Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARINI MENCARI BUKTI
Dua minggu setelah sesi konseling pertama, Arini mulai merasa sedikit lebih tenang. Rizky datang setiap pagi untuk membantu sarapan dan antar Tara ke sekolah, kemudian membantu mengurus bisnis kue "Rasa Arini" sebelum pergi ke kantor.
Semua berjalan dengan cukup baik, tapi ada bagian dalam dirinya yang masih sulit untuk sepenuhnya mempercayai suaminya.
Hari Sabtu pagi, Arini sedang membersihkan gudang kecil di belakang rumah yang digunakan untuk menyimpan bahan baku dan perlengkapan kue.
Saat dia menyusun kotak-kotak kemasan yang baru saja datang, dia menemukan sebuah tas kerja hitam yang tidak dikenal – terletak di sudut paling dalam gudang, tertutup oleh beberapa karung tepung.
Dia mengangkat tas itu dengan hati-hati. Tasnya cukup berat dan tampak belum digunakan dalam waktu lama.
Tanpa sengaja, ritsletingnya terbuka sedikit, dan dia melihat beberapa berkas serta sebuah foto yang terpampang di atasnya.
Saat dia mengambil foto itu, tangannya langsung gemetar – itu adalah foto Rizky dan Lina yang sedang duduk bersama di kedai kopi, wajah mereka penuh dengan ekspresi yang dekat dan akrab.
Di sebelah foto ada juga sebuah surat dengan tulisan tangan yang jelas milik Lina.
Arini merasa dada sesak dan pandangannya mulai kabur karena air mata. Dia membuka surat itu dengan tangan yang bergetar dan mulai membacanya:
"Pak Rizky, saya tidak bisa berhenti memikirkan Anda. Setiap hari bekerja bersama Anda adalah momen terbaik dalam hidup saya. Saya tahu bahwa apa yang kita rasakan adalah salah, tapi saya tidak bisa mengontrol perasaan saya. Jika Anda merasa hal yang sama, saya akan selalu menunggu Anda – Lina."
Tangisan Arini terdengar dalam kesunyian gudang. Semua usaha Rizky untuk memperbaiki diri dalam beberapa minggu terakhir seketika lenyap, digantikan oleh rasa sakit hati yang lebih dalam dari sebelumnya.
Dia menyimpan surat dan foto kembali ke tas, kemudian menutupnya dengan kuat.
Bu Siti yang sedang membersihkan halaman mendengar suara tangisnya dan segera datang ke gudang. "Arini, sayang! Apa yang terjadi?"
Arini tidak bisa berkata apa-apa, hanya menyerahkan tas dan surat itu kepada ibunya. Bu Siti membacanya dengan wajah yang semakin memerah karena marah.
"Bagaimana bisa dia menyimpan barang seperti ini di sini? Padahal dia sudah berjanji untuk berubah!" ujar Bu Siti dengan suara yang naik.
"Saya akan menghubungi dia sekarang juga dan memintanya untuk tidak datang lagi ke sini!"
"Tidak Bu, tunggu dulu." Arini menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri.
"Saya perlu mencari tahu sendiri apakah ada hal lain yang dia sembunyikan. Saya tidak ingin membuat keputusan tergesa-gesa lagi."
Sore itu, ketika Rizky datang seperti biasa untuk membantu mengantar pesanan kue, Arini menghadapinya dengan wajah datar.
"Kamu pernah menyimpan sesuatu di gudang belakang?"
Rizky mengerutkan kening dengan bingung. "Gudang? Tidak, saya tidak pernah menyimpan apa-apa di sana. Kenapa tanya?"
Arini mengambil tas hitam dan menaruhkannya di atas meja tamu.
"Kalau begitu, ini tas milik siapa? Dan mengapa ada surat dan foto seperti ini di dalamnya?"
Rizky melihat tas dan surat itu dengan wajah yang langsung menjadi pucat. Dia mengambilnya dengan hati-hati dan membacanya, kemudian menutup matanya dengan rasa bersalah yang mendalam.
"Saya tidak tahu tas ini ada di sini, sayang. Saya jujur." ujarnya dengan suara lemah.
"Surat itu adalah sesuatu yang diberikan Lina padaku beberapa bulan yang lalu, sebelum semua yang terjadi terbongkar. Saya sudah membuangnya, tapi mungkin saya salah tempat menyimpannya dan kemudian terlupa."
"Kalau begitu kenapa ada foto kalian yang sedang bersama-sama di kedai kopi?" tanya Arini dengan suara yang penuh dengan rasa sakit.
"Apakah kalian masih bertemu di belakang saya?"
"Tidak pernah, sayang! Itu foto dari sebelum kita semua tahu tentang hubungan yang salah ini. Saya sudah tidak pernah bertemu atau berkomunikasi dengan dia lagi sejak dia pindah." Rizky mengambil tangannya dengan lembut tapi Arini menarik diri.
"Saya bisa menunjukkan bukti kalau kamu mau – saya sudah menghapus nomornya dari telepon dan tidak ada satu pun pesan atau panggilan dari dia semenjak itu."
Arini tidak bisa berkata apa-apa. Dia ingin mempercayainya, tapi rasa sakit hati dan kecurigaan yang sudah tertanam dalam dirinya membuatnya sulit untuk melakukannya.
"Pulanglah sekarang, Rizky. Saya butuh waktu untuk berpikir sendiri."
Rizky mengangguk dengan hati yang berat. "Baiklah sayang. Saya akan pergi sekarang, tapi saya ingin kamu tahu bahwa saya benar-benar tidak menyembunyikan apa-apa dari kamu. Saya akan memberikan semua bukti yang kamu butuhkan kapan saja."
