Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid Baru
Hola para kesayangan🤗🤗🤗
Mana suaranya yang kangen sama micin Sasa dan Tamarin?🤩🤩
Cus lah ini kisah mereka, maaf udah bikin kalian nunggu 3 tahun lamanya😇😇
.
.
.
.
.
Pratama Arhan berdiri di tengah lorong lantai dua dengan tas disampirkan di satu bahu. Langkahnya terhenti untuk ketiga kalinya sejak bel masuk pertama berbunyi. Di tangannya, selembar kertas mutasi sudah agak lecek, bukan karena diremas, tapi karena terlalu sering dibuka-tutup sejak ia turun dari mobil tadi pagi.
Sekolah ini lebih besar dari yang ia bayangkan.
Lorong kelas memanjang ke dua arah, dipenuhi pintu-pintu cokelat dengan papan nama putih di atasnya. XII AKL 1, XII AKL 2, XII AKL 3. Nama-nama kelas itu terasa asing, seasing tatapan beberapa siswa yang sempat meliriknya. Tama menghela napas pelan. Jaket hitamnya masih ia pakai, meski udara siang mulai terasa gerah. Bukan soal dingin atau panas, lebih ke kebiasaan lama yang belum sempat ia tinggalkan.
Ia menengok kiri. Buntu.
Menengok kanan. Sama saja.
“Ruang guru tuh yang mana, sih?” gumamnya lirih.
Tama menggeser ransel di pundaknya, lalu melangkah lagi dengan ragu. Setiap kali ia melewati kelas, suara gaduh langsung merembes keluar: tawa, kursi diseret, suara siswa yang saling bersautan. Dunia yang sudah berjalan normal, sementara ia masih tertinggal di titik awal.
Beberapa siswa kelas dua belas yang lewat berpapasan menoleh sekilas. Ada yang berbisik, ada yang terang-terangan menatap. Wajah baru selalu menarik perhatian, apalagi di kelas akhir. Tama pura-pura tak sadar. Pandangannya tetap lurus, meski sebenarnya pikirannya mulai sibuk sendiri.
"Harusnya gampang. Ruang guru pasti dekat kantor. Atau justru di lantai satu?" Ia berhenti lagi di depan tangga. Menggaruk tengkuk, lalu melirik papan petunjuk yang tergantung miring di dinding. Tulisan “Ruang Guru” ada di situ dengan panah yang entah menunjuk ke arah mana. Catnya sudah memudar, seolah sama bingungnya dengan dia.
Tama mendecak pelan.
“Baru hari pertama aja udah nyasar,” gumamnya, lebih ke diri sendiri.
Ia menarik napas dalam-dalam. Pindah sekolah di kelas dua belas bukan hal yang mudah, ia tahu betul. Terlalu banyak yang sudah punya lingkarannya masing-masing. Terlalu banyak cerita yang sudah berjalan tanpa menunggunya masuk. Tapi mau bagaimana lagi? Beberapa hal memang tak bisa dipilih, hanya dijalani.
"Ini gara-gara mama nih, ribet banget. Nyari ruang guru aja gue belum ketemu-ketemu mana ditambah harus nyari ini bocah." keluhnya lagi. Kali ini ia membuka ponselnya, melihat ulang foto yang di kirim mamanya tadi malam.
"Di foto sih cantik. Awas aja kalo cuma filter nih." batinnya, mengingat sekarang banyak sekali foto dan kenyataan berbeda jauh.
Tama melangkah menuruni satu per satu anak tangga, lalu berhenti lagi di lantai satu. Ia menatap denah sekolah di dinding, rasanya menyesal kenapa tadi tak setuju saja saat satpam hendak mengantarnya ke ruang guru. Dari kejauhan, terdengar suara sepatu tergesa dan tawa kecil seseorang yang terdengar terlalu ceria untuk jam pelajaran pertama.
Bug! tiba-tiba dirinya ditabrak dari belakang.
"Eh, sorry... sorry... gue nggak sengaja."
Tama mengepalkan tangannya. Jika di sekolah lamanya ia pasti langsung membentak orang yang menabraknya, tapi kali ini ia tak melakukannya, wajah itu mirip dengan foto yang dikirim mamanya. Cantik.
"Nggak apa-apa." jawab Tama.
"Kenapa, Ra?" tanya dua gadis yang kini berdiri di depan orang yang menabraknya.
"Eh murid baru yah?" tebak gadis yang satunya.
"Iya, kayaknya kita belum pernah liat deh." sambung satunya lagi.
