Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil Pertemuan Dengan Pak Lurah
Suasana di rumah kepala desa terasa jauh lebih santai. Hagia dengan ketenangan yang selalu berhasil membuat orang di sekitarnya merasa segan, tidak main-main dalam menyusun rencana. Untuk memastikan drama salah paham ini berakhir tuntas, ia tidak hanya mengundang pihak-pihak yang terlibat langsung, tetapi juga mendatangkan orang tua Adi dan Pak RT.
Sesungguhnya rencana awalnya yaitu Azalea ingin bertanya kepada Pak Lurah soal sosok Adipati yang sebenarnya. Namun Hagia mengubah agendanya sedikit lebih luas. Masalah Adi yang selama ini menjadi parasit di ketenangan Azalea harus diselesaikan di meja hijau, atau setidaknya di meja kayu jati milik Pak Lurah.
Tak lama, Bapaknya Adi datang bersama sang anak. Mereka melangkah masuk dengan ragu, lalu saling bertegur sapa dan menjabat tangan Pak Lurah. Setelah dipersilakan, mereka duduk berdampingan. Azalea yang duduk di seberang mereka hanya bisa mengerutkan kening. Ia bingung melihat kehadiran Adi yang tiba-tiba, apalagi bersama seorang bapak-bapak yang wajahnya masih sangat asing di matanya.
Melihat kebingungan di wajah cantik Azalea, Hagia mendekat. Ia membungkuk sedikit dan membisikkan penjelasan ke telinga wanita itu. Azalea seketika ber-oh ria. Matanya membulat, baru menyadari bahwa Hagia sedang menyiapkan panggung untuk sebuah klarifikasi besar.
"Sekarang kita sudah berkumpul. Baik dari pihak Azalea maupun Adi. Pastinya kalian bertanya, hmm bukan kalian semua, mungkin sebagian bertanya ada apa ini sampai ada saya ikut nimbrung," Pak Lurah memulai pembicaraan.
Adi langsung menyela, "Iya nih Pak Lurah, kenapa kita kumpul di sini?"
Di balik sikap sok asiknya, sebenarnya ada kecemasan di hati Adi. Ia takut ada sesuatu yang bakal menghantamnya. Tapi di sisi lain, sifat kepedeannya yang setinggi langit membisikkan bahwa mungkin ini adalah acara pengakuan atau bahkan perjodohan resminya dengan Azalea akan disahkan di depan Pak Lurah. Mungkin bapaknya mau mengaku sekarang?
Akan tetapi, kecemasan Adi lebih besar daripada kepedeannya sekarang, lantaran ada Hagia. Jujur saja, Adi ini sangat segan, bahkan cenderung takut kepada Hagia. Beberapa kali mereka bersinggungan, Hagia selalu punya cara untuk membuat nyali Adi menciut atau seketika bungkam.
Pak Lurah kemudian memberi kode kepada Hagia untuk memberikan kalimat pembuka. Dengan gaya bicara yang tertata, Hagia menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan mengurai benang kusut kesalahpahaman antara Azalea dan Adi. Tujuannya agar semuanya clear dan tidak ada lagi pihak yang merasa dirugikan atau terganggu di kemudian hari.
Hagia pun mempersilakan Azalea untuk menjelaskan maksud kedatangannya ke desa Watuasih.
Azalea mulai buka suara. Suaranya tenang dan teratur. Ia menjelaskan bahwa ia datang jauh-jauh sebenarnya untuk membatalkan sebuah perjodohan yang diatur ayahnya. Ia hanya berbekal nama Adipati. Dan di situlah letak petakanya.
Pak RT yang merasa bertanggung jawab, memberikan kesaksiannya. Dengan wajah agak merasa bersalah, ia menjelaskan kenyataannya. Ialah yang menunjukkan Adi kepada Azalea saat wanita itu bertanya.
Dan karena dorongan emosi dan ingin cepat selesai, Azalea langsung melabrak Adi tanpa bertanya lebih detail lagi. Ia langsung memberikan peringatan keras agar laki-laki itu mundur dari perjodohan.
Adi pun ikut membela diri. Ia mengaku awalnya bingung setengah mati. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ada wanita secantik Azalea datang marah-marah minta batal nikah, padahal kenal pun tidak. Karena Adi memang sedang gencar mencari jodoh, ia mengira ini adalah skenario indah dari ayahnya agar pertemuan mereka terlihat dramatis. Maka, Adi pun memutuskan untuk ikut alur dan berpura-pura menjadi calon tunangan Azalea.
Dan inilah puncaknya, si gong dari pertemuan saat ini. Bapaknya Adi angkat bicara dengan wajah menahan malu.
"Saya betul-betul tidak merencanakan perjodohan apapun untuk anak saya. Ini murni hanya khayalan anak saya saja."
Suasana hening seketika. Sudah sangat jelas sekarang bahwa Adi hanyalah seorang pemuda yang kegeeran dan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Azalea menarik napas lega, namun juga merasa tak enak hati. Ia segera meminta maaf kepada semua yang hadir karena telah menciptakan kegaduhan akibat kecerobohannya yang tidak melakukan riset lebih dalam sebelum bertindak.
Bapaknya Adi pun tak kalah rendah hati, ia meminta maaf berkali-kali atas kelakuan anaknya yang kurang ajar karena mencoba memanfaatkan situasi.