Setelah Rizky pergi, Arini mengambil telepon dan menghubungi Rina. Dia perlu tahu apakah yang dikatakan Rizky benar atau tidak.
"Hai Arini, apa kabarmu?" suara Rina terdengar dari sisi lain.
"Kak Rina, saya perlu bertanya padamu. Apakah benar Lina sudah pindah dan tidak ada hubungan lagi dengan Rizky di kantor?"
Ada jeda sebentar sebelum Rina menjawab. "Benar sekali, Arini. Lina mengundurkan diri sekitar tiga minggu yang lalu dan sudah pindah ke Surabaya untuk melanjutkan kuliahnya. Saya sudah memeriksa semua catatan kantor dan tidak ada satu pun kontak atau pekerjaan yang menghubungkannya dengan perusahaan atau dengan Rizky lagi."
Arini merasa sedikit lega mendengar kata-kata Rina, tapi rasa keraguan masih tetap ada. "Terima kasih Kak. Saya hanya perlu memastikan saja."
Keesokan harinya, Arini memutuskan untuk mengunjungi kantor Rizky sendiri. Dia ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kondisi kerja suaminya dan apakah benar tidak ada jejak Lina lagi di sana.
Rina dengan senang hati menyambutnya dan membawanya berkeliling kantor.
"Lihat ini, Arini." Rina membuka lemari arsip dan menunjukkan berkas pengunduran diri Lina.
"Dia sudah mengurus semua administrasi dengan benar dan tidak meninggalkan satu pun pekerjaan yang belum selesai. Dia bahkan memberikan catatan rinci tentang proyek yang pernah dia tangani agar orang lain bisa melanjutkannya."
Arini melihat berkas itu dengan cermat. Di bagian akhir ada catatan tangan dari Lina: "Saya sangat menyesal atas semua masalah yang saya timbulkan. Saya berharap keluarga Pak Rizky bisa kembali bahagia dan damai."
Setelah itu, Rina membawanya ke meja kerja Rizky. Mejanya rapi dan teratur, ada foto keluarga di sudut mejanya dan beberapa catatan tentang bisnis kue Arini yang dia tulis dengan rapi.
Tidak ada satu pun jejak yang menunjukkan hubungan dengan Lina.
"Saya tahu bahwa kamu masih sulit mempercayainya," ujar Rina dengan nada yang penuh pengertian.
"Tapi saya bisa melihat bahwa dia benar-benar berusaha untuk berubah. Dia bahkan mengajukan permohonan untuk pindah ke departemen yang tidak lagi menangani proyek apa pun yang pernah dipegang oleh Lina."
Arini mengangguk perlahan. Saat dia akan pulang dari kantor, dia melihat sebuah kotak kecil di meja resepsionis dengan nama dia tertulis di atasnya.
Resepsionis memberikannya padanya dan mengatakan bahwa dikirim oleh seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya.
Ketika dia membuka kotak itu di dalam mobil, ada sebuah surat dan sebuah bingkisan kecil di dalamnya. Suratnya ditulis dengan tangan yang rapi:
"Bu Arini, saya adalah Lina. Saya tahu bahwa surat ini mungkin akan membuat Anda marah, tapi saya merasa perlu untuk memberitahu Anda bahwa saya benar-benar sudah tidak ada hubungan dengan Pak Rizky lagi. Saya sudah pindah ke Surabaya dan sedang mengejar pendidikan saya lagi. Semua yang terjadi di masa lalu adalah kesalahan saya yang besar, dan saya sangat menyesal telah menyakiti Anda dan keluarga Anda. Bingkisan kecil ini adalah bentuk permintaan maaf saya – itu adalah desain kue yang pernah saya pikirkan untuk bisnis Anda. Semoga Anda bisa menerimanya dan semoga keluarga Anda selalu bahagia. Salam hormat, Lina."
Di dalam bingkisan ada sebuah sketsa desain kue dengan tema taman bunga yang sangat indah dan rinci, lengkap dengan catatan tentang bahan dan cara membuatnya. Arini melihat sketsa itu dengan hati yang mulai melunak.
Semua bukti yang dia temukan menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Rizky adalah benar – hubungan dia dengan Lina sudah benar-benar berakhir.
Saat dia sampai di rumah, Rizky sudah ada di sana dengan membawa makanan dari restoran favorit mereka. Dia berdiri dengan ragu di depan pintu, sepertinya tidak berani masuk.
"Masuklah, Rizky," ujar Arini dengan suara yang lebih lembut. "Saya ingin berbicara denganmu."
Mereka duduk bersama di ruang tamu, dan Arini menunjukkan surat serta bingkisan dari Lina.
"Saya sudah mencari tahu semua yang bisa saya cari tahu. Dan sekarang saya tahu bahwa kamu tidak menyembunyikan apa-apa dari saya."
Rizky mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Saya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang menyakitkan kamu lagi, sayang. Saya berjanji."
Arini mengambil tangannya dengan lembut. "Saya tahu bahwa memperbaiki kepercayaan tidak mudah dan tidak bisa dilakukan dalam semalam. Tapi saya mau mencoba lagi – untuk kita berdua dan untuk Tara."
Di kamar atas, Tara sedang menyaksikan mereka dari celah pintu. Ketika dia melihat kedua orang tuanya sedang memegang tangan dan saling melihat dengan mata penuh harapan, dia tersenyum lebar dan mulai berlari menuju mereka dengan membawa boneka kesukaannya.
"Mama! Papa! Ayo kita main bersama ya!"
Mereka melihat anak kecil itu dengan senyum bahagia.