Namanya Nadinda Aulya Putri. Seorang gadis cerewet yang mencoba mencari cintanya. Kehidupan kakaknya menjadikannya cermin untuk dirinya mencari pasangan hidup.
Nadin di pertemukan oleh seorang pria dingin yang berhasil membuat hatinya ingin memiliknya.
Begitu banyak perjuangan dan tantangan yang harus dia lalui untuk mendapatkan tambatan hatinya.
"Aku menyukaimu ...." teriak gadis itu. membuat pria yang hendak meninggalkannya itu berhenti. Pria beda usia sepuluh tahun itu telah membuatnya mengalah dari egonya.
"Ya ...., apa kau dengar ...., aku sungguh menyukaimu ..." teriak lagi gadis itu setelah pria itu berbalik menatapnya. Pria dewasa yang usianya kini sudah tiga puluh dua tahun, cukup matang untuk membina rumah tangga.
"Ciihhh ....., menyukaiku ...." ucap pria itu dingin.
"Aku akan membuktikannya padamu, bahwa aku pantas mendapatkan cintamu." ucap gadis itu yakin.
"Apa yang kau punya, hingga membuatmu seyakin itu?" tanya pria itu.
"Aku punya hatiku, aku punya keyakinan ...., apakah itu belum cukup ...?"
"Kalau begitu, buktikan ...., buat aku tertarik padamu ...." ucap pria itu lalu berbalik meninggalkan gadis itu seorang diri. gadis itu adalah Nadin.
Setelah pria itu pergi. Nadin hanya bisa menjatuhkan tubuhnya di tanah. ia terduduk dengan lemas. seakan tulang-tulang nya tak mampu ia gunakan untuk menopang tubuhnya.
"semenyedihkan inikah aku ......, aku benci ...., kenapa harus menyukainya ...., aku benci .....!" teriak Nadin meluapkan kekesalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar? Istri?
Bukankah cinta juga butuh usaha? Cinta akan datang.
*****
Di sebuah kafe tampak dua orang
sedang merecanakan sesuatu, dua orang itu adalah Viona dan Divta, Divta sudah
benar-benar datang ke tanah air, ia menatap wanita di hadapannya.
Rendi yang mendapat laporan dari anak buahnya segera datang ke
tempat dimana Viona dan Divta bekerja sama. Seperti biasa Rendi akan menyadap
pembicaraan mereka.
“bagaimana, apa kau sudah menemukan identitas lengkap istri Agra?”
tanya Divta dengan tatapan yang sama persis seperti yang di miliki Agra, mereka
memiliki kemiripan dalam hal wajah
“Namanya PUTRI AULIA ZAHRA, dia Cuma gadih biasa, gadis rendahan”
jawab Viona begitu meremehkan Ara
“Aku butuh biodatanya, bukan keterangan yang kamu buat sendiri”
“Baiklah ..., ini kak datanya, di situ juga lengkap dengan fotonya,
keluarganya, dia hanya memiliki seorang ayah dan seorang adik perempuan”
Untuk apa bang Divta mencari tahu tentang Ara. Apa dia tahu
sesuatu? Batin Rendi.
Rendi terus saja mengawasi mereka sampai pertemuan mereka berakhir.
Ada rencana apa lagi?
Rendi pun keluar dari kafe setelah mereka berdua keluar, tapi
langkahnya terhenti saat berpapasan dengan orang yang ia kenal.
“Nathan ...”
“Hei ..., Rend ...” sapa Nathan balik. “senang bertemu denganmu di
sini.”
“Ya ..., sama siapa?” tanya Rendi.
“Tuh sama istri aku ...” ucap Nathan sambil menunjuk seorang wanita
anggun dengan perut yang sedikit buncit, sepertinya tengah hamil lima bulanan.
“Sayang ...!” Nathan pun memanggil istrinya, wanita itu pun mendekat
pada Nathan dan Rendi.
“Kenalkan, dia ini sepupu aku, putranya paman Salman. Namanya Rendi” Ucap Nathan
pada istrinya. Wanita cantik itupun mengulurkan tangannya.
“Hay ..., namaku Ruby ..., kita kok belum pernah ketemu ya?” tanya
wanita yang mengaku namanya Ruby itu.
“Iya ...” ucap Rendi.
“Ayo kita duduk dan mengobrol santai, sambil perkenalan.” Ajak
Nathan, mau tak mau Rendi pun ikut kembali duduk.
Mereka pun duduk dan memesan minuman dan makanan.
“Rendi ini memang sengaja di sembunyikan sama paman Salman.” Ucap
Nathan.
