Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah lagi
Setelah makan malam, semua keluarga duduk di ruang keluarga menikmati cemilan, mereka menunggu Gani dan Manda yang belum sampai ke rumah.
Devan dan Nesa memutuskan untuk menginap, hari ini adalah hari jumat, namun karena keinginan Ningrum bersama anak-anaknya, jadinya mereka akan pulang di hari minggu.
Sesaat kemudian, suara salam terdengar.
"Assalamu'alaikum," ucap Gani dan Manda secara bersamaan.
"Waalaikumssalam," jawab semuanya secara bersamaan.
Gani dan Manda mencium punggung tangan Winda dan Ningrum. Terlihat bahagia karena mereka akhirnya berkumpul.
"Perjalanan macet nggak, Nak?" tanya Winda.
"Nggak, Bu, biasa aja. Hanya karena kita banyak mampir jadinya kelamaan di jalan," jawab Manda, duduk disamping ibunya, sedangkan Gani duduk disamping Alwi.
"Gimana kabar lo, Bro?" tanya Alwi.
"Gua baik. Seperti yang lo lihat," jawab Gani.
"Sukses kayaknya lo," kata Alwi.
"Biasa aja." Gani tersenyum.
"Kalian nginap di sini, 'kan?" tanya Alwi.
"Kayaknya pulang aja di rumah, kan deket, besok baru datang lagi," jawab Manda. "Gimana, Bu?"
"Iya. Bener. Deket kok dari sini," sambung Winda.
Obrolan pun terjadi, membuat semuanya larut dalam cerita mereka masing-masing, Nesa tersenyum, ia tak pernah menyangka jika ternyata ia akan masuk ke dalam keluarga harmonis seperti ini.
"Kamu sama Nesa tidur di kamarmu," kata Ningrum.
Nesa dan Devan saling bertukar pandangan.
"Kok kalian kelihatannya terkejut gitu?" tanya Winda.
"Kayaknya masih malu-malu, Bu," jawab Manda, terkekeh mendengar pertanyaan Winda.
Semuanya menggelengkan kepala.
"Namanya suami istri, ya wajar toh sekamar," kekeh Ningrum, membuat Devan dan Nesa cengengesan, mereka selama ini tidak pernah sekamar.
Sesaat kemudian, suara ponsel Devan terdengar, membuat lelaki itu merogoh kantung celananya dan mengambil ponselnya.
^Lestari memanggil ....^
Ekspresi Devan berubah, ia ragu mengangkatnya, jika saja keluarganya mendengarnya, apalagi jika keluarga tahu jika hubungannya dengan Lestari masih jalan.
"Siapa, Nak? Di angkat saja," kata Ningrum, membuat Devan gugup.
"Oh ini kantor, Ma," jawab Devan, membuat Nesa menoleh dan melihat nama Lestari di layar ponsel Devan. Nesa sedikit marah dan kesal, namun ia tak bisa berkata apa-apa, ketika ia dan Devan sudah memutuskan untuk tidak saling mengurusi urusan masing-masing.
Gani memicingkan mata, ia hendak berbicara, namun ia melihat Nesa sedang memberikannya kode agar tak mengatakan apa pun di saat keluarga sedang berkumpul seperti ini.
Panggilan kedua terdengar, membuat semua keluarga menatap Devan.
"Angkat saja, Nak, siapatahu saja penting," kata Winda membuat Devan menganggukkan kepala.
"Kalau begitu aku peermisi angkat telpon dulu," kata Devan, lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan keluarganya.
Devan berjalan jauh agar tak terdengar menerima telpon, membuat Nesa menghela napas panjang.
'Halo. Assalamu'alaikum,' ucap Devan, membuat Nesa menghela napas panjang.
'Waalaikumssalam,' jawab Lestari, sebenarnya wanita itu ingin kesal karena Devan tak menepati janji untuk menjemputnya, namun karena mengingat bahwa ia harus membuat Devan makin mendekatkan diri padanya, jadi ia tak boleh marah.
'Astaga, Les ... aku minta maaf, Sayang, aku nggak menjemputmu sore ini, mendadak Mama aku membutuhkanku, jadi aku harus ke Depok,' kata Devan mengingat bahwa ia memang sudah janji pada Lestari akan menjemputnya sepulang kerja.
'Nggak apa-apa. Mama kamu mungkin membutuhkanmu. Apa kamu ke Depok bersama wanita itu?' tanya Lestari, penasaran.
'Nesa? Iya. Aku membawa Nesa bersamaku.'
