Dulu, aku adalah seseorang yang menjadi inspirasi hidupmu, Aku lah wanita yang selalu kau bangga-banggakan pada siapapun yang bertanya perihal siapa sosok di balik kesuksesan mu.
Namun sekarang, aku hanya sebuah nama yang terkubur bersama masa lalu mu. Kau sembunyikan aku jauh dari hidup mu. Semua sudah berubah, hanya karena orang-orang baru, aku tersingkirkan dari sisi mu.
Terima kasih Mas, kau pernah memeluk ku dengan erat, meski pada akhirnya kau melepaskan ku demi dia. Ya, dia yang jauh lebih sempurna di bandingkan diriku.
Dari dirimu aku belajar, pernah dibahagiakan bukan berarti tidak akan disakiti. Pernah di cintai bukan berarti tidak akan dibenci dan aku mengerti. Aku tidak akan pernah bisa selamanya menjadi orang yang berharga di hati mu. Karena aku bukanlah pelabuhan hati mu yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Istri? Cih..." Lagi-lagi ia membuang ludahnya, seakan tak menganggap Fita adalah istrinya.
Aku diam dan terus melangkah mudur ketika ia mendekati ku. Aneh, sungguh aneh kenapa satpam tak juga datang mendekati ku, dan kenapa Bi Inah menghilang tak kembali.
Aku pandangi suasana disekeliling ku, ternyata sepi, tak ada satu pun pengunjung kecuali aku dan Mas Doni.
"Apa kau heran kenapa suasana supermarket ini sepi Lea?" Tanyanya yang seakan mengetahui isi di dalam pikiranku.
Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku memilih diam, meskipun aku ingin tahu apa yang menyebabkan suasana di supermarket ini menjadi sepi seperti ini.
"Kalau kau ingin tahu, kenapa supermarket ini sepi, itu karena supermarket ini adalah milik ku. Tak akan ada satpam yang datang menyelamatkan mu Lea, karena mereka tak akan berani menentang ku." Sambung Mas Doni yang membuatku terbelalak.
Aku sungguh tak percaya Mas Doni memiliki supermarket sebesar ini. Ini sungguh di luar dugaan ku. Ku kira ia menemukan ku di sini karena menguntit keberadaan ku, ternyata akulah yang datang ke sarangnya.
"Kau pasti terkejut, bagaimana aku bisa memiliki supermarket ini? Jawabannya sangat mudah Lea, kau ingat saat kau menjual berlian pemberian orang tua mu? Berapa banyak berlian yang kau jual humm? Cukup banyak bukan. Inilah hasil dari penjualan barang mewah mu itu Lea sayang, aku memberikan dua puluh lima persen hasil penjualannya pada dirimu dan tujuh puluh persennya menjadi milikku. Semula supermarket ini hanya sebuah minimarket biasa, tapi makin lama aku makin membesarkan minimarket ini. Aku buat usaha jamu milik ibu yang kau bantu kelola berhutang dan seakan rugi padahal tidak Lea. Tidak sama sekali." Sambung Mas Doni lagi dengan senyum liciknya.
"Kamu jahat Mas, kamu benar-benar memanfaatkan ku." Balas ku yang malah mendekatinya dan memukulinya membabi buta dengan tas yang ku pegang.
Entah keberanian darimana, aku memelukulinya membabi buta, ia berusaha mengeles pukulan ku, namun gerakkan tanganku yang begitu cepat membuatnya kesulitan.
"Jahat kamu Mas, jahat! Dosa apa yang aku perbuat pada mu, hingga kamu jahat seperti ini pada ku." Ucap ku saat tanganku terus memukuli tubuhnya.
Aku berlari mengambil beberapa kaleng susu kental manis yang aku lihat berada di rak yang cukup dekat dengan ku. Ku lempar susu kaleng kental manis itu kearah Mas Doni. Beberapa lemparan mengenai bagian tubuhnya.
Ia terlihat mengerang kesakitan, aku tak perduli, terus ku lempari dia dengan kaleng susu kental manis, hingga tak ada satu pun kaleng susu kental manis yang ada di dalam rak lagi.
"Cukup Lea! Hentikan kau menyakiti ku." Ucapnya yang sudah benar-benar terluka.
Aku tak perduli. Aku lempar segala jenis produk yang dipajang di dalam rak yang ada di dekat ku.
