Alea adalah wanita malang yang terpuruk dan hampir gila karena kehilangan bayi dan suaminya dalam satu waktu. Namun di saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita asing yang memberikan bayi laki-laki padanya. Tanpa menaruh curiga Alea menerima bayi itu.
Siapa yang sangka jika bayi tersebut akan merubah masa depannya. Sebab bayi laki-laki itu ternyata adalah putra dari seorang konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19 Senam Jantung
Alea berlari ke kamarnya. Segera ia menutup pintu kamar dan menguncinya. Tangannya ia letakkan di dada seolah memegangi jantung agar tak lepas dari tempatnya. Napas yang naik turun seolah dengan jelas menggambarkan ketakutan.
Ia bahkan menangis saat mengingat kejadian tadi di kamar Juan. Saat pria itu tiba-tiba membuka mata dan mencengkeram erat tangan Alea. Sorot mata Juan yang merah semakin menambah ketakutannya.
Meski hanya beberapa detik, karena Juan kembali kehilangan kesadaran, tapi mampu membuat Alea ketakutan setengah mati. Ia segera berlari dari kamar Juan usai pria itu kembali memejamkan mata dan melepaskan cengkeraman tangannya. Ia lupakan tugasnya untuk mengganti baju Juan.
Untuk sesaat Alea duduk bersimpuh di lantai, sampai ia melihat Shane bergerak di dalam bok bayinya. Ia bangkit dan mengambil bayi itu. Sudah waktunya Shane untuk minum. Kali ini Alea membawa Shane ke ranjang dan menidurkan di sana usai kenyang.
*
Pagi hari ia dibangunkan oleh suara gedoran pintu. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Malena.
"Heh, kau ini bukan Nyonya di rumah ini. Jangan bangun sesuka hatimu. Kau punya banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan!" Suara nyaring Malena membuat Alea membuka mata lebar-lebar usai membuka pintu.
"Maafkan aku, semalam aku harus menyus*i Shane. Jadi aku terlambat bangun. Aku akan segera bersiap," jawab Alea menjelaskan.
"Alasan!" cibir Malena. "Sampai kapan kau akan menggunakan anak harammu itu sebagai tameng. Setiap hari bagun terlambat dengan alasan anak!"
"Jangan sebut anakku, anak haram! Shane bukan anak haram!" Alea meradang mendengar ucapan Malena.
"Kau pikir aku bodoh? Percaya begitu saja cerita picisanmu kemarin! Dasar pembual!" Malena menyunggingkan bibirnya. Seolah mengejek Alea.
"Terserah, kau mau percaya atau tidak. Itu bukan urusanku. Tapi aku tidak mau dengar lagi kau menyebut Shane anak haram. Atau kalau kau masih mengulanginya aku akan ...." Alea tak melanjutkan kalimatnya, sebab ia melihat dari arah belakang Malena, Juan datang menghampiri.
"Akan apa ...?" teriak Malena tak terima dengan ancaman Alea. "Ayo katakan! Aku tidak takut padamu, Pembual!"
"Siapa yang kau sebut pembual?" Suara Juan membuat Malena terkejut. Tuannya ada di sini? Bagaimana ia tidak tahu kalau Juan pulang tadi malam, atau entah kapan majikannya itu pulang. Perlahan ia memutar badan dan mendapati Juan sudah berdiri di depannya sekarang.
"Tu-tuan ...?" Malena tentu ketakutan.
"Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini di kamar Alea, Malena? Kau berteriak-teriak seperti orang gila dan membuat keributan."
"Sa-saya ...." Malena tidak tahu harus bagaimana, tapi yang pasti, ia tak mau dipecat hanya karena wanita selingkuhan majikannya ini. "Saya hanya membangunkan Alea, Tuan. Sudah saatnya dia bekerja. Saya hanya tidak ingin dia berbuat seenaknya karena tidak ada yang mengawasi di sini."
Juan menatap Alea. Seolah bertanya tentang kebenaran ucapan Malena.