Mata Lestari membulat, baru kali ini Devan menyebut nama Nesa, selama ini Devan selalu menyebut wanita itu.
'Sejak kapan kamu memanggil nama Nesa, Sayang?' tanya Lestari, dengan helaan napas.
Devan menggaruk tengkuknya, ia tak tahu harus menjawab apa, yang pasti ia keceplosan.
Nesa bersedekap dibelakang suaminya, menatap punggung lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya.
'Kenapa nggak menjawabku?' tanya Lestari.
'Sayang, aku memanggil namanya karena namanya memang Nesa, 'kan?'
Lestari tak ingin membahasnya dan memilih menghentikan pembahasan itu.
'Aku merindukanmu.'
'Aku juga. Aku sangat merindukanmu,' jawab Devan.
'Kita harus bertemu.'
'Aku janji, nanti kalau udah di Jakarta, aku akan langsung menemuimu.'
'Janji?'
'Hem. Aku janji.'
'Ya sudah. Aku akhiri telponnya, aku akan menghubungimu nanti lagi, puaskan dirimu pada keluargamu.'
'Hem. Terima kasih, Sayang, kamu sudah mau mengerti.'
'Hem. Aku mencintaimu.'
'Aku juga.'
Lestari lalu memutuskan sambungan telpon dengan helaan napas panjang, Lestari takut sekali jika Devan malah berubah tak lagi mencintainya.
Devan mengelus jidatnya, ia sempat terlena pada sosok Nesa, dan hampir melupakan Lestari yang sudah memberikannya pengertian.
"Mas, apa dari Lestari?" tanya Nesa melangkah menghampiri suaminya
"Hem? Oh kamu. Iya, ini dari Lestari," jawab Devan.
Nesa menganggukkan kepala. "Apa katanya?"
"Dia merindukanku," jawab Devan spontan. Memang tak ada yang perlu di tutup-tutupi. Jadi, Devan harus
mengatakannya sejujur mungkin. "Memangnya kenapa?"
"Nggak, Mas, aku cuma tanya," jawab Nesa. "Mas, aku nggak akan larang kamu kok sama Lestari, aku juga tahu kamu sangat mencintainya," kata Nesa.
"Syukurlah jika kamu mengerti, meski sebenarnya aku nggak membutuhkan pengertian kamu," jawab Devan, baru menyadari satu hal, jika ia sudah menyakiti Lestari karena lebih mementingkan Nesa.
Deg. Jantung Nesa seperti akan copot rasanya, ia berbalik dan menatap suaminya, ia tak menyangka perubahan sikap Devan akan terlihat jika sudah berbicara dengan Lestari.
"Aku tadinya sempat terlena, sampai melupakan janjiku pada Lestari, untuk menjemputnya sore ini, namun nyatanya aku terlupa. Semua itu karena aku lupa, bahwa pernikahan kita nggak sejalan." Devan menatap wajah istrinya yang kini menahan air matanya.
"Mas, aku—"
"Aku juga salah telah menyuruhmu memanggilku dengan sebutan Mas, kamu mau panggil apa pun silahkan, itu nggak akan mempengaruhiku," sergah Devan membuat Nesa menautkan alis. "Kamu mau dekat dengan siapa pun juga silahkan. Aku nggak akan bertanya lagi."
"Mas, kamu salah paham, aku nggak pernah membuatmu terlena, dan aku—"
"Cukup! Aku nggak mau denger lagi, kita kembali ke semula, dimana kita akan berbicara jika penting. Aku salah telah melukai Lestari dengan menghabiskan waktu denganmu." Devan lalu melangkah meninggalkan istrinya yang masih diam tertegun mendengar perkataan Devan.
Nesa tak pernah berpikir jika Devan akan memikirkan hal itu. Nesa memang sedih jika suaminya itu malah lebih mementingkan Lestari dibandingkan dirinya, namun ia tak pernah memaksa Devan mau mementingkan siapa.
Nesa merasakan sesak didadanya, baru saja pagi tadi mereka akrab dan saling bercerita, lagi-lagi Devan berubah dan membuat hatinya pun terlena. Nesa sudah menyukai Devan, bahkan jauh dari kata tak suka, semua yang dilakukan dan dikatakan Devan ia sukai, meski itu menyakitkan dan membuat dirinya merasa kecil dan tak berharga.
Nesa menghela napas panjang dan menundukkan kepala.
"Nes." Sebuah suara membuatnya berbalik.
.
.
Bersambung.
pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil
tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno
kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