“Tidak seperti itu.” Ucap Rendi.
“Aku penasaran, bagaimana ceritanya Rendi tak pernah hadir di acara
keluarga?” ucap Ruby penasaran.
“Yah ..., itulah istimewanya Rendi, tak semua orang bisa
mengenalnya.” Ucap Nathan.
“Tidak seperti itu juga.” Ucap Rendi sedikit melengkungkan
senyumnya.
“Oh iya ..., ngomong-ngomong dimana istrimu?” tanya Roby.
“Saya belum menikah.”
Astaga ini pembicaraan macam apa?
“Waah sayang sekali, kenapa? Kamu kan tampan, gagah, pasti banyak cewek yang suka sama kamu, sudah punya pacar?” tanya
Ruby , pertanyaan Ruby itu cukup membuat Rendi tercengang. Bagaimana selama ini
dia tidak pernah memikirkan hal itu. Di usianya yang sudah matang ini
seharusnya sudah memiliki setidaknya seorang kekasih.
“Kata paman Salman, bulan depan Rendi akan datang dengan pacarnya,
Sayang.” Ucap Nathan. Seketika membuat Rendi tersedak air liurnya sendiri.
“Huk huk huk ...”
“Kau kenapa? Tidak papa kan? Minumlah ...” Ruby menyodorkan minuman
ke Rendi, dan Rendi pun langsung meneguknya habis.
“Aku tidak pa-pa, maaf aku harus segera pergi, ada pekerjaan yang
harus aku kerjakan.” Pamit Rendi segera berdiri dan menundukkan punggungnya
memberi hormat.
“Baiklah ...., tapi lain kali kita bisa doubledate kan?” tanya
Nathan. Dan Rendi pun hanya mengangguk dan meninggalkan mereka. Akhirnya
setelah keluar dari kafe ia bisa bernafas lega.
Bagaimana dia bisa memikirkan seorang istri, bahkan sudah usia tiga
puluh tahun ini, satu kali pun belum pernah berpacaran, ia tidak ada waktu
untuk memikirkan dirinya sendiri. Menurutnya memiliki seorang wanita di sisinya
akan menghambat langkahnya.
****
Hari ini adalah hari dimana Ara akan melakukan pemerikasan
kandungan di klinik dr. Frans. Rendi sudah menghubungi pak Mun untuk datang ke
kafe menjemput Ara. Karena jika di biarkan berangkat sendiri bukan tidak
mungkin dia akan berbalik arah.
Rendi sudah menunggu di ruangan praktek dr. Frans. Saat Ara datang
Rendi pun segera menyambutnya.
“selamat pagi nona” sapa Rendi yang segera bangun dari duduknya
saat ara datang
“pagi ..., pak Rendi di sini
juga?” kegugupan Ara semakin bertambah saat melihat Rendi juga berada di situ.
“kami menunggu anda nona”
“apa nona sudah siap?”
“sebentar ...sebentar , tapi apa boleh aku bertanya?” Ara kembali
memundurkan langkahnya
“silahkan nona”
“yang memeriksa .....?”
“tenang nona, yang memeriksa anda asisten dokter Frans” tak berapa
lama dokter frans kembali masuk dengan seoarang perempuan cantik berjilbab,
usianya sepertinya tak beda jauh dengan Ara.
Asisten dokter Frans yang bernama dokter Sifa segera memeriksa
kandungan Ara, dan benar ternyata Ara sudah hamil. Ara begitu terkejut
mengetahuinya.
“apa yang harus dilakukan setelah ini dokter?” Rendi mewakili Ara
untuk bertanya, ara masih terlihat syok hingga tak mampu berkata-kata. Dokter Sifa pun menjelaskan panjang lebar.
Setelah selesai dengan pemerikasaannya, Ara berpamitan ke toilet. Rendi pun harus menyelesaikan dulu
urusannya dengan dr. Frans dan dokter Sifa.
Tapi setelah lama Ara tak juga
kembali, Rendi pun mencari keberadaan Ara.
Ia menyusuri seluruh toilet klinik, tapi tak juga menemukannya,
setelah berjalan ke sana-kemari akhirnya Rendi bisa menemukan Ara. Ara sedang
berjalan di sebuah koridor. Ia melihat Ara tampak tidak fokus, Rendi pun segera
mendekati Ara.
“nona ..., anda tidak pa pa ...” ucapan Rendi segera membuyarkan
lamunannya.
“ehh ...., tidak ....”
“mari saya antar nona ...” Ara pun hanya menganggu dan mengikuti
langkah Rendi yang akan mengantarnya pulang, Ara yang mulanya ingin pulang
sendiri kini menjadi tak punya nyali untuk pulang sendiri.
