NovelToon NovelToon
Istri Simpananku, Canduku

Istri Simpananku, Canduku

Status: tamat
Genre:Poligami / CEO / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:448.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Revana Arnelita...tidak ada niatan menjadi istri simpanan dari Pimpinannya di Kantor. namun kondisi keluarganya yang mempunyai hutang banyak, dan Ayahnya yang sakit-sakitan, membuat Revana menerima tawaran menjadi istri simpanan dari Adrian Wijaksana, lelaki berusia hampir 40 tahun itu, sudah mempunyai istri dan dua anak. namun selama 17 tahun pernikahanya, Adrian tidak pernah mendapatkan perhatian dari istrinya.
melihat sikap Revana yang selalu detail memperhatikan dan melayaninya di kantor, membuat Adrian tertarik menjadikannya istri simpanan. konflik mulai bermunculan ketika Adrian benar-benar menaruh hatinya penuh pada Revana. akankah Revana bertahan menjadi istri simpanan Adrian, atau malah Revana menyerah di tengah jalan, dengan segala dampak kehidupan yang lumayan menguras tenaga dan airmatanya. ?

baca kisah Revana selanjutnya...semoga pembaca suka 🫶🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Bab 19

...“Rev… sekali ini saja, berhenti menolak perasaanmu. Aku tahu kamu merasakannya juga.”...

...-Adrian-...

Hari-hari pun bergulir, membawa perubahan perlahan namun nyata. Revana masih sering bersikap dingin dan menjaga jarak setiap kali berhadapan dengan Adrian. Namun, di balik tatapan tajamnya dan sikap ketusnya, Adrian justru melihat sesuatu yang lain, rasa salah tingkah yang berusaha disembunyikan. Dan hal itu membuatnya semakin gemas.

Sementara itu, hubungan Revana dengan Alesya dan Andrew berkembang begitu cepat. Anak-anak itu dengan antusias selalu menunggu akhir pekan. Mereka kerap mengajak Revana ikut berenang di rumah besar Oma Opa mereka, atau sekadar menonton film bersama di ruang keluarga.

Seperti saat sore akhir pekan ini.

“Tante Revana, nanti kita pilih baju renang sama-sama ya! Tante pasti cocok pakai warna biru, biar sama kayak aku.” kata Alesya sambil menarik tangan Revana.

Andrew menyahut sambil tersenyum.

“Tante Revana jangan takut air, aku bakal jagain kok. Aku kan udah jago renang.”

Revana hanya mengangguk sambil tersenyum, menuruti semua apa kata anak-anak Adrian.

Alesya dan Andrew selalu cukup menghibur hati Revana, di saat dirinya lelah dengan pekerjaan di kantor Adrian yang tak ada habisnya.

Maria, yang sering mengamati dari jauh, semakin yakin pada pilihan putranya. Sementara Gerald lebih memilih tersenyum sambil sesekali menggeleng, melihat Adrian yang kini seperti anak muda jatuh cinta lagi, selalu mencari-cari cara untuk dekat dengan Revana yang selalu acuh padanya.

Namun, di antara semua momen hangat itu, tetap saja ada adegan klasik antara Adrian dan Revana.

Seperti saat, Adrian sengaja menunggu Revana yang baru saja selesai membantu Alesya mengerjakan tugas akhir sekolahnya.

“Kalau kamu galak terus begini, aku bisa-bisa makin jatuh hati, loh.” kata Adrian dengan senyum jahil.

Revana mendelik sambil meletakkan buku Alesya yang dia pegang.

“Pak Adrian, jangan bercanda nggak penting. Saya datang ke sini buat nemenin anak-anak, bukan dilihatin aneh-aneh.”

Adrian tertawa kecil, mendekat sedikit.

“Tapi lucu lihat kamu salah tingkah. Semakin kamu marah, semakin manis, tau nggak?”

Revana langsung berdiri, menunduk gugup lalu melangkah cepat meninggalkan Adrian. Tapi di wajahnya yang memerah, jelas sekali ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Dan Adrian hanya bisa tersenyum puas, menikmati setiap detik usaha Revana menjaga jarak, meski ia tahu hati gadis itu perlahan mulai goyah.

⚘️

⚘️

Akhir pekan kembali datang, sebelum Alesya dan Andrew kembali “menguasai” Revana dengan segala kegiatan mereka, Adrian bergerak cepat. Tanpa memberi banyak pilihan, ia langsung mengajak Revana ikut bersamanya.

Revana mendengus, lipat tangan di dada.

“Pak Adrian, ini maksudnya apa? Kenapa saya harus ikut bapak?”

“Karena aku nggak mau kamu sibuk terus sama anak-anakku, sampai aku sendiri nggak kebagian waktu denganmu.” kata Adrian sambil menyetir dengan tenang, tatapannya lurus ke depan.

