Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cucu ku?
Keesokan harinya.
Leon membawa buket bunga untuk Alya dan juga membawakan buah-buahan, Alya tidak mau melihatnya, ia memandang ke arah lain.
"Anak-anak tidur pulas malam tadi, sepertinya mereka nyaman tidur di hotel," ucap Leon.
Alya masih melamun tidak jelas sampai dia teringat dengan pekerjaannya di hotel.
"Leon, aku harus bekerja, Pak Jardon pasti memarahiku jika aku membolos," ucap Alya panik.
"Aku sudah bilang pada Agra jika hari ini sampai seterusnya kamu tidak bekerja di sana," jawab Leon.
Tentu saja hal ini membuat Ayla geram, ia duduk dan hendak meloncat dari tempat tidur tapi Ayla mencegahnya dan menyuruhnya untuk berbaring lagi."Tolong kali ini dengarkan aku! Ini demi kebaikanmu juga," ucap Leon.
"Mencari pekerjaan sangat susah."
"Aku sudah bertekad untuk membiayai hidupmu dan anak kembar kita jika memang terbukti mereka anakku. Hasilnya juga sudah keluar, mereka terbukti 100% anakku, kamu tidak bisa menyangkal lagi," ucap Leon.
Seketika pikiran Ayla membeku, pada akhirnya tahu juga jika tiga kembar adalah anaknya, keputusan untuk kembali ke Jakarta setelah sekian lama memang salah besar dan membuat Leon harus mengalami nasib seperti ini.
"Aku tidak akan kembali padamu," kata Alya.
"Aku juga tidak memaksa, di sini aku hanya ingin menafkahi saja sebagai penebusan dosaku kepada kalian," jawab Leon.
Pria itu mengupas sebuah apel lalu memotongnya dan menaruhnya di dalam wadah, ia memberikan apel itu kepada Alya tapi Alya tidak mau memakannya. Dia hanya ingin membuktikan kepada Leon jika ia tak goyah walau pria itu terus berusaha mendekatinya.
"Makanlah walau sedikit!"
"Aku tidak mau, kumohon lebih baik bawa anak-anakku kesini dan kamu bisa pergi," ucap Alya.
"Aku sudah berusaha baik padamu."
"Aku tidak memintanya." Alya memandang Leon dengan tatapan tajam.
"Jika ingin berbuat baik setidaknya lakukan sejak dulu."
Baru kali ini Leon melihat Alya dengan tatapan seperti itu, dulu Ayla adalah gadis yang cengeng dan selalu menundukkan kepala jika berbicara dengan Leon.
"Aku harus bagaimana supaya kamu mau menerimaku?" tanya Leon.
"Menerima orang yang sudah menyebabkan ku punya luka fisik dan luka mental? Kamu tinggal pergi dari kehidupan kami untuk selamanya," jawab Alya.
"Jika aku tidak mau?" Kami yang akan pergi dan kami tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu."
Saat bersamaan pintu terbuka yang ternyata adalah si kembar tiga bersama Rick, bocah-bocah itu membawa banyak makanan dan mainan di tangan mereka kemudian tersenyum pada Alya.
"Mama sudah sembuh?" tanya Farad mendekat lalu diikuti kedua adik kembarnya.
"Mama sudah sembuh, kalian baik-baik saja? Mereka tidak jahat pada kalian?"
"Mereka baik kok, Mah," sahut Farid.
Leon mendekati mereka dan mengusap kepala mereka satu persatu, mereka tersenyum manis kepada Leon, Alya heran dalam semalam mereka bisa berubah seperti ini padahal awalnya juga tidak menyukai Leon.
"Setelah ini Papa akan antar kalian ke FairyCare dan Papa akan jemput kalian sore nanti," ucap Leon.
"Asyik!" teriak mereka bersama-sama.
"Apa yang kalian lakukan pada anak-anakku? Kalian mencuci otak mereka?" tanya Alya.
"Kenapa aku harus melakukan itu jika mereka sebenarnya anak-anak yang baik dan tidak tahu masalah orang tuanya? Kamu tahu jika hidup tanpa seorang figur ayah akan terasa berat," ucap Leon.
"Kamu tidak usah sok mengajariku karena kehidupanmu sejak dulu selalu enak bahkan kamu terlahir kaya raya."