Ara sudah duduk di jok belakang , sedangkan Rendi seperti biasa
duduk di samping pak Mun, Rendi terus memandangi Ara yang masih tampak syok, Ara
masih diam seribu bahasa.
“apa sebenarnya yang sedang Ara pikirkan? Apa dia tidak senang
dengan kehamilannya”batin Rendi
“nona ...”
“hemmm.....”
“langsung pulang atau nona mau ketempat lain dulu?”
“langsung pulang saja”
“baik nona”
“jalan pak Mun...”
Sepanjang perjalanan pun masih sama, Ara masih setia dengan
kediamannya ia terus menatap ke sepanjang jalan, matanya tampak tidak fokus,
sedangkan Rendi sesekali melihat ke arah Ara berharap wanita itu mau bicara
padanya
Hingga tanpa terasa mereka pun sampai di depan toko, mobil pun
berhenti, tapi Ara tetap masih bergeming dari duduknya, Rendi lebih dulu turun
dan membukakan pintu untuk ara
“sudah sampai nona ...” rendi sudah berdiri di samping Ara duduk
dengan memegang pintu mobil
Ara pun segera turun dari mobil, sebelum kakinya melangkah masuk ke
dalam toko, Ara pun kembali memandang Rendi.
“Rend ...”
“iya nona ...”
“jangan beritahu semuanya pada Agra ...” Rendi hanya diam mendengar
permintaan Ara yang dianggapnya begitu aneh, bagaimana ia menyembunyikan
kehamilannya pada suaminya sendiri.
“plisss, aku janji nanti aku sendiri yang akan memberi tahunya”
“baik nona ..., kalau begitu saya permisi dulu ..., selamat
istirahat nona” Ara tak menjawab ucapan Rendi, ia langsung saja masuk ke dalam
toko.
Di dalam toko langsung di sambut oleh Nadin.
“kak ..., bagaimana? Si balok es nggak di suruh masuk tuh, masih ngiatin tuh kak?” tapi Ara masih tetap
diam tanpa menyahuti perkataan adiknya.
Nadin secara bergantian melihat Ara dan Rendi, dan matanya langsung
tertuju pada Rendi, Rendi yang merasa di tanya hanya mengangkat kedua bahunya
tanda tak tahu.
Ara masuk ke dalam ruangannya, sedangkan Nadin memilih keluar
menghampiri Rendi yang hampir masuk ke dalam mobilnya.
“Tunggu ...!”
Mau tak mau Rendi pun menghentikan langkahnya tanpa mau membalik
tubuhnya, ia tetap berdiri memunggungi Nadin,
Seketika sekelebat ucapan Nathan dan
Istrinya kembali terngiang di ingatannya saat melihat Nadin, Ada apa?.
Ah .... tidak mungkin aku memanfaatkan anak ini, dia terlalu kecil. Batin
Rendi
“Kak Ara kenapa?” tanya Nadin. Karena tak juga mendapat jawaban.
Nadin pun dengan keras menarik tangan Rendi, tapi nyatanya tenaganya tak lebih
kuat dari pada tenaga pria itu, Rendi menarik balik tubuh Rendi, hingga membuat Nadin malah terjerembak di antara mobil
dan tubuh kekar Rendi.
Rendi mencondongkan tubuhnya hingga menindih tubuh
Nadin.
“Kenapa kau selalu cari gara-gara?” tanya Rendi dengan masih dalam
posisi yang sama, nafas mereka saling beradu. Matanya tajam menatap Nadin.
Pipi Nadin sudah mulai memerah, entah kenapa wangi tubuh Rendi
sudah mampu menyihirnya. Jantungnya lagi-lagi bekerja lebih.
“A-aku ..., Cuma mau tanya kakakku kenapa?” tanya Nadin, ucapannya
tertahan di tenggorokan, seakan jantungnya kekurangan pasokan oksigen.
“Ku peringatkan, jangan banyak bertanya! Anak kecil.....” Ucap Rendi, lalu melepaskan
tubuh Nadin dan menggesernya agar berpindah dari pintu mobil, Rendi pun segera
membuka pintu mobil dan meninggalkan Nadin begitu saja.
Astaga ...., akun kehabisan oksigen ... ucap Nadin
sambil memegangi dadanya saat mobil Rendi sudah menjauh darinya.
****
**Cinta itu, saat kita merasa ada yang aneh pada diri kita saat dekat dengannya, dan kita akan merasa ada yang hilang dari diri kita saat dia jauh.
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya
Terimakasih
Happy Reading 😘😘😘😘😘**