Tama tak menanggapi, ia lebih fokus pada gadis cantik dan imut di depannya. Rasanya tak sia-sia ia menuruti sang mama untuk pindah sekolah kalo ketemu cewek secantik itu. Tama mengulurkan tangannya pada gadis bername tag Lengkara Ayudhia yang tampak biasa saja, tak seantusias kedua temannya.
"Pratama Arhan." ucap Tama mengenalkan diri, "panggil aja Tama." lanjutnya.
Kara membalas uluran tangan Tama, "nama gue!" dia menunjuk name tag nya sendiri, "panggil aja Kara."
"Oke, Kara." jawab Tama yang masih terpaku menatap wajah imut Kara dan enggan melepas jabatan tangannya. Tak dipungkiri di sekolah lamanya pacarnya yang tak terhitung itu juga cantik, tapi Kara cantiknya beda.
"Kalo gue Dila!" masih terpaku memadang Kara, tiba-tiba tangannya ditarik oleh gadis berkaca mata yang sedari tadi bediri di bekalang Kara.
"Kalo dia Selvia." lanjutnya menunjuk gadis satunya lagi.
"Oh, iya." balas Tama ramah. Mata elangnya langsung bisa mengambil kesimpulan dari tiga gadis di depannya. Dila, bisa ia tebak tipe kalem tapi kadang seru, Selvia mungkin paling dewasa dari ketiganya, terlihat dari penampilannya yang seksi namun biasa saja di matanya. Sedangkan Lengkara, dia kalah seksi, bajunya juga standar anak baik-baik tapi manis.
"Kara, bisa anterin gue ke ruang guru? gue murid baru belum tau ruang gurunya dimana." lanjut Tama dengan senyum cool nya. Biasanya para gadis langsung luluh dari menuruti permintaanya.
"Gue aja yang nganter yuk!" bukan Kara, malah Selvia yang nyantol.
Kara melirik sahabatnya, "nggak bisa liat cowok cakep dikit deh, heran!" protesnya.
"Sorry nih gue nggak bisa nganter. Kita mau nyari tempat duduk ternyaman dulu. Kalo kelamaan bisa-bisa gue dapet kursi paling depan. Males banget deh!"
"Tinggal lurus aja, ntar mentok lo belok kanan. Nah di situ ruang guru. Ada nama ruangannya kok." pungkasnya kemudian berlalu setengah berlari dengan kedua sahabatnya.
"Oke, nggak masalah. Sampe ketemu lagi nanti." balas Tama meski mungkin tak didengar oleh Kara karena gadis itu sudah heboh sendiri dengan teman-temannya.
Sesuai petunjuk Kara, Tama menyusuri lorong hingga akhirnya menemukan ruang guru. Ia menuju ruang BK dan menunggu di sana.
"Di sekolah lama langganan BK, kesini baru datang udah langsung ke ruang BK aja." gumamnya sambil membuka tutup lipatan surat mutasinya.
Tama buru-buru membenarkan duduknya dan menyalami dua orang guru yang baru saja datang.
"Murid pindahan dari Surabaya, betul?"
"Iya, bu. Ini surat mutasinya." jawab Tama seraya memberikan surat mutasi, disusul berkas pelengkap yang ia keluarkan dari tas. Setelah mendengarkan penjelasan singkat tentang peraturan sekolah, ia diminta langsung berbaris saja ke lapang karena upacara awal tahun ajaran baru sekaligus pembukaan masa pengenalan lingkungan sekolah akan segera di mulai.
"Izin angkat telepon dulu boleh, bu? dari mama." tanyanya sebelum keluar dari ruang BK.
"Boleh, tapi jangan lama-lama, nanti langsung ke lapang. Cari barisan 12 AKL 1 yah."
"Siap, bu." jawab Tama yang langsung keluar lebih dulu dan mengangkat telepon di teras ruang BK.
"Iya, ma. Aku udah ketemu gurunya." ucap Tama lirih.
"Udah ketemu dia juga. Cantik." Tama hanya mengangguk bosan saat mamanya ceramah panjang lebar terkait Lengkara.
"Iya, Ma. Nanti aku hamilin aja sekalian biar langsung disuruh nikah sama orang tuanya? biar mama puas!" ledek Tama. Ia tak habis pikir kenapa mamanya selalu meminta dia menjaga Lengkara, bahkan memastikan gadis itu baik-baik saja dan bahagia.
Sudut bibir Tama terangkat kala melihat Kara dan dua temannya berbaris paling belakang. Tak peduli mamanya masih ngomel, Tama mematikan ponselnya. "mau jagain calon mantu mama dulu. bye-bye."
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