Revana terdiam, bibirnya merapat, antara kesal sekaligus malu dengan pengakuan blak-blakan itu.

 Revana tidak tau Adrian ingin mengajaknya kemana, ketika ia bertanya pun Adrian hanya tersenyum menggoda. membuat Revana sedikit kesal.

Perjalanan cukup memakan waktu lama, sampai-sampai tak sadar Revana tertidur pulas, Adrian sesekali menoleh ke arahnya sambil tersenyum penuh arti.

"lagi tidur aja, cantik banget." gumam Adrian memuji kecantikan Revana yang tampak natural.

sekitar dua jam kemudian, mobil memasuki halaman sebuah villa mewah di atas ketinggian.

Revana masih terlihat terlelap, sampai pada akhirnya Adrian membangunkannya.

"Revana...ayo bangun kita udah sampai." Adrian mengelus pipi Revana dengan lembut.

Revana membuka matanya perlahan, dan terkesiap menatap wajah Adrian yang begitu dekat di depan mukanya, membuat Adrian menahan tawa.

Revana berdeham sambil menegakkan tubuhnya.

"kita udah sampai dimana Pak...?" tanyanya, namun mata Revana langsung membesar. Melihat bangunan modern dengan sentuhan kayu alami itu berdiri gagah, menghadap ke lembah hijau dan kabut tipis yang menyelimuti.

"kita sampai di villa puncak, aku sengaja membawamu kesini, aku ingin berdua saja bersamamu, tanpa di ganggu siapapun." kata Adrian, lalu pria itu turun dari mobil.

Revana masih bingung, tak menyangka Adrian membawanya di tempat seperti ini. Dengan ragu Revana mengikuti langkah Adrian keluar dari mobil.

Revana melangkah pelan, kedua mata mengitari sajian pemandangan gunung dan hutan yang memukau.

“Ya Tuhan… indah sekali…” gumam Revana kagum.

Ia berdiri di teras, menatap hamparan hijau dan langit biru yang bersih. Angin pegunungan menusuk kulit, menenangkan sekaligus menyingkap kerinduan lama dalam dirinya akan ketenangan dan alam bebas.

Adrian berjalan di belakangnya, melipat tangan sambil tersenyum puas melihat reaksi Revana.

“Aku tahu kamu butuh suasana seperti ini. Sesekali berhenti dari rutinitas, menghirup udara segar… dan yang paling penting, aku bisa lebih lama melihat kamu tanpa gangguan.”

Revana menoleh cepat, wajahnya merah, buru-buru memalingkan pandangan lagi ke arah bukit.

“Kenapa sih, harus saya? Banyak orang yang bisa nemenin Bapak… kenapa bapak kekeh sekali ingin bersama saya.?”

Adrian melangkah lebih dekat, suaranya berat namun lembut.

“Karena cuma kamu, Rev… cuma kamu yang bisa bikin aku merasa hidup lagi.”

Revana terdiam. Dadanya berdegup kencang. Pemandangan indah di depan seakan kalah indah dibanding tatapan pria itu yang penuh intensitas.

Malam turun dengan cepat di puncak. Angin dingin menusuk tulang, kabut makin menebal, sementara suara serangga malam terdengar samar di kejauhan. Di ruang tengah villa, api perapian menyala, menghadirkan kehangatan yang kontras dengan hawa luar.

Revana duduk di sofa, memeluk tubuhnya dengan selimut tebal. Tatapannya kosong menembus kaca besar yang memperlihatkan pemandangan lampu-lampu kota di kejauhan. Ia masih berusaha menenangkan dirinya, berusaha mengabaikan kenyataan bahwa ia sendirian dengan Adrian di tempat terpencil ini.

Adrian muncul dari dapur kecil membawa dua cangkir cokelat panas. Ia menyerahkan satu cangkir pada Revana, lalu duduk di sebelahnya.

“Minum ini. Biar Kamu nggak kedinginan.” kata Adrian lembut.

Revana menerimanya tanpa menatap. Tangannya gemetar saat cangkir itu menyentuh bibirnya.

“Kenapa Bapak bawa saya ke sini? Apa Bapak nggak sadar kalau ini… berbahaya?” kata Revana.

Adrian menatapnya dalam-dalam.

“Berbahaya kalau aku kehilangan kendali… iya. Tapi aku janji, aku nggak akan nyakitin kamu. Aku cuma… pengen kamu tahu seberapa besar aku menginginkan kamu ada di hidupku.”

Revana menutup mata, hatinya kacau. Kata-kata itu menggedor benteng yang selama ini ia bangun. Ia mencoba melawan, tapi setiap kali melihat tatapan Adrian, tatapan seorang pria dewasa, penuh luka, tapi juga penuh ketulusan, ia kehilangan tenaga untuk menolak.

Adrian perlahan meletakkan tangannya di atas tangan Revana. Gadis itu menoleh, terperangkap dalam tatapan yang begitu dalam.

dengan suara serak Adrian berkata, mencoba meyakinkan gadis di depannya.

