"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Nathan Mendekat
Puisi untuk Malam yang Merubah Segalanya
Mawar dan Rembulan
Ia datang bukan dengan pedang
Tapi dengan tatapan yang tak menggoyahkan
Bukan dengan janji manis
Tapi dengan diam yang berbicara
Malam itu rembulan pura-pura buta
Menyaksikan dua insan yang sama-sama terluka
Satu belajar memercayai lagi
Satu lagi belajar bahwa cinta tak selalu tentang memiliki
Namun mawar tahu
Duri adalah harga untuk keindahan
Dan hati yang paling dalam luka
Adalah hati yang paling sulit ditaklukkan
Maka biarlah malam ini menjadi saksi
Bukan tentang jatuh cinta
Tapi tentang dua jiwa yang berani
Membuka pintu yang selama ini terkunci
Karena kadang, sekutu terbaik
Bukan yang datang dengan perisai
Tapi yang berani duduk di sampingmu
Saat kau masih memegang erat duri-durimu
---
Malam itu Alana duduk di depan cermin riasnya selama empat puluh tujuh menit. Ia menghitung. Bukan karena ia tak tahu harus memakai apa—lemari pakaiannya kini penuh dengan gaun-gaun mahal dari desainer ternama. Bukan karena ia gugup—ia sudah menghadapi rapat dewan komisaris yang penuh hiu lapar dengan tenang.
Ia hanya bertanya pada bayangannya sendiri: Apa yang kau cari, Alana?
Ponselnya bergetar. Lagi.
Nathan: Aku di lobi. Tidak buru-buru. Pakai apa pun yang membuatmu nyaman.
Kalimat itu justru membuatnya semakin tidak nyaman. Sejak kapan ada pria yang mengatakan "pakai apa pun yang membuatmu nyaman"? Richard dulu selalu memintanya berganti pakaian—terlalu sederhana, terlalu mencolok, tidak cocok dengan acara. Viola selalu punya komentar tentang penampilannya.
Tapi Nathan? Pria itu hanya diam dan menerima.
Alana akhirnya memilih gaun hitam sederhana tanpa banyak aksesori. Ia membiarkan rambutnya terurai—bukan karena ingin terlihat cantik, tapi karena ia lelah menyembunyikan wajah aslinya.
Saat lift turun, Lucas mengirim pesan terakhir:
Lucas: Nathan bisa jadi sekutu, atau musuh. Kau pilih. Tapi ingat, Alana—tidak semua orang datang untuk mengambil. Beberapa datang hanya untuk melihat apakah kau baik-baik saja.
Alana tersenyum pahit. Lucas. Satu-satunya pria yang tak pernah memintanya menjadi apa pun selain dirinya sendiri.
Nathan menunggu di lobi dengan setelan abu-abu yang membuatnya terlihat seperti sedang tidak berusaha keras—justru itu yang membuatnya terlihat sempurna. Ia sedang membaca sesuatu di ponsel, alisnya sedikit berkerut. Saat lift terbuka, ia langsung mendongak, seolah punya radar khusus untuk kehadiran Alana.
"Kamu turun," katanya sederhana.
"Memangnya aku bisa menghilang?"
Nathan tersenyum. "Setelah semua yang kulakukan untuk menemukanmu malam ini, aku akan mencarimu ke seluruh Jakarta kalau perlu."
Alana berhenti melangkah. "Itu agak menyeramkan."
"Itu agak jujur." Nathan membukakan pintu mobilnya—sebuah mobil mewah yang terlalu besar untuk berdua. "Kau tak perlu takut, Alana. Aku tidak akan mengejarmu."
"Maka kau satu-satunya pria yang tidak melakukannya."
Nathan menatapnya lama sebelum menutup pintu.
Restoran itu kecil, hanya sepuluh meja, dan hanya ada dua meja yang terisi. Bukan tempat yang biasa dikunjungi para selebritas atau pebisnis papan atas. Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya memainkan piano dengan lembut.
"Aku tidak suka tempat ramai," kata Nathan seolah membaca pikirannya. "Dan kau, setelah semua yang terjadi, pasti juga tidak."