Alea mengangguk. "Benar Tuan, Malena memang hanya membangunkan saya. Maaf, saya selalu bangun terlambat karena terkadang harus bangun untuk Shane."
Alea berterus terang. Ia tidak ingin ada salah paham yang membuatnya kehilangan pekerjaan lagi.
"Ya sudah kalau begitu, tidak usah ribut. Biarkan Alea bangun lebih siang. Ia pasti lelah mengurus anaknya semalaman. Sekarang lanjutkan tugasmu!" ujar Juan.
Malena mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Juan melihat Malena yang sudah menjauh dari dirinya dan Alea.
"Kau pasti lelah?" ujar Juan pada Alea. Terlihat sekali dari raut wajah Alea.
"Tidak, Tuan. Saya baik-baik saja. Maaf, lain kali saya tidak akan terlambat bangun." Yang ada dalam pikiran Alea hanya tak ingin dipecat.
"Tidak-tidak, kamu tidak perlu melakukan itu. Lakukan saja pekerjaanmu selesai mengurus Shane. Tugas utamamu adalah menjadi ibu untuk anakku. Tugas yang lain biarkan saja menunggu."
"Maaf ... Shane, anakku, Tuan?" Alea meluruskan. Kalau-kalau tuannya ini salah bicara.
Juan menepuk jidatnya sendiri. "Oh, sorry. Mungkin ini efek mabuk semalam."
Untung saja Juan cepat berkilah. Kalau tidak semua pasti akan terbongkar, lagi pula belum ada kepastian dari Daniel tentang hasil tes DNA itu.
Alea mengangguki alasan Juan. Mungkin pria itu masih dalam pengaruh alkohol semalam hingga bicaranya melantur.
"Kenapa semalam kau meninggalkanku?"
Mata Alea membelalak mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Juan. Semalam pria ini mabuk, bukan? Mana mungkin ia ingat apa yang terjadi tadi malam.
"Kau sudah melepas kancingnya, kenapa tidak menggantinya sekalian." Juan menunjuk tubuhnya dengan kemeja yang masih ia biarkan terbuka kancingnya.
"Aku jadi ingin muntah dengan baunya saat bangun tadi," sambungnya.
"Maaf, Tuan." Alea bingung harus bicara apa. Yang pasti saat ini ia canggung sekali berhadapan dengan Juan. Pria ini ingat semua kejadian semalam. Jadi ia mabuk atau tidak sebenarnya?
"Ya sudah, lupakan saja. Buatkan aku air lemon dan bawa ke kamarku. Aku akan menggantinya sendiri." Juan pun berlalu dari kamar Alea.
Tanpa menunggu diperintah kedua kali, Alea segera menutup pintu kamarnya setelah memastikan jika Shane kembali pulas di dalam box bayi.
Di dapur, Alea abaikan tatapan sinis Malena. Ia segera membuat air lemon sesuai permintaan Juan. Membawanya ke kamar sang majikan.
Tidak ada sahutan setelah Alea mengetuk pintu beberapa kali. Mungkin tuannya masih di kamar mandi jadi tidak dengar. Alea memegang handle pintu. Rupanya tidak terkunci. Ia masuk saja dan meletakkan air lemon itu di atas meja sofa.
"Cepat sekali."
Alea kontan berbalik. Kaget, saat melihat Juan yang hanya mengenakan handuk di pinggang.
"Maaf, Tuan." Buru-buru Alea ingin pergi. Namun, begitu langkahnya melewati Juan tangannya tertahan oleh Juan.
Pria itu tak bicara apa pun. Hanya menatapnya dengan aneh dan lama. Alea semakin canggung dibuatnya.
Menyadari sikap Alea, Juan pun berkata, "Bawa sekalian baju kotorku di kamar mandi."
Begitu tangan Juan terlepas, Alea berjalan cepat mengambil baju kotor Juan dan gegas meninggalkan kamar majikannya. Berhadapan dengan Juan seperti senam jantung baginya sekarang ini.