Adi yang sudah tidak bisa mengelak lagi, akhirnya ikut meminta maaf. Tapi dasar Adi, permintaan maafnya tetap saja mengesalkan.
"Iya, aku minta maaf ya, Dek Azalea. Tapi ya gimana, hati ini sudah terpatuk sama Dek Azalea, jadi aku minta maaf kalau nanti aku tidak bisa berhenti mengejar cintamu," ucapnya dengan nada yang sok puitis.
Plakk!
Kepala Adi langsung dikeplak oleh bapaknya sendiri. "Jangan malu-maluin! Jangan ganggu orang terus. Mending kamu fokus cari uang sana. Mandiri, jangan bisanya andalin orangtua."
Adi terdiam, menciut di kursinya. Tidak cukup sampai di situ, Pak Lurah pun memberikan petuah, "Saya tidak bisa membiarkan orang yang berada di wilayah saya merasa tidak aman atau terganggu. Tolong ingat itu, Adi."
Hagia menutup sesi itu dengan satu kalimat yang membuat bulu kuduk Adi berdiri. "Siapa pun yang berani mengganggu Azalea lagi, maka dia harus berhadapan dengan saya."
Mendengar itu, Pak Lurah refleks berseru.
"Widih! Galak juga Lurah kita satu ini," Kata Pak Lurah sambil terkekeh, Pak RT dan Bapaknya Adi juga ikutan terkekeh.
Lurah? Lurahnya ada dua apa gimana? Mungkin bercanda kali ya. Batin Azalea.
Meskipun agak heran, Azalea juga merasa ada sesuatu yang bergetar di hatinya. Dari sekian banyak laki-laki yang berusaha melindunginya, entah kenapa hanya kalimat Hagia yang terasa benar-benar menyentuh dan membuatnya merasa aman.
Setelah drama tersebut berakhir, Adi, bapaknya, dan Pak RT pamit undur diri. Begitu eksistensi mereka hilang di balik pintu, suasana ruangan berubah menjadi lebih intim. Pak Lurah kini mengalihkan fokus sepenuhnya kepada Azalea.
Azalea menggunakan kesempatan ini untuk bertanya secara langsung kepada Pak Lurah tentang misi aslinya. Ia menyusun kalimatnya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan salah paham baru. Pak Lurah mendengarkan dengan saksama, sesekali memegang dagunya sambil mengangguk.
"Begitu ya. Kalau boleh saya tahu, apa yang akan dilakukan Nak Azalea jika suatu saat nanti bertemu dengan Adipati yang asli? Masihkah kamu bersikeras menjegal langkahnya agar mundur?" tanya Pak Lurah dengan nada menyelidik.
"Iya, Pak. Saya tetap pada pendirian saya. Soalnya... saya sudah punya pacar. Dan saya sangat sayang sama dia."
Jedar!
Ada petir menyambar tapi tidak tahu ada dimana. Air muka Hagia mendadak berubah, tapi sejurus kemudian ia kembali tersenyum tenang. Pak Lurah seolah sudah bisa membaca situasi. Ia memberikan tatapan rahasia kepada Hagia, sebuah komunikasi tanpa kata yang hanya dipahami keduanya.
Hagia kemudian memaksakan sebuah senyuman tipis setelah mendapat kode dari Pak Lurah. Dan Pak Lurah pun akhirnya mengambil jalan yang telah mereka sepakati sebelumnya secara tersirat.
"Nak Azalea, maaf sekali," ujar Pak Lurah dengan raut muka yang dibuat penuh penyesalan. "Nama Adipati di desa ini sangat banyak. Saya tidak berani menunjuk satu orang pun secara sembarangan karena khawatir akan terjadi salah paham lagi seperti tadi. Apalagi petunjuk kamu hanya sekadar nama."
Pak Lurah melanjutkan, "Feeling saya, mungkin ayahmu bilang 'tanya saja sama Lurah di sana' itu hanya sebagai gurauan atau cara beliau menghindari perdebatan denganmu saat di rumah."
Azalea terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. "Iya juga sih, Pak. Ya sudah, tidak apa-apa. Setidaknya saya sudah menjalankan apa yang disuruh Ayah. Biar hati saya tidak penasaran lagi."
Pak Lurah tersenyum lebar melihat kepasrahan Azalea yang tulus.
"Salamkan saya pada ayahmu, Pak Sutopo, ya. Bilang padanya, kapan-kapan main ke Watuasih lagi."
"Iya, Pak. Pasti saya sampaikan."
"Dan..." Pak Lurah menambahkan dengan nada sedikit menggoda sambil melirik Hagia, "Salam juga buat pacar Nak Azalea. Pasti dia di sana sedang khawatir kekasihnya yang cantik ini kecantol dengan calon jodoh di desa ini."
Azalea hanya bisa cengar-cengir canggung. Ia mengangguk-angguk kecil menanggapi candaan itu. Namun di dalam hatinya, ia membatin sambil melirik ke arah Hagia.
Sebenarnya sih baru calon pacar, hehehe. Kak Hagia, tuh, dapat salam dari Pak Lurah.
Setelah perbincangan itu selesai, Azalea berpamitan dengan sopan. Hagia mengantar Azalea keluar. Saat Azalea sudah berjalan lebih dulu beberapa langkah di depan, Pak Lurah menahan Hagia sebentar. Ia menepuk-nepuk pundak Hagia dengan penuh empati sembari berkata,
"Sabar ya, Lur."
.
.
Bersambung.