Alana duduk di hadapannya. "Kau menyelidikiku?"
"Tidak perlu menyelidiki. Matamu bicara."
"Mata? Bicara?" Alana tertawa kecil—tawa yang tak pernah ia keluarkan di depan siapa pun selama tiga tahun terakhir. "Kau mulai terdengar seperti penyair murahan."
Nathan tidak tersinggung. Ia justru tersenyum—senyum yang berbeda dari biasanya. Bukan senyum diplomatis yang ia gunakan di ruang rapat. Bukan senyum dingin yang membuat lawan bicaranya gentar.
Senyum yang nyaris... manusiawi.
"Kau tahu," Nathan mulai, menuangkan anggur ke gelas Alana, "selama sepuluh tahun terakhir, aku hanya makan malam dengan orang-orang yang menginginkan sesuatu dariku. Kontrak. Investasi. Hubungan bisnis. Koneksi."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku makan malam dengan seseorang yang tidak menginginkan apa pun dariku." Ia menatap Alana. "Kau punya segalanya, Alana. Atau setidaknya, kau sedang dalam proses mengambil kembali segalanya. Jadi, apa yang bisa kau inginkan dariku?"
Alana memutar gelas anggurnya, mengamati warna merah delima yang berputar lambat. "Mungkin aku ingin tahu kenapa kau ada di sini."
"Pertanyaan bagus."
"Dan jawabannya?"
Nathan diam cukup lama. Cukup lama bagi Alana untuk mulai membaca bahasa tubuhnya—tangan yang sedikit mengepal di atas meja, rahang yang mengeras, mata yang mencari sesuatu di dalam gelas anggurnya sendiri.
"Aku melihatmu pertama kali di klub itu," katanya akhirnya. "Kau datang dengan gaun usang yang jelas bukan gaunmu. Mungkin gaun ibumu, atau gaun dari sepuluh tahun lalu. Semua orang menertawakanmu. Aku juga."
Alana merasakan sesuatu menusuk di dadanya, tapi ia tetap diam.
"Tapi lalu aku melihat matamu." Nathan mendongak. "Kau tidak marah. Kau tidak malu. Kau hanya... mengamati. Seperti pemain catur yang sedang mempelajari lawannya. Aku tahu saat itu juga—wanita ini berbahaya."
"Terima kasih... kurasa."
"Itu pujian." Nathan meletakkan gelasnya. "Orang-orang yang diremehkan adalah orang-orang paling berbahaya di dunia. Karena mereka punya sesuatu untuk dibuktikan. Dan kau, Alana, punya banyak hal untuk dibuktikan."
Alana menekuk bibirnya. "Lalu? Kau ingin menjadi bagian dari pembuktian itu?"
"Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu."
Kejujuran itu tiba-tiba seperti tamparan. Alana terkesiap—hanya sedikit, nyaris tak terlihat, tapi Nathan melihatnya.
"Aku tidak meminta apa pun," lanjut Nathan cepat. "Aku tidak memintamu mencintaiku. Aku tidak memintamu mempercayaiku sepenuhnya. Aku hanya... ingin ada di sini. Di meja ini. Malam ini. Dan mungkin malam-malam berikutnya, jika kau mengizinkan."
"Untuk apa?"
"Karena aku lelah." Untuk pertama kalinya, suara Nathan bergetar. "Aku lelah menjadi orang yang selalu mengambil. Aku lelah menjadi orang yang selalu diincar. Aku ingin... duduk di depan seseorang dan tidak perlu berpura-pura."
Alana menatapnya lama. Di balik setelan mahal dan ketenaran Nathan sebagai investor muda paling disegani, ia melihat sesuatu yang familiar: kesepian.
Kesepian yang sama yang ia rasakan setiap malam saat pulang ke rumah kosong yang dulunya penuh tawa ayahnya.
Kesepian yang sama yang ia rasakan saat Richard memeluknya tapi hatinya bersama Viola di kamar sebelah.
Kesepian yang sama yang membuatnya bisa bertahan selama tiga tahun dalam diam—karena tidak ada satu pun jiwa yang benar-benar melihatnya.
