Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Berusaha bersahabat dengan waktu.
Perkara sapaan 'Bang' sebagai hal yang berbeda dalam karya Nara, haruskah Nara merombak ulang cerita. Jujur Nara jadi tidak nyaman. Maaf ya, hal kecil masih sedikit merusak mood Nara🙏.
🌹🌹🌹
Hari ini Bang Rama sengaja mengadakan acara syukuran sederhana atas kelahiran putra pertamanya di kediamannya. Namun Bu Nurmala ternyata belum berubah sama sekali. Meski tau Dinda sudah berhasil melahirkan putra tunggal Letnan Rama, ia masih sering mengeluarkan ucapan menyakitkan setiap kali bertemu dengan keluarga Bang Rama.
"Oohh.. Ternyata hanya begini saja suguhan nya yang katanya seorang perwira?" Ejeknya.
Beberapa orang yang mendengar celetukan Bu Nurmala sampai ikut heran, pasalnya untuk ukuran kata 'sederhana' seperti Bang Rama, acara tersebut sangat mewah dan berkelas.
Bahkan ketika ada acara kecil di batalyon untuk merayakan kelahiran bayi itu, Bu Nurmala sengaja menyampaikan kata yang begitu menyakitkan hati Dinda. "Tidak semua anak yang lahir akan membawa kebahagiaan, apalagi asal usul ibunya tidak jelas. Bagaimana jika dia anak haram, maka segaris keturunannya pun akan haram."
Seketika Dinda yang baru saja dua hari melahirkan langsung berjalan dengan langkah cepat setengah berlari membawa bayinya Suasana pun menjadi kaku.
Tak hanya itu, Bu Nurmala juga mulai menyebarkan kabar bohong tentang Kinan.
"Perempuan jaman sekarang memang susah di atur. Yang namanya Kinan itu pasti meninggalkan suaminya sendiri tanpa alasan jelas, lari tuh sama laki lain, pasti suaminya nggak benar tuh."
Bu Nurmala terus menyebarkan fitnah, beliau tidak peduli bahwa hal itu hanya akan menyakitkan hati mereka yang menyayangi Kinan dan Dinda.
Seorang istri anggota bintara yang berada di sana langsung mencari suaminya dan langsung meminta menyampaikannya pada Bang Rama.
~
Bang Rama langsung melirik Bang Ardi, hatinya yang awalnya bahagia langsung berubah jengkel.
"Waduhhh.. Kau bawa pulang saja ibumu. Ini acara syukuran, Ar..!!" Kata Bang Jay ikut tidak enak hati.
"Jangan sampai Rico dengar hal seperti ini, lehermu bisa di gorok sama dia. Sudah tau Rico sedang stress berat, ibumu lagi.. Malah cari hal, bro."
Bang Rama segera pulang dan melihat keadaan Dinda, begitu pula dengan Bang Ardi yang langsung membereskan masalah yang di timbulkan ibunya.
Sesampainya disana, Bu Nurmala masih menebarkan cerita.
"Ayo pulang, Bu..!!" Ajak Bang Ardi.
"Sebentar, ibu masih betah disini..!! Belum makan pempek sama udang saus padangnya juga." Tolak Bu Nurmala.
Kini arah mata Bang Ardi beralih pada Vania. "Kenapa kamu tidak ingatkan ibu?? Bicaranya sudah melantur kemana-mana, Abang malu sama Rama dan Rico." Tegur Bang Ardi sambil merendahkan nada suaranya.
"Vania nggak berani, Bang." Kata Vania.
Tak mau suasana semakin kacau karena ulah ibunya, Bang Ardi langsung menarik tangan sang ibu.
"Sebentar donk, Ar. Ada apa sih buru-buru???" Omel Bu Nurmala sambil memutar pergelangan tangannya karena masih ingin merumpi bersama ibu-ibu muda disana.
Bang Ardi tidak peduli, ia terus menarik tangan ibunya sampai masuk ke dalam rumah dan mendudukan ibunya di sofa ruang tamu dengan kasar.
