NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 : Perjamuan Musuh

Malam itu, aula gedung tua di pinggiran kota Madrid disulap menjadi tempat yang sederhana namun terasa suci. Tidak ada kristal mewah atau karpet merah ribuan Euro. Isabel, dengan kecerdikan barunya, memilih dekorasi bunga liar dan lilin-lilin kecil untuk menciptakan citra "Yayasan Cahaya Harapan" yang rendah hati.

Isabel berdiri di tengah aula, mengenakan gaun putih polos tanpa perhiasan. Wajahnya dipoles sangat tipis, memperlihatkan gurat lelah yang disengaja agar publik melihatnya sebagai pejuang yang mengabdi tanpa henti. Di sekelilingnya, kamera wartawan terus membidik, menangkap setiap momen saat ia memeluk anak-anak yatim atau menyalami lansia dengan penuh kehangatan palsu.

"Terima kasih telah datang," ujar Isabel dengan suara yang lembut dan bergetar di depan mikrofon. "Saya tidak punya jutaan Euro seperti mereka yang tinggal di menara kaca. Saya hanya punya hati dan keinginan untuk memulihkan apa yang telah dihancurkan oleh keserakahan."

Tepuk tangan meriah membahana. Para jurnalis sibuk mencatat kutipan-kutipan "bijak" sang Santa baru Madrid. Namun, di tengah suasana haru itu, pintu besar aula terbuka dengan dentuman pelan namun tegas.

Langkah kaki yang berirama tajam di atas lantai kayu membuat semua orang menoleh.

Alicia Valero melangkah masuk dengan gaun berwarna emas yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, memancarkan aura kemewahan yang tak tertandingi. Di sampingnya, Rafael Montenegro menggenggam tangannya dengan posesif, mengenakan setelan hitam yang membuatnya tampak seperti raja yang sedang mengunjungi wilayah jajahannya.

Keheningan yang mencekam langsung menyergap aula. Para fotografer sejenak lupa bernapas sebelum akhirnya kilatan lampu kamera meledak, menyerbu pasangan paling kontroversial itu.

Isabel membeku di atas panggung. Senyum lembutnya goyah, digantikan oleh kilatan ketakutan di matanya yang coba ia sembunyikan dengan cepat.

"Nyonya Valero? Tuan Montenegro?" suara Isabel terdengar lewat pengeras suara, bergetar karena emosi. "Tempat ini... mungkin terlalu sederhana untuk orang-orang seperti Anda."

Alicia tersenyum, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya namun terlihat sangat memukau di depan kamera. Ia berjalan perlahan menuju panggung, diikuti Rafael yang menatap penonton dengan pandangan yang membuat beberapa orang menunduk.

"Jangan rendah hati, Isabel," suara Alicia menggema, jernih dan berwibawa. "Kami mendengar tentang pekerjaan muliamu. Setelah musibah kebakaran yang nyaris merenggut nyawa kami, kami sadar bahwa hidup ini terlalu singkat untuk menyimpan dendam. Kami datang untuk mendukungmu."

Rafael melangkah maju, mengeluarkan sebuah amplop tebal dan sebuah papan simbolis. "Sebagai tanda syukur atas keselamatan kami, Montenegro Group dan Solera ingin memberikan donasi sebesar sepuluh juta Euro untuk yayasanmu. Tunai, malam ini juga."

Aula itu meledak dalam kegemparan. Sepuluh juta Euro adalah jumlah yang bisa membangun sepuluh yayasan seperti ini. Isabel tampak pucat pasi. Ini bukan bantuan; ini adalah pembunuhan karakter. Dengan menerima uang ini, citra "mandiri" dan "anti-elite" yang ia bangun akan hancur. Ia akan terlihat seperti pion di tangan Rafael. Namun jika ia menolak, ia akan dianggap sebagai wanita sombong yang mengabaikan kesejahteraan orang miskin demi ego pribadinya.

"Sepuluh... juta?" bisik Isabel, tangannya gemetar menerima papan simbolis itu di depan puluhan kamera.

"Gunakan dengan bijak, Isabel," bisik Alicia tepat di telinga Isabel saat mereka berpose untuk foto. "Kami baru saja membeli suaramu. Jangan biarkan aku mendengar satu kata buruk lagi tentang kami di media, atau aku akan mengaudit setiap sen yang kau gunakan."

Isabel terpaksa tersenyum lebar ke arah kamera, meski hatinya terasa seperti sedang diremas. Di depan publik, Alicia dan Rafael adalah pahlawan dermawan, sementara Isabel hanyalah penerima santunan yang tak berdaya.

...****************...

Setelah sesi foto yang menyesakkan, Alicia mencari udara segar di koridor belakang yang remang-remang. Ia butuh waktu sejenak untuk melepaskan topeng senyumannya. Rafael sedang sibuk menghadapi para jurnalis di depan, memberikan narasi "perdamaian" yang telah mereka susun.

Namun, saat Alicia hendak berbelok menuju taman kecil, sebuah tangan kasar menarik lengannya dan menyeretnya ke dalam sebuah ruang penyimpanan yang gelap.

Alicia hendak berteriak, namun sebuah tangan menutupi mulutnya. Bau parfum yang sangat ia kenal—aroma yang dulu ia cintai namun kini ia benci—menyeruak.

"Sstt... ini aku, Alicia. Jangan takut," bisik suara itu.

Alicia menyentakkan tangan itu dengan kasar. Di depannya, berdiri Santiago. Pria itu tampak lebih rapi daripada saat kebakaran, namun matanya memancarkan kegilaan yang tersembunyi di balik senyum tipisnya.

"Santiago? Kau berani menunjukkan wajahmu di sini?!" desis Alicia, matanya menyala karena amarah. "Kau nyaris membakar aku hidup-hidup!"