Makanan datang dan pergi tanpa benar-benar mereka sadari. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil—buku yang Nathan baca, perjalanan yang Alana impikan, kenangan masa kecil yang manis dan pahit.
Nathan bercerita tentang ibunya yang meninggal saat ia berusia sembilan belas tahun, tentang ayahnya yang sibuk bekerja sehingga ia belajar mandiri sejak kecil, tentang bagaimana ia membangun kerajaannya dari nol tanpa bantuan siapa pun.
Alana bercerita tentang ayahnya—bukan tentang kematiannya, tapi tentang bagaimana ia mengajari Alana bermain catur di usia enam tahun, tentang bagaimana ia selalu berkata "jangan pernah tunjukkan semua kartumu, Nak", tentang bagaimana ia bangga meski Alana hanya mendapat nilai kedua di kelas.
"Kedua?" Nathan tersenyum. "Ayahmu bangga karena nilai kedua?"
"Ia bilang, orang pertama terlalu sibuk dijaga. Orang kedua bisa bergerak bebas." Alana tersenyum mengenang. "Ia selalu punya cara pandang yang berbeda."
"Ayahmu bijak."
"Ya. Dan ia pergi terlalu cepat."
Keheningan menyelimuti mereka. Piano di sudut ruangan berganti lagu—sesuatu yang lambat dan melankolis.
Nathan mengulurkan tangannya di atas meja. Tidak menyentuh Alana. Hanya... ada di sana. Sebuah tawaran.
"Aku tahu kau tidak bisa mempercayaiku sepenuhnya," katanya pelan. "Aku tahu kau punya rencana besar, dan aku mungkin tidak termasuk di dalamnya. Tapi malam ini, Alana... bisakah kau hanya menjadi Alana? Bukan pewaris Wijaya Group. Bukan wanita yang sedang membalas dendam. Bukan CEO. Hanya... Alana."
Alana menatap tangan itu. Tangan yang bisa menghancurkan pesaingnya dalam semalam. Tangan yang bisa menandatangani kontrak miliaran rupiah. Tangan yang sekarang terulur padanya tanpa meminta apa pun.
Perlahan, tanpa berpikir, ia meletakkan tangannya di atas tangan Nathan.
Hangat.
Itu yang pertama kali ia rasakan. Hangat seperti secangkir teh di pagi hari. Hangat seperti pelukan ayahnya dulu.
Nathan tidak menggenggam. Ia hanya membiarkan tangan Alana di atasnya, membiarkan Alana yang memutuskan seberapa dekat ia mau.
"Malam ini," bisik Alana, "aku tidak punya jawaban."
"Malam ini aku tidak bertanya."
Mereka duduk seperti itu cukup lama—dua jiwa yang sama-sama terluka, sama-sama lelah berpura-pura, sama-sama takut untuk percaya lagi. Tapi di meja kecil restoran yang hampir kosong itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Alana merasa sesuatu yang hangat merayap di dadanya.
Bukan cinta. Ia terlalu pintar untuk jatuh cinta semudah itu.
Tapi mungkin... harapan.
Harapan bahwa tidak semua pria seperti Richard.
Harapan bahwa tidak semua orang datang untuk mengambil.
Harapan bahwa ia bisa menjadi Alana—bukan ratu, bukan pendendam, bukan pebisnis—dan tetap diterima.
---
Saat mereka keluar dari restoran, hujan turun rintik-rintik. Nathan membuka payung dan mengantarnya ke mobil.
"Terima kasih untuk malam ini," kata Alana.
"Itu aku yang harus berterima kasih."
Mereka berdiri di bawah payung, cukup dekat untuk Alana mencium aroma parfum Nathan—sesuatu yang segar seperti kayu cedar dan laut.
"Nathan."
"Iya?"
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Dengan perusahaanku. Dengan dendamku. Dengan hidupku." Alana menatapnya lurus. "Tapi aku ingin kau tahu... malam ini berarti sesuatu."
Nathan tersenyum—senyum yang membuat garis-garis di wajahnya melunak. "Itu lebih dari cukup."
