Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Darrel sambil menatap intens ke arah Vira yang duduk di depannya.
Saat ini mereka berada di sebuah kafe modern yang terdapat arena permainan anak-anak sehingga mereka bisa mengobrol dengan tenang sambil tetap mengawasi Zayn dan Zoey bermain.
Mendapat tatapan seperti itu, wajah Vira langsung merona. Ia menundukkan kepala sambil memilin jemarinya. Entah mengapa tiba-tiba ia menjadi gugup. Semua kalimat yang telah tersusun rapi dalam kepalanya mendadak hilang.
"Astagaaa, ke mana larinya kata-kata yang sudah aku susun tadi?" gumamnya dengan kesal.
"Kenapa otakku tiba-tiba nggak berfungsi, sih? Benar-benar meresahkan ini Pak Duda," batinnya.
"Tenang, Vira. Tenang, oke!" batinnya lagi. "Lebih baik ungkapkan perasaanmu, diterima atau nggak itu urusan belakangan. Yang penting kamu sudah jujur,"
Vira lantas menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kasar.
Sementara Darrel dengan sabar menunggu sambil menatap gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya.
"Saya... Saya menyukai Pak Darrel." Selesai berkata, Vira memberanikan diri untuk menatap Darrel. Ia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu.
Darrel terkejut, matanya sedikit membulat. Dia tidak menyangka Vira akan mengatakan hal itu. Dia terdiam, sambil berusaha mencerna kata-kata Vira.
"Kenapa?" tanya Darrel akhirnya, dengan nada serius. "Kenapa kamu menyukai saya?"
Vira kembali menunduk. "Saya... saya nggak tahu kenapa bisa menyukai, Bapak. Tapi saya merasa jantung saya berdebar-debar dengan cepat jika saya bertemu atau... Ya pokoknya gitu, deh," kata Vira dengan jujur.
"Pak Darrel kan, lebih dewasa pasti tahu apa maksud saya." Vira menambahkan.
Darrel menghela napas. "Vira, kamu tahu kan, saya ini seorang duda. Saya punya dua anak. Hidup saya nggak sesederhana yang kamu bayangkan."
Vira mengangkat wajahnya dan menatap Darrel dengan tatapan tulus. "Saya tahu, Pak Darrel. Saya siap menerima semua itu."
Darrel terdiam seraya menatap Vira dengan tatapan menyelidik. "Kamu yakin? Kamu siap menerima saya dan anak-anak saya? Kamu siap dengan segala konsekuensinya?"
"Saya yakin, Pak Darrel," jawab Vira dengan mantap.
Darrel menghela napas lagi. "Vira, saya ini pria dewasa. Saya nggak ingin main-main dalam sebuah hubungan. Saya mencari seorang wanita yang bisa menemani saya sampai akhir hayat."
"Saya juga sama, Pak. Saya mencari seorang pria yang bersedia berkomitmen dengan saya dalam suka dan duka" jawab Vira.
Darrel masih belum yakin dengan perkataan Vira. Dulu Nancy juga berkata meyakinkan seperti itu dan ternyata dia ditinggalkan pada akhirnya. Dia tidak ingin gagal membina rumah tangga untuk kedua kalinya.
"Tapi Vira, bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka akan menerima saya? Apa mereka akan setuju kamu menjalin hubungan dengan saya?"
Vira tersenyum lembut. "Mereka tidak pernah mempermasalahkan status seseorang. Yang penting pria itu bertanggung jawab dan mencintai saya. Dan saya yakin, mereka akan mendukung keputusan saya."
"Kamu yakin?" tanya Darrel, masih ragu.
"Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya mendapatkan yang terbaik. Saya tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari."
Pengalamannya yang pernah gagal mempertahankan rumah tangga membuat Darren sangat hati-hati, meski dia tidak memungkiri jika hatinya telah tertaut pada Vira.
Vira meraih tangan Darrel dan menggenggamnya dengan erat. "Pak Darrel, yang terpenting adalah kebahagiaan saya. Kalau saya bahagia bersama Bapak dan anak-anak, orang tua saya juga pasti akan bahagia. Saya yakin itu."
Darrel menatap Vira dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia melihat ketulusan di mata gadis itu dan merasa terharu dengan keyakinan Vira.
"Saya nggak tahu harus bilang apa," kata Darrel akhirnya. "Saya masih nggak menyangka gadis muda seperti dirimu mau menerima saya apa adanya."