"Itu adalah kecelakaan, Alicia! Aku hanya ingin memberimu peringatan, aku tidak bermaksud menyakitimu!" Santiago melangkah mendekat, suaranya berubah menjadi lembut, penuh dengan nada manipulasi yang dulu sering ia gunakan. "Lihatlah dirimu... kau bersama Rafael, pria yang hanya mencintai sahammu. Kau tidak bahagia, Alicia. Aku bisa melihatnya."

"Kau gila," jawab Alicia dingin. "Keluar dari sini sebelum aku memanggil Rafael dan dia mematahkan lehermu."

Santiago justru tertawa kecil. Ia tiba-tiba berlutut di depan Alicia, mencoba meraih tangan wanita itu. "Alicia, dengarkan aku. Aku masih punya uang. Aku punya rencana. Mari kita tinggalkan semua kegilaan ini. Kita bisa pergi ke Italia, memulai hidup baru seperti dulu. Aku berjanji akan menjadi suami yang lebih baik. Aku akan meninggalkan Isabel, aku akan meninggalkan dendam ini. Aku hanya ingin kita kembali."

Alicia menatap pria di bawahnya dengan rasa jijik yang tak terlukiskan. "Kau ingin kita kembali? Setelah kau mengkhianatiku dengan Isabel? Setelah kau mencoba membunuhku? Setelah kau menghancurkan perusahaan yang kita bangun bersama?"

"Itu semua karena aku cemburu, Alicia! Karena aku mencintaimu!" teriak Santiago pelan, air mata buaya mulai mengalir di pipinya. "Rafael tidak akan pernah memberimu apa yang aku berikan. Dia hanya menggunakanmu sebagai tameng politiknya. Kembalilah padaku... aku mohon..."

Pukulan Terakhir Bagi Sang Mantan

Alicia menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan perih di dadanya, bukan karena cinta, tapi karena menyesali betapa bodohnya ia dulu pernah mencintai pria ini. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam mata Santiago yang penuh dengan harapan palsu.

"Dengar baik-baik, Santiago," suara Alicia terdengar sangat tenang namun mematikan. "Saat kau menyalakan api di gedung itu, kau bukan hanya membakar bangunan. Kau membakar setiap sisa rasa hormat dan kenangan yang aku miliki tentangmu. Kau pikir aku akan meninggalkan singa seperti Rafael untuk kembali kepada seekor tikus sepertimu?"

Santiago terpaku. "Alicia..."

"Kau bicara tentang cinta?" Alicia tertawa sinis. "Cintamu adalah racun. Cintamu adalah kemiskinan jiwa. Aku tidak butuh janji kosongmu. Aku punya kekuasaan, aku punya pria yang bertaruh nyawa untuk menarikku keluar dari api, sementara kau hanya bisa menonton dari kegelapan seperti pecundang."

Alicia berdiri tegak, membetulkan gaun emasnya yang sedikit berantakan.

"Jika kau mendekatiku lagi, aku tidak akan memanggil polisi. Aku akan membiarkan Rafael melakukan apa yang sangat ingin dia lakukan sejak lama pada pria yang mencoba membunuh tunangannya. Dan percayalah, kau tidak akan punya sisa tubuh untuk dimakamkan."

Santiago mencoba berdiri, wajahnya berubah menjadi merah padam karena malu dan marah. "Kau akan menyesal, Alicia! Rafael akan menghancurkanmu juga!"

"Mungkin," jawab Alicia sambil berjalan menuju pintu. "Tapi paling tidak, aku akan hancur di puncak dunia, bukan di selokan bersamamu."

...****************...

Alicia kembali ke aula dengan wajah yang tegak. Ia menemukan Rafael sedang menunggunya dengan tatapan khawatir yang segera berubah menjadi tajam saat melihat ekspresi Alicia.

"Dia ada di sini, bukan?" tanya Rafael pelan, tangannya melingkar di pinggang Alicia, menariknya mendekat.

"Hanya seekor serangga yang mencoba merayu dewi," jawab Alicia. "Jangan khawatir, aku sudah menginjaknya."

Rafael mencium pelipis Alicia di depan para tamu yang masih terpukau dengan donasi mereka. "Bagus. Karena aku tidak ingin tanganku kotor di acara 'amal' ini."

Acara berakhir dengan kemenangan mutlak bagi pasangan itu. Media memuji kemurahan hati mereka, sementara popularitas "Santa" Isabel mulai merosot karena dianggap sebagai bagian dari permainan kekuasaan mereka.

Kembali di hotel, suasana masih sangat panas. Ketegangan dari pertemuan dengan Santiago dan kemenangan atas Isabel membuat adrenalin Alicia dan Rafael memuncak. Begitu pintu kamar tertutup, Rafael tidak lagi menahan diri.

"Kau milikku, Alicia. Jangan pernah lupa itu," gumam Rafael, mencium Alicia dengan penuh gairah yang menuntut.

"Aku tahu," desah Alicia, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama. "Hanya milikmu."

Malam itu, di tengah kemewahan dan gairah, mereka merayakan kehancuran musuh-musuh mereka. Namun, di luar sana, di kegelapan malam, Santiago berdiri menatap hotel itu dengan tangan yang mengepal. Penolakan Alicia adalah paku terakhir di peti matinya, dan kini ia tidak lagi memiliki apapun untuk dipertaruhkan selain nyawanya sendiri untuk sebuah aksi pembalasan yang terakhir.

Drama ini belum selesai. Api yang padam di gedung Rafael mungkin hanyalah percikan kecil dibandingkan kebakaran yang sedang dipersiapkan Santiago di dalam hatinya yang hancur.

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!