Ia membukakan pintu mobil, menutupnya dengan lembut, dan berdiri di tengah hujan menunggu sampai mobil Alana menghilang di tikungan.
Di dalam mobil, Alana menatap tangannya—tangan yang tadi bersentuhan dengan tangan Nathan. Masih terasa hangat.
Ponselnya bergetar.
Nathan: Hati-hati di jalan. Dan Alana... malam ini aku tidak berpura-pura. Untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Alana membalas hanya dengan satu kata:
Alana: Aku tahu.
Saat tiba di rumah, Lucas sudah menunggu di ruang kerjanya—bukan secara fisik, tapi melalui panggilan video.
"Jadi?" Lucas mengangkat alis. "Dinner dengan Nathan Pramana. Harus kuakui, aku tidak menyangka kau akan pergi."
"Aku juga tidak menyangka."
"Dan?"
Alana duduk di kursinya, menatap layar. "Dia berbeda, Lucas."
"Semua pria berbeda di awal."
"Aku serius." Alana menghela napas. "Dia tidak meminta apa pun. Dia hanya... ada."
Lucas diam cukup lama. "Itu yang paling berbahaya, Alana."
"Kenapa?"
"Karena ketika seseorang tidak meminta apa pun, kau jadi ingin memberi. Dan saat kau mulai memberi... kau kehilangan kendali."
Alana tersenyum tipis. "Kau terlalu sinis."
"Kau terlalu percaya." Lucas menatapnya tajam. "Apa kau lupa? Tiga tahun kau hidup dalam pengkhianatan. Tiga tahun kau berpura-pura buta. Dan sekarang, dalam satu malam, kau siap melupakannya?"
Alana bangkit dari kursinya, berjalan ke jendela. Hujan masih turun di luar.
"Aku tidak melupakannya, Lucas. Aku tidak akan pernah melupakannya. Tapi..." Ia berhenti, mencari kata-kata yang tepat. "Tapi mungkin, di tengah semua dendam ini, aku boleh punya satu malam di mana aku tidak perlu menjadi algojo."
Lucas menghela napas panjang. "Hati-hati, Alana. Kau tahu apa kata ayahmu tentang orang yang bermain dengan api."
"Ia bilang, pastikan kau yang mengendalikan apinya, bukan sebaliknya."
"Dan apa kau mengendalikannya?"
Alana menatap bayangannya sendiri di kaca jendela—wanita dengan gaun hitam sederhana, rambut terurai, mata yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
"Aku mencoba, Lucas. Aku benar-benar mencoba."
Malam itu Alana tidur lebih nyenyak dari biasanya. Tidak ada mimpi buruk tentang Richard dan Viola. Tidak ada bayangan ayahnya yang sekarat. Hanya mimpi tentang piano, hujan rintik-rintik, dan sepasang mata yang menatapnya tanpa menghakimi.
Saat ia terbangun keesokan paginya, ada satu pesan baru di ponselnya.
Nathan: Selamat pagi. Aku sedang di kebun mawar—ternyata ada di belakang rumahku. Aku tidak tahu mawar bisa seindah ini. Atau mungkin aku baru benar-benar melihatnya sekarang. Aku mengirim ini hanya untuk bilang: terima kasih telah mengajariku melihat.
Alana tersenyum—senyum yang bahkan ia sendiri tidak sadari.
Lalu ia membalas:
Alana: Mawar selalu indah, Nathan. Tapi jangan lupa, mereka selalu berduri.
Nathan: Aku tahu. Tapi bukankah duri yang membuat mawar berharga? Karena tanpa duri, semua orang bisa memetiknya.
Alana membaca pesan itu berulang kali.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasa tidak sendiri.
---
Bersambung...(ノ゚0゚)ノ→
Apakah Alana akan membuka hatinya? Atau justru Nathan yang akan menjadi musuh terbesarnya?
Bab 21: RUPS Luar Biasa—Alana muncul dengan bukti penghancur, Richard mulai merasakan tanah di bawah kakinya goyah. Tapi di tengah kemenangan, satu pesan masuk yang mengubah segalanya...
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