“Rev… sekali ini saja, berhenti menolak perasaanmu. Aku tahu kamu merasakannya juga.”

Air mata menetes di pipi Revana, ia berbisik dengan suara nyaris patah.

“Saya… saya takut, Pak. Ini salah… ini dosa…”

Adrian menyentuh wajahnya, mengusap air matanya dengan lembut.

“Aku tahu. Tapi aku serius denganmu. Aku nggak main-main. Aku ingin kamu… bukan cuma malam ini, tapi selamanya.”

Revana terdiam. Dadanya sesak. Otaknya menjerit untuk pergi, tapi hatinya yang rapuh ingin tetap tinggal. Ia terlalu lelah menolak, terlalu lemah melawan rasa hangat yang terus menekan.

Akhirnya, ia menurunkan pertahanan terakhirnya. Ia membiarkan Adrian memeluknya, membiarkan dirinya larut dalam pelukan hangat yang ia tahu akan mengubah segalanya.

Malam itu, di antara dinginnya udara puncak dan hangatnya api perapian, Revana menyerahkan dirinya. Bukan sekadar tubuh, tapi juga perasaan yang selama ini ia pendam dan ia tolak. Ada tangis, ada ragu, ada takut, namun ada juga kelegaan.

Adrian memeluknya seolah tak mau melepaskan, sementara Revana pasrah, membiarkan malam itu menjadi titik di mana semuanya berubah.

⚘️

⚘️

⚘️

1
Dwi
Ibu dan anak sama aja
Suhartiwi Kristina
setelah kehilangan..baru merasakan.🥺🥺🥺
Suhartiwi Kristina
semoga revana tidak disebut pelakor..kasian revana....semangat adrian..☺️☺️☺️☺️
Suhartiwi Kristina
suka ceritanya..penulisannya sangat bagus
Shifa Burhan
faktanya wanita bukan benci pelakor tapi wanita benci wanita lain yang bersaing pada nya

coba kalian cari novel bertema istri (pmeran utama wanita) selingkuh, tetap saja jika ada wanita kau yang mendekati dan sok baik pada suami nya, tetap akan dicap pelakor dan yang akan kalian bela adalah pemeran utama wanita nya (istri selingkuh)
banding
dengan novel kayak ini, istri (tapi bukan pemeran utama wanita) melakukan kesalahan, dan kalian hadirkan pelakor (pemeran utama wanita), maka yang akan kalian bela adalah pemeran utama wanita nya (pelakor)

dari perbandingan novel, yang kalian bela tetap pemeran utama wanita (sudut padang kalian alias kalian merasa di posisinya) mau itu pemeran utama wanita istri yang selingkuh atau pemeran utama wanita yang posisi di pelakor, tetap yang akan kalian bela posisi pemeran utama wanita

ini membuktikan wanita bukan membenci pelakor tapi membenci wanita lain yang bersaing dengannya, jika kalian posisi istri dah kalian akan benci pelakor tapi jika kalian diposisi pelakor kalian akan benci istri sah

salam akal sehat
Atmita Gajiwi
/Rose//Rose//Rose//Rose//Kiss/
Dehan_1
penyampaian nya yg sangat mendetail thor👍kita seolah menyaksikan langsung proses persalinan itu,bikin terharu
Dehan_1
apa mungkin itu drama nya liviana sampai daffa di pukuli orang?padahal ga usah sampe di anterin juga dong
Dehan_1
ngeri juga ya ada cowo macam dafa
Dehan_1
semoga dafa berbesar hati nerima kenyataan..biar gaada dendam lain yg tertuju ke anggota keluarga ini🤭
Dehan_1
dendam masih akan berlanjut..
Dehan_1
kasian aleysa tiap hari harus ketemu sama tante nya yg toxic
Dehan_1
di tengah prahara masih ada kebahagiaan buat mereka sekeluarga
Siti Naimah
terimakasih kakak author... cerita nya dah selesai.betul2 menghibur banget🙏👍
Mian Fauzi: terimakasih yaa, lanjutannya ada dijudul baru kak "ketika hati salah memilih"
total 1 replies
Mar lina
ada bonus part nya gak, Thor?
do tunggu novel terbaru nya...
tetap semangat dlm berkarya
Mian Fauzi: lanjutannya sudah ada di judul baru kk, "ketika hati salah memilih"
total 1 replies
Mian Fauzi
lanjutan cerita ini ada di judul "Ketika hati salah memilih" mampir ya guys...🫰
Asyatun 1
keren banget thoor
Dehan_1
kasihan anak2nya di acuhkan sama ibu nya
Lina Marali
di tunggu
Mian Fauzi: sudah ada yaa di judul baru ✌️
total 1 replies
Dehan_1
semoga kamu bisa hadapi semua badai yg akan datang Rev...💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!