"Apa maksud ibu memfitnah Kinan dan Dinda???? Ibu mau aku ribut dengan Rama dan Rico????" Tanya Bang Ardi dengan nada tinggi.
"Memang kenyataannya begitu, kan??? Dinda tidak akan bisa jadi pramugari tanpa uangmu dan uang yang sudah di pakai Dinda itu seharusnya bisa untuk ibu." Jawab Bu Nurmala. "Kalau Kinan, jelas dia kabur sama laki-laki lain. Suaminya aja gila, pasti lah Kinan mencari ketenangan dengan laki-laki yang bisa membuatnya nyaman. Mudah saja dapat laki di luar sana, modalnya hanya gatel."
"Astaghfirullah hal adzim.. Ibuuuuu..!!!!!!" Bang Ardi sampai membentak ibunya, ibu yang di rasanya sudah keterlaluan. "Aku nggak mau tau, ibu di larang keluar rumah. Jangan sampai Rama dan Rico dengar apapun lagi, kalau sampai mereka yang menangani, aku tidak bisa membela ataupun menyelamatkan ibu."
"Dasar anak durhaka..!!!!" Teriak Bu Nurmala kesal.
//
Sementara itu, Bang Rico yang masih dalam masa penyembuhan fisik dan mental mulai berusaha belajar untuk ikhlas. Sejak dirinya dirawat kemarin, ia menghabiskan waktu untuk beristighfar dan merenungkan nasihat dari para sahabat.
Meskipun di dalam hati yang paling dalam ia masih tidak bisa menerima bahwa Kinan telah hilang dari kehidupannya, ia mulai mencoba mengubah cara pandang hidupnya.
'Jika Allah merestui cinta dan sayangku padamu, maka sejauh apapun kita terpisah, pada akhirnya nanti akan bertemu juga. Dan jika kamu memang jodohku, kamu akan kembali padaku. Namun jika kamu lebih tenang dan aman bersama penjagaan Tuhan disana, itu sudah cukup bagiku.. Asalkan kamu bahagia dan tidak ada di depan mataku, tapi jika kamu ada di hadapanmu, siapapun yang mendekatimu, harus melangkahi mayatku..!!"
Bang Rico mulai berniat kembali aktif di Batalyon untuk mengalihkan pikirannya, meskipun terkadang hatinya masih sering merasakan rindu saat melihat foto masa kecilnya dulu bersama Kinan. Namun kerinduan itu semakin bertambah saat menyadari rasa itu adalah rasa rindu seorang suami pada istrinya.
//
Nira begitu bahagia menikmati masa kehamilannya, mungkin di satu sisi dirinya pernah 'terluka' namun di sisi lain ada kebahagiaan tersendiri dalam hatinya.
"Duduk dulu, jangan terlalu capek." Kata Bang Ronal saat mengajak Nira duduk di bangku taman.
Bang Ronald memang sering mengajak Nira berjalan-jalan sore untuk melatih pernafasan dan kekuatan fisiknya. Ia pun selalu mendengarkan setiap kali Nira bercerita tentang banyak hal.
Pada suatu moment, saat mereka sedang duduk di taman sambil menikmati jus buah, Nira tiba-tiba menatap mata Bang Ronald. "Abang benar-benar baik sekali sama Nira.. Nira tidak bisa membayangkan bagaimana kalau tidak ada Abang di sini."
Bang Ronald hanya tersenyum lembut dan mengusap kepalanya. "Kamu dan anak kita tidak akan pernah sendirian, Nira."
Nira menunduk dan menyimpan pipinya yang sudah memerah.
"Abang akan mencari identitasmu sekali lagi, kalau memang tetap tidak ada titik terang yang berarti, setelah anak ini kita lahir.. Kita pengajuan nikah. Abang tidak ingin kita terus seperti ini. Si Abang juga butuh kejelasan status bapaknya dalam akta lahir. Boleh kan, Abang masuk dalam hidupmu?" Tanya Bang Ronald.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara