nadin," aku menatap ketiga sahabatku. "Malam ini, kita akan melakukan 'Audit Fisik' terakhir di SMK Pamasta. Kita masuk ke laboratorium itu, kita hancurkan tas induk itu, atau kita akan selamanya menjadi angka yang terlupakan dalam sejarah sekolah."
Vema merapikan rambut pendeknya yang terkena debu pertempuran, ia berdiri di sampingku dengan tatapan yang tajam dan berani. "Aku bersamamu, Dra. Sampai jahitan terakhir."
Kami berempat masuk ke dalam mobil. SMK Pamasta sudah menunggu di kejauhan, menara gedungnya tampak seperti raksasa yang siap menelan siapa pun yang berani mengganggu tidurnya. Tapi malam ini, sang auditor tidak lagi membawa buku catatan biasa. Ia membawa kemarahan, persahabatan, dan kunci emas untuk mengakhiri kutukan sepuluh tahun yang telah merantai hidup mereka.
ada apa dgn vema
lanjuuut...