Vira tersenyum. "Pak Darrel juga baik, kok. Malahan terlalu baik buat saya."
Darrel tertawa kecil. "Kamu ini bisa saja," katanya.
Terjadi keheningan sesaat. Darrel dan Vira saling bertatapan dengan senyum di wajah masing-masing. Suasana di antara mereka terasa hangat dan nyaman.
Darrel kemudian menarik napas dalam-dalam, hatinya masih diliputi sedikit keraguan. Dia tidak ingin buru-buru membuat keputusan, tetapi juga tidak ingin memberi harapan palsu pada anak gadis orang.
"Tapi, Vira. Bisakah kamu memberi saya waktu?" tanya Darrel. "Banyak hal yang perlu saya pertimbangkan."
"Apa itu artinya Pak Darrel menolak saya?" tanya Vira, ia merasa sedikit kecewa.
"Bukan seperti itu. Terus-terang saya juga menyukaimu. Kamu gadis yang pemberani. Untuk pertama kalinya ada seorang gadis yang memarahi saya di depan umum hanya karena mengkhawatirkan anak saya," ungkap Darrel.
Vira membulatkan matanya antara terkejut dan malu karena ternyata Darrel masih mengingat kejadian itu. "Pak Darrel masih ingat?"
"Tentu saja, karena hal itu yang membuat saya tidak bisa melupakan kamu," ucap Darrel jujur.
Vira langsung tersenyum malu-malu mendengar ucapan Darrel. Jantungnya jedag-jedug berdisco ria di dalam sana.
"Saya janji, saya akan memberikan jawaban secepatnya," ucap Darrel meyakinkan.
Vira terdiam sejenak. Ia menatap Darrel dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Berapa lama?" tanya Vira akhirnya. "Saya nggak mau menunggu terlalu lama, Pak. Saya kan, juga punya perasaan."
Darrel menggenggam tangan Vira dengan erat. "Saya ngerti, Vira. Saya janji, nggak akan membuat kamu menunggu terlalu lama. Saya cuma butuh beberapa hari untuk memikirkannya dengan matang."
Vira menghela napas. "Ya, sudah. Saya kasih Pak Darrel waktu. Tapi jangan lama-lama, ya," kata Vira. "Kalau Pak Darrel kelamaan mikirnya, nanti saya diambil orang, lho."
Darrel tertawa kecil. "Nggak akan saya biarin kamu diambil orang," jawabnya.
"Yes...!" seru Vira dalam hati.
Selanjutnya Darrel dan Vira saling tersenyum dengan malu-malu. Suasana di antara mereka kembali mencair.
Keduanya kemudian berdiri lalu menghampiri Zayn dan Zoey yang sedang asyik bermain di arena bermain. Mereka bergabung dengan anak-anak itu, melupakan sejenak masalah yang sedang mereka hadapi.
.
"Bagaimana pendapat kalian jika abang menikah?" tanya Darrel pada Daniel dan Zeya.
Saat ini Darrel mendatangi kediaman adiknya dan ingin meminta pendapat mereka.
"Apa? Abang mau menikah?" seru Daniel dan Zeya. Keduanya sama-sama terkejut mendengar pertanyaan abang mereka.
"Serius? Sama siapa? Gadis apa janda, Bang?" tanya Daniel penasaran.
"Ataukah dia gadis yang dimaksud Bang Lucky waktu itu?" timpal Zeya bertanya.
"Iya," jawab Darrel. "Dia menyatakan perasaannya sama abang kemarin."
Daniel dan Zeya saling berpandangan dengan mata membelalak tak percaya. Kemudian, Daniel bertanya dengan nada serius, "Apa Abang yakin? Bagaimana dengan Zayn dan Zoey? Abang harus memikirkan perasaan mereka juga."
Zeya mengangguk setuju. "Iya, Bang. Kami nggak mau Abang salah pilih. Kami nggak mau Abang menyesal di kemudian hari."
Darrel menghela napas. "Abang tahu itu. Maka dari itu, abang pengen tahu pendapat kalian. Apa kalian setuju kalau Abang menikah sama dia?"
Daniel dan Zeya saling bertukar pandang dalam diam, seolah sedang berkomunikasi tanpa kata. Akhirnya, Zeya berkata, "Kami sih, terserah Abang saja. Yang penting Abang bahagia. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Darrel penasaran.