Leon tersenyum kecil. "Aku yang masih punya ayah sejak kecil saja merasa tersiksa karena beliau kurang memberikan figur sebagai ayahku apalagi si kembar yang sejak bayi tidak bersamaku. Kamu tahu anak-anakmu jika bertemu dengan pria selalu menawarinya menjadi ayah mereka? Itu salah satu contoh jika mereka sangat menginginkan sesosok ayah dan aku adalah ayah kandungnya."
Air mata Alya mengalir, dia hanya tidak ikhlas jika Leon sampai dekat dengan tiga kembar. Farad, Fared dan Farid mendekati sang mama, mereka khawatir karena Alya tiba-tiba menangis."Alya, pikirkan masa depan si kembar! Mereka butuh aku!" ucap Leon.
Pria itu lantas pergi lalu membawa tiga kembar menuju ke Fairy Care dan meninggalkan Leon sendirian dalam kefrustasian nya.
***
Siang hari.
Rafael berdiri di depan pintu ruangan rawat inap, tangannya membuka pintu perlahan. Alya yang sedang duduk di samping tempat tidur, terkejut saat melihat sosok pria yang dulu sempat menjadi mertuanya itu. Matanya membulat menatap Rafael yang kini berdiri tepat di depannya dengan tatapan tajam dan tidak suka.
"Apa kamu sengaja kembali ke Jakarta untuk menemui Leon?" tanya Rafael dengan nada dingin dan sinis.
Suasana di ruangan itu tiba-tiba terasa mencekam, detak jantung Alya semakin kencang.
"Tidak, Pak Rafael. Saya datang ke Jakarta untuk bekerja," jawab Alya."Saya harap kamu jujur dan tidak membuat masalah lagi dalam kehidupan Leon. Sebentar lagi Leon dan Miki akan menikah, Miki juga sedang mengandung anak Leon."
"Saya tidak akan mendekati Leon, justru Leon yang mendekati saya. Pak Rafael bisa meminta Leon untuk menjauhi saya dan anak-anak saya," ucap Alya dengan perasaan yang terluka.
Rafael mendekati Alya, Alya menundukkan kepalanya, bukan hanya Leon yang membuatnya trauma, tapi perlakukan mantan mertuanya juga membuatnya sangat terluka.
"Kamu minta uang berapa? Syaratnya hanya pergi jauh dari sini," ucap Rafael dengan suara yang penuh ancaman.
"Jakarta bukan milik keluarga kalian, saya bisa bebas berada di sini," jawab Leon.
"Oh! Ternyata perempuan jalang ini mulai berani? Asal kamu tahu, aku bisa membuatmu dikirim ke wilayah terpencil di luar sana supaya anakku bisa terbebas darimu.""Lakukan saja jika Bapak bisa!" ucap Alya dengan berani.
Saat bersamaan si kembar datang dan berlari menuju sang mama, ia sudah pulang dari daycare setelah Leon meminta izin pada Bu Yanti supaya si kembar bisa pulang agak cepat.
Mata Rafael melihat ke arah anak kecil itu dan seperti melihat Leon kecil apalagi ini ada tiga anak sekaligus.
"Mama! Kami pulang cepat!" teriak Fared sambil membawa bungkusan jajan di tangannya.
"Mama, Om Damian bilang jika Mama sudah sembuh, Om akan bawa kita ke Dufan jadi Mama harus cepat sembuh, ya!" ucap Farid bersemangat.
Rafael masih menatap tidak percaya pada tiga bocah kembar itu bahkan suaranya sangat mirip dengan Leon semasa kecil.
"Anak-anak, kalian berlari sangat...." Leon terhenti dari ucapannya karena terkejut melihat sang papa berada di ruangan ini. "Papa?"Rafael berjalan keluar dari sana dan melewati Leon. "Papa perlu bicara. Keluarlah!"
Leon keluar mengikuti sang papa, wajah Rafael nampak tegang kemudian menghela nafas panjang.
"Haaah... semuanya sangat rumit di saat kamu harus menikah dengan Miki lalu apakah mereka benar ketiga anakmu?" tanya Rafael terlihat sangat bingung.
"Mereka bertiga memang anak-anakku, hasil Tes DNA-nya juga sudah kukirim ke rumah Papa. Seharusnya Papa yang mencari tahu apakah janin di rahim Miki adalah anakku? Karena jalang sesungguhnya adalah dia," ucap Leon.