"Aku tak perduli dengan rasa sakit mu, Mas. Kau saja selama ini tak pernah perduli dengan perasaan ku. Bagaimana ibumu menyiksaku dengan pekerjaan rumah yang tak pernah aku kerjakan sebelumnya. Kau tak pernah membela ku sedikit pun, ketika orang rumah mu tak menghargai ku. Padahal sudah banyak hal yang aku korbankan untuk kalian." Ucap ku dengan menitikan air mata.
"Tak pernah aku mendengar mu, mengatakan cinta setelah kita menikah, kamu berubah. Ternyata perubahan mu itu karena memang kau menikahiku bukan atas dasar cinta, tapi ambisi untuk mengalahkan Ferdy." Sambung ku lagi yang malah membuatnya tersenyum sinis.
"Sekarang kau sudah paham bukan, jadi bolehkah aku mencicipi lagi tubuh indahmu sebelum dia menjamah mu nanti di malam pertama mu bersamanya." Ucap Mas Doni yang berusaha menyingkirkan keleng susu yang berserakan, sebagian diantaranya terlihat tumpah dan meleber.
"FERDY.....TOLONG AKU!!" Pekik ku sekuat tenaga.
Aku benar -benar butuh bantuannya. Karena akau sudah lelah untuk menghindar dari Mas Dito. Melemparinya dengan kaleng susu kental manis sudah menguras cukup banyak tenaga ku.
"Dia tak mungkin datang menjemput mu, Lea! Berusahalah menjadi wanita yang baik dan penurut. Aku akan melakukan penyatuan kita kali ini dengan spesial, kau pasti tak akan bisa melupakan penyatuan kita kali ini." Ucap Mas Doni yang makin membuatku jijik dengan dirinya.
Hati ku yang semula menyediakan tempat tersendiri untuknya, sekarang begitu membenci dirinya. Jika aku punya kekuatan super, mungkin ia akan aku lempar ke sungai amazon. Agar aku tak akan bisa bertemu dan melihat sosok Mas Doni lagi di dalam hidupku.
"Aaaargghhhh... Seseorang tolonglah aku!" Pekikku ketika Mas Doni tinggal selangkah lagi mendekati tubuhku.
Aku memejamkan mata ku, aku tak bisa lagi berpikir apa yang akan terjadi setelah ini pada ku. Sungguh aku tak sudi jika kembali melakukan penyatuan dengan pria sejahat Mas Doni.
Bugh!! [Terdengar suara pukulan]
Brakkk!! [Suara tubuh terjatuh kelantai]
"Aaaaaa...." Suara teriakan Mas Doni yang ku dengar.
Cekrek [Suara kokangan sebuah senjata api].
"Ampun Ferrrr!! Jangan tembak aku." Suara Mas Doni yang bergetar menyebut nama Ferdy calon suamiku.
"Selama ini aku sudah bersabar menghadapi diri mu Don, sudah ku peringati diri mu untuk menjauh dari Lea, ternyata kau tak juga jera. Mungkin jika timah panas ini bersarang disalah satu bagian tubuhmu, kau akan jera." Ucap Ferdy yang ternyata ada di depan ku.
Aku baru saja membuka mataku, ketika ku dengar dengan jelas suara Ferdy yang memang ada di depan ku. Ku peluk ia dari belakang dan ku tumpahkan air mataku saat tenggelam dibelakang punggungnya.
"Dia memaksa ku untuk melakukan hubungan suami istri lagi Fer, aku sungguh jijik dengan ajakannya itu, selama ini dia tak memcintaiku, dia hanya berambisi mendapatkan ku karena untuk mengalahkan mu." Aduku saat menangis di belakang punggungnya.
Dug...dug...dug...[Suara ritme jantung Ferdy begitu cepat memompa].
Aku tahu dengan jelas, Ferdy makin naik pitam saat mendengar aduanku. Aku seolah tak perduli jika Ferdy akan menghabiskan nyawa Mas Doni dengan pistol yang ada di tangannya.
Namun saat Ferdy sudah ingin menekan platuk pada pistolnya. Tiba-tiba suara Om Ergi terdengar dari kejauhan.
"Jangan kotori tangan mu Nak!" Ucapnya yang makin mendekatkan langkahnya ke posisi kami berdiri.